"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Mahiya tersengal-sengal, turun dari gojek lari pontang panting mengejar lift yang hampir menutup.
Suara sepatunya berdecit di lantai rumah sakit, mengundang perhatian. Mahiya tetap cuek yang penting jangan sampai terlambat, kalau terlambat, alamat kena sembur perawat senior yang rada serem memang.
Lift yang mahiya kejar, belum menutup. Dengan semangat 45 mahiya, main nyelonong aja. Nggak sadar di dalam lift yang di sosornya, 2 pasang mata menatapnya heran.
Mahiya masih mangap-mangap, nyedot oksigen sebanyaknya, saat mahiya akan menekan tombol lift, gadis itu baru sadar kalau dia salah lift.
"astaga.." serunya kaget, matanya melotot menatap tombol.
Lantai 10, itukan ruangan eksekutif, mahiya menolehkan kepalanya yang terasa berat.
'benerankan, mampus dah aku!"
Wajah mahiya meringis malu, menoleh ke belakangnya, 2 pasang mata tadi masih menatapnya keheranan.
Mahiya berulangkali ngangguk-ngangguk, sampai tertunduk. Tubuhnya membungkuk sopan, udah ngebow hampir 90° karena malunya.
"maaf pak, saya terburu-buru, jadi nggak sadar langsung selonong aja tadi"
"kamu lantai berapa?"
Mahiya mendongak, suara berat itu menghipnotisnya. Matanya terlihat bingung melihat kedua pria itu bergantian.
'waduhhh, yang mana yang barusan ngomong nih?, mana dua-duanya cakep lagi'
"kamu lantai berapa?" tanya cowok yang berdiri di depan mahiya, melotot.
'ehhh pasti bukan yang ini yang nanya pertama, yang ini suaranya standart sih, nggak seksi kek yang pertama tadi'
"ehh...anu pak, lantai 7, ranap vvip"
"turunkan dia di situ"
Suara berat tadi, terdengar dari belakang cowok yang memelototi mahiya.
Mahiya memiringkan kepalanya, mencuri pandang, mata mahiya membola, pupilnya membesar.
'waduhhh cakep amat tuh cowok'
"kamu.." tegur pria bersuara berat tadi, matanya melirik mahiya yang masih terpesona
"kerja disini?"
"enggak.." sahut mahiya cepat, kepalanya menggeleng sekencang mungkin, tangannya juga mengibas-ibas.
"saya mahasiswi praktek pak"
"heumm"
Pria itu menyahut singkat, tanpa menoleh. Mahiya mengernyitkan keningnya, keluar setelah mengangguk sopan, ke arah 2 orang pria yang menatap dingin ke arahnya.
Mahiya bergidik, sambil melangkah kepalanya menggeleng-geleng heran.
"sombong amat, hiiiih"
Sementara di dalam lift, kael. Pria dingin tadi, terlihat sedang berpikir. Kepalanya pusing belakangan ini. Neneknya dari pihak ibu, nurmala suwondo, sang pemilik rumah sakit. Misuh-misuh setiap hari, ngedumel saban ketemu dengannya, nggak bosan-bosannya nanya kapan kael ngenalin calon bininya.
"ki..cewek tadi gimana nurut kamu?"
"hah?"
Rifki, sahabatnya sekaligus asistennya melotot kaget.
"kamu waras nggak sih? Dari kemaren asal nunjuk aja,ntar semua perempuan kamu tawarin jadi calon istrimu"
Kael mendesah kesal, batas waktu yang ditentukan sang nenek tadi, membuat kael kebingungan.
'kalau dalam 3 bulan ini kamu nggak nikah juga kael, oma akan serahkan rumah sakit ini pada martin sepupumu'
Semua orang tahu martin suwondo, sepupu kael dari pihak ibu adalah saingan terbesarnya, benar sih ada grup lakswondo dari pihak ayah yang menanti pewaris berikutnya, tapi saingan kael lebih besar, ada gerard kakak kandungnya.
"tapi gadis tadi cukup cantik loh ki"
Rifki sang asisten, menoleh. Kepalanya masih menggeleng tak setuju.
"kenapa kamu nggak jemput clarissa aja, jelasin ke dia masalahmu, aku yakin dia akan bersedia"
Kael mendesah kesal, langkah kakinya melangkah panjang, menuju keruangannya.
"jangan pernah sebut nama wanita itu lagi"
Rifki mengedikkan bahunya, cowok itu tetap melangkah mengikuti kael yang kelihatan kesal.
******
Mahiya, sudah 2 hari di tempatkan di ranap vvip, bersama gaby. Kerja mereka sedikit tenang di situ sebenarnya, tapi karena vvip bangsalnya para bangsawan, mereka malah merasa lebih mirip pelayan daripada perawat.
Gaby keluar dari ruang vvip dengan wajah cemberut, mukanya kek jeruk purut. Mulutnya ngedumel nggak habis-habis.
"dasar orang kaya, sombong amat, dikira kita budak apa"
"sabar gab, orang sabar di sayang tuhan" mahiya sok bijak, tangannya menepuk pundak gaby menyabarkan, walau gaby jelas-jelas kelihatan nggak sabar.
"nohh..coba sendiri, kamu bisa sabar nggak?"
Gaby melotot sebel, tangannya sibuk mencatat, hal-hal yang ditemukannya tadi, mahiya cuman bisa tersenyum kecut, kadang emang gadis manis berhijab itu suka asal aja kalau ngomong, nggak lihat situasi dan kondisi.
Mahiya dan gaby masih berdiri di depan meja menunggu tugas dari kepala perawat, saat pria yang 2 hari yang lalu lewat, dari depan meja resepsionis.
Gaby menyenggol lengan mahiya yang masih berdiri manyun, gadis itu menoleh alis matanya turun naik bertanya tanpa pertanyaan.
"lihat tuh, pak kael direktur rumah sakit !"
Gaby menunjuk pria yang baru masuk ke kamar kenanga, salah satu kamar vvip dengan bibirnya yang monyong-monyong.
Mata mahiya mengikuti arah bibir gaby menunjuk, matanya memicing, kembali menoleh dengan sorot penuh tanya.
"nggak kelihatan gab, punggungnya doang. Tapi dari belakang aja keknya cakep yah"
"beuhhhhh.." sahut gaby tersenyum usil, gadis tinggi langsing itu menunjukkan 2 jempolnya
"bangettt..., sayangnya dingin kek kulkas 12 pintu"
Mahiya hanya melongo, kelihatan dari wajahnya sih kurang yakin, tapi ngelihat gaby yang serius, tak urung mahiya ngangguk juga, paling enggak menghargai pendapat sahabatnya itu.
"emang kamu tahu dari mana tuh cowok direktur di sini"
"tahu dong" sahut gaby cepat, tangannya meraih map dari tangan senior. Mulutnya komat-kamit membaca tugas mereka pagi ini.
"aku nggak kek kamu, kamu mah nolep, buku aja terus yang kamu kelonin"
Mahiya meringis kesal, tangannya merampas map dari tangan gaby.
"nurmala suwondo..."
Mahiya membaca nama pasien yqng harus mereka tangani pagi ini,
"ehh gab, nih pasien di ruangan itu yah?" mahiya menunjuk kamar kenanga, merasa pertanyaannya nggak dapat jawaban, mahiya menoleh, keningnya berkerut heran. Gaby berdiri terpaku menatap kamar yang mereka tuju dengan wajah semangat.
"heiii..kamu kenapa?"
"ini kamar, tempat pak kael tadi masuk neng"
"trus?"
Mahiya masih ngelihatin wajah gaby keheranan,
"ya elahhh, emang susah ngomong sama cewek nggak doyan cowok kek kamu"
Gaby menatap gemas mahiya yang cantik tapi bloon, gaby tahu sahabatnya ini emang rada-rada nggak nyambung kalau ngomongin cowok ganteng.
"husss..buset lo, ntar orang dengar dikata aku lagibete tau" sembur mahiya kesal.
Tangannya sudah di handle pintu, tinggal mutar sedikit, tuh pintu pasti kebuka. Tapi belum sempat mahiya memutar handle pintu, panggilan dari ners yang memberi map tadi menahan tangannya.
"dek.."
Ners cantik bertubuh sedikit semok itu, berjalan tergopoh. Nafasnya terasa memburu, tangannya memberi kode pada mereka untuk menunggunya.
"kok udah pergi aja, belum dikasih pengarahan" omel ners semok itu kesal.
"kalian hanya perlu mengecek kesehatan, nggak perlu banyak tanya ke pasien ini yah?"
"kenapa kak?"
Mahiya dengan segala kekepoannya, keheranan dengan perintah itu. Baru kali ini rasanya dia dapat tugas, nggak boleh nanya-nanya kondisi pasien.
"itu yang di dalam kamar kenanga, pemilik rumah sakit ini"
Mahiya dan gaby saling menatap, keduanya bersamaan menelan saliva dengan kesusahan. Kini malah keduanya kebingungan di depan pintu, mau masuk atau enggak. Malah saling udur-uduran siapa yang masuk duluan,
"udah deh, kita masuk bersamaan" usul mahiya akhirnya dengan anggukan setuju kepala gaby.
Bersambung..