Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Maaf ma, Tapi kak Elia gak ada di kamarnya.“Ucap Aruna memberitahukan kabar burung pada Rumi sang mama tentang menghilangnya sang pemeran utama wanita di pagi ini. Dan sontak apa yang Aruna bilang membuat semua orang berhenti bernafas selama beberapa detik, terutama dari pihak keluarga pria yang memilih bangkit lalu menatap Rumi tajam.
“Maksudnya apa bu Rumi?.“Tanya Afdal selaku sang kepala keluarga, yang meski usianya sudah paruh baya. Tetapi dia masih terlihat gagah dan berwibawa.
“Ma..af pa.. sa..ya juga tidak tahu kalau ternyata Elia ka..bur.“Jawab Rumi sambil menunduk dan terdengar menghela nafas panjang, seluruh tubuhnya terasa dingin karena gugup dan tentu saja malu dengan keluarga besannya yang sekarang terlihat marah, karena ternyata calon mantu mereka telah kabur.
“Jangan bermain-main dengan saya bu Rumi. Anak saya dan anak anda bahkan saling mencintai, tapi saat akan nikah akan berlangsung. Anak anda kebur begitu saja!.“Ujar Afdal terdengar galak, Rumi menggigit bibir bawahnya dan perlahan-lahan menaikan tatapannya hingga kini bertatapan dengan Afdal.
“Maaf Pa Afdal, saya tidak tahu__.“
“Sudahlah, lagi pula sudah terjadi juga.“Potong Afdal menghela nafas gusar, sedang sang anak yang bernama Arka terlihat masih ayok sekali dengan kabar kaburnya calon pengantinnya__pasalnya, mereka saling menyayangi dan mencintai. Pun dengan pernikahan ini adalah kesepakatan bersama untuk segera mempersatukan ikatan yang mereka sudah lama dambakan, tapi Elia begitu saja pergi di hari pernikahan mereka.
“Ayo kita pulang, untuk apa kita di sini. Toh pengantinmu juga sudah kabur.“Tukas Afdal seraya menatap Rumi tajam dan seolah-olah ikut menyalahkan Rumi tentang sang anak sulung yang kabur begitu saja.
Namun langkah kaki Afdal terhenti tatkala Melisa sang istri yang sejak tadi diam dan seolah pasrah pun kini bersuara.
“Gak bisa pak. Iyakan Arka? Undangan udah di sebar dan semua orang udah tahu kalau hari ini anak kita akan menikah, pa!.“
“Maksud mama?.“Tanya Afdal dengan menaikan sebelah alisnya dan menatap kepada sang istri penuh tuntutan.
“Ya, kalau gak ada Elia. Masih ada Aruna, bukan begitu Arka?.“
Arka tak menjawab dan sibuk sendiri dengan pemikirannya. Sementara Melisa menyimpulkan kalau anak satu-satunya itu setuju dengan diamnya dia.
“Arka setuju. Ketimbang di batalin dan yang ada keluarga kita malu, pa.“
“Tapi Ma, ini nikah lho.“Tukas Afdal dan di balas anggukan oleh Melisa.
“Tentu saja karena nikah, pa. Tuh liat anaknya diem yang artinya dia setuju.“
“Ma, tapi__.“
“Bagaimana bu Rumi? Bisakan anak bungsunya yang menikah anak kami?.“Potong Melisa dan kini berganti menjadi bertanya pada Rumi dengan sorot mata yang terlihat agak sedikit lain.
Arka adalah pria potensial. Kedua orang tuanya cukup kaya dan dia juga sangat di cintai anak sulungnya. Agaknya Rumi sedikit tak rela kalau sampai Arka menikah dengan Aruna, akan tetapi__
“Tapi bu Mel, Arka dan Elia sangat mencintai.“
“Lalu kalau begitu, kenapa Elia kabur dan tanpa mengatakan apapun bu, Rumi?.“Tanya Melisa seraya memicing ke arah Rumi. Rumi terlihat salah tingkah, dia bahkan kesulitan meneguk ludahnya sendiri dan kedua pupil matanya berpendar ke sembarang arah.
“Bu Rumi sendiri sebagai ibunya bahkan tidak tahu.“Cibir Melisa, lalu dia tersenyum sinis”Makanya saya tawarkan solusi, ketimbang kami malu pulang dengan pernikahan anak kami yang batal.“
“Tapi pernikahan kan, bu__.“
“Oh, kalau Bu Rumi tidak berkenan, maka bisa saya pastikan, seumur hidup pun keluarga kami akan membenci dan tidak mau lagi bertemu atau punya hubungan dengan keluarga bu Rumi!!.“
Rumi tercekat, alirah darah di tubuhnya seakan membeku dan membuatnya pucat pasi, kedua tangan terkepal erat di bawah sana. Wajahnya mengeras namun hanya berselang beberapa detik saja sampai kini telah berubah menjadi lebih sedikit lunak dan sudut-sudut bibir itu terlihat terangkat dan membuat sebuah lengkungan di sana.
“Baik kalau begitu, saya akan menikahkan anak saya yang paling bungsu dengan anak ibu.“Ujarnya pelan, namun masih cukup terdengar di telinga Melisa dan membuat Melisa mengangguk puas seraya tersenyum.
“Bagus sekali.“
“Ma, apa tidak apa-apa?.“Protes Afdal yang di balas dengan gelengan kepala oleh Melisa.
“Tapi ma...“Aruna ikut menimpali, raut wajahnya terlihat begitu tak enak di lihat dan tatapannya sendu. Kenapa jadi Aruna yang harus menggantikan sang kakak?
“Tidak apa-apa Aruna, lagi pula Arka ini sangat baik, dia akan bertanggung jawab sama kamu.“Potong Rumi penuh arti dan membuat Aruna hanya bisa mengangguk lemas.
Kini Aruna yang akan menggantikan posisi sang kakak, yaitu menjadi istri dari Arka.
****
“Ingat Aruna, hanya sampai kakakmu kembali!.“Tegas Rumi dan menatap Aruna penuh peringatan, Aruna yang sudah siap dengan kebayanya pun hanya mengangguk pelan__Ya Tuhan, dia di nikahkan paksa dan kini mendapat ultimatum dari sang ibu untuk tidak berharap pada pernikahannya dan katanya sampai sang kakak kembali.
Gila sekali.
“Pokoknya mama akan awasi kamu, Runa!.“
****
Setelah resepsi yang cukup melelahkan. Aruna pun ikut semobil dengan Arka, pria yang baru saja sah menjadi suaminya__tentu saja terpaksa, kalau pun punya pilihan, Aruna lebih memilih untuk ke luar kota dan bekerja, meski pun jadi buruh pabrik. Sayang seribu sayang, Aruna tak bisa membantah titah sang mama yang menyuruhnya untuk menggantikan posisi sang kakak menjadi penganti pengganti.
“Nama kamu Aruna, kan?.“Tiba-tiba Arka bersuara dan membuat lamunan Aruna pun terhenti, Aruna menoleh lalu mendapati Arka yang kini memperhatikannya cukup lekat.
“I..ya, saya Aruna.“Jawab Aruna terdengar pelan dan berusaha untuk tidak gugup. Bagaimana pun selama ini, Aruna dan Arka tidak pernah mengobrol berdua begini, mereka cukup sering berpapasan, tetapi hanya sebatas melirik secara singkat, senyum dan menyapa seadanya. Dan siapa yang menyangka, dua orang yang tadinya akan menjadi ipar pun berubah menjadi sepasang suami istri.
“Kamu dan saya suami istri sekarang dan saya harap, kamu tidak menaruh minat dengan pernikahan ini.“Ujar Arka dan membuat Aruna membelalakan matanya kaget, Aruna sadar posisinya, tapi tetap saja syok mendengar Arka yang mengatakannya secara gamblang begini.
“Dua tahun saja, kita menikah hanya dua tahun. Kamu akan saya nafkahi tiap bulannya dan kita juga tinggal satu rumah, tetapi kita tidak akan menjadi sepasang suami istri, kamu urus diri kamu sendiri pun dengan saya.“
“Baik Mas Arka, saya mengerti.“Sahut Aruna dan giliran Arka yang di buat terkejut karena Aruna begitu terlihat legowo tanpa memprotes apapun.
Sialan, kenapa Aruna terlihat begitu lain, ehm dia cantik sekali hari ini. Batin Arka, dan demi menyelamatkan hatinya supaya tidak goyah, Arka pun memilih untuk menoleh ke arah samping sambil mengatur nafasnya.
Elia, ya. Hanya Elia yang cantik dan Arka akan menunggu. Arka percaya kalau Elia kembali dan kepergian Elia pasti ada alasannya. Kembali Arka menekankan kata itu di hatinya.
Tidak ada percakapan lagi dan hanya ada keheningan yang nenyertai mereka.
****
Mobil berhenti tepat di sebuah rumah minimalis dengan cat berwarna pink. Kesukaan Elia. Aruna jelas sangat tahu warna favorit kakaknya.
Aruna keluar dari mobil sendirian, sebab Arka sudah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya tanpa sedikit pun menawarkan diri untuk membantu membawa barang-barang Aruna.
Sialan sekali, dia tega pada Aruna. Meski menahan jengkel dan kesal, Aruna pun mencangklong tasnya dan segera melangkah masuk ke dalam rumah milik Arka.
****
Udara terasa begitu dingin sekali. Hujan tiba-tiba datang dan langit menjadi menjadi gelap. Suara guntur terdengar saling sahut menyahut dan berhasil memadamkan listrik yang ada di kota itu__termasuk rumah milik Arka.
Mungkin ada pohon yang tumbang, pikir pria itu. Meski sebetulnya kesal dengan listrik yang mati di saat malam-malam begini__bukan hanya rasa dingin yang menerpa seluruh tubuhnya dan membuat pria itu ogah-ogahan untuk keluar dari kamar, akan tetapi malas saja. Ia lebih suka meringkuk di atas ranjang dengan mengandalkan flash dari ponselnya, akan tetapi..
BRUGHHHH
Suara yang terdengar cukup keras sekali dan membuat Arka pun memilih bangkit dan mengikuti sumber suara itu.
Apa ada maling di rumahnya? Tapi mana mungkin, mengingat sedang hujan angin dan suara petir yang terdengar begitu keras.
Tapi apa?