---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Us
Malam itu, pukul 23.30, Irene terbangun oleh suara tangisan.
Bukan tangisan biasa. Tangisan ini berbeda—lebih lemah, lebih merintih. Irene langsung duduk, naluri seorang ibu bekerja lebih cepat dari kesadaran. Ia berlari ke kamar Rafa.
Di sana, Rafa terbaring dengan wajah merah, keringat membasahi sekujur tubuhnya. Matanya terpejam, tapi ia menangis lemah.
"Ra? Ra, Sayang, kenapa?" Irene mengelus dahi Rafa. Panas. Panas sekali.
Irene bergegas mengambil termometer. 39,2 derajat.
"Ya Allah..."
Elgi muncul di ambang pintu, masih setengah sadar. "Ada apa, Sayang?"
"Rafa demam. Tinggi."
Semua kantuk Elgi hilang seketika. Ia mendekat, meraba dahi Rafa. "Panas banget. Kita bawa ke rumah sakit?"
"Lihat dulu besok pagi. Sekarang kita turunin dulu."
Irene mengambil air hangat dan waslap. Elgi mencari obat penurun panas di lemari obat. Rafa masih menangis, merintih, "Ma... Ma... sakit..."
Irene menahan tangis. Melihat anaknya sakit adalah siksaan tersendiri bagi seorang ibu. Ia mengompres dahi Rafa dengan lembut.
"Sabarr, Sayang. Mama di sini. Sebentar lagi turun panasnya."
Elgi datang dengan obat sirup. "Ra, minum obat, ya. Biar cepet sembuh."
Rafa membuka mata. Matanya sayu, merah. "Nggak mau... pahit..."
"Obatnya manis, kok. Coba, Ayah kasih." Elgi menuang obat sesuai dosis. Rafa meminumnya dengan wajah masam, tapi ia habiskan.
Irene menggendong Rafa, membiarkannya tidur di dadanya. "Udah, udah. Mama gendong."
Perlahan, tangisan Rafa mereda. Napasnya mulai teratur, meski masih sesekali merintih.
Elgi duduk di samping mereka. "Kita bergantian jaga. Lo tidur dulu, nanti aku ganti."
"Lo kerja besok."
"Aku izin. Nggak mungkin ninggalin kalian."
Irene menatap suaminya. Ada rasa syukur di tengah kekhawatiran. "Makasih, Mas."
---
Pukul 02.00, Elgi menggantikan Irene.
Rafa masih panas, meski sudah turun sedikit menjadi 38,5. Irene tidur di kamar, sementara Elgi duduk di kursi samping tempat tidur Rafa, sesekali mengompres, mengukur suhu, dan membisikkan kata-kata lembut.
"Ra, Ayah di sini. Nggak usah takut."
Rafa terbangun, matanya mencari-cari. "Ay... sakit..."
"Iya, Nak. Tadi udah minum obat. Sebentar lagi sembuh."
"Rafa mau Mama..."
"Mama lagi istirahat. Nanti pagi Mama ganti jagain Rafa. Sekarang sama Ayah dulu, ya."
Rafa merengek sebentar, tapi akhirnya tertidur lagi karena kelelahan. Elgi mengelus rambutnya yang basah oleh keringat.
Menjadi orang tua, pikir Elgi, adalah tentang momen-momen seperti ini. Bukan tentang hadiah mahal atau liburan mewah. Tapi tentang begadang di tengah malam, mengompres anak yang demam, dan rela tidak tidur demi melihat mereka nyaman.
---
Pukul 05.00, Irene bangun dan menggantikan Elgi.
"Gimana?"
"Masih panas. Tadi sempet 38,5. Sekarang kayaknya agak turun." Elgi mengucek mata yang sayu.
"Lo tidur. Aku jagain."
"Kamu yakin?"
"Iya. Tidur."
Elgi mencium kening Irene, lalu menjatuhkan diri di ranjang. Dalam hitungan menit, ia sudah tertidur pulas.
Irene kembali ke kamar Rafa. Ia duduk di sampingnya, mengelus rambut halus anaknya.
"Ra, Bunda di sini. Cepet sembuh, ya."
Rafa bergerak, meraih jari Irene dengan tangannya yang mungil. Irene tersenyum. Di tengah sakit, anaknya masih mencari sentuhan ibunya.
---
Pukul 07.00, bel rumah berbunyi.
Irene membuka pintu. Jane berdiri dengan Hannah di gendongan dan sepiring bubur.
"Mba Irene, aku dengar Rafa sakit. Ini bubur, buat dia kalau udah mau makan."
Irene terharu. "Makasih, Jan. Siapa yang kasih tahu?"
"Jisoo. Dia lihat lo keluar malam bawa Rafa ke klinik? Katanya."
Irene mengangguk. "Iya, jam 3 subuh sempat ke klinik karena panasnya naik lagi."
"Gimana sekarang?"
"Udah agak turun. Tapi masih lemes."
Jane mengintip ke kamar Rafa. "Kasian, Ra. Cepet sembuh, ya."
Soo Young datang dengan sup ayam hangat. "Ini sup, bagus buat yang sakit. Hangat-hangat."
Jisoo menyusul dengan obat tradisional andalannya. "Ini jamu, buat nambah imun."
Irene hampir menangis. "Kalian... makasih banget."
"Ini udah tugas kita, Mba." Soo Young tersenyum. "Lo istirahat, kita bisa jaga Rafa bergantian."
---
Pukul 10.00, kondisi Rafa mulai membaik.
Panasnya turun menjadi 37,5. Ia sudah mau makan sedikit—bubur buatan Jane dan sup buatan Soo Young. Ia juga sudah mau tersenyum, meski masih lemas.
"Ma, Rafa mau main."
"Mainnya nanti dulu, Ra. Istirahat dulu."
"Tapi Rafa bosen."
Irene berpikir sejenak. "Mau digambar?"
"MAU!"
Irene mengambil kertas dan pensil warna. Rafa menggambar sambil berbaring—tema bebas, seperti biasa. Kali ini ia menggambar keluarganya: Ayah, Mama, dan Rafa. Ada juga coretan tambahan yang katanya Hannah.
"Ini Hannah," jelasnya, menunjuk coretan kecil di samping gambar Mama.
Irene tersenyum. "Bagus, Ra."
Elgi bangun pukul 11.00. Ia menemukan Rafa sudah duduk di tempat tidur, menggambar dengan asyik.
"Wah, udah sehat?" tanyanya.
"Ay! Lihat! Rafa gambar!" Rafa menunjukkan karyanya.
Elgi memuji setinggi langit. Rafa tersenyum bangga.
Irene duduk di samping Elgi. "Udah sembuh, kayaknya."
"Syukurlah." Elgi meraih tangan Irene. "Lo hebat."
"Kita hebat. Bareng-bareng."
---
Sore harinya, Rafa sudah bisa turun dari tempat tidur. Ia jalan pelan-pelan, masih sedikit lemas, tapi semangatnya sudah kembali.
Amora datang menjenguk dengan Jisoo. Ia membawa Punky—boneka beruang kesayangannya.
"Ini, Ra. Pinjem Punky. Biar cepet sembuh."
Rafa menerima Punky dengan hati-hati. "Makasih, Mo."
Mereka berdua bermain dengan tenang di ruang tamu. Hannah ikut digendong Jane, menonton dari kejauhan.
"Anak-anak itu lucu ya," ucap Jisoo. "Kalau sakit, sedih banget. Kalau udah sembuh, langsung lupa."
"Iya." Irene tersenyum. "Tapi itu yang bikin kita kuat. Mereka."
Para tetangga pulang satu per satu. Irene dan Elgi duduk di teras, mengawasi Rafa yang bermain dengan Amora di halaman.
"Mas, hari ini melelahkan."
"Iya. Tapi Rafa udah sehat."
"Makasih udah izin kerja."
"Ngapain makasih. Itu udah tugas aku." Elgi memeluk Irene. "Lo istirahat, ya. Nanti malam aku jagain lagi."
"Bersama-sama aja. Biar kita bergantian."
Elgi tersenyum. "Oke. Bersama-sama."
Malam itu, Rafa tidur nyenyak tanpa demam. Irene dan Elgi tidur di kamar dengan pintu terbuka, siap sedia jika anaknya membutuhkan.
Di Griya Asri, malam turun dengan damai. Dan di rumah nomor 9, keluarga kecil itu belajar bahwa sakit itu berat, tapi cinta membuatnya ringan.
---