NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan

"IAGOO!!!"

Teriakan itu merobek kesunyian malam.

Suaranya menggema di ruangan gelap yang hampa, tanpa gema, seolah-olah ditelan dan dimusnahkan oleh kegelapan itu sendiri. Tidak ada dinding, tidak ada lantai, tidak ada langit-langit. Satu-satunya yang bisa dilihat adalah pintu kayu yang familiar, pintu rumah Yuki, berdiri sendiri di tengah kehampaan. Pintu itu terbuka lebar, memperlihatkan lanskap bersalju di luarnya yang putih dan dingin.

"I-Iago... Tolong... jangan tinggalkan kami..." desis suara itu lagi, kali ini lebih lemah, lebih pecah. Suara Yuki.

Lalu, dunia sekelilingnya menguap dalam pusaran putih. Dingin yang menggigit di ruang gelap itu tiba-tiba berubah menjadi dingin yang basah dan menusuk tulang, dingin yang berbeda—dingin dari sebuah malam hujan lebat bertahun-tahun silam, ketika dunia mereka hancur untuk pertama kalinya.

Klik.

Ingatan itu menyergapnya dengan gamblang, tanpa ampun.

Dua tubuh terbaring tak bergerak di atas bebatuan kasar jalanan, tepat di depan sebuah bangunan megah berwarna putih yang berdiri diam bagai makam raksasa. Cahaya bulan yang pucat dan sakit-sakitan menerpa wajah-wajah yang sudah tak bernyawa itu, membuat kulit mereka terlihat seperti lilin. Bau logam dan darah yang mulai membusuk mengambang kuat di udara lembap, bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan dan ozon dari petir yang baru saja berlalu.

"A-ayah... I-ibu..." Gadis kecil berambut hitam pekat itu tersedu-sedu, suaranya serak dan pecah oleh tangis yang tak lagi bisa dibendung. Tubuhnya yang menggigil hebat erat memeluk adik laki-lakinya yang lebih kecil, wajah anak itu terkubur dalam-dalam di bahu kakaknya, tangisnya tertahan menjadi getaran-getaran kecil yang menyebar ke seluruh tubuh mungilnya.

Matanya yang berkabut oleh air mata, menelusuri setiap detail mengerikan dari tubuh orang tuanya yang kaku. Di tubuh ayahnya, sebuah luka tusuk yang gelap dan dalam di perut, pakaiannya basah oleh darah yang kini telah menghitam. Di tubuh ibunya, lebam-lebam ungu kehitaman di pelipis, lengan, dan kaki. Kain robes putih ibunya robek-robek tak karuan, memperlihatkan kulit pucat di bawahnya.

"Hahaha... Apa yang harus kita lakukan dengan anak-anak kecil ini, Tuan?" Suara kasar dan penuh tawa mengoyak kesedihan mereka.

Seorang pria bertampang urakan—pakaiannya kotor dan berlumuran noda gelap, matanya juling dan liar—berdiri di samping seorang pria tua. Pria tua itu mengenakan jubah putih panjang yang masih terlihat bersih, ujung jubahnya nyaris menyentuh genangan air kotor di jalanan. Janggutnya yang putih lebat memenuhi dagu.

"Jual saja mereka. Atau bunuh. Terserah." ucap pria tua itu.

"JA-JANGANNN! Tolong ampuni kami, Tuan! Kami tidak akan bicara! Kami janji!" Gadis kecil itu menjerit sekuat tenaga. Tangannya yang kecil dan gemetar meraih ke arah kosong.

"Ampuni?" Si pria urakan mendekat dengan langkah berat di atas kerikil basah, sepatu botnya yang kotor menginjak genangan air. Bayangannya yang besar dan mengancam menutupi kedua anak itu sepenuhnya. "Bagaimana jika kami melepaskan kalian berdua? Sudah pasti kalian akan lari dan melaporkan semua ini, kan?! Dasar anak ingusan!"

"Ti-tidak... Ka-kami tidak akan... Kami bersumpah demi apa pun..." kata gadis itu.

"Ka-kakak... Aku takut banget..." erangan adiknya, pelukannya semakin kencang, tubuh kecilnya bergetar hebat.

Pria itu mencibir jijik, lalu menoleh ke arah pria tua. Suasana mencekam selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam; hanya desir angin malam yang dingin dan menghantui serta tetesan air hujan dari daun-daun yang terdengar. Gerimis tipis mulai membasahi rambut mereka lagi, dingin dan perlahan merembes ke kulit kepala.

Kemudian, dengan gerakan tiba-tiba, tangan pria urakan itu mencengkeram dan menjambak keras rambut hitam si gadis kecil, menariknya hingga tubuh gadis itu terangkat sedikit. "Janji, janji... Kau pikir kami akan percaya pada sumpah bocah sepertimu?! HAH?!"

Sakitnya tajam dan membakar. Gadis itu menjerit kesakitan, suaranya melengking di malam yang sunyi.

"KAKAK!" teriak adik laki-lakinya dengan panik, mencoba meraih.

"A-ampun, Pak... Sakit..." Tangannya yang kecil meraba-raba mencoba melepaskan cengkeraman besi itu, namun sia-sia, kukunya hanya menggores kulit tangan si pria.

"Tuan," kata pria urakan itu dengan nada bersemangat, matanya berbinar gila. "Apa kita bunuh saja mereka ini sekarang?"

"Terserah kau saja. Aku tidak mau tanggung jawab." Pria tua itu sudah berbalik, jubah putihnya yang bersih berputar pelan. Dia melangkah pergi dengan tenang menuju bangunan putih itu. Langkahnya tenang dan pasti. "Yang penting jangan libatkan namaku dalam urusan kotor ini. Dan bersihkan mayat-mayat itu sebelum matahari terbit. Jangan tinggalkan bekas."

Senyum lebar meregang di wajah pria urakan itu, memperlihatkan giginya yang kuning dan rusak. Matanya yang juling berbinar-binar penuh antisipasi. "Oke, Tuan! Saya bisa atasi!"

Begitu sosok jubah putih itu menjauh dan akhirnya terserap sepenuhnya oleh bayangan bangunan putih, kesabaran pria itu habis seketika. Dia menarik rambut gadis kecil itu dengan brutal, membuatnya terhuyung, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah batang pohon besar di pinggir jalan.

DUKK!

Punggung gadis itu menghantam kulit pohon yang kasar dan basah dengan suara keras dan tumpul. Napasnya terhempas paksa keluar dari paru-parunya, disusul oleh batuk-batuk pedih dan tersedak. Dia memejamkan mata rapat-rapat, menahan gelombang rasa sakit yang menyebar dari tulang belakangnya, menjalar ke seluruh tubuh. Dunia di sekelilingnya berputar cepat, kacau.

"Kakak!!!" Adiknya berteriak histeris, dan tanpa berpikir, berlari sekencang-kencangnya menuju kakaknya, wajahnya basah oleh air mata dan hujan yang semakin deras.

Namun, sebelum si anak kecil itu mencapai kakaknya yang terkapar, sebuah tendangan keras mendarat tepat di perutnya yang mungil.

PYOK!

Suara itu tumpul dan basah. Si anak terlempar ke belakang, tubuhnya yang ringkih terguling-guling di tanah becek yang dingin, sebelum akhirnya berhenti dan tak bergerak sama sekali, hanya rintihan lemah yang terdengar.

"Diam di sana, sampah kecil. Giliranmu nanti." geram pria itu dengan suara serak.

Dia lalu berbalik, kembali mendekati gadis kecil yang sedang berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, tubuhnya gemetar hebat. Dari balik ikat pinggangnya yang kotor, dia mengeluarkan sebilah pisau. Noda merah tua masih membekas jelas di bilahnya yang kusam, berpendar lemah di cahaya bulan yang pucat. Senyumnya kini benar-benar mengerikan, matanya membelalak penuh kegilaan murni.

"Bersiaplah, gadis kecil malangku... Kita akan bersenang-senang sebentar sebelum kau mati..."

Pisau itu menyambar cepat. Bukan untuk menusuk, tetapi untuk merobek.

SREEET!

Kain tipis di dada gadis kecil itu tercabik dengan mudah, terbuka lebar, memperlihatkan kulit pucatnya yang masih kanak-kanak dan tulang-tulang rusuk yang menonjol karena kurus. Angin malam yang dingin menyentuh langsung kulitnya yang telanjang, membuatnya menggigil hebat.

"Hehehe... Tenang saja, gadis kecil. Jangan takut. Aku hanya akan mengambil 'sesuatu' yang berharga darimu sebelum kau mati..." Napasnya yang anyir, bau alkohol dan daging busuk, menyapu wajah gadis itu.

"TI-TIDAK!!! MENJAUHLAH DARIKU, MONSTER!!!" Teriakannya yang putus asa memecah langit malam. Dia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. "TOLON—"

Sebuah tangan kasar dan besar menutup mulutnya dengan keras. Rasa kotoran dan asap rokok memenuhi rongga mulutnya, membuatnya mual. Ketika dia mulai memberontak dengan sisa tenaga, kaki dan tangannya ditindih dengan kekuatan yang tak tertahankan oleh tubuh pria itu. "Diam kau, sialan! Jangan buang-buang waktuku!"

Lalu... BRAAKK!

Suara keras dan tumpul, seperti kayu besar yang dipatahkan dengan paksa.

Pria urakan itu tiba-tiba mengeluarkan jeritan aneh, tercekik, matanya membelalak. Cengkeramannya di mulut gadis itu mengendur seketika. Dia terjatuh berlutut di sampingnya, kedua tangannya meraih dengan panik bagian belakang lututnya yang kini bengkok ke arah yang salah, tulangnya menusuk kulit.

Sebelum dia bisa menoleh atau bahkan berteriak lagi, serangan berikutnya datang tanpa ampun.

DUG! DUG! DUG!

Benda keras—sebuah tongkat besi berkarat yang diambil dari tumpukan sampah—menghantam kepalanya berulang kali dengan irama liar, panik, dan penuh keputusasaan. Suara pukulan itu basah, mengerikan, memuakkan. Tubuh pria itu tersungkur ke tanah becek dengan suara berat, tak bergerak lagi, genangan merah mulai melebar di bawah kepalanya yang hancur.

Gadis kecil itu terduduk lemas di bawah pohon, napasnya tersengal-sengal tak karuan. Dadanya yang kecil naik-turun tak terkendali. Matanya membelalak, menatap dengan horror penuh adik laki-lakinya yang kini berdiri di sana.

"E-edward?" Suaranya hanya bisisan serak, penuh ketidakpercayaan.

Anak lelaki itu berdiri membungkuk di tengah hujan, napasnya ngos-ngosan, bahunya naik-turun cepat. Di tangannya yang kecil dan gemetar, tongkat besi berkarat itu masih tergenggam erat, ujungnya yang bengkok meneteskan cairan gelap pekat yang segera diencerkan dan dicuci oleh hujan yang mulai turun semakin deras.

Petir menyambar di kejauhan, menyilaukan dunia sejenak dengan cahaya putih, memotret dengan sempurna wajah pucat dan kosong Edward.

"Ka-kakak..." Tongkat besi itu terjatuh dari genggamannya yang lemah, membentur batu dengan suara klang yang nyaring di keheningan yang hanya diisi deras hujan. Dia menatap kedua telapak tangannya sendiri yang kecil, yang juga mulai dihiasi noda-noda kemerahan yang cepat luntur dan mengalir bersama air hujan. "A-apakah... aku baru saja... membunuh seseorang...?"

Hujan turun semakin deras. Derasnya menenggelamkan segala suara, membasahi segalanya, seolah berusaha membersihkan noda darah dan kekejaman dari dunia.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam, sangat dalam, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan kekuatan yang telah tercerai-berai di tanah becek itu.

Dengan tubuh yang masih gemetar hebat, dia merangkak pelan di atas lumpur dan kerikil yang melukai lututnya, mendekati adiknya yang membeku. Lalu, dengan sisa tenaga, dia menariknya dalam pelukan yang begitu erat. Tubuh Edward kaku, lalu seketika lunglai.

Tangisan mereka yang keras dan panjang akhirnya pecah bersama, namun segera hilang, ditelan dan diredam oleh deru hujan yang dahsyat dan gelegar petir yang semakin menjadi-jadi.

"Tenang, Edward, tenanglah..." bisik sang kakak di antara isakannya yang tak terkendali, tangannya yang gemetar menepuk-nepuk punggung adiknya dengan lembut. Air mata bercucuran, bercampur sempurna dengan air hujan yang dingin membasahi wajah mereka. "Itu... itu hanya pembelaan diri... Kita hanya bertahan hidup... Kita tidak punya pilihan..."

Pemandangan itu—dua sosok kecil yang tak berdaya berpelukan erat di tengah kegelapan malam yang pekat, dihajar hujan lebat, di samping mayat-mayat yang mulai kaku—perlahan-lahan mulai memudar, warnanya luntur menjadi abu-abu kelabu, lalu hitam pekat yang tak tertembus.

Dan kemudian...

Yuki membuka mata dengan tersentak.

Tarikan napasnya dalam. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, membuat piyama katunnya menempel tidak nyaman di kulit.

Lambat-laun, detak jantungnya yang kencang mulai mereda. Pandangannya yang kabur mulai fokus pada pola kayu yang familiar di langit-langit kamarnya. Kehangatan selimut wol tebal dan aroma kayu rumah menyelimuti tubuhnya.

"Kenangan terkutuk itu lagi..." gumamnya pelan. Dia mengusap pipinya dengan punggung tangan.

Dia memberanikan diri untuk bangkit dari tempat tidur. Kaki telanjangnya yang pucat menyentuh lantai kayu yang dingin. Dengan langkah lunglai, dia berjalan menuju meja kayu sederhana di pojok kamar. Di atasnya, barang-barang pribadinya tertata rapi: sisir tanduk yang sudah aus, pita kain lusuh, sebotol kecil minyak rambut buatan sendiri.

Namun matanya, yang masih lembap dan kosong, terpaku pada satu benda di ujung meja, di tempat yang paling tersembunyi.

Sebuah wadah tembikar kecil, polos dan tidak mencolok. Di dalamnya, tersimpan cat rambut berwarna merah menyala.

Setelah beberapa saat terdiam menatapnya, gadis berambut merah itu berbalik. Dia menyusuri koridor pendek dan gelap di rumah mereka, menuju kamar adiknya.

Dia mendorong pintu kayu itu dengan perlahan hingga engselnya yang butuh minyak hanya berderit sangat pelan. Di dalam kamar, di bawah selimut wol tebal yang menggumpal, terlihat punggung kecil Edward yang sedang tidur. Gerakan naik-turun bahunya teratur. Sebuah desahan lega, hampir tak terdengar, akhirnya keluar dari bibir Yuki.

Dia hendak menarik pintu kembali, menutupnya pelan, dan kembali ke kesendirian serta kenangan kelamnya.

"Kenapa kejadian itu terus terulang lagi, kak?"

Suara itu pelan. Edward masih membelakangi pintu, tidak bergerak sama sekali.

Yuki membeku total. Tangannya masih menggenggam erat gagang pintu kayu, jari-jarinya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. "Edward?" suaranya bergetar hebat. "Kamu... sudah bangun?"

"Kenapa..." Kali ini Edward bergerak. Dia berbalik dengan sangat pelan, wajahnya yang pucat perlahan muncul dari balik bayangan kamar. Cahaya remang-remang dari koridor yang masuk melalui celah pintu menerpa garis pipinya yang basah oleh air mata. "Kenapa kita selalu saja kehilangan orang yang berharga dalam hidup kita, kak?"

Pertanyaan polos namun menghancurkan itu menggantung berat di udara. Yuki berdiri terpaku di ambang pintu. Pandangannya jatuh, tidak mampu menahan tatapan adiknya, hanya mampu menatap pola-pola kayu di lantai yang tiba-tiba menjadi hal yang paling menarik di dunia.

Tidak lama kemudian, sebuah titik basah melebar perlahan di lantai kayu di bawahnya. Lalu titik lainnya, dan lainnya lagi. Air matanya menetes, satu per satu, meninggalkan noda-noda gelap yang kontras dengan warna kayu yang terang.

"Kakak..." Dia mencoba bicara, namun suaranya pecah. "Kakak juga tidak tahu, Edward... Kakak tidak tahu..."

Akhirnya, lututnya yang lemah tertekuk, dan tubuhnya yang rapuh meluncur pelan ke lantai kayu. Dia berlutut di depan pintu kamar adiknya, satu tangan menutup mulutnya dengan keras, berusaha mati-matian menahan isakan yang mendesak keluar dari dadanya yang sesak. Namun sia-sia. Tubuhnya terguncang hebat oleh tangis yang dalam dan senyap, air mata mengalir deras di antara celah-celah jarinya.

"Maaf..." erangnya dengan suara yang benar-benar hancur berkeping-keping. "Maafkan kakak, Edward... Maaf karena kakak tidak bisa mencegah semua ini terjadi... Kakak benar-benar minta maaf, Edward... Ini semua salah kakak..."

Melihat kakaknya runtuh menjadi begitu hancur di depannya, Edward melemparkan selimut wolnya dengan kasar. Dia melompat dari tempat tidur, menghampiri Yuki yang sedang berlutut dan menangis.

Tanpa sepatah kata pun, dia merengkuh kakaknya dalam pelukan yang erat, wajahnya yang basah terkubur dalam-dalam di bahu Yuki.

"Tidak..." bisik Edward dengan suara tersendat-sendat. "Kakak tidak perlu... tidak perlu minta maaf. Ini bukan salah kakak... Bukan..."

Di koridor sempit dan sepi itu, di bawah atap rumah kayu sederhana yang seharusnya menjadi tempat berlindung paling aman dari dunia luar, mereka hanya berdua, saling berpegangan erat. Dingin dari lantai kayu merambat perlahan naik ke kaki telanjang Yuki, membuatnya mati rasa, tetapi rasa hampa yang menganga di dadanya jauh, jauh lebih menusuk dari dingin mana pun.

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!