Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
"Aku mau dia bersih. Mandikan dengan sampo terbaik yang kalian punya, dan pastikan bulunya wangi tanpa ada satu pun kutu yang berani hinggap!" perintah Xavier dengan nada yang tak bisa dibantah.
"Tapi Tuan, kucing ini sepertinya sangat tidak senang dimandikan," ujar pemilik pet shop dengan wajah was-was melihat Luna yang terus mengeong kencang di dekapan Xavier.
"Dia hanya sedang gugup. Lakukan saja tugasmu atau aku akan membeli toko ini dan memecat mu sekarang juga," balas Xavier dengan tatapan dingin di balik kacamata hitamnya.
"B–baiklah, Tuan."
Xavier menyerahkan Luna kepada seorang pelayan wanita. Begitu tangan pelayan itu menyentuh tubuhnya, insting liar Luna meledak. Ia tidak sudi kulitnya yang berharga disentuh oleh orang asing.
"Meong!" Luna meronta, cakarnya yang tajam keluar dan mengenai lengan pelayan itu hingga meninggalkan bekas merah yang perih.
"Aduh! Sakit! Kucing ini liar sekali, padahal bulunya halus dan cantik," gumam pelayan itu. Meski takut, ia tetap membawa Luna masuk ke ruang pemandian khusus yang tertutup kaca buram.
Di dalam ruangan sempit itu, Luna merasa terpojok. Saat pelayan itu menyalakan shower dan air dingin mulai menyentuh ekornya, Luna tidak bisa menahannya lagi. Emosinya memicu energi sihir dalam tubuhnya.
Blam!
Sebuah kepulan asap tipis muncul sesaat, dan sedetik kemudian, berat beban di tangan pelayan itu berubah drastis. Bukan lagi kucing kecil, melainkan seorang gadis cantik tanpa busana yang kini berdiri tegak di tengah bak mandi.
"Sudah Luna bilang, Luna tidak mau mandi! Kenapa kamu paksa Luna, Manusia Jelek!" bentak Luna dengan wajah cemberut.
Pelayan itu diam mematung. Matanya melotot dan hampir keluar dari tempatnya. Tubuhnya gemetar hebat saat melihat seorang gadis tiba-tiba muncul dari balik asap menggantikan seekor kucing.
"H-hantu... Siluman?!" pekiknya histeris. Tanpa pikir panjang, pelayan itu melempar selang air ke arah Luna dan lari tunggang langgang keluar dari ruangan. Ia menabrak pintu kaca hingga hampir pecah, lalu berlari menuju lobi depan tempat Xavier sedang menunggu sambil membaca majalah bisnis.
"Tuan! Tuan! Kucing anda... dia bukan kucing biasa!" teriak pelayan itu dengan napas tersengal-sengal.
Xavier menurunkan majalahnya perlahan, menatap pelayan itu dengan pandangan meremehkan.
"Apa yang kau katakan?! Bicara yang jelas atau aku potong lidahmu!"
"Siluman! Di dalam... ada wanita... dia... dia tidak pakai baju! Kucing itu berubah jadi manusia! Saya berhenti kerja! Saya tidak mau dimakan siluman!" pelayan itu tidak mempedulikan gajinya lagi. Ia lari keluar dari pet shop seolah-olah dikejar malaikat maut.
Xavier mengernyitkan dahi. "Dasar gila! Orang-orang di kota ini benar-benar tidak waras," gumamnya. Namun, rasa penasaran dan ketakutan bahwa kucingnya disakiti membuat ia segera berdiri. Ia bergegas melangkah menuju ruang pemandian.
Ceklek!
Xavier membuka pintu itu dengan satu sentakan kuat. Pemandangan di depannya membuat dunia Xavier seakan berhenti berputar selama beberapa detik.
"Sapir! Lihat, manusia jelek nakal!" seru Luna dengan mata berbinar-binar. Ia berdiri di tengah bak mandi, tubuhnya basah kuyup karena terkena cipratan air shower dan kemeja hitam yang tadi ia curi dari kamar Xavier entah hilang ke mana.
Bibir Xavier menganga lebar. Matanya menatap Luna dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"K-kau..." seperti biasa, Xavier hampir syok setengah mati.
"Sapir kenapa lama sekali? Sini, bantu Luna matikan air ini. Luna tidak suka dingin!" ucap Luna polos. Ia bergegas melangkah keluar dari bak mandi dengan santai, seolah-olah berdiri tanpa busana di depan seorang mafia kejam adalah hal yang paling normal di dunia.
Xavier buru-buru membalikkan badannya, jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa terkena serangan jantung di tempat.
"Pakai sesuatu! Demi Tuhan, pakailah handuk atau apa pun!"
"Luna tidak tahu apa itu handuk!" Luna mengusap wajahnya yang basah. "Kenapa Sapir bicara pada tembok? Sini, lihat Luna!" Luna malah mendekat dan memeluk punggung Xavier dengan tubuhnya yang basah kuyup.
"Sialan!" Xavier menggeram, mencoba menahan gejolak di dadanya. Ia mulai panas dingin. "Lepaskan! Kau membuat jasku basah!"
"Jas? Luna cuma mau peluk Sapir. Airnya dingin, tapi Sapir hangat," rengek Luna menyandarkan pipinya di punggung Xavier.
Xavier menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali jiwa mafianya yang dingin dan tak tersentuh. Dengan gerakan cepat, ia mengambil handuk besar yang tergantung di dinding tanpa menoleh, lalu melemparkannya tepat ke kepala Luna.
"Tutupi tubuhmu atau aku benar-benar akan membuang mu ke jalanan sekarang juga!" ancam Xavier.
Luna menyembul dari balik handuk dengan wajah cemberut. "Kenapa Sapir jadi galak sekali, sih?!" gerutunya.
Xavier akhirnya berbalik setelah memastikan Luna sudah terbungkus handuk meski sedikit berantakan. Lalu, ia menatap gadis itu dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.
"Jadi, kau benar-benar kucing itu? Mahluk apa kau sebenarnya, katakan?!"
Luna tersenyum lebar, memamerkan gigi taringnya yang kecil dan lucu. "Luna ya Luna. Bukan mahluk!" jawabnya.
Xavier memijat pangkal hidungnya. Masalah dengan paman Luke saja belum selesai dan sekarang ia memiliki seorang gadis siluman kucing yang hobi telan-jang di depannya.
"Setelah ini, kau harus menjelaskan semuanya padaku, gadis bodoh!" serunya sembari melepaskan jas yang ia pakai dan memakaikannya pada Luna.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu
Masih gak menyangka Vier bisa semanis itu 🤭 Lun kamu bener bener ya berani kiss pipi Sapir , Luna hanya Sapir yang boleh kamu cium yang lain jangan🤭😂
Vier kondisikan perasaanmu 🤣 pelan pelan ajari Luna ya , guru terbaik❤️