Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target Jam Empat Pagi
Perkuliahan sepanjang hari itu benar-benar membuat hati Randy suntuk. Dia butuh refreshing untuk menyegarkan pikirannya. Dia tiba-tiba teringat, sudah agak lama dia nggak ke Tanah Abang. Dia periksa semua, pastikan kameranya ada di tasnya, lalu dia segera berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya.
Dia mengendarai motornya pelan keluar parkiran dan melewati lobi kampus. Tampak Tatia berdiri sedang menunggu sesuatu.
“Kebetulan, ada Randy,” kata Tatia setengah bersorak. “Aku nunggu taksi sudah setengah jam nih, nggak datang-datang. Aku nebeng pulang, ya.”
“Tapi aku mau ke Tanah Abang,” jawab Randy menghentikan motornya. “Hari ini kuliah suntuk banget, harus refreshing cari foto-foto bagus di Tanah Abang.”
“Kebetulan rumahku arah Tanah Abang,” jawab Tatia genit sambil tersenyum. “Boleh nggak?”
Randy nggak punya alasan lagi untuk menolak, dan dia memberi kode Tatia supaya membonceng di belakang. “Nih, kebetulan aku bawa dua helm, tadi nganterin nyokap belanja di minimarket sambil berangkat kuliah.”
Dengan sigap Tatia membonceng di belakang Randy. “Siap, bos. Terima kasih, ya.” Motor pun melaju meninggalkan kampus memboncengkan Tatia yang tersenyum-senyum diboncengi sang idola kampus.
Tanpa malu-malu, Tatia memeluk pinggang Randy dan merapatkan tubuhnya ke punggung Randy.
“Eh?” tanya Randy kaget.
“Aku takut jatuh, Rand,” bisik Tatia. “Aku pegangan, ya?”
Randy diam saja. Cowok lain mungkin sudah salah tingkah dipeluk cewek secakep Tatia. Tapi tidak dengan Randy, sang idola kampus.
“Eh, kamu turun di mana, Tat?” tanya Randy.
“Aku ikut aja ke Tanah Abang,” jawab Tatia dengan senyum penuh arti. “Pengen lihat suasananya sekarang kayak apa. Dulu terakhir ke sana aku masih kecil, sama papa.”
“Tapi…” kata Randy.
“Gak ada tapi-tapi, boleh nggak?” potong Tatia sebelum Randy selesai bicara. Tanpa babibu Randy segera meneruskan perjalanannya ke Tanah Abang.
Sesampainya di Tanah Abang, Randy melambatkan motornya karena mulai masuk kawasan perkampungan yang banyak orang berlalu-lalang, ditambah anak-anak yang bermain di jalanan.
“Tenang aja, Rand, aku pakai celana panjang, kok kali ini,” kata Tatia. “Nggak pakai rok mini lagi.”
Di rumahnya yang nggak terlalu jauh dari posisi Randy sekarang, Mat Pelor sedang berdiskusi dengan nada tinggi dengan Bento, anak buahnya.
“Gua nggak mau tahu, dukun palsu itu harus pergi dari wilayah ini,” teriak Mat Pelor dengan nada tinggi.
“Tapi, Bang, kita sedang kekurangan orang,” jawab Bento. “Anak-anak kan sedang disewa untuk mengamankan lahan.”
“Gua nggak mau tahu,” kata Mat Pelor tanpa menurunkan nada bicaranya. “Lu takut? Kalau takut gua turun sendiri. Sama dukun palsu aja takut.”
Sementara itu Randy dengan motornya yang menggonceng Tatia sudah mulai masuk kampung tempat Mat Pelor tinggal. Dia melewati rumah Mbah Sembur Getih, yang ternyata ada Suwanto dan Remo, temannya.
Suwanto kaget saat melihat Randy naik motor memboncengkan Tatia yang berpelukan pinggang. Tanpa sepengetahuan mereka, Suwanto mengambil foto mereka sambil tersenyum dingin. “Siapa tahu foto ini berguna suatu waktu.”
Akhirnya Randy dan Tatia sampai di depan rumah Mat Pelor yang terdengar sedang berteriak-teriak.
“Rand,” bisik Tatia cemas sambil menggandeng lengan Randy.
“Nggak apa-apa,” kata Randy.
“Lu ini berani nggak sih? Masa sama dukun begitu aja ciut!” bentak Mat Pelor kepada Bento. “Ngakunya jawara, kenapa lu punya mental tempe?”
“Bang, istighfar, Bang,” kata Mbak Ratih, istri Mat Pelor yang berada di dekat suaminya.
Tiba-tiba Mat Pelor jatuh terduduk di kursi, sambil memegangi dada kirinya.
“Bang!” jerit Mbak Ratih.
“Kena apa, Bang?” kata Bento panik melihat Mat Pelor memegangi dada kirinya dengan wajah membiru.
Motornya melambat ketika terdengar kehebohan dari dalam rumah Mat Pelor itu. Randy buru-buru turun, diikuti Tatia yang segera mencengkeram lengan Randy dengan wajah pucat karena takut.
Dada Mat Pelor juga terasa hangat dan ada sensasi rasa kesetrum, kemudian dia bergerak perlahan. “Terima kasih, Rand, kamu datang pada waktunya.”
“Mbak Ratih, ada minyak kayu putih?” tanya Randy. “Baluri dada Mat Pelor dengan minyak kayu putih.”
“Kok bisa?” tanya Bento sambil terbelalak dan tidak percaya apa yang dilihatnya.
“Biasa aja kok, Bang,” kata Randy. “Di kampus ikut teknik pengobatan reiki dan ada sedikit pijatan.” Randy berbohong kepada Bento soal reiki dan pemijatan, agar Bento nggak ngomong ke mana-mana soal kemampuannya menyembuhkan itu. Sedang Tatia melihat kejadian itu semua dengan perasaan was-was.
“Ada apa tadi, Mat?” tanya Randy kepo setelah Mat Pelor terlihat mulai segar kembali.
“Ini, Rand, gua emosi karena anak buah gua enggan mengusir Mbah Sembur Getih yang praktek di rumah di pojokan itu,” jawab Mat Pelor sambil menunjuk tempat praktek Mbah Sembur Getih.
“Bukan menolak, Bang,” protes Bento. “Tapi kita benar-benar sedang kekurangan orang.”
“Mbah Sembur Getih?” tanya Randy penuh rasa heran. “Siapa itu?”
“Dukun palsu yang katanya dukun santet, pesugihan, bisa menggandakan uang dan lain-lain,” terang Mat Pelor. “Dan sejak ada dia, omzet parkiranku menurun. Nggak bisa dibenarkan itu.”
Randy melihat rumah itu dari kejauhan lalu bertanya, “tahunya dia dukun palsu?”
Mat Pelor sedikit tergagap, dia nggak mau mengaku bahwa dia salah seorang korbannya. “Eh, banyak yang lapor, Rand.”
“Masalahnya anak buahnya banyak, Bang…” belum sempat Bento menyelesaikan omongannya, sudah dipotong oleh Mat Pelor.
“Diam lu, pengecut!” maki Mat Pelor.
“Sabar, Bang, jangan emosi, pelan-pelan aja,” kata Mbak Ratih sambil mengusap dada suaminya. “Nanti kena serangan lagi.”
“Sampai kapan anak-anak disewa untuk mengamankan lahan itu?” tanya Mat Pelor kepada Bento.
“Tiga bulan lagi, Bang,” jawab Bento pelan. “Pokoknya sampai keputusan pengadilan keluar, dan sengketa selesai.”
“Masih lama,” gumam Mat Pelor pada dirinya sendiri.
“Kalau abang ada saksi yang ngalamin sendiri korban dukun palsu itu, aye bisa urus dia supaya tidak boleh praktek di sini melalui jalur RT-RW dan kelurahan, Bang,” saran Bento.
Mat Pelor hanya bisa menggeleng dengan kaku, dia nggak mau mengaku kalau dia sebenarnya korban dukun palsu itu.
Sementara suasana di rumah Mat Pelor makin panas, di sudut lain kampung itu, tepatnya di kamar Mbah Sembur Getih yang hening, gelap, dan serba hitam itu, Suwanto dan temannya sedang menghadap ke Mbah Sembur Getih yang sedang duduk bersila.
“Saya baru punyanya segini, Mbah,” kata Suwanto sambil menyerahkan selembar seratus ribuan. “Saya sedang berusaha cari pinjaman sepuluh juta, supaya bisa digandain jadi seratus juta.”
“Nggak apa-apa, jangan buru-buru,” kata Mbah Sembur Getih sambil menerima selembar seratus ribuan dari Suwanto. “Kalau cuma selembar gini bisa sekarang juga, tapi paling bisa jadi dua-tiga kalinya saja. Kalau sepuluh juta bisa sampai sepuluh-dua puluh kalinya, tapi agak lama nggak bisa instan, karena harus slametan dan kasih sesajen dulu.”
Mbah Sembur Getih lalu memasukkan uang itu ke dalam sebuah kotak dan berkomat-kamit sejenak serta mengucapkan mantra setelah membakar kemenyan di anglo di depannya. Lalu kotak itu dibuka, dan selembar seratus ribuan itu sudah jadi tiga lembar uang seratus ribuan.
“Wah, sukar dipercaya,” kata Suwanto terbelalak keheranan. “Kalau tidak melihat sendiri, tidak akan percaya.”
Kemudian Suwanto melanjutkan, “Sekalian minta tolong, Mbah, saya akan mengerjai seseorang.”
“Maksudnya?” tanya Mbah Sembur Getih belum paham artinya.
“Saya mau kirim santet ke seseorang, Mbah,” ujar Suwanto. “Musuh saya.”
“Oh, bisa saja itu,” kata Mbah Sembur Getih sambil mengelus jenggotnya yang terurai tidak rapi itu. “Ada foto dan namanya siapa?”
“Namanya Randy, Mbah,” kata Suwanto sambil membuka ponselnya dan menunjukkan foto yang dia ambil barusan, saat Randy dan Tatia berboncengan motor lewat di depan rumah Mbah Sembur Getih. “Dan ini fotonya, Mbah, cowok yang berjaket itu.”
Mbah Sembur Getih mengambil sesuatu dari bawah meja kecil di hadapannya. “Kotak kecil ini berisi beras kuning, bisa kamu sebarkan di halaman rumahnya sebelum jam 4 pagi.”
“Baik, Mbah, dan terima kasih,” kata Suwanto pelan. “Dan saya akan kembali lagi kalau saya sudah dapat pinjaman, Mbah. Untuk sekarang, berapa tarifnya, Mbah?”
“Seikhlasnya saja,” jawab Mbah Sembur Getih. “Asal jangan lupa sebagian untuk zakat.”
“Baik, Mbah,” ujar Suwanto lalu memasukkan dua lembar seratus ribuan lalu mengantongi tiga lembar seratus ribuan yang masih terletak di dalam kotak ajaib itu, lalu berpamitan pulang.
Saat Suwanto menstarter motornya, pandangannya bertemu dengan tatapan mata kaget Randy yang sedang berjalan kaki sambil memegang kamera, ditemani oleh Tatia yang masih tersenyum-senyum.
Sesaat mereka hanya bengong dan tak bisa berkata-kata. Wajah Suwanto terlihat memucat dan jantungnya berdegup kencang.
Situasi yang sama juga terjadi pada Randy yang langsung mengernyitkan kening, dan dia merasakan ada sesuatu yang aneh dari tatapan Suwanto barusan.
“Rand, kenapa dia, Ran?” tanya Tatia berbisik.
Randy tidak menjawab. Dia masih terkejut bertemu Suwanto di tempat itu.
Sementara di dalam saku Suwanto, ada kotak kecil berisi beras kuning yang sudah menunggu untuk disebari jam 4 pagi.
“Wah, gawat. Asal jangan bikin salah paham aja, ini gara-gara Tatia maksa ngikut ke Tanah Abang,” kata Randy dalam hati.