Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 10.
Malam itu, Simon tidak menelepon Arunika. Ia hanya mengirim satu pesan singkat.
[Aku baru tahu tentang perjanjian itu, kita perlu bicara. Bukan soal kita, tapi soal orang tuamu.]
Butuh waktu hampir satu jam sebelum balasan masuk.
Arunika: [Kirimkan lokasi.]
Simon pun mengirim lokasi pertemuan.
Mereka bertemu di ruang arsip lama Yayasan Wijaya. Ruangan itu sunyi, bau kertas tua dan debu.
Arunika berdiri tegak ketika Simon masuk, tak ada ekspresi apapun.
“Apa yang kau tahu?” tanyanya langsung.
Simon meletakkan map di meja logam.
“Perjanjian dua keluarga, tentang dana talangan dan juga... klausul kepemilikan.”
Arunika tidak terlihat terkejut. “Aku sudah tahu bagian-bagian itu.”
Simon mengangkat satu dokumen lain.
“Bagian ini mungkin tidak.”
Arunika mengambil dokumen yang diberikan Simon, lalu membukanya. Itu berisi laporan forensik kendaraan, revisi data sistem rem. Ada juga nama teknisi pengawas akhir sebelum mobil orang tua Arunika digunakan.
Arunika membaca dokumen itu cepat, lalu berhenti. Matanya terpaku pada satu nama—Hendra... paman Simon dari pihak ibu.
Hendra menjabat sebagai kepala divisi logistik perusahaan otomotif yang saat itu menangani kendaraan yayasan.
Statusnya sekarang?
Direktur operasional di anak perusahaan Wijaya Group.
“Om Hendra yang mengawasi kendaraan itu sebelum malam kejadian,” ujar Simon pelan. “Dan dua minggu setelah kecelakaan… dia dipromosikan.”
Ruangan terasa semakin dingin.
“Aku pernah menelusuri namanya,” ucap Arunika perlahan. “Tapi setiap jejak... berhenti di internal perusahaan.”
“Karena aksesnya dikunci dari dalam.” Ucap Simon.
Arunika menghela napas panjang, berusaha menahan getar yang nyaris lolos dari dadanya. Tatapannya menancap lurus pada Simon—dingin.
“Jadi… apa sebenarnya maksudmu melakukan semua ini? Kalau kau berpikir aku akan kembali padamu setelah semua yang terjadi, hentikan khayalan itu sekarang.”
Arunika tersenyum tipis, tapi tak ada kehangatan di sana. “Di antara kita sudah tidak ada yang bisa diperbaiki lagi, Simon. Yang tersisa hanya puing-puing kehancuran. Dan aku... tidak berniat membangun kembali sesuatu yang sudah kau hancurkan sendiri.”
Simon menelan ludah. “Aku membantumu karena mungkin keluargaku memang terlibat. Dan jika itu benar… aku tidak akan melindungi siapa pun.”
Arunika menatap pria itu penuh penilaian, lalu mengangguk tipis. Meskipun begitu, dia tidak percaya sepenuhnya pada Simon.
“Kalau begitu, kau masuk ke dalam lagi. Ambil akses arsip keuangan lama dan log komunikasi internal tahun kecelakaan.”
“Dan jika mereka curiga?”
“Berarti kau... benar-benar bagian dari keluarga itu. Dan kita, tidak perlu lagi bertemu.”
Namun seseorang memang mulai curiga.
Di ruang kantor tinggi gedung Wijaya, orang ini menerima notifikasi akses data. Akun Simon mencoba membobol akses untuk membuka arsip lama, arsip di tahun yang tak pernah disentuh siapa pun selama lebih dari dua dekade.
Orang ini tersenyum tipis.
Keesokan malamnya saat Simon mengemudi pulang dari kantor pusat, lampu lalu lintas berubah merah.
Ia berhenti, sebuah truk besar muncul dari arah kanan. Kejadiannya terlalu cepat, gerakan refleksnya menyelamatkannya. Ia membanting setir sebelum tabrakan langsung terjadi, dan mobilnya menghantam pembatas jalan.
Airbag mengembang, suara logam beradu menggema. Beberapa detik hening, namun Simon masih hidup. Truk itu tidak berhenti, dan melaju pergi... itu adalah kecelakaan kedua. Dengan pola yang sama dengan kecelakaan pada orang tua Arunika, dan terlalu mirip untuk disebut kebetulan.
Di tempat lain, Arunika menerima telepon dari nomor tak dikenal.
“Simon kecelakaan.”
Ia menutup mata sejenak, seseorang mulai menghapus orang yang tahu terlalu banyak.
____
Di rumah sakit, Simon terbaring dengan luka ringan. Ia menatap langit-langit putih.
Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
[Hentikan penyelidikanmu, kecelakaan berikutnya tidak akan meleset.]
Simon tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan. Semuanya sudah terlambat, ia sadar betul akan itu. Namun hatinya tetap keras kepala. Tiga tahun ia mengabaikan Arunika, menutup mata pada kesetiaan dan keteguhan perempuan itu. Penyesalan itu kini menyesak, menghantam tanpa ampun. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kehilangan.
“Arunika… maafkan aku.” Suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri. “Aku tahu aku tak pantas meminta apa pun. Tapi… kalau ada sedikit saja ruang di hatimu untukku, izinkan aku memperbaikinya. Aku ingin kita kembali bersama.”
Simon tidak membuang waktu setelah keluar dari rumah sakit. Luka di pelipisnya masih dibalut, tapi ia sudah kembali ke kantor pusat Wijaya Group. Ia masuk menggunakan akses internal level direktur, server arsip lama jarang disentuh. Tahun kecelakaan orang tua Arunika terkunci dalam folder “Audit Selesai”.
Simon duduk, membuka log transaksi asuransi. Nama perusahaan penutup klaim muncul dengan jelas—Cakra Proteksi, anak usaha dari grup investasi keluarga Angkasa.
Ia menelusuri lebih dalam, dan menemukannya. Transfer dana kompensasi resmi. Lalu satu transfer kedua, dua hari setelah kasus ditutup. Nominalnya besar, tujuan transfer ke rekening pribadi milik sang paman—Hendra. Jantung Simon berdetak keras, ia menyalin data itu ke flash drive.
Di sisi lain Arunika menerima file terenkripsi dari Simon, ia membukanya sendirian di ruang kerjanya.
Lampu meja menyala redup, layar laptop memantulkan wajahnya yang tenang. Ia membaca cepat, log transaksi asuransi. Transfer resmi kompensasi kecelakaan. Lalu transfer kedua, adalah dua hari setelah kasus ditutup.
Nominal besar, masuk ke rekening pribadi Hendra Wijaya. Arunika berhenti, nafasnya melambat.
“Bukan sekadar sabotase…” gumamnya lirih. “Ini pembungkaman.”
Ia memperbesar detail transaksi, nama perusahaan asuransi yang menutup laporan forensik muncul jelas.
Cakra Proteksi, ia tahu perusahaan itu. Anak usaha grup investasi keluarga Angkasa.
Matanya tidak berkedip tak percaya, pamannya Angkasa adalah direktur utama saat itu. Dan tanda tangan persetujuan revisi laporan ada di sana, Arunika menutup laptop perlahan.
“Jadi... ini ada kaitannya juga dengan perusahaan Angkasa?“
Bukti sudah mulai membentuk pola, tapi belum utuh. Belum cukup... untuk menghancurkan siapa pun.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️