Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenang, Hanya Untuknya
Naya menikmati makanan di depannya, tetapi perhatiannya sering teralihkan oleh suasana di sekeliling mereka.
Naya melirik ke kanan. Lantai atas restoran tampak luas dan elegan. Namun tetap saja, dari mereka tiba, tidak ada pengunjung lain. Hanya mereka berdua.
Keheningan itu justru membuat Naya semakin canggung. Ia memainkan sendoknya sebentar.
Melirik atasan yang sedang menikmati makanan.
"Sepi sekali ya, Pak." kata Naya pelan.
CEO itu yang sedang memotong makanannya berhenti sebentar, lalu menatap Naya.
Naya sedikit tersenyum canggung, "Padahal restoran ini.... Keliatan mewah sekali."
Sudut bibir CEO itu sedikit terangkat, melanjutkan memotong makanannya.
"Tapi nyaman, kan." jawabnya. CEO itu menyadari ucapannya, mengangkat wajahnya berusaha menjelaskan ucapannya secara profesional "Maksud saya, cocok untuk diskusi." lanjutnya tenang.
Naya tetap menatap atasannya itu, masih merasa ada yang aneh dengan situasi itu. Ia hampir mengatakan sesuatu lagi, tetapi kemudian memilih kembali menatap piringnya.
Di dalam pikirannya muncul pertanyaan kecil yang belum sempat ia ucapkan.
"Kenapa restoran sebesar ini tidak ada tamu lain?" pikirnya.
Sementara di seberangnya, CEO itu hanya memperhatikan Naya dengan ekspresi tenang. Ia tau jelas alasan kenapa tempat itu terasa begitu privat malam ini.
Keheningan, hanya itu yang kembali menyelimuti meja mereka. Naya mencoba fokus pada makannya, tetapi suasana yang terlalu tenang membuatnya semakin merasa canggung. Tidak ada suara percakapan lain, tidak ada langkah tamu yang lalu lalang.
Naya menarik napas kecil, ia merasa perlu mengatakan sesuatu untuk keluar dari rasa canggung itu.
"Pak...."
CEO itu mengangkat pandangannya dari piringnya, "Ya?"
Naya kembali menegakkan sedikit duduknya, mencoba kembali ke pembicaraan yang terasa aman baginya, pekerjaan.
"Untuk tim evaluasi itu.... " katanya hati-hati. "Kapan mulai bekerja, Pak?"
"Secepatnya. Kemungkinan besar minggu depan." jawabnya tenang.
CEO itu meletakkan garpunya sebentar sebelum melanjutkan.
"Saya ingin laporan awal sudah ada sebelum akhir bulan."
Naya langsung mengangguk lagi, pikirannya mulai kembali fokus pada hal-hal teknis yang lebih ia pahami.
"Kalau begitu, saya perlu mulai kumpulkan data dari cabang-cabang dulu," kata Naya.
CEO itu memperhatikannya dengan ekspresi tenang. Naya melanjutkan tentang rencana pengumpulan data.
"Jika laporan awal diminta sebelum akhir bulan, berarti tim harus benar-benar mulai kerja minggu depan." katanya berpikir keras terlihat dari wajah Naya.
"Berarti perlu juga minta data pengiriman tiga bulan terakhir dari tiap gudang." lanjutnya.
CEO itu tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan Naya dengan lebih seksama. Cara Naya berbicara ketika membahas pekerjaan. Nada suaranya yang berubah lebih tegas. Ekspresi serius di wajahnya ketika sedang memikirkan sesuatu.
Pemandangan itu tiba-tiba memicu sebuah ingatan lama.
Tujuh tahun yang lalu. Sebuah ruang kelas di sekolah menengah.
Saat itu beberapa siswa duduk mengelilingi meja panjang. Mereka sedang mengadakan rapat OSIS. Kertas-kertas proposal acara tersebar di atas meja.
Di antara mereka, Naya duduk sedikit mencondongkan badan ke depan sambil memegang beberapa lembar kertas.
"Kalau kita hanya mengandalkan sponsor dari luar sekolah, acaranya bisa tertunda," kata Naya dengan nada serius.
Salah satu anggota OSIS mengangkat tangan. "Terus harus bagaimana?"
Naya menatap mereka satu per satu sebelum menjawab.
"Kita buat dua rencana," katanya tegas.
Ia menunjuk kertas di tangannya.
"Rencana pertama tetap dengan sponsor. Tapi rencana kedua kita siapkan kegiatan yang biayanya bisa ditanggung kas OSIS.
"Tapi itu berarti acaranya harus lebih sederhana," kata siswa lain.
Naya mengangguk tanpa ragu.
"Tidak masalah sederhana," katanya. "Yang penting acaranya tetap jalan dengan baik."
Suasana rapat menjadi hening beberapa detik.
"Kalau semua setuju," lanjut Naya, "kita mulai bagi tugas sekarang supaya waktunya tidak terbuang."
Di luar ruangan itu, seorang siswa berdiri di koridor. Ia sebenarnya hanya lewat.
Namun langkahnya sempat terhenti ketika melihat ke dalam melalui pintu yang sedikit terbuka.
CEO itu yang saat itu masih seorang siswa di sekolah yang sama, memperhatikan rapat itu dari kejauhan.
Ia melihat bagaimana Naya berbicara dengan serius dan percaya diri di depan anggota OSIS lainnya.
Ia tidak masuk ke ruangan itu. Tidak juga menyapa. Ia hanya berdiri memperhatikannya sebelum akhirnya melanjutkan langkah.
Malam ini, di meja makan restoran yang sunyi itu, ekspresi Naya terasa hampir sama seperti saat itu.
Tanpa sadar, CEO itu tersenyum lebar.
Naya yang masih berbicara akhirnya berhenti ketika menyadari pria di depannya tidak mengatakan apapun dan malah tersenyum lebar.
"Pak?"
CEO itu sadar, ia kembali dari pikirannya sendiri.
"Ada yang salah, Pak? Atau saya terlalu cepat menjelaskan?" tanya Naya ragu.
CEO itu menggeleng pelan, "Tidak."
Ia mengambil gelasnya sebelum berkata dengan nada tenang.
"Silahkan, lanjutkan saja, Naya." pinta CEO itu.
Naya mengangguk pelan setelah mendengar jawaban itu. Ia kembali melanjutkan penjelasannya, lebih runtut.
"Laporan dari tiap cabang, kita bisa lihat jalur mana yang paling sering terlambat."
CEO itu kembali memperhatikannya dengan tenang.
"Setelah itu.....,baru kita bandingkan dengan biaya operasionalnya. Kalau ada jalur yang terlalu memakan banyak dana tapi tidak efisien, kemungkinan besar itu yang perlu kita ubah dulu."
CEO itu menunjukkan ekspresi bangga setelah Naya selesai berbicara. Dia kembali mengangguk.
"Jadi intinya," katanya menyimpulkan, "kita kumpulkan semua data distribusi, lalu akan kita petakan ulang jalurnya sebelum membuat keputusan restrukturisasi."
Naya mengangguk, "iya, Pak."
Naya menghela napas panjang, lega karna akhirnya pembicaraan mereka sampai pada kesimpulan yang jelas.
Diskusi di tengah makan malam itu berakhir, makan malam mereka pun selesai.
Pelayan datang membereskan meja, "Permisi, Pak, Bu."
CEO berdiri lebih dulu dari kursinya.
"Kita pulang," katanya tenang.
Naya juga berdiri.
Mereka berjalan menuju tangga, turun ke lantai satu.
Saat menuruni tangga, Naya masih tetap merasa heran. Lantai itu tempat mereka makan terasa sangat sepi sepanjang mereka disana.
Begitu sampai di lantai satu, suasananya justru sangat berbeda. Restoran itu ternyata ramai. Banyak meja yang terisi pengunjung. Suara percakapan dan tawa terdengar di berbagai sudut ruangan.
Naya menoleh ke arah tangga di belakangnya, bingung dengan perbedaan suasana yang begitu jauh antara dua lantai itu.
CEO yang sudah di depan Naya melangkah lebih dulu, akhirnya berhenti juga.
Ia menoleh ke arah Naya.
"Ada apa, Naya?" tanyanya.
Naya tersadar, "Maaf, Pak." katanya pelan.
Naya kembali melihat ke belakangnya, "saya cuma heran."
CEO mengikuti arah pandangannya, "Heran?"
Naya mengangguk kecil.
"Lantai dua sangat sepi. Saya pikir restoran ini memang tidak ramai malam ini."
Naya lalu melihat ke arah ruangan yang penuh pengunjung.
"Ternyata di bawah sini... sangat ramai. Saya tak menyangka..."
CEO itu terdiam sebentar. Ia paham rasa penasaran Naya dari tadi sejak mereka sampai di lantai dua.
Namun sebelum CEO itu sempat mengatakan sesuatu, terdengar suara memanggil dari arah samping.