Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Sudah Sedekat Itu Kalian.
Kaluna belum selesai dengan dirinya sendiri--dengan kenyataan yang tak pernah ia bayangkan,
yang meruntuhkan harapannya pelan-pelan… tapi pasti--ketika pintu itu terbuka.
Sagara keluar.
Agam langsung menyambut.
“Ruang meeting sudah siap.”
“Mereka sudah datang?”
“Sudah. Lima menit lalu.”
Sagara mengangguk singkat.
Tidak ada jeda. Tidak ada arah pandang yang bergeser. Ia berjalan melewati Agam.
Dan tetap--tidak menoleh sedikit pun ke arah Kaluna.
Kaluna berdiri di sana. Tak bergerak.
Bukan karena tidak ingin--tapi karena… tidak lagi tahu harus berdiri sebagai siapa.
Sekian waktu, Kaluna tidak langsung bergerak.Ia tetap berdiri di tempatnya, bahkan setelah Sagara menghilang di balik pintu ruang meeting.
Sunyi kembali mengisi koridor.
Namun kali ini--bukan sunyi yang kosong.
Tapi penuh, dalam diri Kaluna,
dengan satu pertanyaan yang terus berulang.
Kenapa?
Sagara tidak pernah berubah.
Itu yang selalu ia yakini.
Dia tidak tertarik pada keterikatan.
Tidak memberi ruang untuk kedekatan yang tidak perlu.
Apalagi… pernikahan.
Lalu sekarang--seorang perempuan berada di dalam ruangannya.
Di jam kerja.
Atas perintahnya sendiri.
Dan disebut…istrinya.
Kaluna mengembuskan napas pelan.
Bukan marah. Tapi lebih ke… tidak menerima tanpa penjelasan.
Ia berbalik.
Langkahnya tenang. Bukan untuk mengejar. Tapi untuk memastikan.
Ruang kerja itu masih tertutup.
Kaluna berhenti di depannya.
Tidak langsung mengetuk.
Satu detik ia diam.
Detik berikutnya masih diam.
Kaluna menyusun ulang dirinya sendiri.
Bukan sebagai seseorang yang terluka.
Tapi sebagai seseorang yang…merasa berhak tahu.
Tok.
Ia mengetuk pintu sekali. Dan tanpa menunggu respon dari dalam, pintu besar itu ia buka.
Kini kaluna berdiri di ambang.
Terlihat Shafiya masih duduk di sofa.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk Shafiya--ini pertemuan pertama.
Untuk Kaluna--ini jawaban yang sedang ia cari.
Kaluna masuk beberapa langkah.
Dalam jarak yang tidak terlalu dekat, ia berhenti.
“Kamu… dipanggil ke sini oleh Sagara?”
Ia bertanya langsung.
Tanpa perkenalan lebih dulu.
Shafiya sedikit mengernyit.
Pertanyaan itu tidak biasa.
“Iya.”
Namun ia tetap memberi Jawaban. Singkat.
Kaluna mengangguk pelan.
Seolah satu bagian kecil sudah terkonfirmasi.
“Sering?”
Ia bertanya lagi.
Shafiya kini benar-benar menatapnya.
Membaca. Namun belum mendapatkan apa-apa secara utuh.
“Tidak," jawabnya.
“Ini pertama kali.” Shafiya melanjutkan.
Hening sesaat. Tipis.
Kaluna menahan sesuatu di dalam dirinya.
Bukan emosi.
Lebih ke… melihat potongan puzzle yang mulai menyatu.
“Dia yang memintamu datang?”
Mengubah kalimat pertanyaan, tapi maknanya sama saja.
“Iya.”
Shafiya menjawab cepat.
Tidak ada keraguan.
Kaluna mengangguk lagi.
Lebih pelan. Lalu akhirnya ia menatap Shafiya lebih dalam. Lebih lekat pada wajah cantik itu.
“Boleh aku tanya satu hal lagi?”
Shafiya tidak langsung menjawab.
Tapi tidak juga menolak. Ia hanya menatap. Tatapan menimbang, menilai.
Kaluna menarik napas tipis.
“Kenapa kamu menikah dengan Sagara?”
Kaluna bukan menuduh. Bukan menyerang.
Tapi pertanyaan itu--tajam.
Dan tepat sasaran.
Shafiya diam. Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena pertanyaan itu datang dari orang yang bahkan tidak ia kenal. Tatapannya tidak lepas dari Kaluna.
Alih-alih menjawab, Shafiya justru tersenyum tipis.
“Kenapa kamu ingin tahu?”
Sunyi, setelah pertanyaan sederhana dari Shafiya itu. Sederhana tapi menggeser posisi. Dari Shafiya yang ditanyai, kini balik menanyakan.
Kaluna tidak langsung menjawab.
Dan kali ini ia yang harus memilih kata.
“Karena…”
Kaluna berhenti sejenak.
Shafiya diam menunggu. Tapi juga
Tidak mendesak.
Ia hanya diam dengan tenang.
Kaluna menarik napas tipis.
Tatapannya kembali lurus.
“Karena itu tidak masuk akal.”
Shafiya mengangkat sedikit alisnya.
“maksudmu, Pernikahan itu?”
“Iya," jawab Kaluna.
Jeda sesaat.
“Untuk seseorang seperti Sagara. Menikah itu, tidak masuk akal," lanjutnya.
Shafiya mengangguk kecil.
Seolah memahami arah ucapan itu. Perempuan di depannya pasti tahu banyak tentang Sagara. Bahkan mungkin jauh lebih banyak dari yang ia duga.
“Dan kamu merasa…”
Shafiya berhenti sejenak, memilih kata dengan hati-hati,
“…berhak memastikan alasannya?”
Nada suaranya tetap datar.
Tidak bermaksud menyerang.
Tapi jelas… ia tidak ingin membuka diri.
Kaluna tidak tersenyum. Ekspresinya bertahan sejak awal. Tidak akrab. Tidak ramah. Tapi juga tidak memusuhi.
“Aku hanya memastikan satu hal,” ucapnya akhirnya.
“Apakah ini keputusan… atau keterpaksaan.”
Hening.
Shafiya menatapnya beberapa detik lebih lama. Kemudian.
“Kalau jawabannya bukan keduanya?”
Kaluna sedikit mengernyit.
“Maksudmu?”
Shafiya tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap tenang. Setenang jawaban yang kemudian berikan.
“Tidak semua hal harus bisa kamu pahami… untuk tetap terjadi.”
Hening, kembali mengambil perannya.
Kaluna menatap Shafiya.
Tatapan yang sedikit berubah dari sebelumnya.
Lalu ia tersenyum tipis.
“Kalimat yang bagus.”
Nada suaranya datar.
“Tapi tidak menjawab apa pun.”
Shafiya tidak bereaksi.
Kaluna maju satu langkah lebih dekat.
Tidak terlihat agresif.
Tapi jelas--ia tidak lagi menjaga jarak.
“Kamu tahu tidak…”
ia berhenti sejenak, menahan sesuatu yang mulai naik dalam dadanya. Emosi.
“…dia itu seperti apa?”
Shafiya diam.
“Dia tidak menikah.”
Nada Kaluna mulai berubah. Lebih tajam.
“Bukan karena tidak bisa. Tapi karena dia tidak mau.”
Langkahnya berhenti.
Tatapannya lurus.
“Dan sekarang tiba-tiba kamu ada di sini.”
Suaranya sedikit turun. Tapi semakin tajam.
“Di ruangannya. Dengan status yang bahkan dia sendiri tidak pernah beri ke siapa pun.”
Shafiya tetap tenang.
“Apa kamu benar-benar tidak merasa… ada yang janggal?”
Shafiya menatapnya.
“Setiap orang punya cara sendiri dalam mengambil keputusan.”
Jawaban yang rapi.
Kaluna menggeleng pelan.
Senyumnya hilang.
“Jangan pakai jawaban aman.”
Dan kali ini nada bicaranya terdengar personal.
“Aku tidak tanya tentang ‘setiap orang’.”
Tatapan Kaluna mengunci.
“Aku tanya tentang kamu.”
“Kenapa kamu--?" Kaluna memotong ucapannya sendiri dengan cepat--seolah kata itu salah.
“Kenapa dia memilih kamu?” Ia merubah pertanyaannya. Kali ini--itu bukan lagi sekedar tanya.
Itu adalah luka yang mulai terbuka.
Shafiya menggeser posisi berdirinya sedikit. Tersenyum. "Kalau yang kamu tanya alasan 'dia' memilih saya," ucapnya tenang. "Maka yang bisa menjawabnya... hanya Sagara."
"Oh." Desis itu keluar sangat cepat. Tatapannya juga berubah kian tajam, kian dalam. Bukan karena marah tak mendapatkan jawaban. Tapi karena nama Sagara disebut tanpa jarak.
"Sudah sedekat itu kalian." Ucapan itu hanya lirih, lebih seperti gumaman. Tapi Shafiya mendengarnya sangat jelas. Ada kesadaran yang retak. Ada emosi yang kian naik ke puncak.
"Baik." Kaluna mengangguk--seperti pembenaran atas apa yang disimpulkannya sendiri.
Kali ini--tidak lagi sekadar bertanya.
Tatapannya menekan.
“Dan saat kebenaran itu saya dapat--"
Jeda.
“--saya tidak akan membiarkan kamu merasa tenang.”
Shafiya tidak mundur.
Juga tidak membalas.
Ia hanya menatap Kaluna.
Tatapan tenang.
“Kalau itu membuatmu merasa lebih baik,” ucapnya pelan,
“lakukan saja.”
“Tentu.”
Kaluna tersenyum tipis. Singkat.
Ia mengakui ketenangan Shafiya--
cara perempuan itu menjawab, rapi dan terukur.
Tapi ia tidak percaya…
bahwa tidak ada rasa gentar sedikit pun.
Untuk membuktikan keyakinannya, Kaluna kian mendekat. Satu langkah. Tatapannya memaku. Tanpa celah. Namun, belum sempat ia lakukan apa pun. Pintu terbuka. Tanpa pemberitahuan. Tanpa ragu.
Dan Sagara yang berdiri di ambang.
Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Keren, Kak Naj...