NovelToon NovelToon
Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Status: tamat
Genre:Dokter Genius / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:76.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.

Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.

Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa, dan keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 35.

Pagi itu, suasana di Rumah Sakit Cakrawala berubah drastis. Keamanan diperketat dua kali lipat, petugas berjaga di setiap pintu masuk. Bahkan area parkir yang sebelumnya lengang kini dipenuhi pengawasan ketat oleh para pasukan khusus yang dikomandoi oleh Angkasa.

Semua itu bukan tanpa alasan, karena satu kabar telah sampai lebih dulu sebelum pemiliknya tiba—Kenzo kembali ke Indonesia.

Di ruang observasi khusus, Angkasa sudah dipindahkan kembali ke ruang perawatan dengan pengawasan ketat. Kondisinya stabil, namun efek dari prosedur semalam masih terasa jelas. Ia bersandar di ranjang, menatap tangannya sendiri.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Benar-benar gila…” gumamnya pelan.

Pintu terbuka, Arunika masuk tanpa mengetuk. Wajahnya seperti biasa, tenang dan dingin.

“Bagaimana kondisi sarafmu?” tanya Arunika langsung.

Angkasa mengangkat tangannya sedikit. “Lebih baik dari yang kau prediksi.”

Arunika mendekat, matanya langsung fokus pada pergerakan tangan pria itu. Ia mengamati, begitu detail dan presisi.

Beberapa detik kemudian ia mengangguk pelan. “Responsnya meningkat 12% dari baseline.”

Nada suaranya tetap profesional, tapi ada sesuatu yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya—kepuasan.

Angkasa memperhatikan itu.

“Jadi…” ia tersenyum kecil. “Aku pasien yang berhasil membuat Dokter Jenius puas?”

Arunika menatapnya datar. “Kamu pasien yang masih hidup.”

Jawaban itu membuat Angkasa tertawa pelan, lalu meringis sedikit karena luka di perutnya masih terasa.

Arunika langsung mengernyit. “Jangan banyak bergerak.”

“Baik, Dokter.” Jawab Angkasa santai.

Beberapa detik mereka terdiam. Namun kali ini, tidak terasa canggung. Justru… lebih hangat.

Arunika tidak langsung pergi.

Ia justru berbalik, mengambil sarung tangan medis dari meja samping. Tatapannya kembali profesional, dingin seperti biasa.

“Perbanmu harus diganti.”

Angkasa yang tadinya hampir memejamkan mata kembali membukanya, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Jadi… ini alasanmu tetap di sini?”

Arunika tidak menanggapi. “Buka bajumu.”

Kalimat itu dikatakan dengan biasa saja, namun entah kenapa udara di ruangan terasa berubah.

Angkasa menatap wanita itu beberapa detik, lalu tertawa pelan. “Kamu tidak pernah berputar-putar, ya.”

Arunika menatapnya dingin. “Jika kamu ingin luka ini infeksi, kamu boleh terus bicara.”

“Baik, Dokter.” Angkasa akhirnya menurut.

Dengan gerakan pelan, masih terbatas karena lukanya, Angkasa membuka kancing baju pasiennya. Kain itu tersingkap, memperlihatkan perban di bagian perutnya.

Arunika mendekat, aroma samar antiseptik bercampur dengan wangi tubuh pria itu. Tangannya mulai bekerja dengan terampil. Namun saat ia membuka perban lama, ada sedikit darah kering terlihat.

Alisnya langsung berkerut. “Kamu terlalu banyak bergerak.”

Angkasa mengangkat bahu sedikit, Arunika meliriknya tajam.

Tangan wanita dengan hati-hati membersihkan luka. Setiap sentuhan presisi, tapi juga lembut.

Angkasa memperhatikan wajah wanita itu dari jarak yang sangat dekat.

Serius.

Fokus.

Tanpa cela.

“Arunika,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Kamu selalu seperti ini saat bekerja?”

“Seperti apa?”

“Dingin… tapi perhatian.”

Gerakan tangan Arunika berhenti sepersekian detik, lalu kembali lanjut. “Aku hanya melakukan tugasku.”

Angkasa tersenyum tipis.

“Kalau begitu… aku ingin terus jadi pasienmu.”

Arunika mengangkat alis sedikit. “Kamu ingin terluka lagi?”

“Kalau itu satu-satunya cara…” Angkasa menatapnya dalam. “…untuk membuatmu sedekat ini.”

Tangannya yang sedang memegang kasa berhenti.

Beberapa detik.

Sunyi.

Lalu... Arunika menekan sedikit lebih kuat di area luka.

“Ah—” Angkasa meringis. “Kau—?”

“Ini bagian dari perawatan.” Jawab Arunika datar, tapi sudut bibirnya bergerak ke atas.

Angkasa tertawa pelan meski menahan nyeri. “Dokter yang kejam.”

“Pasien yang cerewet.” Balasan dari wanita itu datang dengan cepat. Ringan, dan… berbeda dari biasanya.

Setelah beberapa saat, Arunika selesai membersihkan luka. Ia mengganti perban baru dengan rapi, gerakannya melambat saat hampir selesai. Entah kenapa… ia tidak langsung menjauh dari Angkasa.

Jarak mereka terlalu dekat, nafas mereka hampir terasa. Angkasa menatap wanita itu tanpa bicara, namun tatapannya cukup untuk mengatakan sesuatu.

Arunika menyadarinya, dan kali ini… ia tidak langsung menghindar.

“Sudah selesai.” Ucap wanita akhirnya dengan suara pelan, tapi dia belum bergerak.

Angkasa tersenyum kecil. “Sepertinya… belum.”

Arunika mengerutkan kening. “Apa lagi?”

Angkasa mengangkat tangannya yang masih lemah, lalu meletakkannya perlahan di atas dadanya sendiri dibagian jantung. Tatapannya melembut saat menatap Arunika dalam-dalam. “Bagian tubuhku yang ini… masih belum rela melihatmu pergi.”

Detak jantung Arunika kembali berubah, namun kali ini lebih jelas. Ia menatap tangan tangan pria itu yang menekan jantung, lalu ke arah wajahnya. Beberapa detik yang terasa lama. Akhirnya Arunika berdiri tegak, kembali menjaga jarak.

“Kamu harus istirahat.”

Nada suaranya kembali profesional, tapi tidak sedingin sebelumnya. Ia berbalik, melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, langkahnya berhenti sebentar.

Tanpa menoleh, ia berkata pelan. “Aku akan kembali mengecek lukamu nanti.”

Pintu terbuka, lalu tertutup lagi. Dan di dalam ruangan, Angkasa tersenyum. Karena ia tahu… itu bukan lagi sekadar perawatan, namun pendekatan.

___

Di ruang kerja khususnya, Arunika berdiri di depan jendela kaca besar. Tatapannya kosong, namun pikirannya jauh lebih sibuk dari biasanya.

Ponsel di tangannya bergetar, nomor tak dikenal.

Arunika menatap layar itu beberapa detik, lalu mengangkatnya.

“Dokter Arunika.”

Suara di seberang sana terdengar rendah, namun membawa tekanan yang tidak biasa.

Arunika tidak menjawab, tapi detak jantungnya sedikit berubah. Ia tahu... ini dia.

“Ya.” Ucapnya datar.

Ada jeda singkat.

”Aku ingin bertemu denganmu.”

Arunika menyipitkan mata sedikit. “Kenapa aku harus menemuimu?”

“Karena aku sudah tahu siapa yang ingin membunuhmu beberapa hari lalu, orang itu dari keluarga Wiratama... Keluarga Angkasa. Bukankah selama ini kamu mencari pembunuh orang tuamu? Datanglah, aku akan mengatakan siapa para pelakunya.”

Suara Kenzo terdengar seperti tersenyum.

Jari Arunika sedikit menegang di ponselnya, beberapa detik hening.

Lalu, wanita itu akhirnya menjawab. “Kirim lokasi.”

Panggilan itu berakhir.

Mata Arunika menyipit perlahan, tajam seperti bilah tipis yang baru diasah. Ia tidak bergerak selama beberapa detik, seolah mencerna sesuatu yang tak terdengar oleh orang lain. Lalu… Ia melangkah ke meja kerjanya.

Tangannya berhenti di salah satu laci.

Laci itu tidak biasa—terkunci, tersembunyi, seolah memang tidak pernah dimaksudkan untuk dibuka sembarangan.

Klik.

Kunci terbuka.

Arunika menarik laci itu perlahan. Di dalamnya bukan dokumen, melainkan sebuah senjata api. Tanpa ragu, ia mengambilnya. Gerakannya halus dan terbiasa, seolah benda itu bukan sesuatu yang asing di tangannya.

Ia memeriksa dengan cepat.

Amunisi.

Keamanan.

Semuanya dalam kondisi sempurna.

Arunika lalu menyelipkan senjata itu di pinggangnya, tersembunyi rapi di balik pakaian. Tak terlihat, tak mencolok—namun siap digunakan kapan saja. Setelah itu, ia menutup laci kembali. Dan saat ia berbalik, tatapannya sudah berubah. Bukan lagi sekadar seorang dokter. Melainkan seseorang… yang siap menghadapi apa pun yang menunggunya di luar sana.

1
ρυтяσ✨
trimakasih untuk karya'y thor... 🥰🥰🥰🥰semua bahagia dengan jalan takdir'y masing" tanpa ada rasa iri dan dendam di hati
Muft Smoker
cerita ny bagus Dan recommend bgt
Muft Smoker
waah makasih kak author udh kasih cerita yg bnr2 keren ,,
suka banget dg tokoh utamany ,, Arunika ,,
tenang , tepat Dan cepat ,,

dtggu karya hebat selanjutnya kak ,,
sehat2 selalu kak ,,
ρυтяσ✨
Arunika emang kereeeen
ρυтяσ✨
ternyata adegan itu'y di skip ya thor🤣🤣🤣🤣tidak di kasih rincian nota🙈🙈🙈eee kek belanja yaaa di kasih nota
Muft Smoker
istri mu cemburu krn gx mampu seperti mama ny Arunika ,,
ia kalah jauh di bawah sana ,, makany pikiran ny pendeek ,, 😏😏😏
Muft Smoker
terungkap sedikit demi sedikit ,, 😏😏😏
niktut ugis
kasihan angkasa
Rini
keren 🥰🥰🥰, makasih thor ceritanya, semangat trus berkarya 💪💪💪
Rere💫: Makasih kak🤗
total 1 replies
Rohmi Yatun
makasih thor udah sampe end.. ditunggu karya selanjutnya👍🙏
Rere💫: Nuhun kak say🙏🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Akhirnya cerita selesai tak ada kebencian diantara mereka yang telah berseteru.
Rere💫: 🙏🙏🙏🤗🤗🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Akhirnya lamaran dari Angkasa terucap untuk Arunika Elena memang gentle girl
vj'z tri
edodoe dah kaya beli bakso ajj ngelamar nya/Facepalm//Slight//Slight//Slight//Slight/
Aditya hp/ bunda Lia
tak terasa tamat juga .. terimakasih Thor 🙏
tetap semangat dengan karya barunya
Aditya hp/ bunda Lia: duh, ... sayang banget 😢
total 2 replies
niktut ugis
dokter Riana adalah dokter spesialis kiat² jd pelakor 🤣🤣
My Family Cake 96
good
Tiara Bella
makasih Thor udh menyuguhkan cerita yg bagus dan menarik....semangat dan sukses selalu....😍/Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
Tiara Bella: oh pantesan gk lihat lg up ....
total 4 replies
Tiara Bella
wow gercep nya bang Angkasa....
sunaryati jarum
Jangan kebablasan kalian belum menikah, Angkasa kau seorang perwira dan Arunika kau seorang dokter hebat, kendalikan nafsu kalian Jaga etika jangan kotori profesi kalian dengan melakukan kegiatan yang hanya halal untuk pasangan yang sudah menikah
sunaryati jarum
Ego dan gengsi kok dipertahankan jika Arunika lelah mengejarmu dan ditangkap pria lain kamu akan menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!