Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.
Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.
Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Perjalanan yang Tidak Lagi Sendiri
Matahari sudah mulai terlihat, sementara kabut yang menyelimuti hutan perlahan menipis.
Lin Feng terbangun dari tidurnya yang singkat. Ia baru benar-benar terlelap sekitar dua jam sebelum bangun, setelah memastikan tidak ada ancaman di sekitar. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan bugar. Sisa Eliksir Air Mata Phoenix yang ia gunakan untuk menyelamatkan Yue Chen rupanya memberi efek sisa pada dirinya sendiri saat ia juga mencobanya.
Di dalam gua, rombongan Kuil Cahaya Suci sudah bangun lebih dulu. Yue Chen masih tampak lemah, namun sudah bisa duduk bersandar. Zhou Ming bergerak lebih bebas dibandingkan kemarin. Di sisi lain, Xu Ling gadis berambut pendek sedang melakukan peregangan ringan, memastikan tubuhnya tetap lentur dan siap. Sementara itu, Chen Hao tampak telah pulih sepenuhnya, ia duduk di sudut gua sambil mengasah pedang besarnya dengan ekspresi tenang.
“Pagi,” sapa Yue Lian ketika melihat Lin Feng masuk. Ia tengah memasak sesuatu di atas api unggun kecil. Aroma herbal perlahan memenuhi gua.
“Pagi,” balas Lin Feng. “Itu apa?”
“Sup penyembuhan.” Yue Lian mengaduk panci kecil itu perlahan. “Apakah kamu mau?”
“Tentu.”
Lin Feng duduk bersama mereka. Xu Ling melirik ke arahnya dengan rasa ingin tahu yang jelas terlihat, namun tidak mengajukan pertanyaan. Chen Hao hanya mengangguk singkat, sebuah pengakuan diam-diam dari seorang pejuang kepada pejuang lain.
“Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?”ujar Lin Feng sambil menerima mangkuk sup dari Yue Lian.
“Menuju Kota Qingshui secepatnya” jawab Zhou Ming. “Kami harus melaporkan serangan Klan Langit Biru ke kuil, lalu menunggu perintah berikutnya.”
“Kira kira berapa lama lagi untuk sampai kesana?”
“Dengan kondisi kami sekarang...” Zhou Ming menatap anggota kelompoknya satu per satu, menilai keadaan mereka. “...mungkin sekitar tiga hari.”
Lin Feng mengangguk.
Mereka sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Formasi perjalanan kini jauh lebih rapi. Chen Hao berjalan di depan sebagai pelindung utama. Lin Feng dan Zhou Ming menjaga sisi kiri dan kanan. Yue Lian berada di tengah, melindungi Yue Chen yang masih lemah. Xu Ling menutup barisan di belakang, mengandalkan indra spiritualnya yang tajam untuk mengawasi sekitar.
Hari pertama perjalanan bersama kelompok berjalan relatif lancar. Mereka menghindari wilayah dengan aliran Qi yang kacau, tanda keberadaan makhluk tingkat tinggi, dan memilih rute yang lebih panjang, namun jauh lebih aman.
Menjelang tengah hari, mereka berhenti di tepi sungai kecil untuk beristirahat dan makan.
“Lin Feng,” panggil Xu Ling saat ia sedang mengisi botol air. “Boleh bicara sebentar?”
Lin Feng menatap Xu Ling dengan tatapan aneh. “Tentu.”
Mereka berjalan agak menjauh dari yang lain. Xu Ling menatapnya dengan sorot mata tajam, bukan bermusuhan, melainkan menilai dengan serius.
“Apakah kamu benar seorang kultivator bebas?” katanya dengan tegas.
“Apa maksudmu?”
“Setiap aku melihat gerak gerikmu, seperti ada yang berbeda. Setiap gerakan dan langkahmu seperti sudah diperhitungkan.” Xu Ling menyilangkan tangan di dadanya. “Aku ahli teknik pergerakan. Aku bisa mengenali seseorang yang mendapat pelatihan tingkat tinggi. Dan kau… jelas memilikinya.”
Lin Feng tidak menyangka ada yang memperhatikan sedetail itu.
“Aku hanya banyak berlatih.”
“Di mana? Dengan siapa?” tanya Xu Ling, nadanya penuh ketertarikan. “Aku belum pernah melihat gaya pergerakan sepertimu. Itu bukan dari sekte mana pun yang aku kenal.”
“Belajar sendiri,” jawab Lin Feng. Secara teknis, itu tidak sepenuhnya bohong. Pengetahuan dari Orkestrasi Sembilan Naga memang ia peroleh tanpa guru.
Xu Ling menatapnya ragu. “Tidak ada yang bisa mencapai tingkat sepertimu hanya dengan belajar sendiri.”
“Mungkin aku memang istimewa,” jawab Lin Feng singkat, dengan nada yang jelas menutup pembicaraan.
Xu Ling terdiam sejenak lalu menghela napas pelan.
“Baiklah. Simpan rahasiamu. Tapi ketahuilah, aku menghormati kemampuan. Dan kemampuanmu nyata. Jika suatu hari kau bersedia berbagi teknik, aku akan sangat tertarik untuk belajar.”
“Akan kuingat itu,” kata Lin Feng, meski ia tahu hal itu hampir mustahil terjadi.
Xu Ling mengangguk, lalu kembali ke kelompoknya.
Lin Feng berdiri sendiri sejenak, menatap aliran sungai yang mengalir tenang.
Terlalu banyak orang mulai memperhatikan, pikirnya dengan gelisah. Yue Lian bisa merasakan qi-ku. Xu Ling membaca gerakanku. Zhou Ming menghormati keputusanku. Bahkan Chen Hao dan Yue Chen menatapku dengan… apa itu? Kekaguman?
Ia tidak terbiasa dengan hal semacam ini. Tidak terbiasa diperhatikan terlebih dengan cara yang positif.
Selama sepuluh tahun di akademi, ia lebih sering diabaikan, atau dihina. Kini, tiba-tiba orang-orang menghormatinya, menghargainya, bahkan… mungkin mempercayainya?
Perasaan itu terasa aneh dan tidak nyaman. Namun juga… tidak sepenuhnya buruk.
“Lin Feng!” panggil Yue Lian. “Ayo kita lanjutkan perjalanan!”
Lin Feng menggeleng kepalanya, membuang pikiran-pikiran itu, lalu kembali bergabung dengan kelompok mereka.
Perjalanan pun berlanjut.
Malam kedua, mereka berkemah di sebuah tanah lapang kecil yang dilindungi formasi sederhana yang dipasang Zhou Ming.
Setelah makan malam, mereka duduk melingkar di sekitar api unggun, saling berbagi cerita.
Chen Hao bercerita tentang masa lalunya sebagai pandai besi sebelum menapaki jalan kultivasi. Zhou Ming menceritakan keluarganya yang masih tinggal di desa kecil di selatan. Xu Ling berbagi kisah tentang bagaimana ia menemukan bakatnya dalam teknik pergerakan saat melarikan diri dari bandit yang menyerang keluarganya.
Yue Lian dan Yue Chen menceritakan kehidupan di kuil, latihan yang keras, para tetua yang tegas tapi peduli, serta teman-teman yang telah menjadi keluarga.
Dan akhirnya, semua mata tertuju pada Lin Feng.
“Bagaimana denganmu?” tanya Yue Chen dengan rasa ingin tahu yang polos. “Ceritakan tentang dirimu, Lin-gege.”
Lin-gege. Kakak Lin. Sebutan yang membuat Lin Feng sedikit canggung, namun juga terasa hangat di dadanya.
“Tidak banyak yang bisa kuceritakan,” katanya pelan. “Kehilangan keluarga sejak muda. Hidup sendiri sejak saat itu. Belajar kultivasi sendiri. Berkelana dari satu tempat ke tempat lain.”
“Kedengarannya sepi,” ujar Xu Ling dengan simpati lembut.
“Ya,” Lin Feng mengangguk. “Tapi aku sudah terbiasa.”
“Kalau begitu,” Yue Lian tersenyum hangat, “sekarang kau tidak sendirian. Setidaknya sampai Kota Qingshui.”
“Sampai Kota Qingshui,” ulang Lin Feng.
Namun jauh di dalam hatinya, muncul pertanyaan yang tak bisa ia abaikan, apakah ia benar-benar ingin berpisah setelah tiba di sana?
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia memiliki sesuatu yang menyerupai keluarga. Mungkin bukan keluarga sedarah. Namun sekelompok orang yang peduli. Yang menghormati. Yang mempercayainya.
Berbahaya, bisik suara di kepalanya. Semakin dekat kau dengan mereka, semakin sulit untuk pergi saat waktunya tiba.
Namun ada suara lain yang lebih lembut. Mungkin… tidak apa-apa untuk tidak selalu sendirian.
Lin Feng tidak tahu jawabannya. Namun saat ia menatap lima wajah di sekeliling api unggun, wajah yang tersenyum, tertawa, dan tampak sungguh bahagia, ia merasa…
Mungkin, ia boleh menikmati momen ini sedikit lebih lama.
💪💪💪💪