NovelToon NovelToon
Sistem Warisan Kedua

Sistem Warisan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saingan Datang

Keberhasilan dua puluh porsi pertama itu ternyata bukan hanya membawa uang tambahan, tetapi juga membawa sesuatu yang tidak terlihat pada awalnya. Perubahan kecil yang terjadi di warung keluarga Arga pelan-pelan mulai diperhatikan orang lain.

Hari ketiga setelah katering berjalan, pesanan meningkat menjadi tiga puluh porsi. Hari kelima menjadi empat puluh. Para pekerja proyek mulai terbiasa memesan lewat ayah Arga setiap pagi. Bahkan ada yang memuji sambal buatan ibunya.

“Bu, sambalnya enak. Besok tambahin sedikit ya,” kata salah satu pekerja sambil tersenyum.

Ibunya hanya tertawa malu. “Iya, nanti Ibu tambah.”

Warung yang dulu sering sepi kini terasa lebih hidup. Di dapur, suara minyak mendesis hampir setiap pagi. Ayahnya terlihat lebih bersemangat bangun subuh. Dua adiknya ikut membantu menempelkan label kecil di kotak nasi.

Namun desa kecil seperti tempat mereka tinggal tidak pernah benar-benar sunyi dari perhatian. Apalagi jika ada perubahan yang cukup mencolok.

Nama Pak Darsono mulai sering terdengar dalam percakapan orang-orang.

Pak Darsono adalah pemilik toko grosir terbesar di desa. Tokonya berada di dekat jalan utama, bangunannya permanen dengan papan nama besar yang mencolok. Hampir semua warung kecil di desa mengambil barang dari tokonya. Ia juga dikenal sebagai orang yang punya koneksi luas dengan pemasok luar kota.

Selama ini, keluarga Arga juga sesekali membeli kebutuhan dari sana. Namun sejak usaha katering berjalan, Arga menyarankan agar beberapa bahan dibeli langsung ke pasar kota yang harganya lebih murah.

Perbedaan harga mungkin hanya seribu atau dua ribu rupiah per kilo, tetapi bagi usaha kecil mereka, selisih itu berarti.

Awalnya Arga tidak memikirkan dampaknya. Ia hanya fokus pada margin keuntungan dan keberlanjutan usaha.

Sampai suatu siang, ketika ayahnya pulang dari toko grosir dengan wajah sedikit muram.

“Kenapa, Yah?” tanya Arga.

Ayahnya meletakkan karung beras di lantai dengan pelan. “Pak Darsono bilang stok ayam dan minyak lagi kosong.”

“Kosong semua?”

“Iya. Aneh juga. Katanya kiriman terlambat.”

Arga terdiam. Ia membuka panel sistem secara diam-diam.

[Analisis Ancaman Eksternal.]

Nama yang muncul membuatnya semakin waspada.

[Darsono.]

Beberapa data sederhana terpapar di benaknya. Pemilik grosir utama desa. Menguasai sebagian besar distribusi bahan pokok lokal. Reputasi kuat. Cenderung protektif terhadap pangsa pasar.

Sistem berbunyi pelan.

[Ancaman Eksternal Terdeteksi.]

[Tingkat Kesulitan: Menengah.]

Arga menarik napas dalam. Ini bukan sekadar persaingan biasa. Ini soal kekuasaan dalam lingkup kecil desa.

Malam itu, Arga tanpa sengaja mendengar dua ibu-ibu berbincang di depan warung.

“Kamu masih pesan nasi dari rumah Bu Rina?” tanya salah satunya.

“Iya sih, tapi katanya kurang bersih. Ada yang bilang dapurnya kotor.”

Arga yang sedang menyusun kotak kosong langsung berhenti bergerak.

"Kurang bersih dan dapur kotor."

Isu seperti itu bisa menghancurkan usaha makanan dalam sekejap. Ia masuk ke dapur dan melihat ibunya yang sedang mencuci piring.

“Bu, ada yang bilang makanan kita tidak higienis,” ucapnya pelan.

Ibunya terdiam, wajahnya langsung berubah. “Siapa bilang?”

“Tidak tahu. Tadi ada yang ngomong di depan.”

Ayahnya yang duduk di ruang tengah ikut mendengar. Ia mengepalkan tangan. “Pasti ada yang sengaja.”

Keesokan harinya, pesanan turun sedikit. Beberapa pekerja proyek terlihat ragu-ragu.

Salah satu dari mereka bahkan berkata pelan, “Katanya ada yang sakit perut setelah makan di sini.”

Arga tahu ini permainan kotor.

Sore itu, ayahnya kembali dari proyek dengan wajah lebih tegang.

“Mandor bilang ada yang menekan supaya mereka cari katering lain,” katanya.

“Siapa?” tanya ibu dengan cemas.

“Ada yang bilang Pak Darsono tidak senang.”

Nama itu akhirnya disebut dengan jelas.

Arga tidak terkejut. Sejak awal ia sudah menduga. Darsono kehilangan beberapa pelanggan warung kecil karena keluarga mereka membeli bahan langsung dari pasar kota. Selain itu, usaha katering ini membuat beberapa orang tidak lagi membeli makanan instan dari toko grosirnya.

Bagi pengusaha yang terbiasa mengendalikan pasokan, munculnya usaha kecil yang mandiri bisa dianggap ancaman.

Ayahnya terlihat marah. “Kalau begini terus, kita bisa rugi.”

Arga menatap ayahnya dengan tenang. “Kita jangan lawan langsung.”

“Maksudnya?”

“Kita perbaiki kualitas. Bikin orang tidak punya alasan untuk percaya rumor.”

Ibunya mengangguk pelan. “Dapur kita memang harus lebih rapi lagi.”

Sejak hari itu, Arga menyusun strategi diam-diam.

Langkah pertama, memastikan kualitas benar-benar terjaga. Ia membantu membersihkan dapur lebih teliti. Rak-rak dicuci ulang. Wadah makanan diganti dengan yang lebih tertutup. Ia bahkan meminta ibunya menggunakan sarung tangan plastik saat membungkus makanan.

Langkah kedua, ia menyarankan ayahnya membeli sebagian bahan dari pasar kota yang lebih jauh. Meski harus berangkat lebih pagi dan ongkos sedikit bertambah, mereka tidak lagi bergantung pada grosir Pak Darsono.

Ayahnya sempat ragu. “Kalau dia tahu kita tidak beli lagi di tokonya?”

“Memang kita sudah tidak bisa beli di sana,” jawab Arga pelan.

Langkah ketiga, Arga mengusulkan sesuatu yang cukup berani.

“Yah, besok kasih tester gratis ke mandor dan dua pekerja yang paling sering pesan.”

“Gratis?”

“Iya. Biar mereka lihat langsung kualitasnya.”

Keesokan siang, ayah Arga datang ke proyek dengan membawa beberapa kotak nasi tambahan.

“Ini dari rumah. Tidak usah bayar,” katanya pada mandor.

Mandor itu terlihat heran. “Kenapa?”

“Biar Bapak nilai sendiri. Kalau tidak enak atau kurang bersih, bilang saja.”

Mandor tersenyum tipis. “Baiklah.”

Hari itu, Arga menunggu dengan cemas di rumah. Ia tahu strategi ini berisiko. Jika kualitas benar-benar mengecewakan, rumor akan semakin kuat.

Sore menjelang, ayahnya pulang dengan wajah yang sulit ditebak.

“Bagaimana, Yah?” tanya Arga cepat.

Ayahnya tersenyum perlahan. “Mandor bilang makanannya enak dan bersih. Dia bilang tidak percaya dengan gosip.”

Ibunya menghela napas lega.

Dua hari kemudian, pesanan kembali naik. Bahkan beberapa pekerja baru ikut memesan.

Arga menambahkan satu strategi lagi. Ia menyuruh ayahnya mengatakan kepada pelanggan bahwa jika ada yang tidak puas, uang bisa dikembalikan penuh.

“Kalau kita yakin dengan kualitas, tidak perlu takut,” kata Arga.

Janji pengembalian uang itu menyebar cepat. Di desa kecil, kabar baik juga bisa menular seperti kabar buruk.

Dalam lima hari, jumlah pesanan meningkat dua kali lipat dibanding sebelum rumor muncul. Dari empat puluh porsi menjadi hampir delapan puluh porsi.

Dapur mereka semakin sibuk. Ibunya kelelahan tetapi wajahnya berseri. Ayahnya terlihat lebih percaya diri setiap kali berangkat ke proyek.

Sementara itu, di toko grosir dekat jalan utama, Pak Darsono mulai merasa ada yang tidak beres.

Beberapa pemilik warung kecil mengurangi pembelian bahan siap saji karena lebih memilih memesan nasi dari keluarga Arga. Ia juga mendengar bahwa rumor yang ia sebarkan tidak berhasil menghentikan usaha kecil itu.

Suatu sore, Darsono berdiri di depan tokonya, memandang ke arah jalan kecil yang mengarah ke rumah Arga.

“Anak kecil itu,” gumamnya pelan setelah mendengar cerita bahwa ide usaha datang dari Arga.

Ia tidak suka kehilangan kendali.

Di rumah kayu sederhana itu, Arga berdiri di depan dapur sambil melihat ibunya yang sedang memasak untuk pesanan esok hari.

Sistem kembali berbunyi pelan.

[Status Ancaman: Aktif.]

[Stabilitas Usaha: Meningkat.]

Arga tahu ini belum selesai. Orang seperti Darsono tidak akan diam begitu saja.

Namun kali ini, ia tidak merasa gentar.

Ia sudah pernah menghadapi persaingan bisnis yang jauh lebih kejam di kehidupan sebelumnya. Bedanya, sekarang yang ia pertaruhkan bukan sekadar keuntungan atau reputasi.

Yang ia pertaruhkan adalah rumah ini.

Keluarga ini.

Dan untuk itu, ia siap bermain lebih sabar daripada siapa pun.

1
Dirman Ha
in
Dirman Ha
ih mantap
fauzi ezi
gas tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!