Charlotte, gadis yatim piatu ini tiba-tiba ditemukan oleh keluarganya dan dibawa pulang ke kerajaan Matahari, tempat kelahirannya. Alih-alih bahagia setelah ditemukan oleh keluarganya, gadis empat belas tahun justru mengalami kehidupan yang menyedihkan dibandingkan kehidupannya sebelumnya, sebagai tuna wisma di kerajaan cosmos dimana dia tinggal sebelumnya karena tak memiliki kekuatan dalam tubuhnya sehingga dianggap sampah dan aib bagi keluarganya.
Untungnya, ketika tengah berada diambang maut, ia tak sengaja bertemu dengan penyihir Beatrix yang juga mengalami nasib sama sepertinya.
Penyihir Beatrix yang tak ingin meninggal sia-sia dan ingin ada yang membalaskan dendamnya, memilih Charlotte sebagai orang yang dia warisi semua kekuatan hebat didalam tubuhnya.
Setelah diwarisi kekuatan dari penyihir Beatrix, bagaimana kehidupan Charlotte selanjutnya?
Apakah ia mampu mengubah garis takdirnya?
Ikuti semua kisahnya dalam cerita ini
Happy Reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMPERJELAS
Duke Aslan bisa merasakan aura dingin yang keluar dari tubuh putrinya itu, untung saja kekuatannya cukup tinggi, jika tidak mungkin ai akan dibuat membeku seketika.
Melihat ekpresi penuh kemarahan diwajah Charlotte, Duke Aslan yang tak ingin terjadi hal lebih jauh pun menoleh dan menatap lembut kearah putri bungsunya itu.
"Ayah mengerti kau begitu marah saat ini. Bisakah kau berhenti sekarang putriku? lihatlah betapa kacaunya kondisi mereka",ucap Duke Aslan sambil menatap iba para pengawalnya yang kini sudah tergeletak di lantai dalam kondisi babak belur.
Duke Aslan merasa bingung, putrinya yang tak memiliki bakat apapun ini sekuat apa hingga membuat para pengawalnya yang rata-rata berada di level lima dibuat babak belur tanpa perlawanan seperti ini. Dan aura kuat yang mengancam ini, darimana datangnya?
Ketika Duek Aslan tengah bergumul dengan pikirannya, Charlotte yang melihat para pengawal yang tadi mengejeknya dan memberi tatapan meremehkan kini menunduk ketakutan, ada rasa puas dalam hatinya sehingga iapun menghentikan aksinya dan gadis itu pun berjalan mendekat menuju sang ayah yang diam terpaku di pintu masuk ruang kerjanya.
Charlotte de Fleur pun segera membungkukkan badan dan mengucapkan salam penghormatan pada ayahnya, Duke Aslan terkesan karena kali ini sang putri melakukan tata krama bangsawan dengan sangat sempurna.
“Ternyata dia sangat cerdas mampu beradaptasi dengan kondisi yang ada”, batin Duke Aslan puas.
Charlotte sendiri merasa takjub ketika dia dengan luwes mengucapkan salam dan tata krama bangsawan dengan begitu mudahnya, tak seperti sebelumnya yang terkesan kaku.
Ternyata ingatan dari penyihir Beatrix cukup bermanfaat hingga secara tidak langsung sifat dan sikap penyihir wanita itu mulai melekat dalam dirinya, dan hal itu tentu saja membuat Cherlotte merasa bahagia karena dengan begini ia akan lebih mudah untuk bergaul dengan siapapun karena memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas.
Ronix yang merasa jika kehadirannya sedikit mengganggu pun sadar diri, "Kalau begitu saya permisi nona muda Charlotte, Duke Aslan", ucap Ronix yang segera undur diri karena merasa tugasnya untuk nona mudanya ke ruang kerja ayahnya telah selesai.
"Terimakasih paman. Anda bisa kembali ke tempat anda bertugas", jawab Charlotte dengan aura yang sangat anggun.
Lagi-lagi, Duke Aslan dibuat terkesan oleh perubahan sikap putri bungsunya yang mengalami perkembangan begitu pesat padahal guru tata krama baru saja hendak mereka hadirkan.
Sekarang, setelah melihat bagaimana Charlotte de Fleur bertutur kata dan bersikap, mungkin nanti ketika guru tata karmanya datang tak lagi kesulitan untuk mengajarinya karena tampaknya sang putri sudah memiliki dasar yang bagus.
Setelah melihat Duke Aslan mengangguk, Ronix pun langsung pergi karena ada beberapa kebutuhan rumah tangga yang harus dia buat list untuk diberikan pada para pelayan yang bertugas berbelanja di luar hari ini.
Duke Aslan mempersilahkan putri bungsunya itu untuk masuk ke dalamn ruang kerja karena mereka tak mungkin berbincang di luar.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan pada ayah, putriku?", tanya Duke Aslan dengan rasa penasaran tinggi sebab sejak ditemukan dan dibawa pulang, Charlotte tampak menjauh dari kedua orang tua dan kedua kakaknya seolah dia masih belum bisa menerima status barunya itu.
Tak ingin membuat takut putri bungsu yang baru saja mereka temukan, Duke Aslan dan Dunchess Ariana sepakat untuk memberi Charlotte sedikit waktu untuk beradaptasi.
Biasanya mereka bertemu hanya pas makan pagi atau malam ketika semua anggota keluarga bisa berkumpul dan tak ada kegiatan di luar yang harus dilakukan.
Kini, gadis itu datang sendiri dengan inisiatifnya untuk bertemu dengannya, tentu saja Duke Aslan merasa terkejut sekaligus penasaran akan hal apa yang ingin putrinya itu minta hingga harus pergi menemuinya.
Charlotte de Fleur yang malas berbasa-basi karena ia tak memiliki hubungan dekat dengan sang ayah yang baru dia temui setelah tiga belas tahun terpisah pun langsung to the point dalam berucap, “Apa posisi saya dirumah ini dan hak apa yang bisa saya dapatkan? tanggung jawab serta kewajiban apa yang harus saya penuhi di rumah ini agar hak saya bisa saya terima?”.
Duke Aslan kembali dibuat terkejut oleh pertanyaan yang putri bungsunya ajukan itu karena ia sama sekali tak menyangka jika Charlotte akan mengajukan pertanyaan seperti itu.
“Apa ada seseorang yang membuatmu tak nyaman tinggal dirumah ini?”, bukannya menjawab, Duke Aslan malah balik bertanya karena curiga jika putrinya telah mengalami ketidak adilan di kediaman de Fleur hingga mengajukan pertanyaan seperti itu.
“Meski berusaha untuk di tutup-tutupi, saya rasa ayah sebagai kepala keluarga de Fleur pasti sudah mendengar semua hal yang terjadi. Disini, saya hanya ingin tahu, posisi apa yang saya miliki disini karena jujur saja, saya seperti orang asing yang keberadaannya tak diinginkan oleh siapapun di tempat ini”, Charlotte pun sedikit mengungkapkan ketidak nyamanan dalam hatinya, membuat Duke Aslan mulai mengerti akan kondisi yang dialami oleh putri bungsunya itu.
Ia tahu mengenai ketidak sukaan penghuni kediaman de Fleur ini setelah hasil tes yang menunjukkan jika Charlotte de Fleur tak memiliki kekuatan dalam tubuhnya sehingga darah yang mengalir dalam tubuhnya dipertanyakan.
Untung saja wajahnya sama persis dengan sang istri ketika masih muda, tes darah yang dilakukan oleh pihak istana pun menunjukkan jika gadis itu adalah darah dagingnya, anggota keluarga de Fleur asli, membuat kecurigaan semua orang berhasil dipatahkan.
Tapi hal itu tak menutup kebencian seseorang mengenai hadirnya penerus perempuan satu-satunya dalam keluarga de Fleur. Dan tak adanya kekuatan dalam diri Charlotte dijadikan senjata bagi para pembenci keluarganya untuk menjatuhkan mental gadis itu dan keluarganya.
“Selain para pengawal yang berjaga di depan ruang kerjaku, siapa lagi yang berani meremehkanmu?”, tanya Duke Aslan.
Charlotte tahu jika sang ayah ingin melindunginya, tapi ini bukan yang ingin dia minta dari pria paruh baya dihadapannya itu.
“Ayah, jawab pertanyaanku sebelumnya karena jawaban ayah akan menentukan segalanya”, ucap Charlotte tajam.
Duke Aslan hanya bisa menghela nafas berat melihat kekeras kepalaan Charlotte yang mirip istrinya sehingga iapun mulai mengalah.
“Kamu adalah putri bungsuku. Satu-satunya putri keluarga de Fleur. Nona muda Charlotte de Fleur”, jawab Duke Aslan.
“Sebagai putri satu-satunya dan nona muda dikediaman ini, apa yang menjadi hak serta kewajibanku disini?”, tanya Charlotte lagi.
Duke Aslan pun menjelaskan semua hak yang bisa didapatkan Charlotte sebagai nona muda de Fleur serta kewajiban apa yang harus dia penuhi sebagai anaknya.
Charlotte merasa puas setelah mendengar penjelasan ayahnya. Namun, ucapan hanya sekedar lisan yang tak kuat sehingga iapun meminta surat kepada sang ayah yang menegaskan statusnya.
Hati Duke Aslan merasa perih karena untuk mendapatkan status sebagai anaknya, Charlotte harus meminta surat keterangan kepadanya yang berisi cap jari dan stempel keluarga de Fleur sebagai bukti jika surat tersebut sah.
"Sekarang, saya ingin meminta uang bulanan karena didalam almari tak ada satu gaun pun yang layak untuk saya pakai", ucap Charlotte tanpa basa basi, membuat hati Duke Aslan semakin nyeri.
Iapun bertekad untuk mencari tahu mengenai semua kejadian yang menimpa putrinya agar tak menyesal dikemudian hari.