Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~20
"Bu, nanti sore Marni diundang buka puasa di rumah orang tua mas Firman."
Pagi itu saat sedang membantu ibunya bersih-bersih Marni nampak meminta izin kepada wanita paruh baya tersebut.
"Beneran nduk?"
Sang ibu pun langsung terkejut mendengarnya namun senyum di bibirnya sontak melebar, jika putrinya sampai di undang ke kediaman bu lurah pasti ada hal serius.
Apa jangan-jangan putrinya akan diminta untuk menjadi menantunya? karena perhatian Firman akhir-akhir ini kepada anak gadisnya itu sedikit berlebihan bahkan terhadap kedua putranya yang lain. Karena sebagai wanita dewasa yang berpengalaman ia tahu hal yang dilakukan oleh Firman adalah bentuk cari perhatian kepada putrinya maupun keluarganya, karena suaminya dulu juga begitu tapi karena miskin pria itu setiap kali ke rumahnya hanya membawa ubi dan singkong untuk orang tuanya.
Membayangkan menjadi besan Lurah membuat wanita itu pun nampak senyum-senyum sendiri, karena keluarganya pasti akan kecipratan untung paling tidak semua orang akan menghormatinya nanti seperti mereka menghormati pak Lurah.
Marni pun mengangguk kecil. "Cuma buka bersama dengan yang lain kok bu jangan berpikiran macam-macam." ucapnya mematahkan hayalan ibunya tersebut, ia tak ingin wanita itu terlalu berharap pada sesuatu yang belum pasti dan ia pun juga belum tahu akan diterima dengan baik atau tidak disana terutama dengan ibunya Firman, jika dengan ayahnya ia beberapa kali bertemu dan pria itu lumayan baik namun ibunya selama ini ia hanya pernah menyapa seadanya ketika wanita itu datang ke rumahnya untuk memberikan bantuan.
Tapi kalau pun nanti ia tak diterima, ia sudah siap karena selama ini ia selalu berharap buruknya dahulu sebagai langkah untuk melindungi hatinya agar tidak terluka. Ia masih mengingat nasihat ustadznya, sebaik-baiknya manusia berencana tetap rencana Tuhan yang terbaik karena Tuhan lebih tahu dengan kemampuan kita. Terkadang manusia merasa sombong tanpa mau mengukur kemampuannya sendiri dan pada akhirnya akan hancur dengan rencananya.
"Oh dengan para remaja masjid juga ya?" ibunya Marni pun nampak kecewa karena ia pikir hanya putrinya saja.
Marni terpaksa mengangguk agar ibunya tak semakin berharap lagipula siapa tahu keluarga pria itu mengundang yang lainnya juga.
Tak terasa hari telah menjelang sore, seharian ini Firman tak lagi menghubungi mungkin sedang sibuk pikirnya namun itu justru yang membuat Marni terlihat gelisah tapi tekadnya sudah bulat untuk datang dan ia juga telah menyiapkan sebuah desert untuk ia bawa karena rasanya tidak enak jika datang dengan tangan kosong.
Ting
Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan di ponselnya dan Marni yang sedang merias wajahnya tipis langsung mengambil gawainya tersebut.
"Aku sudah diluar, siap menjemput calon istri."
Marni pun langsung mengernyit dan langsung berlari keluar kamarnya, rupanya sudah ada pria itu yang sedang berbincang dengan Marwan di teras rumahnya. Sepertinya mereka sedang membahas motor karena terdengar sangat seru.
"Aduh kenapa dia pakai turun segala sih bagaimana jika mbak Astuti melihat bisa-bisa akan jadi gosip besok," gumamnya setelah kembali ke kamarnya mengingat Firman tak pandai berbohong.
"Eh ada mas Firman,"
Tiba-tiba terdengar suara wanita itu padahal baru saja di omongi, kemudian dengan secepat kilat Marni segera berlalu keluar setelah mengambil oleh-oleh yang akan ia bawa.
"Mbak Astuti," ucapnya kemudian.
"Oh kalian mau pergi lagi ya, kirain mas Firman mau berbuka di rumahmu Marni tapi sepertinya ga mungkin lah ya masa sekelas anak pak Lurah makan di tempat yang kurang layak." tukas Astuti bernada sindiran menatap wanita itu.
"Kalau ada kesempatan saya sangat mau kok makan disini tapi sayangnya hari ini abi dan ummi mengajak kita buka bersama di rumah," terang Firman ketika Marni hendak menanggapi perkataan wanita itu dan tentu saja itu membuat Marni langsung melotot karena pria itu benar-benar terlalu jujur dengan apa yang akan mereka lakukan.
"Bu-buka bersama di rumahmu?" ulang Astuti tak percaya, bagaimana bisa?
"Pasti bersama remaja masjid lainnya kan?" imbuhnya lagi barangkali tebakannya benar lagipula siapa Marni bisa-bisanya diajak buka bersama oleh bu lurah yang terhormat itu.
"Tidak mbak, hanya kami berdua." sahut Firman sembari tersenyum tipis menatap ke arah Marni.
"Apa sudah siap?" imbuhnya lagi dan Marni pun langsung mengangguk.
"Baiklah kami pergi dulu, assalamu'alaikum." tukas Firman lantas berlalu pergi diikuti oleh Marni dibelakangnya, meskipun jarak rumah mereka tak terlalu jauh pria itu tetap membawa mobil agar tidak menjadi perhatian warga.
"Wa'alaikumsalam."
Setelah kepergian mereka Astuti terlihat kesal. "Tidak, tidak mungkin jika mereka memiliki hubungan spesial aku pasti akan kalah dari segala hal." gumamnya tak terima, selama ini ia cukup memaklumi kecantikan Marni yang penting dirinya lebih kaya tapi jika wanita itu menikah dengan Firman maka wanita tersebut akan lebih dari segalanya.
"Aku harus menggagalkan hubungan mereka karena sampai kapan pun Marni harus tetap berada di bawahku," gumamnya lagi bahkan waktu itu saat ibunya Marni hendak memperbaiki rumahnya dengan bertanya-tanya padanya tentang harga bahan bangunan ia pun sengaja mengarahkannya untuk membeli motor Marwan dahulu dengan alasan untuk kepentingan sekolah dan kebetulan sekali Marwan juga sangat menginginkannya.
Didalam mobilnya, Firman nampak sesekali curi pandang ke arah Marni. Entah kenapa sore ini wanita itu nampak berbeda, terlihat lebih cantik dengan pakaian barunya serta wajahnya yang di makeup tipis dengan perona bibir warna alami namun terlihat menggoda di matanya.
Kalau digigit bagaimana rasanya?
"Astagfirullahaladzim," ucap Firman ketika pikirannya mulai liar hingga hampir membangkitkan kelelakiannya jika saja tidak cepat tersadar.
"Ada apa mas?" Marni pun sontak menatapnya dengan wajah khawatirnya.
"Tidak, hanya ingat kerjaan saja." sahut pria itu berdusta, sial bahkan saat bulan puasa seperti ini bukannya menambah pahala malah justru menumpuk dosa.
Sepertinya itulah kenapa Allah lebih suka jika hambanya lebih sering menundukkan pandangannya demi menghindari dosa besar yang terjadi karena sebuah ketidaksengajaan.
"Masih banyak pekerjaan ya mas? maaf ya gara-gara menjemputku pekerjaan mas jadi tertunda." Marni nampak semakin bersalah, padahal tadi ia bisa berangkat sendiri atau minta antar adiknya tapi tiba-tiba pria itu sudah ada di depan rumahnya.
"Tidak Marni, aku tidak keberatan menjemputmu lagipula kerjaan setiap hari juga ada saja kalau dituruti." Firman tersenyum menatapnya.
Marni pun nampak lega lalu kembali menatap jalanan, namun pandangannya sedikit mengernyit ketika melihat jalan yang dilalui oleh pria itu.
"Lewat sini memang tidak kejauhan ya mas?" ucapnya karena jalan yang dilewati pria itu ke arah yang lebih jauh padahal lewat jalan biasanya juga bisa lebih dekat.
"Tidak, kebetulan tadi ummi titip buah dahulu." sahut Firman kembali beralasan karena ia sengaja lewat jalan ini agar bisa sedikit lebih lama bersama wanita itu.
Sial, kecantikan wanita disampingnya itu benar-benar membiusnya dan membuatnya sedikit hilang arah karenanya, ia jadi tak sabar untuk segera menghalalkannya.
Marimar : kuping bisa bintitan juga kh Jum keq mata klo ngintip....??
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
cepat katakan Marimar.....
Ngereog mulu 🤦...