"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Selama Seana dan Sanzio tidak tinggal serumah, mereka pasti akan memiliki lebih sedikit masalah.
Seana mengangguk mengerti. Merasa bahwa Velia ada benarnya.
Sanzio menatapnya dengan cara yang sama seperti dia menatap wanita yang mencoba merayunya, dengan tatapan mengancam dan seakan ingin membunuh!.
"Emangnya nanti aku bakalan ngga dipecat?." Tanya Seana, menatap Velia dengan cemas.
Velia menggelengkan kepalanya. "Ya ngga lah. Pak Zio masih butuh lo sebagai istri palsunya! Gue yakin sih dia ngga mungkin mecat lo."
Alasan mengapa Sanzio mengajak Seana menikah adalah untuk menggagalkan rencana ibu tirinya. Jadi Velia yakin, Sanzio masih membutuhkan Seana untuk menyelesaikan masalahnya itu.
Dan itulah mengapa, jika memecat Seana sekarang akan menjadi langkah yang buruk.
Sanzio mungkin masih akan tetap mempertahankan Seana, tetapi Velia tidak akan membiarkan Seana terlalu dekat dengan Sanzio.
Bencana ini ternyata menjadi berkah tersembunyi bagi Seana.
"Tapi, mulai sekarang lo harus lebih berhati-hati lagi. Pak Zio mungkin jauhin lo setelah kejadian tadi, karena lo udah ninggalin kesan yang buruk ke dia." Kata Velia.
Seana mengangguk dengan penuh semangat. "Oke, aku akan lebih berhati-hati setelah ini."
Meskipun Seana sudah mengerti dan mengangguk dengan tulus, Velia tetap saja sedikit merasa khawatir. Lagi pula, Seana memang ceroboh pada dasarnya.
Mustahil mengharapkan Seana mengubah sikapnya yang ceroboh semudah itu.
....
Seana merasa gugup saat kembali bekerja. Itu semua karena insiden di ruang istirahat Sanzio tadi.
Melani dan Ardila hampir selalu mencari perhatian ketika berada didekat Sanzio. Tentu saja, mereka tidak memiliki niat yang buruk, tetapi mereka hanya ingin di pilih menjadi asisten eksekutifnya.
Sanzio melewati meja kerja Seana begitu saja, ketika pria itu berjalan keluar dari ruang rapat. Sementara Seana menundukkan kepalanya, hingga ia berharap bisa bersembunyi di bawah meja.
Tanpa diduga, jari-jari Sanzio mengetuk meja kayu Seana dengan keras dan terlihat jelas.
Di belakang Sanzio, Ardila dan Melani terdiam kaku.
Dada Seana terasa sesak, dan dengan gemetar dia mendongak. "I-iya, Pak. Bapak perlu sesuatu?."
"Ikut saya ke kantor sekarang." Perintah Sanzio dengan nada yang mengancam.
Seana semakin di buat gugup hanya dengan mendengar suara Sanzio. Meskipun demikian, Seana tetap berdiri dan mengikuti Sanzio masuk ke dalam kantornya.
Melani dan Ardila telah merasakan ketegangan sejak siang, karena mereka tahu bahwa Seana telah membuat Sanzio marah.
Pria itu pasti sekarang akan memecat Seana, kan?
Kedua wanita itu mulai membuat rencana sendiri di dalam pikiran mereka masing-masing. Ada berita tentang lowongan posisi asisten eksekutif. Mereka sepakat menduga bahwa hambatan terbesar mereka adalah Seana. Bagaimana pun, Seana yang awalnya karyawan biasa, tiba-tiba ditunjuk langsung oleh Sanzio.
Tetapi sekarang, Melani dan Ardila tidak perlu merasa khawatir, karena mereka yakin bahwa Seana akan segera di usir dari perusahaan ini.
Ardila menoleh kearah Melani. "Lo liat? Kita seharusnya ngga rebutan apa yang bukan milik kita!."
"Gue tau, kita seharusnya ngga ngelakuin itu." Jawab Melani dengan nada yang meremehkan.
Terlepas dari perebutan kekuasaan yang halus itu, Yunita tidak mau ikut campur dengan urusan Melani dan Ardila.
Yang mereka perebutkan hanyalah posisi menjadi asisten eksekutif. Padahal menjadi karyawan biasa, tidaklah membosankan.
Seana mengusap dadanya dengan cemas ketika berjalan dibelakang Sanzio, menuju kantornya.
Setelah masuk, Sanzio duduk di kursinya, lalu menyalakan sebatang rokok. "Ganti pakaian kamu."
Ketika Seana menatapnya dengan raut wajah bingung. Sanzio kembali buka suara. "Baju baru kamu ada diatas kursi sofa itu."
Sebagai jawaban, Seana menoleh kearah kursi sofa yang dimaksud. Dia melihat sebuah kotak yang di bungkus dengan indah. Seana tidak mengerti apa maksud Sanzio dan kembali menatap pria itu. "Pak, tapi kenapa saya harus ganti baju?."
"Kamu lupa? Kita harus pergi bertemu dengan keluarga saya dalam satu jam. Apa kamu berencana datang dengan pakaian formal kamu?."
Dilihat dari nada dingin Sanzio, Seana yakin dia masih marah soal insiden di ruang istirahat tadi.
Seana melamun sedih, dia tidak bermaksud macam-macam pada Sanzio tadi.
Di bawah tatapan Sanzio, Seana kemudian mengambil kotak itu dan berjalan masuk ke ruang istirahat.
Tak lama kemudian, seorang wanita muda terlihat keluar dari ruangan dengan balutan busana Chanel berwarna krem, sosoknya yang tampak lebih tinggi dan ramping. Busana itu menambahkan sentuhan kecantikan elegan pada penampilannya yang awet muda.
Seana jarang membeli pakaian seperti ini, mungkin karena takut mudah kotor, mengingat bahwa dia dibesarkan di kampung.
Ini adalah pertama kalinya, Seana mencoba pakaian dengan skema warna ini. Dan Seana menyukainya.
"Saya udah selesai, Pak." Katanya, berdiri didepan pintu.