NovelToon NovelToon
Sang Sopir Penakluk

Sang Sopir Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Bad Boy
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
​Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
​Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Dimas mengepalkan tinjunya dan berteriak marah.

“Apa salahnya sopir?”

Bima Sakti meliriknya sambil tersenyum.

“Lagipula, kau sampah saja bisa minum anggur merah dan mengejar wanita, kenapa aku tidak boleh?”

“Kau bilang aku ini apa?” Mata Dimas membelalak.

“Sebesar apa pun matamu, tetap saja sampah. Paling-paling hanya sampah bermata besar,” jawab Bima santai.

“Kau benar-benar mencari mati!”

Dimas mencibir dingin, lalu mengangkat tangannya memberi isyarat. Dua pengawal yang menunggu di luar segera masuk ke ruangan.

“Hajar dia! Bunuh bajingan ini! Semua konsekuensi aku yang tanggung!”

Akhirnya Dimas meledak dan menumpahkan seluruh amarahnya kepada Bima. Dua pengawal bertubuh tinggi besar itu langsung menyerbu tanpa ragu.

Bima hanya tersenyum dan menoleh memandang mereka. Pada saat itu juga, kedua pengawal itu tiba-tiba membeku.

Tanpa alasan jelas, tubuh mereka menggigil. Senyum pria itu… terasa begitu jahat, begitu dingin, hingga membuat hati mereka merinding. Tatapan seperti itu sama sekali bukan milik seorang sopir biasa.

“Apa yang kalian tunggu? Serang dia!” teriak Dimas dari belakang.

Kedua pengawal itu menggertakkan gigi, lalu akhirnya menyerang dari kiri dan kanan. Yang di kiri lebih dulu bergerak, melayangkan pukulan ke arah kepala Bima, yang di kanan menendang dengan keras ke arah pinggangnya.

Sekilas saja sudah terlihat bahwa mereka telah menerima pelatihan profesional. Serangan mereka kuat dan terkoordinasi dengan sempurna.

Senyum di wajah Bima semakin lebar. Ia bahkan sempat merapikan pakaiannya sebelum akhirnya bergerak.

Tinju kirinya meluncur lebih cepat, menghantam tepat di bawah ketiak pengawal yang memukul. Pada saat yang hampir bersamaan, kaki kanannya menendang keras tulang kering pengawal yang menendang.

Krak! Krak!

Dua suara patahan tulang terdengar jelas di dalam ruangan. Kedua pengawal itu menjerit kesakitan dan mundur bersamaan. Namun Bima sudah bergerak seperti bayangan, melesat mendekat dan menebas leher mereka dengan dua pukulan tangan.

Bahkan sebelum sempat menjerit lagi, kedua pengawal itu sudah roboh tak berdaya.

“A-apa…?”

Dimas benar-benar tercengang. Kedua pengawal itu ia sewa dengan biaya mahal dari agen keamanan profesional. Kabarnya mereka pernah berlatih di kamp pelatihan militer dan mampu melawan sepuluh orang sekaligus. Namun sekarang… keduanya tumbang hanya dalam sekejap?

“Tuan Dimas, bagaimanapun juga Anda orang terpandang. Membiarkan orang lain bertarung sementara Anda menonton saja—tidakkah itu memalukan?”

Bima kembali tersenyum ramah, seolah tidak terjadi apa-apa, lalu berjalan perlahan ke arah Dimas.

“Begini saja, bagaimana kalau Anda memberi saya makan dan tempat tinggal, dan saya menjadi pengawal Anda?”

“Ah… baik… baik…”

Dimas tanpa sadar mengangguk sebelum akhirnya tersadar dari keterkejutannya.

Bima menepuk kepalanya.

“Dasar bodoh! Kau kira aku serius? Bang Bima punya prinsip! Tapi kalau kau mengurus semua makan, tempat tinggal, dan para wanita, mungkin aku bisa mempertimbangkannya!”

“Kau berani mempermainkanku! Kau tahu siapa aku?”

Dimas akhirnya sadar bahwa dirinya sedang dipermainkan.

“Aku tidak peduli siapa kau. Di mataku kau hanya orang yang suka pamer!”

Bima mengangkat tinjunya.

“Tidak terima? Percaya atau tidak, aku bisa langsung menghajarmu sekarang.”

Dimas langsung ciut.

Bahkan dua pengawal profesionalnya saja bukan tandingan Bima. Jika ia terus melawan, mungkin benar-benar akan dipukuli.

“Kenapa diam? Ingin memanggil orang untuk membalas dendam?”

Bima menyepitkan mata, lalu tiba-tiba menghantamkan tinjunya ke meja kopi marmer di sampingnya.

“Kalau ingin bermain kasar, aku siap kapan saja. Tapi kalau lain kali kau mencoba menggunakan trik kotor seperti membius anggur untuk menghadapi wanita yang kusukai…”

Suara Bima berubah dingin.

“Jangan salahkan Bang Bima jika aku tidak bersikap sopan lagi. Dan satu hal lagi—jangan pernah meremehkan seorang sopir!”

Meja kopi marmer yang keras itu… tiba-tiba retak dan runtuh seketika.

Di gerbang clubhouse, Bima melihat Sari yang hendak berjalan masuk kembali. Ia segera menghampirinya sambil tersenyum.

“Bos, apakah Anda khawatir dengan keselamatanku?”

“Jangan terlalu percaya diri! Aku hanya mengambil sesuatu di dalam!” balas Sari sambil melotot padanya. Ia lalu berbalik menuju mobil. “Apa yang diinginkan Dimas darimu?”

“Oh, tidak ada apa-apa. Dia bilang kemampuan bernyanyiku sudah mencapai tingkat mahir. Dia ingin menjadikanku guru dan belajar dariku, tapi tentu saja aku menolaknya dengan tegas!”

“….”

Sari benar-benar kehabisan kata-kata. Ia belum pernah bertemu orang yang begitu tidak tahu malu.

“Bos, jangan bergerak!”

Saat hendak pergi, Bima tiba-tiba berteriak. Ia berlari cepat seperti kilat, berdiri tepat di depan Sari, lalu dengan cepat menjilat pipinya.

“Tsk tsk… setetes anggur merah seharga satu setengah miliar bisa bernilai jutaan rupiah. Sayang sekali kalau terbuang! Lumayan, aromanya malah jadi lebih harum!”

Ternyata setetes anggur merah tadi tanpa sengaja terciprat ke wajah Sari di dalam ruangan. Namun ia sendiri tidak menyadarinya.

“Kau… kau bajingan! Aku akan membunuhmu!”

Wajah Sari langsung memerah karena marah dan malu. Ia tampak seperti singa kecil yang sedang mengamuk. Sejak kecil, belum pernah ada pria yang sedekat ini dengannya. Hari ini, pria yang baru dikenalnya—Bima—benar-benar menjilat wajahnya!

Ya, menjilat dengan lidahnya!

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengangkat tinjunya dan menyerbu ke arah Bima.

“Perhatikan citramu di tempat umum! Aku bahkan belum punya istri, bagaimana kalau dipukuli begini? Kalau terus memukul, aku akan melawan! Sopir juga punya harga diri!” kata Bima sambil menghindar dengan wajah serius.

“Kau… kau bajingan!”

Sari hanya bisa menahan amarah. Melihat banyak orang di sekitarnya mulai memandang ke arah mereka, ia menghentakkan kaki dengan kesal lalu langsung masuk ke mobil.

“Bos, Anda tidak perlu marah. Aku hanya berniat baik. Memboroskan sesuatu itu memalukan. Anda tentu tidak ingin menjadi orang yang memalukan, bukan? Lagi pula Anda tidak dirugikan. Kalau Anda merasa aku sengaja mengambil keuntungan, Anda boleh menjilatnya kembali. Aku janji tidak akan melawan.”

Di dalam mobil, Bima mencoba membujuknya dengan wajah serius.

“Diam!”

Sari sama sekali tidak ingin berbicara lagi dengannya.

“Bagaimana kalau aku menceritakan lelucon lagi?”

“Aku bilang diam! Mengemudilah!” Sari hampir mati karena kesal.

“Tidak mengerti selera humor! Baiklah, kita pergi ke mana?” kata Bima, akhirnya tidak lagi memancing emosinya. Ia menyalakan mobil.

Pada saat itu, ponsel Sari berdering. Ia melihat nomor yang muncul di layar dan langsung menutup panggilan. Telepon itu kembali berdering. Ia menutupnya lagi. Telepon itu terus berdering beberapa kali.

Akhirnya Sari menyerah dan mengangkatnya. Dari seberang terdengar suara bariton yang tenang.

“Sari, ini Ayah. Bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja. Kalau hanya ingin menanyakan itu, aku akan menutup teleponnya,” jawab Sari dingin.

“Baiklah. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa waktu perjanjian dua tahun kita hampir habis…”

Klik!

Sebelum kalimat itu selesai, Sari sudah menutup telepon.

Perjanjian dua tahun! Sialan dengan perjanjian dua tahun itu! Ia menatap keluar jendela mobil. Mengingat percakapan barusan, mengingat kejadian malam ini, tatapannya menjadi bingung, lalu perlahan berubah menjadi gelisah.

Ia ingin minum. Ia ingin melampiaskan semuanya.

“Pergi ke Lembayung Bar!”

1
Sastra Aksara
Terimakasih kak 😍🙏
Rio Armi Candra
kopi dah meluncur Thor 👍👍👍💪
Rio Armi Candra
jiahahaha 🤣🤣🤣🤣.. kereeeen bima👍👍👍
Jack Strom
Ihhh... Seram!!! 😁
Jack Strom
Mantap. 😁
Jack Strom
Hadeh, jadi kacau... 😔
Jack Strom
MC nya konyol namun asik!!! 😁
Jack Strom
Eh... Chapternya dah habis... 😭😭😭
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Hahaha... sudah 5 orang... 👍👍👍👍😁
Jack Strom
Eh, muncul satu lagi!!! 😁
Jack Strom
Ayo, hajar premannya!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Mantap!!!
Jack Strom
Hahaha... Nyosor masuk parit loe, mampooos!!! 😁
Jack Strom
Ia ia, makan teruuus!!! 😁
Jack Strom
Keren!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... 😁
Jack Strom
Hahaha... Sangat konyol!!!
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Dasar tukang onar!!! 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!