Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Jejak yang Tak Sengaja Ditemukan
Matahari baru saja tergelincir ke ufuk barat, namun tekanan di pundak Dimas Alvaro terasa lebih berat dari biasanya. Setelah insiden memuakkan di lobi rumah sakit siang tadi, Dimas berharap bisa pulang dan beristirahat. Namun, harapannya pupus saat ia melihat mobil mertuanya terparkir di halaman rumah.
Di dalam, suasana sudah memanas. Papa dan Mama Reina duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang menuntut penjelasan. Reina sendiri duduk di samping ibunya, tampak mengadu dengan mata yang sengaja dibuat sembap, seolah-olah dialah korban dalam drama di rumah sakit tadi.
"Dimas, apa yang Mama dengar ini benar?" tanya Mama Reina dengan nada tinggi. "Kamu berani membentak Reina di depan umum demi membela seorang perempuan asing? Begitu caramu membalas budi pada keluarga kami?"
Dimas duduk di kursi tunggal, menghela napas panjang. "Ma, itu hanya salah paham. Perempuan itu adalah keluarga pasien, dan Reina datang langsung memaki-makinya tanpa alasan."
"Alasan?" Reina memotong dengan suara melengking. "Kamu tidak punya uang untuk istrimu, tapi punya waktu untuk melayani perempuan itu sampai ke lobi! Apa itu bukan alasan yang cukup?"
Papa Reina berdeham keras, membuat suasana hening seketika. "Dimas, Papa kecewa. Kami menikahkan Reina denganmu karena kami pikir kamu pria yang tenang dan bisa membimbingnya. Tapi kalau kamu sudah mulai bermain api dengan perempuan lain, dan bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan finansial Reina sampai dia harus meminta-minta di kantormu, apa gunanya pernikahan ini?"
"Pa, aku bekerja keras setiap hari.."
"Bekerja sebagai apa? Dokter honorer?" Papa Reina mencibir. "Dengar, Dimas. Kalau dalam waktu dekat kamu tidak bisa membuktikan bahwa kamu mampu menghidupi Reina dengan layak, atau setidaknya memberikan kami cucu agar perhatian Reina teralihkan, Papa akan mulai mempertimbangkan saran Reina untuk memisahkan kalian. Kami tidak butuh benalu di keluarga ini."
Kata-kata itu menghujam jantung Dimas. Bukan karena ia takut kehilangan Reina, tetapi karena ia muak dengan penghinaan yang terus menerus. Ia ingin sekali membanting berkas kepemilikan rumah sakit di depan wajah mereka, namun ia menahan diri. Belum saatnya.
Malam itu, Dimas tidak bisa memejamkan mata. Bayangan Kathryn yang menunduk malu namun tetap berusaha sopan di lobi rumah sakit terus menghantuinya. Ada rasa bersalah yang amat besar karena telah menyeret gadis tulus itu ke dalam pusaran konflik rumah tangganya yang beracun.
Dimas ingin meminta maaf. Ia ingin memastikan bahwa Kathryn baik-baik saja setelah hinaan keji yang dilontarkan Reina. Namun, ia tersadar akan satu hal, ia tidak tahu di mana Kathryn tinggal. Ia bahkan tidak memiliki nomor telepon gadis itu.
Keesokan harinya, Dimas berada di sebuah pusat perbelanjaan kelas atas untuk mencari sesuatu guna menenangkan pikirannya. Saat ia berjalan melewati sebuah gerai kopi ternama, langkahnya terhenti. Di dekat pilar besar, seorang pria tampan dengan setelan jas navy yang sangat rapi sedang berbicara di telepon dengan nada yang cukup keras.
Pria itu adalah Paul Danola. Dimas mengenalinya sebagai pria yang sempat berdebat di administrasi rumah sakit tempo hari, namun Dimas belum tahu bahwa pria ini adalah kakak kandung Kathryn.
"Iya, Kathryn! Kakak tahu kamu masih kepikiran soal kejadian di rumah sakit itu," ujar Paul ke arah ponselnya.
Dimas yang awalnya hendak lewat, seketika mematung. Ia menajamkan pendengarannya, berpura-pura sedang melihat jam tangan di dekat sana.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Dokter Dimas itu orang baik, dia pasti tahu kalau wanita yang memarahimu itu yang tidak waras," lanjut Paul sambil terkekeh kecil. "Sudah, kamu fokus saja jaga Sean di rumah. Kakak akan pulang agak telat, ada pertemuan dengan klien di daerah Dharmawangsa. Iya, iya... alamat rumah kita tidak akan berubah dalam sejam, Kathryn. Kamu tidak perlu khawatir Kakak nyasar."
Dimas tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ia menguping setiap kata yang keluar dari mulut Paul. Nama Kathryn disebut berkali-kali dengan nada penuh kasih sayang.
"Oke, oke. Nanti Kakak mampir beli martabak kesukaanmu. Di rumah nomor 12, kan? Iya, jangan cerewet. Sampai nanti, Sayang."
Paul menutup teleponnya dan bergegas pergi dengan langkah lebar. Dimas masih berdiri di tempatnya, mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan. Dharmawangsa. Rumah nomor 12.
Ia dilanda dilema yang hebat. Sebagai seorang suami, pergi menemui gadis lain ke rumahnya adalah sebuah kesalahan fatal secara moral. Namun, sebagai seorang pria yang hatinya mulai retak karena pengabaian istrinya sendiri, ia merasa butuh melihat wajah Kathryn yang menenangkan hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa masih ada kebaikan di dunia ini.
Dimas berjalan menuju parkiran. Tangannya memegang kunci mobil dengan erat. Di satu sisi, ia teringat desakan mertuanya untuk memperbaiki rumah tangga. Di sisi lain, bayangan senyum manis Kathryn seolah memanggilnya untuk menjauh dari kegelapan yang diciptakan Reina.
"Hanya untuk meminta maaf," bisik Dimas pada dirinya sendiri. "Hanya untuk memastikan dia tidak trauma."
Namun, di dalam lubuk hatinya, Dimas tahu bahwa alasannya lebih dari sekadar permintaan maaf. Ia sedang mencari perlindungan dari badai yang bernama Reina, dan Kathryn adalah satu-satunya dermaga yang tampak tenang di matanya. Tanpa sadar, ia mulai menyalakan mesin mobil dan mengarahkannya menuju daerah Dharmawangsa.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰