NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Rahasia di Balik Kegelapan

Belum sempat Damian melanjutkan gertakannya, sebuah tarikan kuat dan mendadak menariknya ke balik bayangan pohon beringin besar yang rimbun. Damian nyaris melawan, namun aroma lembut—campuran antara wangi hujan dan sabun sederhana—menghentikan refleksnya.

Sepasang tangan lembut mendarat di dadanya, sementara tangan lainnya dengan cepat membungkam mulut Damian.

Mata Damian membelalak. Di bawah temaram cahaya bulan, ia melihat wajah itu lagi. Liora Selene. Gadis dari kedai bubur sore tadi kini berada sangat dekat dengannya, napasnya yang memburu terasa di leher Damian. Selene memberikan kode dengan telunjuk di depan bibirnya, mengisyaratkan Damian untuk diam.

Damian terpaku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena kedekatan yang tak terduga ini.

"Diamlah, kumohon," bisik Selene nyaris tak terdengar.

Damian mengikuti arah pandang Selene. Di kejauhan, dekat gerbang samping properti Nicholas, ia melihat kepala bodyguard keluarganya sedang berbicara serius dengan seorang pria paruh baya berpakaian necis namun berwajah licik.

"Semua sudah diatur," ucap pria paruh baya itu dengan suara serak yang terbawa angin malam. "Bangunan tua itu akan segera diratakan. Anak-anak yatim itu tidak punya tempat mengadu. Lokasinya strategis untuk club malam baru kita. Tuan Besar Nicholas sudah memberi lampu hijau."

Mendengar itu, rahang Damian mengeras. Marah. Ia tahu ayahnya adalah pebisnis yang dingin, tapi ia tidak tahu keluarganya berencana menggusur panti asuhan demi sebuah tempat hiburan malam.

Ia melirik Selene yang masih membungkam mulutnya. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca, penuh dengan kesedihan dan amarah yang tertahan. Saat itulah Damian menyadari sesuatu; Selene tidak berada di sini secara kebetulan. Gadis "miskin" ini mempertaruhkan nyawanya menyusup ke kediaman Nicholas demi anak-anak yatim itu.

Suara hentakan hak sepatu yang tajam di atas jalan setapak beton memecah kesunyian. Dari arah rumah, Clarissa berjalan dengan langkah gusar, wajahnya yang tadi tampak manis di depan ibu Damian kini berubah menjadi penuh amarah.

"Papa!" serunya dengan nada manja sekaligus kesal.

Damian menahan napas. Ia melihat pria paruh baya yang tadi membahas rencana pembangunan club malam itu berbalik. Ternyata, pria licik itu adalah ayah Clarissa.

"Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya ayahnya, suaranya berubah lembut namun tetap menyimpan aura dingin.

"Damian benar-benar keterlaluan! Dia bahkan tidak mau menoleh padaku. Dia mengabaikan aku di depan ibunya sendiri dan langsung pergi begitu saja," adu Clarissa sambil bersedekap, matanya berkilat penuh kebencian. "Dia sama sekali tidak menyukaiku, Pa! Semua rencana perjodohan ini bisa gagal kalau dia terus bersikap seperti itu!"

Ayah Clarissa tertawa kecil, suara tawa yang membuat Selene di samping Damian bergidik ngeri. "Tenanglah. Begitu panti asuhan itu rata dengan tanah dan bisnis kita berjalan, keluarga Nicholas akan berutang besar pada kita. Damian tidak akan punya pilihan selain menerimamu. Dia hanya butuh sedikit... dorongan."

Damian merasakan darahnya mendidih. Jadi, ini bukan sekadar perjodohan biasa. Ini adalah transaksi kotor yang melibatkan penghancuran tempat bernaung anak-anak yatim demi ambisi kedua keluarga.

Ia melirik ke arah Selene. Gadis itu tampak gemetar, bukan karena takut pada Damian, melainkan karena mendengar nasib anak-anak panti yang kini berada di ujung tanduk. Tangannya yang kecil mencengkeram lengan kemeja Damian tanpa sadar, mencari kekuatan.

Damian menatap tangan lembut itu, lalu beralih menatap wajah Selene yang terlihat sangat rapuh namun berani di bawah cahaya bulan.

Damian tak langsung melabrak orang-orang licik itu. Sebaliknya, ia diam. Sebagai pria yang terbiasa bertarung di meja negosiasi yang kejam, ia tahu bahwa kemarahan yang meledak-ledak hanya akan membuat musuhnya waspada. Ia memilih menunggu waktu yang tepat untuk menggagalkan rencana mereka secara total.

Namun, fokus Damian terbagi. Tubuhnya menegang bukan karena takut pada para bodyguard, melainkan karena gadis yang kini menempel padanya. Selene, dengan napas yang memburu dan aroma sabun mandi yang samar, masih membungkam mulut Damian dengan telapak tangannya yang lembut.

Selene terus mengawasi ayah Clarissa dan para penjaga dari celah semak, tanpa menyadari bahwa pria yang sedang ia "sandera" ini adalah sang pemilik rumah, Damian Nicholas. Baginya, pria ini hanyalah pria asing yang kebetulan ia temui yang mungkin juga sedang menyusup atau bertamu di sini.

"Sstt... jangan bersuara," bisik Selene tepat di telinga Damian, suaranya bergetar karena panik. "Pria tua itu jahat. Mereka ingin menghancurkan panti asuhan tempatku tinggal untuk membangun tempat maksiat. Kalau kau bersuara, kita berdua habis."

Damian merasakan geliat aneh di dadanya. Ada dorongan untuk tertawa sekaligus rasa kagum. Gadis ini mengkhawatirkan nyawanya, padahal Damian hanya perlu menjentikkan jari untuk membuat para penjaga itu berlutut.

Setelah ayah Clarissa dan Clarissa masuk ke dalam mobil dan suara deru mesin menjauh, Selene perlahan melepaskan tangannya dari mulut Damian. Ia mundur satu langkah, wajahnya pucat pasi di bawah sinar rembulan.

"Maaf... aku terpaksa melakukannya," ucap Selene lirih, matanya melirik ke arah rumah besar Nicholas dengan benci. "Kau... apa yang kau lakukan di rumah orang-orang jahat ini? Kau tamu mereka? Apa kau juga bagian dari rencana kotor mereka untuk menggusur panti kami?"

Damian merapikan kerah kemejanya, matanya yang tajam menatap Selene yang tampak ketakutan namun tetap berdiri tegak. Damian memutuskan untuk tidak membongkar identitasnya sekarang. Ia ingin tahu seberapa jauh gadis ini akan berjuang.

"Aku bukan bagian dari mereka," jawab Damian dengan suara bariton yang tenang. "Aku hanya orang yang sedang mencari udara segar dan tidak sengaja bertemu pencuri kecil sepertimu."

"Aku bukan pencuri!" potong Selene cepat, matanya berkilat marah. "Aku hanya ingin mencari bukti surat kepemilikan tanah panti yang mereka curi!"

Damian tertegun. Jadi itu alasan Selene menyusup. Ia melihat keberanian yang luar biasa di balik balutan pakaian sederhana gadis itu.

"Kau gila," gumam Damian,

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!