Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewan suro kantin dan operasi "Benteng Laras"
Pagi itu, meja pojok di kantin fakultas yang biasanya berisik oleh perdebatan skor bola atau harga cilok, berubah menjadi ruang rapat darurat. Suasananya tegang, setidaknya bagi Juna Pratama yang sejak tadi sibuk menggigiti ujung pulpennya sampai hampir patah.
Dewi Laras duduk di tengah, masih dengan mata yang sedikit sembab, sementara di hadapannya, Gia Kirana sudah kembali dengan mode "Sersan Kepala". Gia sudah membawa buku catatan kecil, siap menyusun strategi.
"Oke, jadi intinya," Gia mengetuk meja dengan pulpennya, "Laras punya bokap yang tiba-tiba muncul kayak pop-up ad di HP, kaya raya, dan mau main culik buat dibawa ke Jakarta?"
"Secara teknis dia nggak culik, Gi. Dia nawarin 'masa depan'," gumam Laras lesu.
"Masa depan yang dipaksa itu namanya penjajahan, Ras. Kita udah merdeka dari tahun 45!" seru Eno Surya sambil menggebrak meja, membuat ibu kantin menoleh kaget. "Gue nggak setuju! Siapa nanti yang mau gue pinjemin catatannya kalau lo pindah? Siapa yang mau dengerin lawakan gue sambil pura-pura ketawa karena kasihan?"
"Fokus, No!" tegur Rhea Amara sambil menyodorkan piring berisi mendoan hangat sebagai peredam emosi. "Intinya, Laras nggak mau pergi. Tapi nyokapnya ditekan secara mental. Kita harus punya rencana supaya si Om Jas Rapi itu tahu kalau Laras nggak sendirian."
Bagas Putra yang sedari tadi bersandar di pilar sambil memperhatikan Laras, akhirnya angkat bicara. Suaranya rendah tapi tegas. "Gue udah cari tahu lewat temen bokap gue yang di kepolisian. Pria itu namanya Pak Gunawan. Dia emang pemain besar di Jakarta. Kalau dia mau sesuatu, biasanya dia dapet."
Mendengar itu, nyali Juna menciut. "Terus kita bisa apa? Kita cuma mahasiswa yang saldo ATM-nya kalau dikit lagi bisa kena biaya administrasi bulanan."
"Kita punya senjata yang dia nggak punya," kata Bagas sambil menatap Laras. "Kekompakan yang nggak masuk akal."
"Gini rencananya," Gia mulai mencoret-coret bukunya. "Operasi Benteng Laras dimulai. Tahap satu: Perlindungan 24 Jam. Laras nggak boleh sendirian. Ke kampus, ke perpus, bahkan ke toilet pun harus ada yang nemenin. Rhea dan gue bakal gantian jagain di kost atau rumah."
"Tahap dua," lanjut Gia sambil melirik Eno. "Distraksi. Eno, lo punya kenalan anak-anak teater kan? Kita butuh mereka buat bikin 'suasana' kalau si Pak Gunawan itu dateng lagi. Kita bikin dia ngerasa nggak nyaman ada di lingkungan kita."
"Siap! Gue bakal bikin dia ngerasa lagi ada di tengah syuting film horor kalau perlu!" Eno menyeringai nakal.
"Dan tahap tiga," Bagas menegakkan badannya. "Gue yang bakal bicara sama dia kalau dia muncul lagi. Sebagai... yah, sebagai perwakilan kita semua."
"Sebagai pacar maksudnya?" celetuk Rhea spontan.
Suasana meja mendadak hening. Laras tersedak es tehnya sendiri, sementara Bagas mendadak sibuk memperhatikan tali sepatunya yang sebenarnya sudah rapi.
"Maksud gue... sebagai orang yang nggak akan biarin Laras pergi gitu aja," jawab Bagas pelan, meski telinganya sedikit memerah.
Di tengah rencana-rencana konyol dan serius itu, Laras merasa beban di pundaknya sedikit berkurang. Dia melihat Gia yang baru saja bangkit dari masalahnya sendiri, kini justru paling depan membela Laras. Dia melihat Eno yang selalu siap jadi badut demi suasana cair. Dia melihat Juna yang meski penakut, tetap bertahan di sana. Dan tentu saja, Bagas.
"Makasih ya, guys," kata Laras tulus. "Gue nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kalian. Mungkin gue udah pakta integritas sama bokap gue sekarang."
"Santai, Ras. Kita ini kan satu paket hemat. Beli satu dapet enam," sahut Eno sambil nyengir.
Namun, di tengah tawa kecil itu, ponsel Juna bergetar. Dia melihat layar, lalu wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Guys..." Juna menunjukkan layar ponselnya. Ada sebuah foto yang dikirim dari nomor tak dikenal. Foto itu memperlihatkan mereka berenam yang sedang duduk di kantin saat itu juga, diambil dari kejauhan.
Di bawah foto itu ada pesan singkat: 'Persahabatan yang manis. Tapi idealisme mahasiswa tidak akan bisa membayar hutang masa lalu ibumu, Laras.'
Laras merasa dunianya berputar. Hutang? Ibunya tidak pernah bilang soal hutang. Plot twist yang mereka kira hanya soal jemput paksa, ternyata jauh lebih dalam dan gelap.
Bagas langsung berdiri, matanya berkeliling mencari sosok mencurigakan di sekitar kantin, tapi hanya ada kerumunan mahasiswa yang sibuk dengan urusan masing-masing.
"Sepertinya," bisik Gia sambil merapatkan bukunya, "perang ini bukan cuma soal ego bokap lo, Ras. Ada sesuatu yang Ibu lo sembunyiin."
Mendung kembali datang, dan kali ini, payung warna-warni mereka mungkin tidak akan cukup untuk menahan badai yang sebenarnya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...