Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Leon melangkah menyusuri jalanan desa yang berdebu. Sinar matahari pagi mulai menghangatkan pundaknya saat ia mengedarkan pandangan, mencari bangunan dengan simbol dua pedang bersilang yang sangat ikonik.
Di sudut sebuah kedai, Albert tampak sedang bersandar santai sambil berbincang dengan rekan-rekannya. Begitu melihat sosok pemuda berambut putih yang terlihat kebingungan, Albert langsung berdiri.
"Tuan Leon!" teriaknya sambil melambaikan tangan dan menghampiri.
Leon menoleh. "Tuan Albert?"
"Kau sedang apa di sini? Mencari sesuatu?" tanya Albert dengan nada ramah.
"Ya, aku ingin pergi ke Guild Petualang, tapi sepertinya aku tersesat," jawab Leon jujur.
Albert tertawa lebar, lalu dengan akrab merangkul pundak Leon. "Kebetulan sekali! Aku juga mau ke sana untuk mengambil misi baru. Ayo, kita pergi bersama."
"Wah, kalau begitu aku sangat terbantu," ucap Leon.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di depan sebuah bangunan batu yang megah. Di atas pintunya, terpampang logo dua pedang yang saling menyilang.
Suasana di dalam sangat kontras dengan ketenangan desa; ruangan itu gaduh oleh suara tawa, denting gelas, dan bisikan orang-orang yang sedang memilah kertas misi di papan pengumuman.
"Kau sudah punya plat identitas?" tanya Albert.
Leon menggeleng pelan.
"Kalau begitu, ikuti aku." Albert membawa Leon menuju meja resepsionis. "Hei, Nona, tolong bantu pria ini untuk mendaftar," ucap Albert sambil menunjuk Leon dengan jempolnya.
Seorang wanita cantik di balik meja mendongak. "Tentu saja. Untuk mendaftarkan identitas, ada beberapa tes dasar yang harus dilalui."
Wanita itu mengeluarkan sebuah bola kristal bening ke atas meja. "Silakan letakkan tangan Anda di sini."
Leon menaruh telapak tangannya. Sesaat kemudian, bola itu berpendar, namun cahayanya sangat redup, hampir tidak terlihat. Si wanita resepsionis menatap hasil itu dengan tatapan datar.
Rank F?. batinnya meremehkan.
Beberapa petualang yang berdiri di dekat sana melihat cahaya redup itu dan langsung meledak dalam tawa terbahak-bahak.
"Yo, Nak! Rank F sepertimu bernyali juga mendaftar jadi pahlawan?" teriak seorang pria berbadan besar sambil memegang gelas bir.
"Haha! Sepertinya dia sudah bosan hidup!" timpal yang lainnya.
Leon tidak bergeming. Wajahnya tetap tenang, seolah tawa itu hanyalah angin lalu.
"Namamu?" tanya wanita itu sambil menyiapkan pena.
"Leon Von Anhart," ucap Leon tegas.
Seketika, suasana di meja resepsionis membeku. Tangan wanita itu berhenti bergerak. Ia menatap Leon dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan yang berubah menjadi jijik. Ia tahu siapa pemilik nama itu; sang "sampah" dari keluarga bangsawan ternama.
Ternyata pria bejat, sampah, dan bajingan ini... kenapa dia ada di sini? batin si wanita dengan wajah masam.
...[-1]...
Sial, wanita ini pasti sedang menjelek-jelekan aku di dalam hatinya, batin Leon saat melihat notifikasi poin yang berkurang.
Orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dengan nada sinis.
"Sial, ternyata dia si bangsawan buangan itu."
"Kenapa orang seperti dia ada di sini? Pasti keluarganya sudah tidak sudi menampungnya lagi."
...[-1] [-1] [-1]......
Notifikasi poin terus bermunculan, membuat dahi Leon sedikit berkerut. Albert yang menyadari situasi mulai tidak enak segera mendekat dan menepuk bahu Leon.
"Nona, tolong lakukan lebih cepat," tegur Albert pada resepsionis itu. Ia lalu menoleh ke arah Leon. "Jangan hiraukan mereka."
Leon hanya tersenyum tipis. Ia tidak peduli pada hinaan mereka, tapi ia cukup kesal melihat poinnya terus terpotong.
"Class?" tanya wanita itu ketus.
"Swordsman," jawab Leon pendek.
Wanita itu pergi ke belakang dan kembali membawa sebuah plat besi murah. Saat hendak memberikannya, ia sengaja melonggarkan jarinya hingga plat itu jatuh dan berdenting di lantai.
"Ah, maaf. Tanganku tergelincir," ucapnya dengan senyum palsu yang menghina.
Leon menatap plat yang memantul di lantai. Bukannya marah, ia justru tersenyum tenang lalu berjongkok untuk mengambilnya.
"Hei! Apa-apaan kau? Tidak sopan sekali!" bentak Albert pada si wanita.
Wanita itu malah mencibir. "Kenapa? Apa pria sampah sepertinya layak mendapatkan sopan santun?"
"Kau—!"
"Sudahlah, Aku tidak masalah dengan hal kecil seperti ini," potong Leon sambil menahan lengan Albert.
Leon berjalan pelan menuju papan misi. Albert mendengus kesal dan mengekor di belakangnya.
Di papan itu, banyak misi berbahaya seperti memburu Orc atau binatang buas tingkat tinggi, namun semuanya memiliki segel Rank yang tidak bisa diambil Leon.
Satu-satunya yang tersedia bagi Rank F hanyalah misi mengumpulkan tanaman herbal di pinggiran hutan.
"Kau sudah menemukan misinya?" tanya Albert.
Leon mengangguk. "Sepertinya hanya ini yang bisa kuambil."
"Kalau begitu, aku harus pergi sekarang sebelum matahari terbenam," ucap Leon berpamitan.
"Baiklah, hati-hati di jalan," sahut Albert. Ia menatap punggung Leon yang menjauh dengan rasa iba. Kasihan sekali. Dia benar-benar dibuang keluarga sampai harus mengambil misi remeh seperti ini demi uang.
Beberapa saat kemudian, Leon sudah berada di sebuah padang rumput yang sangat luas di pinggiran hutan. Angin berhembus kencang, menggoyangkan ilalang setinggi pinggang.
Leon menghela napas panjang, menikmati kebebasan. Sebenarnya, tujuannya masuk ke Guild bukan untuk mencari uang dari tanaman herbal, melainkan agar ia punya izin masuk ke area ini.
Matanya menajam, ia mulai mengaktifkan Appraisal Eye. Tujuan utamanya hari ini adalah mencari hewan buas level rendah untuk dijadikan samsak latihan bertarung demi mematangkan skill bertarungnya.
Leon terus melangkah masuk lebih dalam ke area padang rumput yang berbatasan dengan hutan lebat. Suasana sangat sunyi, hanya ada suara gesekan ilalang yang tertiup angin.
Namun, keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara denting sistem yang nyaring di telinganya.
...[Misi Terpicu!]...
...Tujuan: Kalahkan Mamut yang sedang mengamuk 100 meter menuju pengguna!...
...Hadiah: [+50 Poin] & [???]...
"Mamut?!" Leon membelalak.
Belum sempat ia mencerna misi itu, tanah di bawah kakinya mulai bergetar hebat. Dari kejauhan, kepulan debu membubung tinggi ke langit, bergerak maju dengan kecepatan luar biasa ke arahnya.
Sosok raksasa berbulu lebat dengan gading besar yang melengkung tajam muncul dari balik debu. Matanya merah padam, memancarkan amarah yang murni.
Secara refleks, Leon mengaktifkan Appraisal Eye. Panel transparan segera muncul di depan matanya, memberikan informasi yang membuat jantungnya hampir melompat keluar.
...[NAMA: MAMUT HUTAN]...
...[LEVEL: D]...
"Le-level D?!" teriak Leon kaget.
Ia melirik plat petualangnya yang masih mengkilap. Ia hanyalah petualang Rank F yang baru saja mendaftar satu jam yang lalu, sementara monster di depannya berada tiga tingkat di atasnya. Jarak 100 meter menyusut dengan cepat. Setiap langkah sang Mamut menciptakan dentuman yang memekakkan telinga.
Bum! Bum! Bum!
Leon mengepalkan tangannya. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Ini bukan lagi sekadar latihan dengan pohon, ini adalah pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya.