NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Rumah yang Tak Pernah Pulang

Jakarta, pukul 21.00. Lampu-lampu kota berkelip seperti kunang-kunang raksasa di kejauhan.

Kalara duduk di mobilnya, di depan rumah kontrakan, tapi ia belum turun. Mesin mati, AC mati, kaca setengah terbuka membiarkan udara malam masuk. Tangannya masih menggenggam ponsel, layar menampilkan foto yang ia curi sempat—foto ayahnya bersama Rarasati, duduk berdua di bangku taman, tertawa bahagia.

Ayahnya tertawa.

Kalara tidak pernah melihat ayahnya tertawa seperti itu. Dalam ingatannya, ayah adalah sosok pendiam, sering melamun, dan selalu terlihat lelah. Wajahnya muram, seperti menanggung beban yang tidak terlihat. Tapi di foto ini—di foto ini ia hidup. Matanya berbinar, senyumnya lebar, dan ia memegang tangan wanita lain dengan mesra.

Wanita lain.

Ibu orang lain.

"Ayah..." bisiknya, suara pecah. "Siapa sebenarnya Ayah?"

Ponselnya bergetar. Mama.

"Iya, Ma."

"Kara! Kamu di mana? Mama dari tadi nelpon nggak diangkat-angkat!"

"Maaf, Ma. Tadi lagi nyetir. Sekarang udah di depan rumah."

"Syukurlah. Mama khawatir. Udah makan? Mama masakin sop iga, kamu mampir sini, yuk?"

Sop iga. Masakan kesukaan ayahnya dulu.

"Iya, Ma. Bentar lagi Kara ke sana."

"Ya udah, hati-hati. Mama tunggu."

Sambungan terputus. Kalara menatap ponselnya, lalu kembali ke foto di galeri. Foto yang ia ambil diam-diam dari map tadi. Arsya tidak tahu, dan Kalara merasa sedikit bersalah. Tapi ia butuh bukti ini. Butuh melihatnya lagi, meyakinkan diri bahwa ini nyata, bukan mimpi buruk.

Ia menstarter mobil. Tujuan: rumah Mama di kawasan Jakarta Timur. Rumah yang sama tempat ia dibesarkan, tempat ayahnya pergi, tempat Mama bertahan sendirian selama dua puluh tiga tahun.

Malam ini, ia akan bertanya. Apa pun risikonya.

Rumah Mama kecil, hanya tipe 36 di kompleks perumahan sederhana. Tapi selalu hangat, selalu wangi masakan. Lampu teras menyala saat Kalara tiba, dan pintu sudah terbuka setengah sebelum ia sempat mengetuk.

"Kara!" Mama membuka pintu lebar-lebar, tersenyum lebar. Rambutnya yang mulai memutih disanggul sederhana, daster rumah motif bunga-bunga. "Ayo masuk, ayo masuk. Udara di luar dingin."

Kalara memeluknya lama, lebih lama dari biasanya. Mama terkejut, tapi membalas pelukan itu dengan hangat.

"Kamu kenapa, Nak?" tanyanya lembut. "Ada masalah?"

"Enggak, Ma. Kangen aja."

"Alah, kangen. Padahal seminggu lalu ke sini." Mama tertawa, melepas pelukan. "Sini, Mama hidangin sop iganya. Masih anget."

Meja makan sudah ditata: dua piring, dua sendok, semangkuk sop iga besar yang mengepulkan asap. Kalara duduk, menatap masakan itu. Dulu, setiap kali Mama masak sop iga, ayahnya selalu memuji. Katanya, sop iga Mama adalah yang terenak di dunia.

"Kok melamun?" Mama menuang sop ke piring Kalara. "Makan, Nak. Kamu kurusan."

Kalara mengambil sendok, tapi belum makan. Ia menatap Mama yang sibuk menyendok nasi.

"Ma."

"Hm?"

"Aku mau tanya sesuatu."

Mama berhenti. Ia meletakkan sendok, menatap Kalara. Matanya—tiba-tiba waspada.

"Tanya apa?"

Kalara menarik napas dalam. "Tentang Ayah."

Keheningan mengisi ruang makan. Di luar, terdengar suara tetangga memanggil anaknya yang belum pulang. Di dalam, hanya suara detik jam dinding yang berdetak pelan.

"Kenapa tiba-tiba nanya Ayah?" suara Mama pelan, berusaha tenang.

"Aku nemu sesuatu, Ma. Foto-foto lama."

"Foto apa?"

Kalara tidak langsung menjawab. Ia membuka ponsel, menunjukkan foto ayahnya bersama Rarasati. Layar ponsel menerangi wajah Mama yang tiba-tiba pucat.

Mama menarik napas tersendat. Tangannya gemetar meraih ponsel itu, menatap foto dengan mata yang berkaca-kaca.

"Dari mana kamu dapat ini?" bisiknya.

"Ini cerita panjang, Ma. Tapi yang jelas, foto ini diambil tahun 1999. Sehari sebelum Ayah pergi."

"Kara..."

"Ayah kenal perempuan ini, 'kan, Ma? Siapa dia?"

Mama menutup mulut dengan tangan, menahan sesuatu. Air matanya jatuh. Kalara belum pernah melihat Mama menangis seperti ini—bukan menangis histeris, tapi tangis diam yang lebih menyayat.

"Dia..." Mama berhenti, mencoba menguasai diri. "Dia Rarasati. Mantan... mantan pacar Ayah."

Kalara merasakan dadanya sesak. "Maksudnya?"

Mama mengambil napas panjang. Ia meletakkan ponsel, lalu duduk bersandar di kursi, menatap langit-langit seolah mencari kata-kata di antara retakan plafon.

"Ayahmu... sebelum menikah dengan Mama, dia punya kekasih. Namanya Rarasati. Mereka pacaran lama, hampir lima tahun. Tapi keluarga ayahmu tidak setuju. Rarasati dari keluarga biasa, tidak punya status. Sedangkan keluarga ayahmu... mereka orang berada. Mereka ingin ayahmu menikah dengan orang yang 'setara'."

Kalara mendengarkan, jantungnya berdebar.

"Ayahmu menurut. Ia putus dengan Rarasati, lalu dijodohkan dengan Mama. Mama dari keluarga berada, meskipun tidak sekaya mereka. Kami menikah, punya kamu. Hidup berjalan biasa." Mama tersenyum getir. "Tapi Mama tahu, ayahmu tidak pernah benar-benar bahagia. Matanya selalu kosong. Ia sering melamun, sering pergi tanpa alasan jelas."

"Ke mana?"

"Tidak tahu. Mama tidak pernah nanya. Takut dengan jawabannya." Mama menatap Kalara. "Tapi sekarang, dengan foto ini, Mama tahu. Ia pergi ke rumah itu. Rumah tempat Rarasati bekerja."

"Ma, kamu tahu Rarasati kerja di mana?"

Mama mengangguk pelan. "Di rumah keluarga kaya di Menteng. Sebagai pembantu. Ayahmu sering ke sana, katanya urusan bisnis. Tapi Mama tahu, itu alasan."

Kalara menelan ludah. "Lalu... pada 15 November 1999, apa yang terjadi?"

Mama diam lama. Tangannya meremas ujung daster.

"Hari itu..." suaranya bergetar. "Hari itu ayahmu pamit pergi. Katanya mau ketemu klien. Tapi malamnya, ia tidak pulang. Tidak juga besoknya. Seminggu kemudian, Mama terima surat dari pengacara. Surat cerai. Tanpa penjelasan. Tanpa kabar."

"Dia pergi begitu saja?"

"Meninggalkan kita." Air mata Mama jatuh lagi. "Meninggalkan kamu yang baru empat tahun. Meninggalkan Mama yang... yang selalu berusaha jadi istri baik, meskipun tahu suaminya mencintai orang lain."

Kalara merasakan dadanya hancur. Selama ini ia mengira ayahnya pergi karena alasan lain—mungkin bosan, mungkin ada wanita lain, tapi tidak pernah membayangkan cerita serumit ini.

"Ma... kamu tahu Rarasati juga pergi di hari yang sama?"

Mama terkejut. "Apa?"

"Iya. Rarasati juga menghilang 15 November 1999. Meninggalkan anak laki-lakinya. Anak itu—" Kalara berhenti, memikirkan Arsya "—anak itu sekarang sudah dewasa. Dia arsitek. Dia yang garap proyek renovasi rumah itu."

Mama menatapnya tidak percaya. "Kamu kenal anaknya?"

"Iya. Namanya Arsya. Kami... kerja sama di proyek itu."

Mama terdiam. Wajahnya berubah—dari sedih, menjadi takut.

"Kara, kamu harus hati-hati."

"Soal apa?"

"Jika anak itu tahu bahwa ibunya pergi dengan ayahmu... ia mungkin marah. Mungkin menyalahkan ayahmu. Mungkin juga menyalahkan kamu."

Kalara menggeleng. "Dia tidak seperti itu, Ma. Dia juga ingin tahu kebenaran. Kami... kami mencari bersama."

Mama memegang tangan Kalara erat-erat. "Nak, dengarkan Mama. Beberapa kebenaran lebih baik tidak diketahui. Mungkin ayahmu dan perempuan itu punya alasan sendiri. Mungkin mereka ingin hidup bersama. Tapi mereka memilih pergi, meninggalkan kita. Itu sudah cukup menyakitkan. Jangan kau gali luka lama."

"Tapi, Ma, aku ingin tahu kenapa. Aku ingin tahu apakah ayahku benar-benar tidak mencintaiku. Selama ini aku hidup dengan pertanyaan itu."

Mama menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk.

"Baik. Jika itu yang kamu mau. Tapi janji sama Mama, hati-hati. Dan jangan biarkan pencarian ini menghancurkanmu."

"Iya, Ma. Janji."

Malam itu, Kalara pulang dengan kepala penuh. Ia membawa cerita baru, luka baru, tapi juga secercah harapan. Mungkin ia akhirnya bisa mengerti. Mungkin luka lama itu bisa mulai sembuh.

Di sisi lain Jakarta, Arsya duduk di ruang tamu rumah ayahnya.

Rumah itu besar, dingin, dan sunyi. Sejak ibunya pergi, ayahnya jarang bicara. Mereka tinggal bersama seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi alamat. Tidak ada obrolan hangat, tidak ada tawa. Hanya keheningan yang tebal dan makan malam yang disiapkan asisten rumah tangga.

Ayahnya, Wiraguna senior, duduk di kursi favoritnya—kursi malas kulit cokelat yang sudah menemani selama tiga puluh tahun. Ia membaca koran, meskipun matanya sudah tidak fokus. Usianya 67 tahun, rambut putih di pelipis, tubuh mulai ringkih.

"Pa."

Ayahnya menurunkan koran. "Kamu pulang?"

"Iya. Ada yang mau Pa omongin."

"Omongin apa? Proyek barumu?"

"Bukan." Arsya duduk di kursi seberang. "Tentang Ibu."

Koran itu jatuh. Mata ayahnya membelalak—bukan marah, tapi kaget. Selama ini, Ibu adalah topik terlarang di rumah ini.

"Kenapa tiba-tiba bahas Ibu?"

Arsya mengeluarkan foto ibunya—foto yang ditemukan di rumah Menteng—dan meletakkannya di meja.

Ayahnya menatap foto itu lama. Tangannya gemetar saat meraihnya.

"Di mana kamu dapat ini?"

"Di rumah tua Menteng. Rumah tempat Ibu bekerja dulu, sebelum menikah dengan Pa."

Ayahnya diam. Tapi dari raut wajahnya, Arsya tahu: ayahnya tahu.

"Pa tahu, 'kan? Pa tahu Ibu pernah jadi pembantu. Pa tahu Ibu punya masa lalu sebelum menikah."

Napas ayahnya berat. Ia meletakkan foto itu, menutup wajah dengan tangan.

"Maaf," bisiknya. "Maaf."

"Maaf untuk apa, Pa?"

"Ayah... Ayah tidak pernah bilang padamu. Tidak pernah cerita."

"Cerita apa?"

Ayahnya menghela napas panjang, lalu mulai bicara dengan suara serak.

"Ibumu... namanya Rarasati. Ia pembantu di rumah keluarga kaya di Menteng. Ayah bertemu dengannya di sebuah acara—Ayah diundang makan malam di rumah itu. Ia menyajikan minuman, dan Ayah... Ayah jatuh cinta pada pandangan pertama."

Arsya mendengarkan dengan seksama.

"Kami pacaran diam-diam. Keluarga Ayah tidak akan setuju, jadi kami rahasiakan. Setelah beberapa bulan, Ibumu hamil. Hamil kamu."

Arsya merasakan jantungnya berdegup kencang.

"Ayah memutuskan menikahinya, meskipu n keluarga besar marah. Kami hidup sederhana. Ayah kerja, Ibu jaga kamu. Tapi..." Ayahnya berhenti.

"Tapi apa, Pa?"

"Tapi Ibumu tidak pernah benar-benar bahagia. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ayah tidak tahu apa. Ia sering murung, sering menangis sendiri. Dan ia sering... sering pergi."

"Ke mana?"

"Ke rumah itu. Rumah Menteng. Katanya, ada kenangan di sana. Ada seseorang yang ingin ia temui."

Arsya menahan napas. Seseorang. Asmara.

"Lalu?"

"Lalu suatu hari, tanggal 15 November 1999, ia pamit pergi. Katanya mau ke stasiun, menjemput seseorang. Ayah pikir itu keluarganya, jadi Ayah izinkan. Tapi ia tidak pernah pulang." Air mata ayahnya jatuh. "Ayah mencari ke mana-mana. Lapor polisi. Pasang iklan. Tapi tidak ada. Ia seperti lenyap ditelan bumi."

Arsya diam. Ini cerita yang sama dari sisi yang berbeda. Ibunya pergi, tapi tidak bersama ayahnya. Ibunya pergi untuk—mungkin—bertemu Asmara.

"Pa, Ibu... waktu itu, apakah Ibu punya hubungan dengan laki-laki lain?"

Ayahnya terkesiap. "Apa?"

"Jawab, Pa."

Diam. Lalu ayahnya mengangguk pelan, sangat pelan.

"Ayah tahu. Tapi Ayah tidak pernah bisa membuktikan. Hanya... firasat. Ia sering terlihat bahagia saat menerima surat. Surat tanpa nama pengirim."

Arsya menutup mata. Jadi ini benar. Ibunya dan Asmara—ayah Kalara—memiliki hubungan. Dan mereka pergi bersama di hari yang sama.

Tapi ke mana?

Dan mengapa tidak pernah kembali?

"Pa, apa Pa tahu tentang laki-laki itu? Namanya?"

Ayahnya menggeleng. "Tidak. Ayah tidak mau tahu."

Arsya berdiri. "Terima kasih, Pa. Ini sudah cukup."

"Arsya, tunggu." Ayahnya meraih tangannya. "Apa yang akan kamu lakukan?"

"Mencari kebenaran."

"Terkadang kebenaran lebih menyakitkan daripada kebohongan."

Arsya menatap ayahnya lama. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan di mata pria yang selama ini ia kira tidak punya perasaan.

"Mungkin, Pa. Tapi aku harus tahu. Untuk Ibu. Untuk diriku sendiri."

Ia pergi meninggalkan ayahnya yang duduk terpaku, memandangi foto ibu yang tersenyum sedih.

Pukul 23.00, ponsel Arsya bergetar. Pesan dari Kalara.

"Aku bicara dengan mamaku. Ada cerita baru. Besok ketemu?"

Arsya membalas: "Besok jam 10 di rumah itu. Aku juga dapat info dari ayahku."

"Setuju. Sampai besok."

"Sampai besok."

Ia menatap layar ponsel, foto profil Kalara—wajah ceria, rambut tergerai, senyum lebar. Sangat berbeda dengan wanita yang hari ini ia temui di ruang bawah tanah, dengan mata berkaca-kaca memegang foto ayahnya.

Mereka sama-sama terluka. Sama-sama mencari.

Dan entah mengapa, Arsya merasa sedikit... tidak sendiri.

Malam semakin larut. Di kamar kontrakannya, Kalara tidak bisa tidur. Ia duduk di lantai, dikelilingi buku catatan dan foto-foto dari ponselnya. Ia mencoba menyusun kronologi:

1998: Rarasati mulai bekerja di rumah Menteng.

1998-1999: Asmara sering berkunjung. Hubungan dengan Rarasati.

15 November 1999: Rarasati dan Asmara sama-sama menghilang.

Setelah itu: Tidak ada kabar. Tidak ada jejak.

Ke mana mereka pergi? Apa yang terjadi?

Kalara membuka laptop, mencari berita-berita lama tentang kecelakaan atau kejadian di tanggal itu. Hasilnya nihil. Tidak ada laporan tentang pasangan yang tewas atau hilang.

Mungkin mereka sengaja menghilang. Mungkin mereka memulai hidup baru di tempat lain.

Tapi kenapa tidak pernah menghubungi keluarga? Kenapa tega meninggalkan anak-anak?

Pertanyaan itu terus berputar, tidak ada jawaban.

Ia memejamkan mata, dan tiba-tiba teringat sesuatu. Di dalam kotak kayu itu, selain gambar anak-anak, ada juga—ia hampir lupa—selembar kertas kecil, nyaris terselip di celah dasar kotak. Waktu itu ia terlalu fokus pada gambar, sehingga tidak memperhatikan.

Ia meraih kotak itu—sebenarnya ia belum mengembalikannya pada Arsya, karena Arsya bilang "kembali pada pemiliknya yang sah" dan Kalara masih memegangnya. Ia membuka tutup, mencari-cari di dasar.

Dan menemukannya.

Selembar kertas, dilipat sangat kecil, hampir seperti perangko. Ia membukanya hati-hati. Tulisannya kecil, dengan tinta biru yang mulai pudar.

"Untuk anakku, Arsya. Maafkan Ibu. Ibu harus pergi. Ibu mencintaimu, lebih dari apa pun. Tapi Ibu juga mencintai seseorang. Ibu tidak bisa memilih. Mungkin ini salah, mungkin ini dosa. Tapi Ibu harap, suatu hari kau mengerti. Jaga dirimu baik-baik. Ibu akan selalu menyayangimu."

Tidak ada tanggal. Tidak ada tanda tangan. Tapi ini pasti tulisan Rarasati.

Kalara membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh. Bukan untuk dirinya, tapi untuk Arsya. Untuk anak laki-laki yang ditinggal ibunya dengan surat yang disembunyikan di dalam kotak, mungkin tidak pernah ditemukan.

Dan kini, dua puluh tiga tahun kemudian, surat itu akhirnya terungkap.

Ia harus memberikannya pada Arsya. Besok.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!