Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Akar Langit di Palung Beracun
Kegelapan di bawah bunker Sektor Utara tidaklah sunyi. Di sini, di saluran limbah kuno yang tersembunyi dari peta digital Jakarta, suara tetesan air kimia yang jatuh ke genangan hitam terdengar seperti detak jantung monster yang sedang sekarat. Udara di sini kental, berbau belerang dan besi berkarat, cukup untuk merontokkan bulu kuduk manusia biasa.
Arga dan Devada Adiraja mendarat di atas tumpukan pipa baja yang licin. Dentuman tubuh mereka menggema di lorong sempit yang dindingnya dilapisi lumut bercahaya pudar—fluoresensi sisa limbah radioaktif dari dekade lalu.
Devada bangkit lebih dulu. Kemeja hitamnya kini koyak, menyingkap tato sirkuit emas di lengan kanannya yang berpendar mengikuti irama napasnya. "Kau menyeret kita ke septic tank, Arga? Sungguh gaya kuli yang sangat... otentik."
Arga berdiri perlahan, merasakan tulang rusuknya yang memprotes setiap gerakan. Matanya menatap tajam ke ujung lorong, di mana sebuah celah dinding beton memperlihatkan akar-akar tanaman yang berpendar biru elektrik—Akar Langit. Itulah sumber kestabilan yang ia butuhkan untuk meredam api Mustika yang kini mulai membakar saraf-sarafnya.
"Di atas sana, kau adalah pangeran," suara Arga parau, namun tetap tenang seperti permukaan danau di tengah badai. "Tapi di bawah sini, kau hanya daging yang menunggu untuk membusuk. Uangmu tidak bisa membeli oksigen di tempat sekotor ini."
Devada tertawa kecil, suara yang tajam membelah kelembapan. Ia mengaktifkan sepasang cakram mekanisnya. Zzzzt! Logam bundar itu berputar dengan frekuensi tinggi di sela-sela jarinya, menciptakan percikan listrik statis yang menerangi lorong gelap.
"MAKSIMALKAN OUTPUT!" teriak Devada.
Ia menerjang. Gerakannya kini bukan lagi sekadar bela diri, melainkan penggabungan sempurna antara kinetik manusia dan akselerasi mesin. Cakram itu meluncur, memotong pipa uap di samping telinga Arga. Pshhh! Uap panas menyembur, namun Arga tidak menghindar ke belakang.
Arga merunduk, menggunakan licinnya lantai limbah untuk meluncur di bawah kaki Devada. Ia mengingat ajaran Kala Vira: Jangan lawan gravitasi, jadilah air. Di dalam air yang kotor ini, Arga merasa hidup. Ia mencengkeram pergelangan kaki Devada dan menyalurkan getaran Mustika yang terukur.
Krak!
"Ugh!" Devada terhuyung. Namun, ia tidak jatuh. Ia memutar tubuhnya di udara dan melepaskan tendangan tumit yang dialiri daya listrik ribuan volt.
Bum!
Arga terlempar menghantam dinding beton. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah seluruh sarafnya sedang digoreng hidup-hidup. Mustika Macan Kencana di dadanya meronta, menuntut untuk dilepaskan secara liar.
“Berikan aku kendali, Inang! Aku akan merobek sirkuit di lengannya dengan taringku!”
"Belum saatnya," desis Arga pada dirinya sendiri.
Arga bangkit kembali. Darah menetes dari dahi, mengalir melewati matanya, namun ia tidak berkedip. Ia melihat Devada mulai kehilangan ketenangannya. Pria elit itu terbiasa menang dengan peralatan canggih dan kecepatan yang diatur algoritma. Namun di bawah sini, di tengah uap beracun, sensor cakramnya mulai terganggu oleh interferensi kimia.
Arga bergerak maju dengan langkah yang puitis namun mematikan—sebuah ritme yang ia pelajari dari deru ombak di dermaga. Ia tidak menyerang dengan tinju kosong. Ia menyambar sebatang pipa besi berkarat sepanjang satu meter.
"Mari kita lihat seberapa kuat pusaka keluargamu melawan besi tua ini," ujar Arga.
Duel kembali pecah. Pipa besi di tangan Arga beradu dengan cakram mekanis Devada. Clang! Clang! Sparks! Percikan api menerangi lorong itu setiap kali kedua logam itu bertemu. Arga bertarung dengan kecerdasan seorang penyintas; ia memanfaatkan setiap pantulan suara untuk menebak posisi Devada di tengah kabut uap.
Devada mulai terdesak. Oksigen di lorong itu semakin tipis, dan paru-parunya yang terbiasa dengan udara murni penthouse mulai menyerah. Arga, sebaliknya, adalah produk dari debu jalanan. Paru-parunya sudah terbiasa dengan polusi Jakarta.
Saat Devada mencoba melakukan serangan pamungkas dengan menggabungkan kedua cakramnya menjadi gergaji besar, Arga melakukan sinkronisasi gravitasi maksimal. Ia menjatuhkan seluruh berat badannya ke lantai, membuat pipa besi itu menjadi tumpuannya, dan melakukan tendangan dua kaki tepat ke arah ulu hati Devada yang terbuka.
DUKKK!
Devada terpental sepuluh meter, menghantam pintu besi pembuangan hingga melesap ke dalam. Pria elit itu terkapar, cakram mekanisnya berhenti berputar dan mengeluarkan asap hitam.
Arga tidak menghabisinya. Ia tidak punya waktu. Ia segera berlari menuju celah dinding tempat Akar Langit berada. Ia merobek akar berpendar biru itu dengan tangannya. Begitu kulitnya bersentuhan dengan akar tersebut, rasa dingin yang menenangkan mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Api di dadanya mereda, beralih menjadi kekuatan yang murni dan stabil.
Arga menatap Devada yang mulai merangkak bangun dengan sisa tenaganya.
"Katakan pada Indra Mahendra," suara Arga kini terdengar lebih berat, berwibawa seperti titah seorang dewa perang yang baru bangkit dari lumpur. "Bahwa darah kuli ini lebih kental daripada tinta kontrak kalian. Dan aku sedang dalam perjalanan untuk menagih hutang."
Arga melompat ke arah lubang ventilasi di atas, menghilang di balik kegelapan lorong limbah, meninggalkan Devada sendirian di tengah kebusukan Sektor Utara.
Di luar, fajar mulai menyingsing di cakrawala Jakarta. Cahaya oranye pucat menyapu atap-atap seng pemukiman kumuh. Arga berdiri di puncak jembatan, menghirup udara pagi yang dingin. Di tangannya, Akar Langit telah menyatu dengan energinya.
Ia telah naik level. Bukan hanya fisiknya, tapi jiwanya. Ia kini bukan lagi sekadar Arga si pelarian. Ia adalah Arga Satria, Master Muda dari Jalanan.