Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 2.
Perjamuan malam itu digelar.
Simon berdiri di tengah aula hotel dengan jas hitam mahal dan senyum profesional. Di sampingnya, bukan Arunika. Melainkan seorang wanita muda bergaun merah anggur, anggun dan percaya diri.
“Ini dokter Riana,” ujar Simon ringan kepada para tamu.
Riana tersenyum manis, tangannya menyentuh lengan Simon seolah refleks, namun terlalu lama untuk disebut kebetulan.
Beberapa tamu saling pandang.
“Bukankah Anda sudah menikah, Tuan Simon?” tanya seseorang.
Simon tertawa kecil. “Istri saya kurang nyaman dengan acara formal seperti ini.”
Riana menimpali lembut, “Istri Pak Simon lebih suka di rumah.”
Kalimat itu terdengar polos, tapi maksudnya sangat jelas.
Sementara di rumah besar itu, Arunika sedang menutup laptopnya. Ia baru saja menyelesaikan revisi jurnal medis yang akan dikirim ke konferensi internasional—tentu saja dengan nama pena dan alamat korespondensi pribadi.
Ponselnya bergetar.
Pesan anonim masuk.
Suamimu tampak sangat serasi dengan seorang wanita malam ini.
Ada foto terlampir. Simon dan Riana berdiri terlalu dekat, senyum mereka terlalu intim untuk sekadar hubungan profesional.
Arunika menatap foto itu beberapa detik, ia hanya mematikan layar. Beberapa hal memang sudah lama ia pahami tanpa perlu bukti.
Dua hari kemudian, makan malam keluarga diadakan. Nyonya Mirna duduk tegak seperti biasa, sementara Simon terlambat datang.
Dan ketika Simon akhirnya datang, ternyata Riana ikut masuk. “Mama minta laporan proyek, jadi aku ajak Riana sekalian. Dia adalah dokter yang akan terlibat dalam proyek ini. Riana sangat berbakat dan memiliki kemampuan yang tidak perlu diragukan lagi.“
Nyonya Mirna tersenyum pada Riana, lebih hangat daripada pada menantunya sendiri. “Silakan duduk, dokter.”
“Panggil saja saya Riana, Tante."
Arunika tetap diam di kursinya, Riana menoleh kepadanya. “Oh, Mbak Arunika ya? Saya sering dengar nama Mbak.”
“Dari mana?” tanya Arunika tenang.
“Dari Mas Simon, katanya Mbak tidak suka dunia kerja yang sibuk.”
Mas, bahkan wanita itu berani memanggil Simon dengan sapaan yang begitu akrab.
Simon tidak membantah.
Arunika hanya menatap suaminya, dan tersenyum tipis.
“Benar begitu, Mas?” tanyanya lembut.
Simon menyandarkan tubuhnya. “Kamu memang tidak bekerja, kan?”
Nyonya Mirna ikut menambahkan, “Perempuan yang terlalu berpendidikan sering sulit diatur, untung kamu tidak seperti itu.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian, padahal penghinaan.
Arunika tersenyum tipis. “Benar, saya tidak berpendidikan. Jadi... tidak sulit diatur.”
Simon tidak menyadari nada kalimat itu berubah, karena yang sebenarnya terjadi adalah... Arunika tidak lagi berusaha mengatur dirinya demi siapa pun.
Satu minggu kemudian, Simon mendapat kabar buruk. Tender proyek rumah sakit swasta terbesar di kota itu gagal ia menangkan, kontrak miliaran rupiah jatuh ke perusahaan pesaing.
Simon membanting map di meja.
“Siapa direktur medis mereka?” tanyanya kesal.
“Seorang investor baru, namanya Angkasa Wiratama,” jawab asistennya.
Nama itu asing.
Namun dalam dunia medis, nama itu mulai sering disebut. Angkasa dikenal sebagai pengusaha muda yang mengakuisisi beberapa fasilitas kesehatan dan mendatangkan dokter-dokter terbaik secara diam-diam.
Malam itu, Arunika menerima surel resmi.
📂📧 Kami berharap Anda bersedia menjadi kepala tim bedah untuk proyek pusat jantung terpadu kami. Identitas Anda akan tetap kami lindungi sesuai permintaan sebelumnya.
Ia membaca nama pengirimnya—Angkasa Wiratama. Ia belum pernah bertemu pria itu, namun mereka sudah berkorespondensi selama setahun. Semuanya profesional, tanpa pernah membahas kehidupan pribadi.
Arunika membalas singkat.
Saya bersedia, dengan satu syarat... kerahasiaan identitas saya tetap menjadi prioritas.
Balasan datang cepat.
📂📧Tentu, kami menghargai pilihan Anda.
Arunika lalu menutup laptop.
Sementara di ruang kerja lain rumah itu, Simon sedang merencanakan strategi untuk menjatuhkan pesaingnya—tanpa tahu bahwa istri yang ia remehkan adalah bagian dari fondasi proyek tersebut.
Esoknya... saat makan malam.
Konflik memuncak saat media bisnis memuat artikel.
“Proyek Pusat Jantung Terpadu Akan Dipimpin Dokter Jenius yang Identitasnya Dirahasiakan.”
Simon membaca berita itu sambil mencibir.
“Dokter jenius? Hanya gimmick pemasaran.”
Arunika duduk di seberangnya, menyeruput teh. “Kata ‘jenius’ tidak digunakan sembarangan,” ucapnya ringan.
Simon menatapnya. “Kamu mengerti dunia medis sekarang?”
“Aku suka membaca.”
Riana yang juga kembali datang, duduk di samping Simon tersenyum tipis. “Kalau saya jadi istri pengusaha besar, saya mungkin akan bantu mencari relasi medis... bukan hanya membaca.”
Simon tertawa kecil. “Kamu memang ambisius, Riana.”
Keduanya pun larut dalam percakapan hangat, seolah dunia hanya milik mereka berdua tanpa sedikit pun memberi ruang bagi Arunika.
Namun Arunika tidak perduli, ia kemudian beranjak dari duduknya. “Permisi, saya ke atas dulu.”
Langkahnya tetap tenang. Namun di dalam dirinya, keputusan lama semakin matang. Dokumen perceraian sudah direvisi, rekening pribadi sudah dipisahkan. Apartemen kecil sudah ia beli atas nama sendiri, semua sudah direncanakan rapi olehnya.
Bukan semata karena Riana—wanita yang kini semakin terang-terangan mendekati suaminya. Melainkan karena ia tak ingin terus hidup sebagai bayangan di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berdiri sejajar, bukan tersisih dalam diam.
Malam berikutnya, Simon mendapat undangan eksklusif. Pertemuan tertutup dengan pemilik proyek pusat jantung terpadu. Tempatnya, ruang VIP Rumah Sakit Cakrawala.
Simon tersenyum puas. “Kesempatan membalikkan keadaan.”
Ia tak tahu, bahwa di gedung yang sama di lantai berbeda, istrinya sedang memimpin simulasi operasi untuk proyek tersebut. Dan mereka akan berada di satu gedung… tanpa menyadari betapa dekat rahasia itu dengan kehancuran.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️