NovelToon NovelToon
Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Anime
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
​Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
​Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
​Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Menjadi Penyelamat atau Kematian

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang UKS setelah pintu kayu tebal itu kembali terkunci dan dibarikade dengan lemari obat berat yang digeser bersama-sama. Di luar, suara garukan kuku kasar pada dinding beton seperti gergaji yang mengikis logam, diselingi erangan parau yang membuat kulit merinding – namun di dalam ruangan ini, waktu seolah berjalan dengan kecepatan yang jauh lebih lambat. Bau antiseptik yang tajam dari cairan pembersih menyengat hidung, berusaha gigih menutupi aroma kematian dan darah yang dibawa Yuuichi dari koridor yang sudah berubah menjadi medan perang.

Chika Kudou masih membenamkan wajahnya di dada Yuuichi, tubuhnya yang mungil tampak gemetar hebat seperti sedang berada di tengah badai salju. Yuuichi bisa merasakan getaran dari dada wanita itu yang berdenyut kencang, serta tetesan air mata hangat yang perlahan meresap melalui bahan jaket kulit hitamnya, menembus hingga ke kulitnya yang masih sedikit hangat akibat teknik Pernapasan Matahari. Ia tidak mendorongnya – tidak sekarang, tidak ketika guru yang pernah memberikan dia tempat berlindung dari dunia yang kejam itu sedang membutuhkan dukungan.

Tangannya yang masih memegang katana biru es perlahan menggerakkan sarung pedang, menyelaraskan bilah yang dingin dengan lubangnya dengan gerakan yang lembut dan hati-hati agar tidak membuat suara yang mengejutkan.

Klik.

Suara logam yang bertemu dengan sarungnya terdengar jelas di dalam ruangan yang sunyi, seperti sebuah tanda bahwa ancaman langsung telah berlalu – sekaligus peringatan bahwa mereka masih jauh dari aman.

"Sudah cukup, Sensei. Tarik napas dalam-dalam, perlahan saja," bisik Yuuichi dengan suara yang lembut namun tetap memiliki ketegasan yang mampu menenangkan. Suaranya tidak lagi dingin seperti saat ia menghadapi makhluk-makhluk itu di luar, melainkan kembali memiliki nada yang dikenal oleh para siswa di sekolah.

Chika perlahan mendongak, wajahnya yang biasanya selalu rapi dan bersih kini tampak berantakan – rambut pirangnya sedikit kusut, dan ada noda kecil debu di pipinya yang putih. Mata cokelatnya yang biasanya hangat seperti sinar matahari kini memerah dan sembab karena menangis. Ia menatap wajah Yuuichi dengan tatapan bingung, seolah sedang mencari sosok siswa malas yang sering tidur di belakang kelas atau menghilang saat jam pelajaran mulai bosan – namun yang ia temukan hanya sepasang mata merah dalam yang menyimpan kedalaman pengalaman yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang siswa SMA biasa.

"Shiro-kun... tanganmu..." – Chika berbisik dengan suara yang masih menggigil, seraya meraih tangan kanan Yuuichi dengan jemari yang tipis dan masih gemetar. Sebagai seorang petugas medis yang telah terlatih dengan baik, insting untuk membantu dan merawat muncul dengan sendirinya, bahkan di tengah ketakutan yang menyelimuti dirinya. "Ada darah di sini."

"Ini bukan darahku," jawab Yuuichi dengan kalimat yang singkat namun jelas. Ia membiarkan Chika memegang tangannya, merasakan sentuhan lembut kulit wanita itu yang begitu kontras dengan kekerasan dan kejamannya yang baru saja ia lakukan di luar ruangan. Jari-jari Chika dengan hati-hati menyapu permukaan tangannya yang sedikit kotor, membersihkan noda cairan hitam pekat yang menempel di sana.

Di sudut ruangan yang jauh dari meja kerja, Sakura Hoshino berdiri dengan tubuh yang sedikit membungkuk, napasnya masih memburu seperti baru saja berlari sejauh kilometer. Ia memegang pedang kayunya dengan kedua tangan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan uratnya menonjol. Matanya yang besar beralih dari Yuuichi ke arah jendela pintu yang buram, di mana bayangan beberapa mayat yang membeku akibat teknik es Yuuichi masih terlihat jelas. Bibirnya sedikit menggigil, namun tidak ada lagi tangisan atau histeria yang muncul darinya.

"Yuuichi-kun... apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa terus berlindung di sini kan? Mereka..." – Sakura menoleh ke arah Yuuichi, matanya menunjukkan ketakutan namun juga kesediaan untuk menghadapi apa pun. "Mereka akan terus datang, dan suatu saat nanti pintu ini tidak akan mampu menahan mereka lagi."

Suaranya terdengar jauh lebih stabil daripada sebelumnya, tanpa nada gemetar yang terlihat saat mereka pertama kali keluar dari kelas – menunjukkan kekuatan mental yang dimiliki oleh seorang atlet bela diri yang telah terbiasa menghadapi tantangan dan tekanan.

Yuuichi perlahan melepaskan pelukan Chika, namun tangannya tetap berada di bahu guru itu untuk memastikan dia tetap berdiri dengan tegak dan tidak pingsan akibat syok. Ia berjalan dengan langkah mantap menuju meja kerja yang rapi milik Chika, mengambil sebuah peta denah sekolah yang terlipat rapi di sudut meja – peta yang biasanya digunakan untuk simulasi evakuasi saat terjadi kebakaran atau bencana alam. Ia membukanya dengan hati-hati, menyebarkannya di atas meja yang bersih dari noda darah atau kotoran.

"Menganalisis rute tercepat ke berbagai titik penting sekolah... Kakak, jika kau berniat menjadi pahlawan yang menyelamatkan seluruh siswa dan guru di sini, aku sarankan untuk melupakan ide itu sekarang juga. Tapi jika tujuanmu adalah menjemput si jenius sombong yang selalu merasa paling pintar di sekolah ini, kau harus melewati area laboratorium kimia di lantai dua."

Rina Suzuki. Nama itu muncul dengan sendirinya di benak Yuuichi. Gadis itu memang sering menyebalkan dengan sikapnya yang sombong dan logika yang selalu membuat semua orang merasa kalah, tapi otaknya yang cerdas adalah aset berharga yang tidak bisa ia biarkan hancur oleh virus yang tidak punya pikiran sama sekali. Di kehidupan sebelumnya, Rina adalah orang yang menemukan cara untuk memperlambat penyebaran virus dan membuat obat penahan sementara – sesuatu yang sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka.

Yuuichi menoleh perlahan ke arah Sakura yang masih berdiri di sudut ruangan. Ia bisa melihat bahwa meskipun sudah lebih stabil, gadis itu masih dalam keadaan syok pasca-trauma setelah melihat pemandangan yang mengerikan di koridor. Tanpa berkata apa-apa, Yuuichi mengulurkan tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap lembut pipi kanan Sakura yang terkena sedikit cipratan cairan hitam pekat dari tubuh salah satu makhluk yang mereka kalahkan.

"Kau melakukannya dengan sangat baik tadi, Sakura. Tanpamu yang membantu menghadapi makhluk di belakangku, aku mungkin akan terhambat di koridor dan tidak akan sampai tepat waktu untuk menyelamatkan Sensei," puji Yuuichi dengan nada rendah yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. Sentuhan tangannya di pipi Sakura lembut, seperti ingin menunjukkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Pipi Sakura sedikit memerah dengan warna merah muda yang lembut di tengah wajahnya yang masih pucat. Ia menundukkan kepala sedikit, merasa sedikit malu namun juga terhibur oleh pujian dari Yuuichi. "Aku... aku hanya mencoba tidak menjadi beban bagimu. Aku tidak bisa hanya berdiri diam dan melihatmu berjuang sendirian."

"Ohoho! Poin kasih sayang antara kamu dan Sakura Hoshino meningkat sebanyak 15 poin lho, Kakak. Sekarang dia merasa dilindungi namun juga dihargai karena kontribusinya. Apa kau ingin aku memunculkan indikator 'Hubungan Cinta' di atas kepalanya agar lebih jelas? Bisa juga aku beri warna-warni biar lebih menarik!"

Diamlah, Miu. Cukup berikan aku pembaruan status karakter setelah pertarungan di koridor tadi.

[ PEMBARUAN STATUS KARAKTER ]

Nama: Yuuichi Shiro

Level: 2

Poin Atribut Tersedia: 5

Peningkatan Atribut Otomatis:

- Kekuatan (STR): 15 → 16

- Kecepatan (SPD): 17 → 18

(Efek penggunaan Keterampilan Pernapasan Matahari dalam pertempuran)

KETERAMPILAN

- Pernapasan Matahari: Tingkat 1 (Poin Pengalaman: 45/100)

- Taekwondo Jin Mori: Tingkat 1 (Poin Pengalaman: 30/100)

- Keahlian Memasak: Tingkat 3 (Poin Pengalaman: 70/100)

 yuuichi menatap layar transparan yang muncul di depannya, melihat poin atribut yang tersedia dengan cermat. Tanpa ragu sama sekali, ia mengalokasikan poin tersebut untuk menyeimbangkan ketahanan dan kelincahannya – dua hal yang sangat penting untuk bertahan hidup di dunia yang sudah berubah ini.

[ ALOKASI POIN ATRIBUT ]

- Ketahanan (VIT): 12 → 15

- Kelincahan (AGI): 18 → 20

Seketika setelah alokasi selesai, rasa lelah yang sempat menghinggapi otot-ototnya setelah menggunakan teknik Tarian Es Abadi mulai memudar dengan cepat. Tubuhnya terasa lebih ringan seperti sedang tidak membawa beban apa pun, dan indranya menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Ia bisa mendengar detak jantung Chika yang mulai melambat dan kembali stabil, serta napas Sakura yang semakin teratur dan tidak lagi terengah-engah. Bahkan ia bisa mencium aroma alkohol medis yang tersembunyi di balik lemari obat jauh di sudut ruangan.

"Shiro-kun, aku sudah siap!" – Chika menghampiri mereka dengan langkah yang lebih mantap, tas medis besar berwarna oranye tersampir di bahunya. Ia telah mengganti sepatu hak tinggi hitam yang biasanya dikenakannya dengan sepatu kets putih cadangan yang ia simpan di dalam lemari kecil di sudut UKS, membuatnya lebih siap untuk berlari atau bergerak cepat jika diperlukan. Di tangannya, ia juga membawa sebuah tas kecil yang berisi beberapa botol air dan makanan ringan dari lemari penyimpanan darurat.

Yuuichi mengangguk dengan puas. Ia berjalan ke arah jendela kecil yang menghadap ke arah lapangan sekolah, mengintip dengan hati-hati melalui celah tirai yang ditarik sebagian. Di bawah sana, beberapa bus sekolah masih terparkir rapi di bawah kanopi tempat parkir bus – sebuah harapan untuk bisa keluar dari sekolah dan mencari tempat yang lebih aman. Namun, jalan menuju ke sana terlihat seperti jalan menuju mimpi buruk yang tak berujung – ribuan makhluk yang sudah tidak bisa disebut manusia lagi mulai memenuhi area terbuka, bergerak dengan langkah goyah namun terus-menerus mencari mangsa.

"Kita tidak akan keluar melalui gerbang depan atau menuju area parkir bus utama," kata Yuuichi sambil menunjuk ke beberapa titik pada peta denah yang terbuka di atas meja. "Ada lorong penghubung bawah tanah yang menghubungkan laboratorium kimia dengan gedung olahraga di sisi belakang sekolah. Di gedung olahraga ada pintu keluar darurat yang langsung menuju area parkir belakang – di situlah biasanya guru-guru memarkirkan mobil mereka."

"Tapi laboratorium kimia... itu area yang tertutup dan memiliki banyak ruangan kecil. Jika kita terjebak di sana..." – Sakura mendekat ke meja, melihat peta dengan tatapan ragu. Ia tahu bahwa area laboratorium memang sulit untuk dilewati jika ada banyak bahaya yang mengintai di sana.

"Maka kita tidak akan membiarkan diri kita terjebak di situ," potong Yuuichi dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan. Ia menarik sarung katananya sedikit, membiarkan kilatan cahaya biru es dari bilah pedangnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu ruangan. "Miu, aktifkan sistem radar musuh dengan jangkauan 50 meter. Aku ingin tahu secara pasti apa yang menunggu kita di koridor menuju laboratorium dan di dalamnya."

"Dimengerti, Kapten yang selalu berani mengambil risiko. Sedang melakukan pemindaian seluruh area lantai dua... Terdeteksi sekitar lima belas tanda kehidupan yang masih kuat namun tertekan di berbagai bagian lantai dua, dan sekitar tiga puluh 'boneka mati' yang berkeliaran di area sekitar laboratorium. Oh, dan satu tanda kehidupan yang cukup menarik – nampaknya si gadis kaya raya yang selalu sombong itu sedang mencoba membuat bom molotov menggunakan bahan kimia yang ada di laboratorium."

Yuuichi menyeringai sedikit mendengarnya. Rina Suzuki memang tidak pernah mengecewakan jika menyangkut insting bertahan hidup yang praktis dan kemampuan untuk berpikir cepat dalam keadaan darurat. Di kehidupan sebelumnya, gadis itu juga adalah orang yang paling cepat beradaptasi dengan keadaan baru.

"Ayo kita berangkat sekarang juga. Kita akan bergerak dalam formasi yang sudah aku tentukan. Sakura berada di tengah, Sensei berada tepat di belakangku. Jika aku bilang lari, kalian langsung berlari tanpa melihat ke belakang. Jika aku bilang tunduk atau bersembunyi, jangan bertanya kenapa dan lakukan saja," instruksi Yuuichi dengan suara yang jelas dan mudah dipahami. Ia tahu bahwa di saat seperti ini, kejelasan perintah adalah hal yang sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.

Ia mendekati pintu yang telah dibarikade dengan lemari obat, tangannya kanan memegang gagang pintu sementara tangan kirinya tetap menggenggam gagang katananya yang dingin. Ia bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti kedua wanita di belakangnya – napas mereka yang sedikit cepat, gerakan tubuh yang siap untuk bergerak kapan saja. Chika secara tidak sadar meremas ujung lengan jaket Yuuichi dengan tangannya, mencari rasa aman dan perlindungan dari sosok siswa yang kini tampak seperti satu-satunya harapan mereka.

Yuuichi menoleh sedikit ke belakang, memberikan tatapan yang menenangkan namun juga penuh janji yang tidak bisa diragukan lagi. "Selama aku masih bernapas dan masih bisa memegang pedang ini, tidak akan ada satu pun dari makhluk itu yang bisa menyentuh kalian berdua. Janjiku."

Dengan satu sentakan kuat dan cepat, Yuuichi menarik pintu dan menjatuhkan barikade lemari obat yang ada di depannya. Udara dingin yang masih tersisa dari efek teknik esnya tadi menyambut mereka dengan dingin yang menusuk tulang, sementara suara erangan dan garukan yang lebih keras terdengar dari koridor yang lebih luas – menyambut mereka saat mereka melangkah keluar dari zona aman sementara itu menuju kekacauan yang jauh lebih besar dan penuh dengan bahaya.

"Enam puluh detik lagi sampai kalian bertemu dengan Rina Suzuki, Kakak. Siapkan mentalmu dengan baik ya – gadis itu punya lidah yang lebih tajam daripada bilah pedangmu yang dingin itu lho. Siapa tahu saja, mungkin dia akan langsung menyuruhmu pergi karena merasa kamu hanya akan mengganggu pekerjaannya."

Yuuichi hanya mendengus pelan dalam hati, bibirnya sedikit mengerut. Ia sudah siap menghadapi apa pun yang ada di depan – baik itu makhluk-makhluk yang sudah mati namun masih bergerak, maupun ego besar seorang jenius yang berpikir dia tahu segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!