NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Permainan Dua Muka

## **Bab 33: Permainan Dua Muka**

SUV hitam itu berhenti di depan sebuah bangunan beton tua di pinggiran dermaga yang terbengkalai. Tempat ini adalah *safe house* sekunder yang dikelola oleh sel pasif organisasi. Bau garam laut yang amis bercampur dengan aroma minyak mesin tua menyambut mereka saat pintu kendaraan dibuka.

Kenzi melangkah keluar terlebih dahulu, matanya menyapu area dengan presisi mekanis.

> *Analisis Lingkungan: Struktur beton bertulang. Satu pintu masuk utama, dua titik ekstraksi darurat. Sudut pandang sniper terbatas oleh kontainer tua. Status: Terkendali, namun terisolasi.*

Vero mematikan mesin, lalu menoleh ke belakang dengan senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Turunkan asetnya, 097. Dan ingat, aku sedang merekam performamu untuk laporan mingguan ke Pusat."

Kenzi tahu apa yang dimaksud Vero. "Performa" berarti sejauh mana Kenzi bisa melepaskan sisi kemanusiaannya dan kembali menjadi mesin pembunuh tanpa empati.

---

Kenzi membuka pintu kursi belakang dengan kasar. Tanpa menunggu Alana bergerak, ia mencengkeram lengan gadis itu dan menariknya keluar hingga Alana nyaris tersungkur di atas aspal berkerikil.

"Kenzi! Sakit!" jerit Alana. Matanya yang sembab menatap Kenzi dengan keterkejutan yang murni. Pria yang biasanya melindunginya dengan diam kini memperlakukannya seperti karung kargo yang tidak berharga.

Kenzi tidak memberikan sedikit pun celah simpati di wajahnya. Ia mendorong Alana menuju pintu masuk bangunan. "Diam. Simpan suaramu jika tidak ingin aku membungkammu secara permanen."

Vero melangkah di samping mereka, bersiul pelan sambil memainkan pisau taktisnya. "Begitu, Kenzi. Dingin. Efisien. Aku hampir percaya kau punya perasaan padanya kemarin, tapi melihatmu memperlakukannya seperti sampah... ah, itu mengingatkanku pada masa pelatihan kita."

Alana tersentak. Ia menatap Kenzi, mencari sisa-sisa pria yang semalam menjaganya dari hujan batu. Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata gelap yang kosong—mata seorang "Eraser".

---

Di balik topeng esnya, sistem berpikir Kenzi bekerja dengan beban ganda.

> *Status Alana: Detak jantung meningkat. Respon emosional: Pengkhianatan tingkat tinggi. Kesimpulan: Akting berhasil meyakinkan pengawas (Vero).*

> *Analisis Strategis: Semakin Alana membenciku, semakin aman posisinya di mata Vero. Jika Vero mendeteksi perlindungan emosional, ia akan langsung mengambil alih eksekusi.*

Kenzi membanting pintu ruangan kecil di dalam bangunan tersebut dan mendorong Alana ke sebuah kursi kayu tua. "Duduk di sana dan jangan bergerak. Jika kau mencoba melarikan diri, aku sendiri yang akan mematahkan kakimu."

Alana menangis tersedu-sedu, tangannya gemetar hebat. "Kau... kau benar-benar monster. Semua yang kau lakukan... semuanya hanya rencana untuk menghancurkan keluargaku?"

Kenzi berdiri tegak, membelakangi Alana agar Vero bisa melihat ekspresi kerasnya. "Keluargamu hanyalah angka dalam saldo yang harus diselesaikan, Nona. Jangan merasa terlalu spesial."

Vero bersandar di ambang pintu, tampak puas. "Sangat bagus, 097. Sekarang, biarkan dia di sana. Kita perlu mendiskusikan rencana pemindahan Tuan Wijaya ke titik eliminasi terakhir."

---

Vero mengajak Kenzi ke ruang tengah yang hanya diterangi satu lampu gantung kusam. Di atas meja kayu, terdapat peta digital yang menunjukkan pergerakan logistik organisasi.

"Pusat menginginkan Tuan Wijaya dieksekusi malam ini," ujar Vero sambil menyalakan rokok. "Tapi mereka ingin dia melihat putrinya mati terlebih dahulu. Sebuah pesan untuk para konglomerat lain agar tidak bermain-main dengan kita."

Kenzi mengepalkan tangan di balik sakunya. "Itu tidak efisien. Membunuh subjek utama sebelum ekstraksi kode server cadangan akan menghapus jejak dana sebesar 200 juta dolar."

Vero menyipitkan mata, menghembuskan asap rokok tepat ke wajah Kenzi. "Kau selalu bicara soal efisiensi, Kenzi. Tapi aku mencium bau kebohongan. Apakah kau mencoba mengulur waktu?"

Kenzi menatap balik Vero tanpa berkedip. "Saya bicara soal profitabilitas. Jika Anda ingin membunuhnya sekarang, silakan. Tapi Anda yang harus menjelaskan pada Pusat kenapa saldo mereka berkurang 200 juta."

Vero terdiam. Logika Kenzi selalu sulit dibantah, dan bagi organisasi, uang seringkali lebih berharga daripada nyawa. "Baik. Aku beri kau waktu enam jam lagi untuk mendapatkan kode itu. Tapi sementara itu..."

Vero berjalan kembali ke arah kamar Alana. Kenzi segera mengikuti, ototnya menegang.

Vero membuka pintu sedikit, menatap Alana yang masih menangis. "Jika dalam enam jam kau tidak mendapatkan kodenya, Kenzi... aku akan membiarkan tim pembersih 'bermain-main' dengan gadis ini sebelum mereka memotong lehernya. Paham?"

---

Vero meninggalkan ruangan sambil tertawa rendah. Kenzi tetap berdiri di ambang pintu, menatap Alana.

Alana mengangkat wajahnya. Di bawah cahaya kusam, matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan kebencian murni. Ia meludahi lantai di dekat kaki Kenzi. "Pergi kau, pembunuh. Aku lebih baik mati di tangan temanmu itu daripada harus melihat wajahmu lagi."

Kenzi tidak membalas. Ia menutup pintu dan menguncinya dari luar.

Hanya ketika ia berada di kegelapan koridor, Kenzi membiarkan napasnya keluar dengan berat. Tangannya yang memegang kunci bergetar sedikit. Penyamarannya sempurna, namun ia tahu bahwa ia baru saja menghancurkan satu-satunya hal yang ingin ia selamatkan: kepercayaan Alana.

Di saku jaketnya, tablet Kenzi bergetar. Sebuah pesan terenkripsi muncul: *"Unit 003 dalam perjalanan. Perimeter diperketat. Tidak ada jalan keluar."*

Kenzi menyadari bahwa permainan dua mukanya telah mencapai titik nadir. Ia kini terjepit di antara organisasi yang haus darah dan wanita yang kini menganggapnya sebagai musuh terbesar dalam hidupnya.

---

1
Cut Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!