Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Bersama Di Meja Makan
Pagi itu, udara di Adinata Residence masih terlalu sunyi untuk disebut pagi.
Lampu di beberapa ruangan sudah menyala. Tapi, beberapa jendela masih belum dibuka.
Sunyi. Tak ada suara langkah pelayan yang biasanya sibuk menyiapkan sarapan.
Yang ada hanya Sagara.
Ia berdiri di dekat jendela besar yang menghadap halaman belakang. Satu tangan bertumpu di meja marmer. Tangannya yang lain menekan pelan ulu hatinya.
Perutnya kembali bergolak.
Rasa mual itu datang tanpa aba-aba. Naik ke tenggorokan, lalu turun lagi. Bukan sekali. Dan itu terjadi sejak dini hari.
Semalaman ia hampir tidak tidur.
Sagara menutup mata sebentar. Rahangnya mengeras. Bukan karena sakitnya. Tapi karena tubuhnya melakukan sesuatu yang tidak ia pahami.
Langkah kaki terdengar dari koridor.
Agam muncul lebih dulu. Wajahnya terlihat waspada. Ia berhenti begitu melihat posisi Sagara.
"Ada eksekusi pagi?" Ia bertanya asal, melihat Sagara yang berdiri dengan posisi santai--tidak sedang waspada seperti dalam dugaannya.
Agam dipanggil untuk datang. Secepatnya. Sekarang. Padahal ia masih bergelung nyaman dengan bantal. Dinilai dari perintahnya, sepertinya bukan hanya sekadar gawat darurat. Mungkin di Adinata Residence 3 telah terjadi hal yang butuh penanganan segera.
Agam melesat dengan mobil kesayangannya--bahkan tanpa sempat cuci muka. Di jalanan ia berkendara tanpa melihat rambu-rambu. Dan begitu sampai, bukan kewaspadaan--seperti dalam bayangannya yang didapat. Hanya Sagara, seorang diri, terlihat dalam gestur santai. Tak seperti tengah menghadapi hal yang gawat darurat--sebagaimana perintahnya untuk segera datang.
"Gejalanya datang."
Hanya dua kata dari Sagara, cukup membuat Agam memahami situasi.
“Masih, sekarang?
Sagara tidak menjawab. Ia hanya menarik kursi, lalu duduk.
Beberapa detik kemudian dokter Raka datang. Rambutnya masih sedikit berantakan. Seperti Agam, ia juga dipanggil datang terlalu pagi. Namun terhadapnya, Sagara sudah menceritakan apa yang terjadi.
Raka menatap Sagara cukup lama sebelum berbicara.
“Masih sama seperti kemarin?”
Sagara membuka mata.
“Lebih buruk.”
Jawabannya datar. Tanpa keluhan. Tapi tatap mata menyimpan ketaknyamanan yang tak bisa disembunyikan.
Raka menghela napas pendek. Ia sudah melihat ini beberapa kali dalam beberapa minggu terakhir.
“Minum air hangat dulu.” Ia menunjuk gelas yang sudah disiapkan pelayan.
Sagara tidak bergerak.
“Setelah itu sarapan,” lanjut Raka lagi.
Kali ini Sagara menoleh.
“Tidak.”
Perutnya kembali bergejolak. Bahkan aroma makanan yang belum tersaji pun sudah membuatnya tidak nyaman.
Raka tidak tampak terkejut.
“Aku bawa obat. Tapi harus diminum setelah makan.”
Hening beberapa saat.
Agam yang berdiri di sisi meja akhirnya ikut bicara.
“Sagara, ini bukan rapat yang bisa ditunda makanannya.”
Sagara menatapnya sebentar.
Tatapan yang biasanya cukup membuat orang berhenti bicara.
Tapi Agam tidak bergeser.
“Kalau dokter bilang harus makan dulu, ya makan,” lanjutnya tenang.
"Untuk apa panggil dokter, kalau tak patuh." Ia bahkan terus berkicau. Meski tahu tatap mata Sagara ke arahnya seperti ingin melempari sandal.
Sagara menarik napas pelan.
Tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya sedikit berat. Tapi yang paling mengganggu tetap satu hal--Perutnya seperti menolak bekerja sama.
Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya meraih gelas di depannya.
Air hangat itu diminum setengah.
Raka mengangguk kecil.
“Bagus.”
Tatapannya menyapu ruangan. Dan Ratri, ia melihat perempuan itu berdiri siaga di sisi. "Siapkan sarapan."
"Untuk kami juga," sambung Agam.
Ratri mengangguk tanpa kata. Melangkah meninggalkan posisi. Memberi perintah kecil.
Pelayan mulai membawa sarapan--yang memang sudah siap ke meja makan.
Aroma makanan langsung memenuhi ruangan. Lampu-lampu dinyalakan, jendela dibuka. Setelah semuanya tertata rapi, lengkap. Ratri kembali ke ruangan dalam untuk melaporkan.
"Nona Shafiya tidak dipanggil sarapan juga?" tanya Agam begitu tiba di ruang makan. Ia melihat hanya tiga piring yang disiapkan.
Ratri terlebih dulu menatap Sagara sebelum menjawab. Karena lelaki itu diam, maka dianggap persetujuan.
"Nona Shafiya tidak pernah keluar kamar. Semua keperluan, diantar."
"Dari sejak kemarin?" Agam sedikit mengernyitkan dahi.
Ratri mengangguk.
"Sebaiknya panggil nona Shafiya untuk sarapan bersama. Di sini." Raka memerintahkan Ratri.
Kembali Ratri melihat ke Sagara dulu. Dan meski Sagara diam, Ratri tidak beranjak. Karena untuk kali ini, persetujuannya tidak lagi bisa diartikan dengan diam.
"Penting menjaga kondisi kesehatannya. Dia sedang hamil." Raka alihkan pembicaraan pada Sagara.
"Sudah ada ahli gizi yang menangani semua menu yang dikonsumsi nona Shafiya." Ratri menjawab.
"Bukan hanya secara fisik, tapi juga psikis. Itu sangat penting bagi wanita hamil, terutama di trimester awal." Raka menggunakan otoritas kedokterannya saat bicara, dan itu membuat Ratri diam.
Sagara melihat Ratri sekilas.
"Panggil." Tidak dengan nada perintah yang kuat.
"Baik, Tuan."
Ketiga orang itu sama-sama menghampiri meja makan yang sudah menunggu. Jika Agam dan dokter Raka tampak semangat, beda dengan Sagara.
Ia memejamkan mata sesaat.
Mualnya naik lagi.
Saat membuka mata kembali. Ia duduk.
Lalu menarik piring ke arahnya.
Bukan karena benar-benar ingin makan.
Tapi karena ia tidak pernah membiarkan tubuhnya menang lebih dulu.
Agam melihat itu dan menggeleng pelan.
“Kalau orang lain yang mengalami ini,” katanya santai, “sudah izin tidak kerja sebulan.”
Sagara mengambil sendok.
“Kalau orang lain,” jawabnya pendek, “bukan aku."
Raka menatap mereka berdua.
Lalu berkata datar.
“Kalau gejala ini terus muncul, berarti satu hal.”
Sagara berhenti sebentar.
“Apa.”
Raka menjawab tanpa ragu.
“Tubuhmu masih bereaksi pada proses itu.”
Hening turun di meja makan setelah itu.
Hening yang kemudian dipecahkan oleh hadirnya dua orang. Shafiya dan Winda.
"Selamat pagi, Ning Shafiya." Agam menyapa lebih dulu. Hangat.
Shafiya mengangguk. "Shafiya saja," ucapnya pelan. Tanpa "Ning".
"Silakan." Raka menyilakan ke kursi kosong di depan Sagara.
Shafiya duduk. Winda datang membawa piring. Hendak mengambilkan makanan.
"Saya saja, Mbak." Shafiya mencegah sambil tersenyum lembut.
Winda patuh, segera mundur.
Shafiya mengambil menu sarapan yang ada di depannya saja. Porsi sedikit. Terlalu sedikit untuk ukuran sarapan orang dewasa.
Hening kembali mengambil kuasa.
Hening yang tak biasa.
"Bagaimana hari kedua di rumah ini, Shafiya?" Agam mencoba memecah hening itu.
"Masih sama." Shafiya menjawab singkat tanpa menatap. Jawabannya juga tak menjelaskan apa pun.
"Ada keluhan?" Raka juga ikut bertanya.
"Terkait kesehatan, dan--" Raka membiarkan kalimat itu menggantung.
Shafiya diam.
"Dia, dokter Raka Pradipta. Pimpinan Adinata Medical Center." Agam menjelaskan. Ia melihat tatap ragu di mata Shafiya. "Bicara padanya jika ada hal dengan kesehatan."
"Baik." Shafiya mengangguk.
"Saya baik-baik saja," lanjutnya. Kembali menunduk, menekuni sarapan. Etika yang sudah tertanam dalam keluarganya, untuk tidak bicara saat makan. Saat ada yang mengajaknya bicara, itu sedikit membuatnya kurang nyaman.
Lalu kemana Sagara, saat interaksi kecil mereka itu terjadi?
Ada. Tetap di posisi. Duduk tenang di kursi depan Shafiya. Namun bukan tenang yang damai. Ia sedang berperang dengan mual yang menyerang. Hingga akhirnya ia benar-benar tidak mampu menahan.
Sagara mendorong piringnya menjauh. Makanan masih tersisa, banyak. Ia menutup hidung dengan tangan.
"Obat. Aku sudah sarapan," ucapnya datar pada Raka.
"Ada. Minum dulu."
Sagara bahkan sudah tidak punya waktu sekedar untuk minum. Ucapan Raka itu membuatnya mendengus.
"Makin parah?" Agam menatap khawatir. Tapi di balik itu, sikap jahilnya juga keluar.
"Shafiya yang hamil. Kenapa kamu yang mual-mual, Sagara."
Dan kalimat itu cukup menjadi bom. Tidak dengan dentuman yang menggelegar, tapi dengan keheningan yang tajam. Semua orang diam, seperti baru dikejutkan oleh peristiwa besar.
Shafiya juga mendongak. Menatap Sagara. Sedetik saja tatap mereka bertemu, sebelum sama-sama membuang pandangan.
"Obat." Raka menyodorkan obat yang masih tersegel steril ke depan Sagara.
Ia mengambilnya dan bangkit dengan cepat.
"Kinerja obat kurang maksimal tanpa minum," ujar Raka. Namun tak digubris Sagara ia berlalu dari ruang makan.