NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Ketika Mimpi Datang Bersama Jarak

Alya tidak langsung membalas pesan Arka.

Ia duduk di kursi ruang istirahat kantor, menatap jendela tinggi yang memperlihatkan gedung-gedung Jakarta berdiri angkuh. Kota ini pernah menjadi simbol keberaniannya.

Sekarang, kota ini seperti sedang menantangnya lagi.

Singapura.

Satu tahun.

Bukan proyek kecil. Bukan kunjungan singkat.

Ini langkah besar.

Tangannya akhirnya bergerak.

Lagi di kantor. Kamu gimana proyeknya?

Balasan datang cepat.

Lumayan kacau tapi bisa di-handle. Nanti malam video call?

Alya menatap layar itu cukup lama sebelum mengetik:

Iya.

Ia tidak ingin membahas hal sebesar ini lewat chat.

Malamnya, wajah Arka muncul di layar ponsel. Latar belakangnya adalah kantor kecil mereka di kota itu. Rambutnya sedikit berantakan. Kaosnya digulung sampai siku.

“Kamu capek,” kata Alya tanpa sadar.

“Kamu juga,” balas Arka.

Beberapa detik mereka hanya saling melihat.

“Ada apa?” tanya Arka akhirnya. “Mukamu beda.”

Alya menarik napas pelan.

“Aku ditawarin promosi.”

Wajah Arka langsung berubah bangga. “Serius? Lya itu keren banget!”

“Tapi…”

Arka terdiam. Kata itu selalu membawa konsekuensi.

“Tapi aku harus ditempatkan di Singapura. Satu tahun.”

Sunyi.

Bukan sunyi marah.

Bukan juga sunyi kecewa.

Tapi sunyi seseorang yang sedang mencerna realita.

“Satu tahun?” ulang Arka pelan.

Alya mengangguk.

“Keputusan minggu ini.”

Beberapa detik Arka hanya menatap layar, seolah jarak di antara mereka tiba-tiba terasa nyata.

“Itu kesempatan besar,” katanya akhirnya.

“Iya.”

“Kamu mau?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi berat.

Alya menunduk. “Aku nggak tahu.”

Arka tersenyum tipis. “Kalau lima tahun lalu, kamu pasti langsung bilang iya.”

Alya tertawa kecil, hambar. “Iya.”

“Sekarang kenapa ragu?”

Karena ada kamu.

Kalimat itu hampir keluar. Tapi Alya memilih jujur dengan cara lain.

“Karena sekarang aku nggak cuma mikirin diri sendiri.”

Hening lagi.

Arka menghela napas pelan.

“Alya, dengar aku baik-baik.”

Ia mendekatkan wajahnya ke kamera, suaranya lebih lembut.

“Aku nggak mau kamu nolak mimpi kamu cuma karena takut jarak.”

“Aku juga nggak mau kamu ngerasa ditinggal lagi.”

“Aku nggak merasa ditinggal kalau itu pilihan yang bikin kamu berkembang.”

Alya menatapnya.

“Kamu yakin?” tanyanya pelan.

“Aku nggak akan bohong. Pasti berat. Tapi aku lebih takut kamu nyesel lima tahun lagi karena nggak ambil kesempatan ini.”

Kalimat itu menghantam lembut.

Lima tahun lalu, ia pergi tanpa menoleh.

Sekarang, ia menoleh… dan orang yang ia lihat justru mendorongnya maju.

“Aku takut kita nggak kuat,” bisik Alya.

Arka tersenyum tipis.

“Kita udah kuat lewat lima tahun tanpa komunikasi. Masa satu tahun dengan video call nggak bisa?”

Alya tertawa kecil, matanya mulai panas.

“Kamu ini optimis banget.”

“Enggak. Aku realistis. Kalau kita cuma kuat saat jarak dekat, berarti dari awal fondasinya rapuh.”

Hening.

Lalu Arka berkata pelan,

“Aku cinta kamu. Bukan cuma versi yang tinggal satu kota sama aku.”

Kata itu.

Cinta.

Bukan lagi samar. Bukan lagi disembunyikan di antara kalimat.

Alya terdiam.

“Ka…”

“Iya?”

“Aku juga.”

Sederhana.

Tapi cukup membuat keduanya tersenyum dalam diam.

Beberapa hari berikutnya, Alya berjalan seperti dalam kabut.

Ia bertemu ibunya lewat panggilan video, membahas kemungkinan itu. Ibunya hanya berkata,

“Kalau itu bikin kamu maju, ambil. Ibu nggak mau jadi alasan kamu berhenti.”

Lalu malam sebelum batas waktu keputusan, Arka kembali ke Jakarta.

Ia datang tanpa banyak kata, hanya berdiri di depan apartemen Alya dengan tas kecil.

“Kamu harusnya di kota,” kata Alya kaget.

“Aku harusnya di sini.”

Mereka duduk di balkon seperti biasa.

Lampu kota bersinar seperti bintang yang jatuh ke bumi.

“Kalau kamu pergi,” kata Arka pelan, “aku akan datang ke Singapura.”

Alya menoleh cepat. “Apa?”

“Proyek kita juga mulai dapat klien luar. Aku bisa atur meeting di sana sesekali.”

“Kamu nggak capek?”

“Aku capek kalau kehilangan kamu lagi. Kalau cuma naik pesawat, enggak.”

Alya tertawa kecil, air matanya jatuh tanpa izin.

“Kenapa kamu nggak pernah bikin semuanya terasa mustahil?” tanyanya.

“Karena aku nggak lagi lihat kamu sebagai sesuatu yang harus kutahan.”

Arka menggenggam tangannya.

“Kita bukan dua orang yang saling mengikat. Kita dua orang yang saling memilih. Berkali-kali.”

Hening.

Angin malam mengusap wajah mereka.

Alya menatap kota di bawah.

Ia pernah memilih kota ini daripada cinta.

Sekarang, ia tidak ingin memilih salah satu.

“Kalau aku ambil,” katanya pelan, “kita jalanin. Tanpa drama. Tanpa saling nyalahin. Kalau capek, bilang. Kalau rindu, bilang.”

Arka mengangguk.

“Deal.”

“Dan kalau suatu hari ternyata kita nggak kuat…”

Arka tersenyum tipis.

“Berarti kita evaluasi. Bukan kabur.”

Alya menghela napas panjang.

Lalu ia menoleh, menatap Arka dengan tatapan yang lebih mantap dari sebelumnya.

“Aku ambil.”

Tidak ada ledakan.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya satu pelukan panjang di balkon kecil apartemen.

Pelukan yang bukan menahan.

Tapi mendukung.

Namun jauh di dalam hati Alya, satu kegelisahan kecil tetap ada—

Ketika ia benar-benar berdiri di negara lain nanti,

Dengan jadwal baru, lingkungan baru, tekanan baru—

Akankah cinta yang kini terasa begitu dewasa tetap sama hangatnya?

Atau jarak akan perlahan mengubah prioritas tanpa mereka sadari?

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!