Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Dia Bukan Korban
Suara itu menembus lantai papan kayu, terdengar sangat manja namun penuh bisa.
Sebuah suara yang sangat dikenal oleh memori kelam tubuh Raden Ajeng Sawitri.
Suara Raden Rara Ratih Kumala.
"Menik! Rebut kembali gulungan kain sutra merah niku! Kulo mboten peduli siapa tamu dungu di lantai atas yang berani mendahului kulo! Apa mereka mboten ngerti kulo niki putri dari Kanjeng Tumenggung Danurejo?!"
Bentakan Ratih bergema arogan, disusul suara pelayan toko yang mencoba menjelaskan dengan nada merendah dan ketakutan.
Namun, sebelum pelayan itu selesai bicara, suara Ratih kembali meledak.
"Kowe mung batur rendah! Berani-beraninya menghalangi kulo! Jika tamu di atas itu memang bangsawan, suruh dia turun sekarang juga kalau berani! Atau jangan-jangan dia sudah kabur lewat jendela karena takut mendengar nama Romo Tumenggung?!"
"Takut hingga melompat dari jendela? Hanya karena gertakan seorang anak selir?"
Suara sedingin angin malam menembus keheningan lantai bawah, memotong tawa congkak Ratih.
Sawitri telah menuruni anak tangga kayu itu dengan langkah tanpa suara, berdiri menjulang di anak tangga terakhir dengan postur tegap bak arca perunggu.
Matanya yang sedalam jurang menatap tajam ke arah gadis berkebaya beludru merah yang kini mematung di tengah ruangan.
"Kowe... Kowe?!" Ratih terkesiap, mundur selangkah dengan mata membelalak tak percaya.
Wajah angkuhnya seketika berubah pucat melihat sosok berbalut kebaya lawasan ungu yang berdiri di hadapannya.
Namun, sedetik kemudian, keterkejutannya berganti dengan tawa meremehkan.
"Hah! Ternyata kowe, Mbakyu Sawitri! Pantas saja pelayan ini buta. Dia pasti kasihan melihat gembel berpakaian lusuh sepertimu mengemis kain di sini."
Ratih berkacak pinggang, menatap pelayan toko dengan jijik.
"Berikan sutra merah itu padanya. Anggap saja kulo bersedekah untuk menutup tubuhnya yang bau tanah itu."
"Menarik," potong Sawitri datar, melangkah turun mendekati Ratih.
"Kudengar kau suka sekali memperkenalkan diri sebagai 'putri tunggal' Tumenggung. Apa Raden Ajeng Wandira sudah mati tersedak tulang ikan sehingga kau merasa berhak mengklaim posisi itu?"
Wandira adalah anak perempuan pertama dari selir Tumenggung Danurejo, yang statusnya sedikit lebih tinggi dari Ratih.
Wajah Ratih memerah padam seketika.
"Kowe jaga mulutmu! Mbakyu Wandira sehat walafiat! Beraninya kowe mengutuknya!" jerit Ratih murka, telunjuknya bergetar menunjuk wajah Sawitri.
"Oh, dia masih hidup?" Sawitri memiringkan kepalanya sedikit, menatap Ratih layaknya mengamati spesimen serangga di bawah mikroskop.
"Lalu kenapa kau bertingkah layaknya pewaris tunggal? Ah, aku paham. Kau pasti diam-diam mendoakan kematiannya agar seluruh harta Romo jatuh ke tangan ibumu, kan?"
"Kowe diam, anak buangan!!"
Kesabaran Ratih habis. Ia menerjang maju dengan kalap, tangan kanannya terangkat tinggi bersiap menampar wajah pucat Sawitri.
Menik, pelayan setia Ratih, ikut maju berniat menjambak rambut Sawitri dari samping.
Namun, Ndari yang sejak tadi berdiri diam di belakang Sawitri, bergerak lebih cepat bak macan tutul.
Ia menangkap pergelangan tangan Menik dengan cengkeraman sekeras besi.
"Kowe mung batur selir! Berani menyentuh Ndara Ayu putri sah, tanganmu akan kulo patahkan!" desis Ndari garang.
"Lepaskan tanganku, batur gila!" jerit Menik kesakitan, berusaha meronta.
Di saat yang bersamaan, tamparan Ratih melesat ke arah pipi Sawitri.
Alih-alih menghindar, Sawitri hanya memiringkan wajahnya satu inci.
Tangan Ratih mengenai bahu kiri Sawitri, namun di detik yang sama, tangan kanan Sawitri bergerak memutar dengan kecepatan kilat, menangkap pergelangan tangan Ratih, lalu memelintirnya dan memberikan dorongan keras ke arah dada gadis itu.
Buk!
Ratih terpelanting keras, menabrak meja kayu jati yang memajang tumpukan kain.
Tubuhnya jatuh bergulingan ke lantai bersamaan dengan jatuhnya puluhan gulung kain sutra yang menimpanya.
"Ndara Ratih!" jerit Menik histeris. Ia meronta lepas dari Ndari dan mengangkat tangannya berniat memukul wajah Sawitri.
Sawitri tak bergeming. Ia hanya menggeser kuda-kudanya, menangkap lengan Menik yang melayang di udara, memutarnya ke belakang punggung gadis itu, lalu membantingnya ke lantai dengan teknik judo dasar.
Brak! Menik mengerang kesakitan, bahunya serasa copot.
Sawitri merapikan letak kebayanya yang sama sekali tidak kusut, lalu melangkah pelan mendekati Ratih yang merintih memegangi siku kirinya yang memar.
"Dengar baik-baik, bocah," desis Sawitri, suaranya sangat pelan namun menusuk tajam ke gendang telinga Ratih.
"Aturan hukum Mataram menghukum mati siapa pun yang berani menyerang putri sah seorang pejabat istana."
Mata Sawitri memicing tajam, aura membunuhnya menguar kental.
"Aku membiarkanmu hidup hari ini hanya karena aku tak sudi mengotori tanganku dengan darah anak selir. Bawa pelayanmu dan enyah dari sini sebelum aku mematahkan lehernya."
Ratih gemetar hebat, tak berani menatap mata Sawitri yang segelap malam tanpa bintang. Ia tertatih bangun, menarik Menik yang masih meringis kesakitan, lalu lari terbirit-birit keluar toko tanpa menoleh lagi.
Sawitri memutar tubuhnya perlahan, menatap Ndari yang masih mengatur napas dengan napas memburu.
"Sudah kau dapatkan kain morinya?" tanya Sawitri datar, seolah insiden barusan tak lebih dari gangguan lalat lewat.
"S-sampun, Ndara Ayu," jawab Ndari terbata, menunjuk tumpukan kain katun di atas meja kasir.
Pelayan toko dan sang saudagar tua yang sejak tadi bersembunyi di balik pilar, buru-buru keluar dengan wajah pucat pasi dan senyum yang dipaksakan.
"Gusti nu agung, Ndara Tabib! Mohon maafkan kelancangan kulo. Kain mori ini rasanya mboten pantas untuk Ndara. Biar kulo siapkan tenun ikat sutra terbaik dari Jepara sebagai gantinya, tanpa biaya sepeser pun!"
Sawitri menatap tumpukan kain mori yang dipilih Ndari, lalu beralih menatap saudagar tua itu dengan sorot mata menilai.
"Masukkan saja sutra merah muda di sudut itu bersama kain mori ini. Ndari menyukai warnanya," ucap Sawitri santai.
Ndari membelalak tak percaya. "Gusti, Ndara Ayu! Sutra niku terlalu mahal untuk kulo!"
"Anggap saja itu bayaran karena kau berhasil menahan batur selir tadi," potong Sawitri sambil membalikkan badan berjalan menuju pintu keluar.
Langit senja Mataram mulai disaput warna ungu gelap saat kereta kuda Sawitri bergerak meninggalkan Pasar Kotagede.
Jalanan mulai sepi, hanya terdengar derak roda kayu yang beradu dengan jalanan berbatu.
Sawitri menyandarkan kepalanya ke dinding kereta, memejamkan mata mencoba mengistirahatkan pikirannya yang selalu bekerja ganda.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Sayup-sayup, dari arah depan, terdengar suara kentongan yang dipukul bertalu-talu dengan ritme cepat dan panik.
"Tolong! Kobongan! Tolong! Wonten tiyang mati!"
Teriakan panik bersahutan, membelah keheningan senja yang mulai meremang.
Sawitri membuka matanya seketika. Insting forensiknya menyala bagai alarm darurat.
"Hentikan kereta!" perintah Sawitri tegas pada kusir.
Kereta kuda mengerem mendadak. Belum roda berhenti berputar sepenuhnya, Sawitri sudah melompat turun, menembus kerumunan warga yang berlarian panik membawa ember air.
Asap hitam tebal membumbung tinggi dari sebuah rumah joglo yang terbakar hebat di ujung jalan.
Di halaman depan joglo yang tak tersentuh api, kerumunan warga membentuk lingkaran rapat.
"Minggir! Beri jalan! Aku tabib!" seru Sawitri lantang, suaranya membelah kepanikan massa dengan otoritas mutlak.
Warga desa, yang sebagian besar mengenali sosok "Ndara Tabib" sakti dari pesanggrahan, segera menyibak memberi jalan.
Di tengah lingkaran itu, terbaring sosok wanita muda berpakaian kebaya putih yang hangus di beberapa bagian.
Wajahnya cemong oleh jelaga, rambutnya berantakan, dan matanya tertutup rapat.
Sawitri langsung berlutut di samping tubuh itu. Dua jarinya dengan cepat menekan arteri karotis di leher wanita itu.
Hening. Tak ada denyut.
Ia menekan dadanya, mencari detak jantung. Nihil.
Tubuh wanita itu kaku dan sangat dingin, sebuah anomali fatal untuk seseorang yang baru saja ditarik keluar dari pusaran api yang memanggang.
"Ndara Tabib, pripun kondisinya? Nopo taksih saged diselamatkan?"
Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan seragam prajurit Mataram lengkap dengan keris di pinggangnya, berjongkok di hadapan Sawitri.
Itu adalah Ki Lurah Wirapati, komandan prajurit keamanan wilayah setempat.
Sawitri menarik tangannya perlahan. Sorot matanya berubah sedingin es, menatap lurus ke arah kobaran api yang melahap joglo di belakang mereka.
"Dia bukan korban kebakaran," ucap Sawitri sangat datar, suaranya terdengar jernih di tengah derak kayu yang terbakar.
"Dia sudah mati setidaknya empat jam yang lalu."
Ki Lurah Wirapati terkesiap, kumis tebalnya bergetar kaget.
"Mati? Empat jam lalu? Ndara Tabib yakin? Rumah ini baru terbakar setengah jam yang lalu!"
"Mayat yang terbakar memiliki ciri fisiologis yang berbeda dengan orang hidup yang terjebak api."
Sawitri menyingkap kerah kebaya wanita itu dengan hati-hati menggunakan ujung jariknya agar tak merusak sidik jari potensial—meski ia sadar konsep sidik jari belum dikenal di era ini.
"Lihat ini." Sawitri menunjuk pada sebuah garis lebam berwarna merah kebiruan yang melingkari leher jenazah.
"Ini adalah bekas jeratan. Dia dicekik dengan tali tambang hingga mati, lalu dilempar ke dalam rumah sebelum api disulut untuk menutupi jejak pembunuhan."
"Tunggu dulu, cah ayu!"
Sebuah suara serak dan arogan menyela dari balik kerumunan prajurit.
Seorang pria tua kerempeng berpakaian hitam lusuh dengan ikat kepala batik kumal melangkah maju. Matanya melirik Sawitri dengan tatapan meremehkan.
"Itu Ki Kerta, juru periksa mayat resmi dari Kadipaten," bisik Ndari ngeri sambil menarik ujung lengan kebaya Sawitri.
"Jangan bicara sembarangan kalau kowe belum pernah membedah kambing sekalipun, Nduk!" dengus Ki Kerta sambil berjongkok di sisi jenazah yang lain.
Ia meraba leher jenazah dengan kasar.
"Luka di leher ini pasti karena kayu penyangga joglo yang runtuh dan menimpa lehernya saat warga menariknya keluar dari api! Ini murni kecelakaan!"
Sawitri menatap juru mayat tua itu tanpa berkedip. Tidak ada kemarahan, hanya tatapan analitis yang menusuk.
"Kayu yang jatuh akan menyebabkan trauma tumpul, Ki," jawab Sawitri tenang, namun auranya sangat mengintimidasi.
"Garis jeratan ini horizontal sempurna dan melingkar penuh. Selain itu..."
Sawitri menunjuk dua warna yang berbeda pada garis jeratan leher jenazah itu.
"Ada dua jejak di sini. Satu berwarna merah kebiruan tua, tanda pencekikan saat dia masih hidup dan jantungnya masih memompa darah ke area memar."
Sawitri memindahkan telunjuknya sedikit ke atas.
"Dan garis kedua yang menimpa garis pertama, berwarna pucat kemerahan. Tanda tali ditarik ulang dengan posisi berbeda saat tubuhnya sudah menjadi mayat."
Ki Kerta membelalakkan matanya, mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar.
Ki Lurah Wirapati mengerutkan kening dalam-dalam, menatap leher jenazah dengan seksama lalu beralih menatap Sawitri dengan pandangan penuh selidik.
"Jika dia memang dicekik, siapa yang melakukannya?" gumam Ki Lurah pelan.
Sawitri bangkit berdiri, membersihkan debu dari lutut kebayanya. Ia menoleh ke arah dua pemuda berwajah pucat pasi yang duduk gemetar di sudut halaman.
"Kalian berdua," panggil Sawitri dingin pada dua pemuda itu.
"Tadi kalian yang berteriak bahwa kalianlah yang menarik mayat ini keluar dari dalam api, benar?"