NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bentuk cinta paling Jujur

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kembali dari rumah ibu, aku benar-benar mencoba tidur dengan tenang.

Aku berbaring di sisi tempat tidur, memandang langit-langit.

Ashar berada di sampingku, membaca sesuatu di ponselnya.

“Kamu tidak tidur?” tanyaku.

“Nanti.”

“Kamu harus istirahat juga.”

Ia meletakkan ponsel.

Beberapa detik kami hanya saling menatap dalam keheningan.

Malam ini terasa mirip dengan malam beberapa hari lalu—malam ketika kami hampir melangkah lebih jauh.

Namun suasananya berbeda.

Tubuhku terlalu lelah.

Kepalaku terlalu berat.

Meski begitu, aku tetap mendekat sedikit.

“Ashar.”

“Hm?”

“Maaf.”

“Untuk apa?”

“Malam pertama kita… selalu gagal.”

Ia langsung menggeleng.

“Itu bukan sesuatu yang harus kamu minta maafkan.”

“Tapi aku—”

“Mala.”

Ia memotong kalimatku dengan lembut.

“Kamu baru kehilangan ibumu.”

Aku menelan ludah.

“Kita tidak sedang berlomba.”

Kalimat itu membuat dadaku terasa hangat.

“Aku hanya tidak ingin kamu merasa… tertolak.”

Tatapannya melembut.

“Aku tidak pernah menolakmu.”

Ia meraih tanganku.

“Yang penting sekarang kamu sembuh dulu.”

Aku memejamkan mata.

Entah karena lega atau karena terlalu lelah.

Tidak lama kemudian aku benar-benar tertidur.

Pagi berikutnya, aku terbangun dengan tubuh yang terasa lebih berat dari sebelumnya.

Kepalaku berdenyut.

Tanganku terasa dingin.

Aku mencoba duduk, tapi pandanganku kembali berkunang-kunang.

“Mala?”

Suara Ashar langsung terdengar dari pintu kamar mandi.

Ia keluar dengan wajah khawatir.

“Kamu pucat.”

“Aku hanya pusing.”

“Kita ke dokter sekarang.”

Kali ini aku tidak punya tenaga untuk berdebat.

Ashar mengantarkanku saat itu juga.

Hasil pemeriksaan keluar beberapa jam kemudian.

Dokter menatapku dengan ekspresi serius tapi tidak terlalu khawatir.

“Kamu mengalami kelelahan berat dan anemia ringan.”

Aku menghela napas pelan.

“Kurang makan dan kurang istirahat setelah stres besar bisa menyebabkan ini.”

Ashar berdiri di sampingku, mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Kamu harus bedrest setidaknya satu minggu,” lanjut dokter.

“Satu minggu?” ulangku.

“Ya. Jangan terlalu banyak aktivitas dulu dan hindari melakukan kegiatan berat.”

Aku menatap Ashar.

Ia sudah terlihat seperti orang yang akan memastikan aku benar-benar mematuhi semua instruksi dokter.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku yang biasanya mengurus banyak hal, sekarang justru harus berbaring hampir sepanjang hari.

Ashar yang mengurus semuanya.

Ia memasak.

Ia memastikan aku minum obat.

Ia bahkan mengatur jadwal makan yang lebih teratur.

Aku memperhatikannya dari tempat tidur suatu sore ketika ia sedang memotong buah di dapur.

Gerakannya masih sedikit kaku.

Jelas ia tidak sering melakukan ini.

Namun ia tetap melakukannya.

“Ashar,” panggilku.

Ia menoleh.

“Iya?”

“Kamu tidak harus melakukan semuanya sendiri.”

Ia membawa piring buah itu ke kamar.

“Aku suamimu.”

Jawabannya sederhana.

Tapi penuh makna.

“Aku juga bisa belajar.”

Aku tersenyum kecil.

Ironis.

Beberapa hari lalu ia mengatakan ingin belajar menjadi suami.

Dan sekarang ia benar-benar belajar.

Suatu malam, ketika aku sudah sedikit lebih kuat, aku duduk bersandar di kepala tempat tidur.

Ashar duduk di kursi dekat jendela.

Lampu kamar redup.

Suasana tenang.

“Kamu tahu sesuatu?” kataku.

“Apa?”

“Aku tidak pernah membayangkan pernikahan akan seperti ini.”

“Seperti apa?”

“Kita bahkan belum menjalani malam pertama dengan benar.”

Ia tertawa kecil.

“Tapi kita sudah melewati pemakaman bersama.”

Aku tidak bisa menahan senyum.

“Benar juga.”

Ia berdiri lalu duduk di tepi tempat tidur.

Tangannya menyentuh dahiku, memastikan aku tidak demam.

“Kamu masih harus istirahat beberapa hari lagi.”

“Dokter itu terlalu berlebihan.”

“Tidak.”

“Kamu juga terlalu protektif.”

“Ya.”

Aku tertawa pelan.

Suasana hangat itu membuatku menyadari sesuatu.

Malam pertama mungkin terus tertunda.

Namun setiap hari yang kami jalani bersama justru membuat hubungan kami lebih nyata.

Bukan karena gairah.

Tapi karena kami belajar saling menjaga.

Aku memandang wajahnya.

“Ashar.”

“Hm?”

“Terima kasih sudah tetap di sini.”

Ia tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya menggenggam tanganku lebih erat.

Dan malam itu, sekali lagi, malam pertama kami harus tertunda.

Bukan karena ragu.

Bukan karena takut.

Bukan pula karena takdir yang kejam.

Melainkan karena tubuhku yang akhirnya menyerah setelah terlalu lama menahan duka.

Namun kali ini aku tidak merasa kecewa.

Karena di sampingku ada seseorang yang memilih untuk menunggu.

Dan terkadang, menunggu bersama adalah bentuk cinta yang paling jujur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!