Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Bukan Mahendra.
Bab 11 Bukan Mahendra.
Malam itu hujan turun deras ketika Alvaro membawa Alisha ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Bangunannya sederhana, pagar besi tipis, lampu teras redup. Tempat itu ia sewa diam-diam beberapa hari sebelumnya.
“Mulai sekarang kamu tinggal di sini dulu,” ucapnya tegas.
Alisha memeluk tas kecilnya erat. Wajahnya masih pucat sejak percobaan penculikan terakhir.
“Aku takut, Kak…”
“Aku tahu.” Suara Alvaro rendah. “Aku pastikan nggak ada yang bisa sentuh kamu.”
Ia mengecek jendela, pintu belakang, kunci tambahan yang sudah dipasang. Semua harus aman. Ia tidak mau kecolongan lagi.
Hari-hari berikutnya berjalan tenang meski suasana selalu tegang. Alvaro datang setiap sore membawa makanan.
Kadang ia membantu Alisha mengerjakan tugas sekolah. Kadang mereka hanya duduk diam mendengarkan suara hujan di atap seng.
Alisha mulai sedikit lebih tenang. Ia berusaha tersenyum meski bayangan ancaman masih jelas di matanya.
Alvaro menyadari sesuatu berubah dalam dirinya. Ia tidak sekadar merasa bertanggung jawab. Ia peduli.
Terlalu peduli. Setiap kali meninggalkan rumah itu, ada rasa khawatir berlebihan yang sulit dijelaskan.
Sampai satu hari ia harus pergi ke luar kota karena urusan kampus yang tidak bisa diwakilkan.
“Cuma dua hari,” katanya sebelum berangkat. “Jangan keluar rumah. Jangan buka pintu untuk siapa pun.”
Alisha mengangguk. “Cepat kembali ya, Kak.”
Alvaro tersenyum tipis. Ia tidak tahu itu akan menjadi senyum terakhir yang ia lihat darinya.
Dua hari kemudian ia kembali sore menjelang malam. Hujan tidak turun, langit tampak biasa.
Pintu depan sedikit terbuka.
Langkahnya terhenti.
Ia mendorong pintu perlahan. Ruangan kosong. Tidak ada suara. Tidak ada televisi menyala. Tidak ada tas kecil di sofa.
“Alisha?”
Sunyi.
Ia memeriksa kamar. Lemari terbuka. Beberapa pakaian hilang. Tidak ada tanda barang pecah. Tidak ada bekas perlawanan.
“ALISHA!”
Ia berlari keluar, menanyai tetangga, penjaga warung, tukang ojek di ujung jalan. Semua menggeleng. Tidak ada yang melihat apa pun.
Kakinya terasa lemas. Dadanya sesak.
“Aku gagal jaga kamu…”
Sejak hari itu hidupnya berubah.
Ia tetap mencari. Melapor ke polisi dengan alasan gadis kabur dari rumah.
Menyewa orang untuk menelusuri jejak. Hasilnya nihil. Seolah Alisha lenyap dari dunia.
Rasa bersalah menggerogoti pikirannya setiap malam.
Waktu berjalan tanpa peduli.
Lima tahun berlalu.
Alvaro kini berusia dua puluh lima.
Wajahnya lebih tegas. Cara bicaranya lebih dingin. Ia telah menyelesaikan kuliah dan resmi masuk jajaran manajemen perusahaan Mahendra.
Ragendra mulai melibatkannya dalam rapat besar. Presentasi penting. Perjalanan bisnis ke luar negeri.
“Kamu pewaris masa depan,” ujar Ragendra suatu malam di ruang kerja. “Kamu harus kuat.”
Alvaro mengangguk. Ia menjalankan semua tugas tanpa keluhan. Ia belajar cepat. Ia bekerja lebih lama dari siapa pun.
Di balik jas mahal dan posisi terhormat itu, satu nama tetap menghantui pikirannya: Alisha Pratiwi.
Ia tidak pernah berhenti mencari.
Suatu malam, ketika sebagian besar karyawan sudah pulang, Alvaro berada di ruang arsip perusahaan. Ia sedang menelusuri dokumen lama terkait kerja sama rumah sakit puluhan tahun lalu. Penyelidikan pribadi yang belum ia tinggalkan.
Di sudut lemari besi ia melihat sebuah map tebal berdebu.
Labelnya tertulis:
Rahasia Kelahiran — A.M
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia membuka map itu perlahan.
Lembar pertama adalah hasil tes DNA resmi. Nama lengkapnya tercetak jelas.
Alvaro Mahendra — tidak memiliki hubungan darah dengan Ragendra Mahendra maupun Helena Mahendra.
Ia membaca ulang. Berharap salah lihat.
Tidak berubah.
Tangannya bergetar. Kepalanya berdengung.
Ia membalik halaman berikutnya. Ada surat pernyataan adopsi resmi. Tanggal lebih dari dua puluh tahun lalu. Tanda tangan notaris. Dokter. Saksi.
Semua sah.
Ia terduduk di kursi arsip yang dingin.
“Jadi selama ini…”
Potongan ingatan kecil bermunculan. Tatapan cemas Helena ketika topik masa kecil dibahas. Sikap protektif berlebihan Ragendra. Pertanyaan tentang jam lahir yang selalu dijawab singkat.
Malam itu ia langsung pulang ke rumah.
Ragendra sedang membaca laporan di ruang kerja. Helena berdiri tak jauh dari sana.
“Aku lihat dokumen di arsip,” kata Alvaro tanpa basa-basi. “Tes DNA.”
Ruangan seketika hening.
Helena memucat. Ragendra menutup berkasnya perlahan.
“ Jadi aku bukan anak kandung kalian.”
Helena menutup mulutnya, air mata langsung jatuh.
Ragendra menghela napas panjang. “Kami memang belum pernah punya keberanian menjelaskan.”
Alvaro berdiri tegak. Wajahnya kaku.
“Kalian adopsi aku.”
Ragendra mengangguk. “Waktu itu kami sudah menikah hampir sepuluh tahun. Tidak ada anak. Sudah berobat ke mana-mana.”
Helena terisak. “Mama merasa gagal sebagai perempuan.”
Johan, sopir keluarga mereka saat itu, baru saja memiliki bayi. Gajinya kecil. Ia punya anak lain yang masih balita. Biaya hidup terus naik. Kondisi ekonomi mereka sulit.
“Kami menawarkan adopsi resmi,” lanjut Ragendra. “Bukan membeli. Semua melalui prosedur hukum. Johan setuju setelah berpikir lama. Ia ingin kamu punya masa depan lebih baik.”
Helena mengusap air matanya. “Beberapa tahun setelah kamu datang, Mama hamil. Itu seperti keajaiban. Kami pikir Tuhan memberi kesempatan kedua.”
Alvaro menatap mereka tanpa ekspresi.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Kami takut kamu merasa bukan bagian dari keluarga ini,” jawab Ragendra jujur.
“Tapi kenyataannya memang begitu.”
“Kamu tetap anak kami,” suara Helena bergetar.
Alvaro tidak menjawab. Ia berbalik keluar rumah malam itu tanpa pamit.
Ia menyetir tanpa arah. Pikirannya kacau. Ia bukan darah Mahendra. Ia hidup dalam identitas yang bukan miliknya.
Beberapa hari kemudian ia mencari alamat terakhir Johan. Informasi lama membawanya ke rumah sederhana di pinggir kota.
Pintu kayu itu terbuka pelan.
Seorang pria paruh baya berdiri di sana. Rambutnya mulai memutih.
Mata mereka bertemu.
“Alvaro…” suara itu pelan.
Ia tidak tahu harus memanggil apa.
“Ayah…” kata itu terasa asing di lidahnya.
Mereka duduk di ruang tamu kecil. Tidak ada kemewahan. Hanya kipas angin tua dan kursi plastik.
“Saya nggak pernah jual kamu,” ucap Johan pelan. “Waktu itu kondisi kami susah. Istrimu—ibumu—baru melahirkan. Kakakmu masih kecil. Gaji saya sebagai sopir nggak cukup.”
Ia menunduk.
“Keluarga Mahendra orang baik. Saya pikir kamu akan hidup lebih layak di sana.”
“Kenapa nggak pernah datang?”
“Saya tanda tangan surat. Saya nggak punya hak lagi. Saya cuma bisa lihat kamu dari jauh waktu masih kecil.”
Alvaro terdiam. Ia tidak menemukan kebencian di wajah pria itu. Hanya penyesalan.
“Saya nggak pernah berhenti mikirin kamu,” lanjut Johan.
Alvaro menatap lantai. Kebenaran tidak terasa melegakan. Hanya membuat semuanya lebih rumit.
Ia keluar dari rumah itu dengan pikiran penuh.
Sekarang ia tahu siapa dirinya secara biologis. Ia tahu keluarganya bukan keluarga kaya. Ia tahu orang tuanya dulu hanya berusaha bertahan hidup.
Identitasnya berubah. Masa lalunya bergeser.
Satu hal belum berubah: Alisha tetap hilang.
Malam itu ia berdiri di balkon apartemennya. Kota terlihat terang di bawah sana.
“Aku akan temukan kamu,” gumamnya pelan.
Ia juga tahu satu hal lain.
Musuh keluarga Mahendra masih ada. Konflik bisnis lama belum selesai. Posisi barunya di perusahaan membuatnya semakin dekat dengan pusat pertarungan itu.
Ia tidak lagi sekadar pewaris. Ia pria yang kehilangan banyak hal.
Di tempat lain, jauh dari kota itu, seorang gadis muda berdiri di depan cermin kecil di kamar sempit.
Rambutnya lebih panjang. Wajahnya lebih dewasa.
Seseorang memanggil dari luar.
“Alya! Cepat!”
#Bersambung 😊