Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jakarta - Bandung dan Kenangan
Hari keenam belas, pukul 05.00 pagi.
Dewa sudah berdiri di depan Apartemen Anggrek sejak subuh. Ia tak bisa tidur semalaman pikirannya kacau antara takut dan penasaran. Bandung, kota yang selama ini hanya ia dengar ceritanya dari ibu dosen—kota yang menghancurkan hatinya 15 tahun lalu.
Pukul 05.30, pintu apartemen terbuka.
Dian keluar tidak memakai blazer hari ini, tapi kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam. Rambutnya di kuncir rendah tanpa pita, tanpa dandan berlebihan. Ia terlihat... biasa, seperti ingin menyamar. Atau ingin menjadi dirinya sendiri.
Dewa melihat ke belakangnya mencari city car silver "Motor anda mana?"
"Di kos, Bu. Saya diantar oleh teman Roby. Ibu mau naik sepeda motor atau naik mobil ?"
Dian menggeleng. "Hari ini saya tidak mau nyetir. Anda yang bawa."
Dewa terkejut. "Tapi Bu, SIM saya—"
"Pasti punya. Anak muda jaman sekarang mana ada yang gak punya SIM."
Dewa menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. "Punya sih, Bu. Tapi... saya belum pernah bawa mobil Ibu, Takut... takut kenapa napa."
Ia tersenyum kecil pertama kali pagi ini. "Anda jualan bubur, menjadi model lukis, jadi asisten dosen, takut cuma bawa mobil? Ayo."
Ia melempar kunci mobil ke arahnya disambut dengan tangan gemetar.
---
Pukul 06.00, jalan tol Jakarta-Bandung.
City car silver melaju stabil. Dewa pegang setir dengan agak kaku sesekali melirik ibu dosen disampingnya. Wanita itu diam memandangi jalan, pikirannya entah di mana.
"Ini pertama kali saya ke Bandung setelah 15 tahun," bisiknya kecil hampir tertelan suara mesin.
Dewa tidak menjawab memperlambat laju mobil memberi waktu dan ruang.
"Kamu tahu, Dewa, dulu saya juga sering lewat jalan ini. Pulang-pergi Bandung-Jakarta. Tapi dulu... dulu saya selalu berdua."
Dewa terkejut panggilan namanya berubah " Anda " ke " kamu " apa maksudnya perempuan ini merubah ? Apakah ia ingin merubah batas formal? Dewa melirik sekilas dia tidak menangis tapi matanya kosong seperti sedang melihat sesuatu yang tidak ada.
"Sekarang saya berdua lagi tapi dengan orang yang berbeda."
Laki laki itu menelan ludah jantungnya berdegup tak tahu harus berkata apa.
"Bu... saya di sini."
Ia menoleh menatapnya dalam lalu tersenyum—senyum yang berbeda bukan senyum dosen ke mahasiswa.
"Iya kamu di sini."
' Kamu ' lagi bisik Raga membatin
--
Pukul 09.00, rest area KM 88.
Mereka berhenti untuk sarapan. Dewa membeli nasi uduk dan dua gelas kopi. Ia ingat Ibu Dian lebih suka kopi susu, tapi tadi pagi ia bilang, "Kopi saja hari ini saya perlu kopi."
Mereka duduk di bangku panjang, memandangi bukit-bukit di kejauhan. Udara Bandung mulai terasa lebih sejuk, lebih... berat.
"Bandung masih sama," bisiknya "Bukit-bukitnya, udaranya. Tapi saya... saya sudah berbeda."
Dewa menyesap kopinya diam.
"Dewa, kamu tahu kenapa saya ajak kamu?"
"Karena Ibu butuh ditemani."
Ia menggeleng. "Bukan. Saya bisa ajak teman. Saya bisa ajak siapa saja. Tapi saya pilih kamu."
Dewa menoleh menunggu.
"Karena kamu satu-satunya orang yang tidak menilai saya. Tidak menganggap saya dosen killer. Tidak melihat saya sebagai 'perawan tua '. Kamu... kamu hanya melihat saya sebagai seorang perempuan bernama Dian."
Dewa menunduk hatinya perih. Kalau Ibu Dian tahu... kalau dia tahu bahwa cincin itu...
"Bu, saya—"
"Sudah. Ayo lanjut."
Dian berdiri meninggalkannya dengan kopi setengah habis dan perasaan semakin rumit.
--
Pukul 11.00, Kampus Ganesha
Mobil berhenti di depan gerbang kampus bersejarah itu. Dian turun memandang gapura dengan mata berkaca-kaca.
"Dulu saya masuk sini setiap hari. Kuliah S3. Jadi asisten dosen. Bertemu... bertemu dia."
Dewa hanya mengikuti dari belakang tidak menjawab hanya menjaga jarak, memberi ruang.
Perempuan itu berjalan pelan menyusuri jalan setapak, gedung-gedung tua, pohon-pohon rindang. Mahasiswa-mahasiswa yang lalu lalang tanpa tahu bahwa wanita ini pernah punya mimpi besar di sini, mimpi yang hancur 15 tahun lalu.
Mereka berhenti di depan sebuah gedung bertuliskan FISIKA.
Di pintu masuk, seorang laki-laki berdiri. Mengenakan kemeja batik cokelat. Rambut mulai memutih di pelipis. Wajahnya tampan meski termakan usia. Matanya tajam, tapi ada gurat haru di sana.
Arif.
Dian membeku.
Dewa, tanpa sadar, maju setengah langkah, bukan untuk ikut campur, tapi untuk memberi sinyal: saya di sini, Bu, kalau Ibu butuh.
"Dian." Suara Arif berat dalam. "Akhirnya kamu datang."
Perempuan berwajah lembut itu tidak menjawab hanya berdiri, memandangi laki-laki yang 15 tahun lalu menghancurkan hidupnya.
"Maaf... saya tahu ini mendadak. Tapi setelah saya tahu kamu ada di Jakarta, saya harus bertemu meminta maaf."
"Minta maaf? 15 tahun lalu, Arif. 15 tahun."
"Saya tahu. Dan saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya sendiri." Ia melangkah maju satu langkah. "Dina meninggal dua tahun lalu kena Kanker. Dan saya... saya sendiri sekarang."
Dian tertawa kecil. Tawa yang sakit. "Jadi? Kamu pikir dengan menjadi duda, semuanya bisa kembali? Cincin tunangan bisa dipasang lagi?"
"Bukan begitu, Dian—"
"Lalu bagaimana, Arif? Kamu kirim mawar putih ke kampus. Kamu dekati saya lagi. Kamu bilang bukan kamu yang kirim cincin—"
Dewa menegang, Cincin, topik itu lagi.
Arif mengernyit. "Cincin? Cincin apa?"
Ia menghela napas mengangkat tangan kirinya. Cincin safir itu berkilau di bawah matahari Bandung.
"Ini. Cincin yang dikirim ke apartemen saya. tanpa nama tanpa pesan hanya tulisan kecil 'cocok'."
Arif mendekat memandang cincin itu, menggeleng."Itu bukan dari saya. Saya tidak pernah kirim cincin, kirim mawar, iya. Tapi cincin? Tidak."
Ia menatapnya mencari kebohongan. Tapi Arif mantap.
"Saya tidak bohong, Dian. Demi apa pun, saya tidak bohong."
---
Dewa mundur perlahan disudut ruangan. Jantungnya berdegup kencang laki laki menyangkal bukan pengirim dan ia mengaku tidak tahu soal cincin.
Memang benar adanya, berarti... selama ini Ibu Dian salah sangka selama ini ia mengira Arif yang kirim. Padahal...
Padahal gue, gue pengirimnya tapi salah orang. Ia bersandar di dinding, kakinya lemas.
Mereka masih berbicara tapi Dewa tidak mendengar apa-apa lagi, hanya suara dalam kepalanya sendiri:
"Gue harus bilang. Sekarang. Sebelum semua tambah runyam."Tapi kakinya tidak bisa bergerak.
---
Pukul 13.00, Restoran dekat ITB.
Arif mengajak makan siang. Dian awalnya menolak, tapi akhirnya setuju. "Satu jam saya harus segera pulang."
" Sekalian bawa asisten kamu, siapa namanya?"
"Dewa."
Dewa duduk di meja terpisah pura-pura main HP. Padahal matanya tidak lepas dari meja melihat mereka berbicara, Ibu Dosen sesekali tersenyum—meskipun pahit, Arif yang tertunduk, meminta maaf berkali-kali.
Satu jam terasa seperti satu abad baginya
Ketika mereka keluar, Dian menghampiri Dewa."Kamu laper? Makan dulu, nanti saya temani."
Dewa menggeleng. "Nggak papa, Bu. Saya tunggu."
Dian menatap meraih tangannya sekejap lalu melepas."Terima kasih sudah mau diajak ke sini."
Dewa hanya bisa mengangguk kaku.
---
Pukul 15.00, perjalanan pulang.
Dian duduk mandang jendela. Bandung perlahan menjauh seperti masa lalunya yang perlahan ia tinggalkan.
Dewa menyetir pelan ingin bertanya, Ingin tahu apa yang terjadi di restoran. Tapi tidak berani.
"Saya sudah bilang ke Arif," tiba-tiba ia berkata. "Saya maafkan dia. Tapi saya tidak bisa kembali."
Laki laki itu terdiam tetap fokus dengan stir mobil.
"Dia sudah menghancurkan saya sekali dan saya tidak akan memberi kesempatan kedua."
"Bu... Ibu kuat."
Ia tersenyum tapi matanya berkaca-kaca.
"Bukan kuat, Dewa, tapi lelah berpura-pura menyalahkan diri. Lelah..." Ia berhenti sesaat lalu, "Lelah dengan diri sendiri."
Hening.
"Kamu tahu, selama perjalanan ini, saya sadar satu hal."
"Apa, Bu?"
"Saya tidak mau lagi cari pengirim cincin itu."
Dewa menegang.
"Saya mau terima siapa pun dia, kaya, miskin, mau dia tua atau muda yang penting... dia tulus tidak melihat saya sebagai 'dosen killer' atau 'perawan tua ' dan hanya melihat saya sebagai Dian."
Air matanya jatuh di pipi dengan cepat di hapusnya.
Dewa ingin berhenti mengatakan semuanya. menggenggam tangannya erat, "Saya, Bu, pengirimnya. Dan saya sayang Ibu."
Tapi ia tak bisa. Mobil terus melaju. Bandung tertinggal. Jakarta menanti.
Dan cincin melingkar di jari perempuan itu —terasa semakin panas.
---
Dian turun dari mobil. Dewa turut turun, mengantarnya sampai pintu.
"Terima kasih, Dewa. Untuk hari ini."
"Sama-sama, Bu."
"Kamu mau naik? Saya buatkan teh."
"Eh, gak usah, Bu, udah malam."
"Gak pa pa kok, dosen dan asisten ngobrol di ruang tamu."
Dewa terlihat ragu tapi hatinya melonjak
"Tidak apa apa, Dewa, saya tahu kamu gak mungkin melarikan ibu dosen."
Ia tertawa.