"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Jejak di Balik Tirai
Fajar di pinggiran Seoul tidak membawa kehangatan; hanya warna abu-abu pucat yang menyelimuti kawasan industri terbengkalai. Kim Seokjin duduk di dalam mobilnya yang diparkir dua blok dari sebuah teater tua yang merangkap sebagai gudang. Mesin mobilnya mati, meninggalkan kesunyian yang hanya dipecah oleh napasnya yang berat dan detak jam di pergelangan tangannya.
Matanya yang lelah menatap layar tablet di pangkuannya. Di sana, sebuah titik merah berkedip lemah—hasil pelacakan sinyal radio frekuensi rendah yang ia tangkap secara ilegal dari transmisi terenkripsi yang keluar dari area restoran Jungkook semalam. Jin tidak membawa tim. Ia bahkan tidak memberitahu RM atau Suga. Baginya, kepolisian kini terasa seperti rumah yang dipenuhi rayap; terlihat kokoh di luar, namun keropos di dalam.
"Jika hukum terlalu lambat, biar aku yang menjemput kebenaran itu," gumam Jin sambil memeriksa isi pistol Glock 17 miliknya.
Ia turun dari mobil, gerakannya sunyi dan terlatih. Teater tua itu berdiri seperti raksasa yang membusuk. Jin menemukan pintu samping yang sedikit terbuka—sebuah undangan yang berbahaya. Ia menarik napas panjang, mengokang senjatanya, dan melangkah masuk ke dalam kegelapan.
Bau pertama yang menyengat adalah aroma antiseptik yang sangat kuat, bercampur dengan aroma pemutih yang tajam. Jin menyalakan senter kecil di bawah moncong pistolnya. Cahaya itu menari di atas kursi penonton yang berdebu, lalu berhenti di tengah panggung yang permukaannya berkilau, seolah baru saja dipel dengan sangat bersih.
Jin berlutut, mengarahkan senternya ke celah papan kayu. Di sana, ia menemukan butiran halus berwarna putih. Ia menyentuhnya. Tepung gandum. Jejak yang sama dengan yang ditemukan di truk logistik Jungkook.
Ia bergerak ke balik tirai panggung, menuju sebuah ruangan kecil. Di sana, ia menemukan sebuah brankas besi tua yang pintunya terbuka. Di dalamnya terdapat tas plastik berisi barang-barang pribadi milik korban-korban sebelumnya yang selama ini hilang.
"Aku mendapatkanmu, Jimin," bisik Jin dengan nada kemenangan yang getir.
Namun, di tengah kesunyian itu, sebuah suara pelan terdengar dari arah kegelapan balkon.
Kring... kring...
Suara bel kecil itu terdengar ceria namun mematikan. Dari balik bayangan, sesosok pria muncul dengan gerakan lincah, hampir seperti menari. Itu adalah J-Hope. Ia mengenakan jaket kulit merah menyala yang tampak kontras di tengah suramnya gedung tua itu.
"Detektif Kim Seokjin," J-Hope menyebut nama itu seolah itu adalah judul sebuah lelucon. "Koki kecil kita sudah bekerja sangat keras untuk membersihkan tempat ini. Tapi dia lupa satu hal... aku sangat suka meninggalkan kejutan bagi tamu yang tidak diundang."
Jin tidak menjawab. Ia mencoba membidik, namun J-Hope bergerak terlalu cepat, menghilang di balik tirai sebelum Jin bisa menarik pelatuknya. "Kenapa kau bersembunyi, Detektif? Bukankah kau ingin menjadi pahlawan bagi adikmu?"
Tiba-tiba, J-Hope muncul di belakang Jin dengan kecepatan predator. Dengan satu tendangan berputar, ia membuat pistol Jin terpental jauh ke kegelapan. Jin mencoba melawan, namun J-Hope bergerak seperti air—sulit ditangkap. Sebuah pukulan telak mendarat di perut Jin, membuatnya tersungkur.
"Kau tahu apa yang paling menyenangkan?" J-Hope berlutut di atas dada Jin, menekan lehernya. Ia mengeluarkan pisau bedah nomor sebelas yang hilang dari lab Sheril. "Melihat cahaya keadilan di matamu perlahan-lahan padam."
J-Hope menghunjamkan pisaunya ke bahu Jin. Jin berteriak kesakitan, darah segar mulai membasahi lantai panggung yang tadinya bersih sempurna. "Lihat itu, Seokjin! Kau mengotori pekerjaan Jungkook!" J-Hope tertawa histeris sambil terus menyiksa korbannya dalam kegelapan teater yang sunyi.
Di sisi lain kota, Sheril baru saja terbangun di apartemennya. Sinar matahari pagi mulai menyelinap di balik gorden. Ia meraba sisi tempat tidurnya, namun tempat itu kosong dan sudah dingin. Jungkook tidak ada di sana.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, berharap ada pesan dari Jungkook. Namun, sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal muncul di layar.
[Unknown Number]:
"Kakakmu adalah detektif yang payah, Sheril. Dia mencoba bermain di tempat yang kotor dan sekarang dia harus dibersihkan. Datanglah ke Teater Tua di Distrik Industri 7 jika kau ingin menjemput sisa-sisanya sebelum 'Si Koki' datang untuk membereskan kekacauan ini."
Ponsel itu terjatuh dari tangan Sheril. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia teringat peringatan Suga, teringat wajah Jungkook yang menangis di ruang rahasia, dan kini... kakaknya dalam bahaya.
Tanpa sempat berganti pakaian dengan layak, Sheril menyambar jaket dan kunci mobilnya. Air mata mulai mengalir deras di pipinya. Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu—Jimin, J-Hope, atau mungkinkah ini bagian dari rencana Jungkook?
Sheril memacu mobilnya dengan kecepatan gila menembus jalanan Seoul yang mulai sibuk. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik: Teater Tua di Distrik 7. Ia tidak peduli jika itu adalah jebakan. Ia tidak peduli jika di sana ia harus menghadapi kenyataan paling pahit tentang pria yang ia cintai.
"Oppa, bertahanlah..." isaknya di balik kemudi.
Saat mobilnya mendekati kawasan industri yang sepi, Sheril melihat dari kejauhan gedung teater tua yang berdiri angkuh di tengah kabut pagi. Sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, namun ia bisa merasakan aura kematian yang sangat kuat memancar dari sana.
Sheril menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama. Dengan tangan gemetar, ia turun dan melangkah menuju pintu besar yang sedikit terbuka itu, tidak menyadari bahwa di lantai dua gedung tersebut, sepasang mata sedang memperhatikannya dengan senyum lebar yang mengerikan.
...****************...