NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Angin bertiup cukup kencang saat aku membuka pintu besi yang berderit. Arkan sedang duduk di pinggiran tembok pembatas, kakinya menjuntai ke bawah dengan santai. Dia hanya mengenakan kaus putih polos, seragam sekolahnya entah ke mana.

"Lo mau mati konyol?" tanyaku ketus sambil menyodorkan paper bag itu.

Arkan menoleh, matanya berbinar. "Gue tahu lo bakal dateng. Lo itu tipe yang nggak betah punya utang, kan?"

Ia menerima jaketnya, tapi bukannya memakainya, ia justru membentangkannya di atas semen tempat ia duduk. "Duduk sini, Ra. Pemandangannya lebih bagus daripada rumus Kimia."

"Gue mau balik ke kelas," ujarku, namun Arkan menarik ujung rok sekolahku pelan—tindakan kecil yang membuat jantungku melakukan protes keras.

"Lima menit. Kalau lo ngerasa nggak nyaman, lo boleh pergi dan gue nggak akan ganggu lo selama seminggu ke depan. Gimana?"

Aku menghela napas, lalu duduk di sampingnya, menjaga jarak sekitar tiga puluh sentimeter. Kami terdiam cukup lama. Hanya ada suara deru kendaraan dari kejauhan dan embusan angin.

"Lo tahu kenapa gue suka di sini?" Arkan memecah keheningan. "Di sini, dunia kelihatan kecil. Masalah-masalah gue juga kelihatan kecil. Gue nggak harus jadi 'Arkan si Kapten Basket' atau 'Arkan yang selalu ceria'. Di sini, gue cuma manusia yang lagi napas."

Aku melirik profil samping wajahnya. Ada gurat kelelahan yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain. "Gue kira hidup lo sempurna. Kak Pandu bilang lo populer, pintar, dan... ya, lo tahu lah."

Arkan tertawa sinis. "Sempurna itu membosankan, Ra. Ayah gue mau gue masuk Militer, Ibu mau gue jadi Dokter. Nggak ada yang pernah nanya gue mau jadi apa. Sampai gue ketemu lo."

"Gue?"

"Iya, lo. Cewek paling jujur yang pernah gue temuin. Lo nggak berusaha buat kelihatan bahagia di depan orang lain. Kalau lo sedih, lo diem. Kalau lo marah, lo dingin. Lo apa adanya, Nara. Dan itu bikin gue iri."

Aku menunduk, memainkan jemariku. "Itu bukan kejujuran, Arkan. Itu pertahanan diri."

"Dan pertahanan itu mulai retak, kan?" Arkan menggeser duduknya, kini jarak kami hanya terpaut beberapa inci. Ia menatapku dengan intensitas yang membuatku lupa bagaimana cara berkedip. "Nara, jangan takut sama pajak kebahagiaan. Kalau semesta minta bayaran atas tawa lo hari ini, tagih ke gue. Biar gue yang bayar semuanya."

"Gila," gumamku pelan, berusaha mengalihkan pandangan dari matanya yang terlalu teduh. "Lo bener-bener definisi orang nekat ya, Kan?"

Arkan terkekeh, kali ini suaranya tidak bocor seperti saat dia di kamar Kak Pandu, tapi terdengar rendah dan tulus. Ia mengambil sebuah kaleng soda dari sampingnya yang entah sejak kapan ada di sana, membukanya, lalu menyodorkannya padaku.

"Nekat itu perlu, Ra. Kalau semua orang main aman, nggak akan ada cerita yang seru buat dikenang," ujarnya sambil menatap langit yang mulai bersemburat jingga. "Termasuk lo. Lo itu cerita yang paling pengen gue baca sampai habis, walaupun bab pertamanya penuh sama duri."

Aku menerima kaleng soda itu, merasakan sensasi dingin di telapak tanganku. "Gue bukan cerita, Arkan. Gue cuma barisan kalimat yang berantakan."

"Kalau gitu, biar gue yang jadi editornya," jawabnya cepat tanpa ragu.

Suasana kembali hening, tapi kali ini keheningannya tidak mencekam. Ada rasa nyaman yang aneh merayap di dadaku, menggantikan rasa sesak yang biasanya menetap di sana. Tepat saat itu, ponsel Arkan bergetar di atas beton. Ia melirik layarnya sebentar, lalu raut wajahnya berubah—hanya sepersekian detik, tapi aku menangkap ada ketegangan di sana sebelum ia mematikan layarnya.

"Kenapa? Dari bokap lo?" tanyaku, memberanikan diri.

Arkan terdiam sejenak, lalu mengangguk tipis. "Jadwal bimbel tambahan. Beliau nggak mau gue 'buang-buang waktu' buat hal yang nggak berguna." Ia menoleh padaku dengan senyum miring yang sedikit pahit. "Lucu ya, menurut mereka, duduk di sini bareng lo itu buang-buang waktu. Padahal buat gue, ini satu-satunya waktu di mana gue ngerasa bener-bener hidup."

Aku tertegun. Untuk pertama kalinya, aku melihat pantulan diriku di dalam dirinya. Kami sama-sama terpenjara, hanya saja jeruji kami berbeda bentuk. Aku dipenjara oleh masa lalu, dan dia dipenjara oleh ekspektasi masa depan.

"Arkan," panggilku lirih.

"Ya?"

"Pajak kebahagiaannya... jangan dibayar sekarang." Aku menatap lurus ke depan, ke arah gedung-gedung kota yang mulai menyalakan lampu. "Simpan aja dulu. Karena gue rasa, setelah ini, gue bakal butuh lebih banyak tawa buat ngadepin apa pun yang ada di depan."

Arkan terdiam, lalu perlahan, ia mengulurkan jari kelingkingnya di depanku. "Janji? Lo nggak akan lari lagi kalau gue coba bikin lo ketawa?"

Aku menatap jari kelingking itu, lalu perlahan mengaitkan kelingkingku di sana. "Gue nggak janji nggak akan lari, tapi gue janji bakal kasih tahu lo ke mana arah lari gue."

Arkan tersenyum lebar, kali ini matanya ikut tersenyum. "Oke, deal. Itu lebih dari cukup buat gue."

Saat bel tanda pelajaran terakhir akan dimulai berbunyi nyaring, kami bangkit berdiri. Arkan memakai kembali jaket varsity-nya yang kini sudah bersih dan wangi, sementara aku merapikan rokku. Sebelum kami turun, ia sempat berbisik tepat di samping telingaku, membuat bulu kudukku meremang.

"Ra, satu hal lagi. Makasih ya udah mau nyuciin jaket gue. Wanginya jadi wangi lo, dan gue rasa gue nggak bakal mau nyuci jaket ini lagi sampai sebulan depan."

"Arkan! Jorok tahu!" seruku kesal sambil berjalan cepat meninggalkannya, menyembunyikan wajahku yang kini pasti sudah sewarna kepiting rebus.

Di balik punggungku, aku bisa mendengar tawa renyahnya pecah, memantul di antara dinding-dinding sekolah, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menarik diri dari suara itu.

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!