NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pertemuan Kedua

Pukul 07.15, Kalara sudah tiba di rumah tua Menteng.

Ia tidak bisa tidur semalaman. Gambar anak-anak itu terus berputar di kepalanya, beradu dengan kata "Rara" di dasar kotak dan tanggal 15 November yang terukir di memorinya sebagai hari ulang tahun sekaligus hari kepergian ayah. Pagi ini, saat alarm berbunyi, ia sudah bangun selama dua jam, menatap langit-langit sambil menyusun teori-teori liar yang mungkin saja benar.

Teori paling liar: kotak itu punya hubungan dengan ayahnya.

Teori lebih liar: ayahnya mungkin pernah bekerja di rumah ini.

Teori paling gila: mungkin ayahnya bukan hanya pekerja biasa. Mungkin ia kenal dengan wanita pemilik kotak itu. Mungkin—

"Bu Kalara?"

Suara dari belakang membuatnya tersentak. Ia berbalit dan melihat seorang pria muda dengan seragam keamanan, membawa map cokelat.

"Ibu dari tim desain interior, ya? Pak Willem titip ini." Pria itu menyerahkan map. "Kunci cadangan rumah. Katanya Ibu mungkin perlu akses sebelum rapat tim berikutnya. Surat izinnya di dalam."

Kalara menerima map itu dengan tangan sedikit gemetar. "Terima kasih. Pak Willem sendiri di mana?"

"Sedang di luar kota, Bu. Ada urusan keluarga. Beliau minta Ibu dan tim arsitek bisa mulai pengukuran dan pendataan."

"Tim arsitek? Pak Arsya?"

"Iya, Bu. Beliau juga sudah dikabari. Mungkin datang hari ini."

Kalara menelan ludah. Sendirian di rumah tua ini dengan Arsya Wiraguna? Setelah kemarin hampir berantem? Setelah ia mengambil kotak itu tanpa izin?

Ini bisa jadi bencana. Atau justru kesempatan.

Ia membuka map, membaca surat dari Willem. Isinya formal: izin akses, kontak darurat, dan daftar ruangan prioritas. Tidak ada instruksi khusus. Tidak ada pertanyaan tentang kotak.

Mungkin Willem sudah lupa. Atau mungkin Willem sengaja tidak mau tahu.

Kalara melangkah masuk ke rumah itu. Sepi. Hanya suara burung dari halaman dan derit lantai kayu yang menemani. Ia berjalan melewati ruang tamu, menaiki tangga, dan tanpa sadar kakinya membawanya ke kamar kecil di ujung lorong.

Kamar pembantu.

Pintu masih terbuka seperti kemarin. Kalara masuk, berdiri di tengah ruangan, memejamkan mata. Ia mencoba merasakan sesuatu—kehadiran, bisikan, apa pun—tapi yang ada hanya sunyi.

"Apa yang kau cari di sini?"

Kalara membuka mata, berbalik cepat. Arsya berdiri di ambang pintu, jas hitamnya rapi, wajahnya datar seperti biasa. Tapi matanya—ada sesuatu di matanya yang berbeda. Lebih tajam, lebih waspada.

"Pak Arsya." Kalara berusaha tenang. "Saya kira Anda datang nanti siang."

"Dan saya kira Anda tidak akan datang sepagi ini." Arsya melangkah masuk, matanya menyapu ruangan. "Mencari sesuatu?"

Deg.

Kalara merasakan dadanya berdebar. Apakah Arsya tahu tentang kotak itu? Apakah Willem memberitahunya?

"Saya hanya... merasakan ruang ini. Seperti yang saya katakan kemarin, rumah ini butuh peresapan."

"Meresapi?" Arsya berhenti tepat di sampingnya, begitu dekat sehingga Kalara bisa mencium aroma parfumnya—sesuatu yang kayu dan segar, seperti hutan setelah hujan. "Atau mencari barang bukti?"

Kalara menoleh cepat. Mata mereka bertemu. Dan untuk detik itu, Kalara bisa melihat bahwa Arsya tahu. Tahu sesuatu. Tapi apa?

"Maksud Anda?"

Arsya diam sejenak. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya—selembar kertas, setengah robek, lusuh.

"Kemarin, setelah Anda pergi, saya kembali ke kamar ini. Saya menemukan ini di laci yang macet." Ia menunjukkan kertas itu pada Kalara. "Gambar anak-anak. Seperti yang Anda ambil."

"A-ambil?" Kalara berusaha terdengar polos, tapi suaranya bergetar. "Maksud Anda, gambar yang di dalam kotak?"

"Jadi Anda memang mengambil kotak itu."

Umpan. Kalara baru sadar. Arsya hanya menebak, dan ia baru saja mengonfirmasi.

"Saya—" Kalara menghela napas. Tidak bisa bohong lagi. "Iya. Saya ambil. Tapi tidak sengaja. Waktu saya keluar, entah bagaimana kotak itu ada di tangan saya. Saya panik, lalu—"

"Lalu Anda bawa pulang."

"Iya."

Arsya menatapnya lama. Ekspresinya tidak berubah, tapi Kalara bisa merasakan ketegangan di udara.

"Kembalikan."

"Saya akan. Tapi—" Kalara ragu. "Tapi saya lihat isinya. Dan saya punya pertanyaan."

"Pertanyaan apa?"

Kalara memutuskan untuk jujur. Mungkin ini satu-satunya cara. Arsya adalah arsitek proyek ini, dan Willem percaya padanya. Mungkin Arsya juga tahu sesuatu.

"Di dalam kotak itu ada gambar anak-anak. Tanggalnya 15 November 1999." Kalara berhenti, mencari kata-kata. "Tanggal itu... ulang tahun saya yang keempat. Dan di tahun yang sama, ayah saya pergi. Tidak pernah kembali."

Sesuatu berubah di wajah Arsya. Kilatan—sesingkat kilat—lalu menghilang.

"Lalu?"

"Lalu di dasar kotak, ada tulisan. Goresan tipis. 'Rara'. Itu panggilan saya. Rara." Kalara menatap Arsya tajam. "Anda mungkin pikir ini kebetulan. Tapi saya tidak percaya kebetulan. Ada hubungan antara rumah ini, kotak ini, dan saya. Saya hanya tidak tahu apa."

Arsya diam lama. Cukup lama membuat Kalara gugup.

"Apa Anda tahu sesuatu?" tanyanya hati-hati. "Tentang kotak itu? Tentang pemiliknya?"

Pertanyaan itu mengambang di udara. Arsya menatapnya, dan Kalara bisa melihat pertarungan di matanya—antara ingin percaya dan ingin menjaga jarak, antara ingin berbagi dan ingin menyendiri.

Akhirnya, Arsya menarik napas panjang.

"Pemilik kotak itu," katanya pelan, "adalah ibu saya."

Dunia Kalara berhenti berputar.

"Apa?"

"Ibu saya." Suara Arsya datar, tapi ada getaran di sana, nyaris tak terdengar. "Namanya Rarasati. Dia bekerja di rumah ini sebagai pembantu, mungkin sekitar tahun 1998 atau 1999. Dan di kotak itu—" ia mengeluarkan foto dari saku yang sama "—ada foto ini."

Ia menyerahkan foto itu pada Kalara. Seorang wanita muda, kebaya gelap, senyum sedih, di depan teras rumah yang sama dengan tempat mereka berdiri sekarang.

"Dia cantik," bisik Kalara.

"Dia pergi," kata Arsya. "Tanggal 15 November 1999. Saya menunggunya di stasiun seharian. Dia tidak pernah datang."

15 November 1999.

Tanggal yang sama.

Kalara merasakan pusing. Tangannya meraih dinding untuk menopang tubuh.

"Ini... ini tidak mungkin."

"Apa?"

"15 November 1999. Itu hari ulang tahun saya. Tapi itu juga—" ia berhenti, napasnya tersengal "—itu juga hari terakhir ayah saya terlihat. Mama bilang, ayah pergi pagi itu dan tidak pernah pulang."

Mereka saling pandang. Dua orang asing, di kamar pembantu sebuah rumah tua, menyadari bahwa tanggal yang sama telah mengambil orang yang mereka cintai.

Arsya adalah orang pertama yang bicara. "Apa ayah Anda punya hubungan dengan rumah ini?"

"Saya tidak tahu. Saya tidak tahu apa-apa tentang ayah saya. Mama tidak pernah mau cerita."

"Kita harus mencari tahu."

Kata "kita" itu mengambang di antara mereka. Kalara menatap Arsya, mencoba membaca maksudnya. Wajahnya masih dingin, tapi matanya—ada api kecil di sana, tekad yang membara.

"Kita?" ulang Kalara.

Arsya mengangguk. "Saya ingin tahu kenapa ibu saya pergi. Anda ingin tahu kenapa ayah Anda pergi. Rumah ini adalah satu-satunya petunjuk. Mungkin... mungkin mereka berdua terhubung. Mungkin ada cerita yang belum kita tahu."

"Mungkin ada rahasia yang sengaja disembunyikan."

"Ya."

Kalara diam. Ini gila. Bekerja sama dengan pria dingin yang kemarin hampir ia benci. Tapi di sisi lain, ia butuh bantuan. Dan Arsya, dengan segala kekakuannya, mungkin adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya.

"Baik," katanya akhirnya. "Tapi saya punya syarat."

"Apa?"

"Pertama, kita harus jujur satu sama lain. Semua temuan, semua informasi, kita bagi."

"Setuju."

"Kedua, tidak ada yang boleh tahu dulu. Setidaknya sampai kita punya cukup bukti. Saya tidak ingin membuat Mama trauma dengan membongkar masa lalu."

Arsya mengangguk. "Setuju. Ketiga?"

"Itu saja. Dua cukup."

"Kalau begitu, kita mulai dari sini." Arsya menatap sekeliling kamar. "Ibu saya bekerja di rumah ini. Mungkin ada arsip, dokumen, atau apa pun yang bisa memberi petunjuk. Pak Willem bilang, kakeknya yang dulu punya rumah ini. Mungkin kakeknya menyimpan catatan."

"Tapi Pak Willem sedang di luar kota."

"Kita tidak perlu menunggu dia. Kita punya akses, kan?" Arsya menatap map di tangan Kalara.

Kalara membuka map itu. Di dalamnya, selain surat izin, ada denah rumah lama dan—sebuah kunci kecil dengan label "Gudang Arsip".

Mereka bertukar pandang. Gudang arsip. Tempat menyimpan dokumen-dokumen tua. Mungkin jawabannya ada di sana.

Gudang arsip ternyata ada di bawah tanah.

Tangga menurun yang sempit dan berdebu membawa mereka ke ruang bawah tanah dengan langit-langit rendah. Satu bola lampu pijar menyala redup, cukup untuk melihat tumpukan kardus dan lemari arsip berkarat di sepanjang dinding.

"Wah," bisik Kalara. "Ini seperti di film-film horor."

"Jangan aneh-aneh," sahut Arsya, tapi ia merogoh saku dan mengeluarkan senter kecil. Cahayanya lebih terang, menyapu ruangan.

Mereka mulai memeriksa tumpukan demi tumpukan. Kardus-kardus berlabel tahun: 1960-an, 1970-an, 1980-an. Debu beterbangan setiap kali mereka membuka satu.

"Sebaiknya kita pakai masker," kata Arsya, mengeluarkan dua masker bedah dari tasnya. Ia menyerahkan satu pada Kalara.

"Anda bawa masker ke mana-mana?"

"Saya alergi debu."

Kalara tersenyum kecil. Manusia es ini ternyata punya kelemahan juga.

Mereka bekerja dalam keheningan selama hampir satu jam. Arsya fokus pada lemari arsip, sementara Kalara memeriksa tumpukan kardus. Hasilnya nihil. Dokumen-dokumen yang mereka temukan kebanyakan administratif: pajak, sertifikat tanah, tagihan listrik dari zaman Belanda.

"Sini lihat," panggil Arsya tiba-tiba. Ia berdiri di depan lemari besi kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kardus. "Ada kuncinya?"

Kalara mendekat. Lemari itu tidak terlalu besar, hanya seukuran lemari arsip dua laci. Tapi di depannya, ada lubang kunci tua.

"Coba kunci dari Pak Willem."

Kalara mencoba semua kunci di gantungan. Yang keempat, pas.

Brak.

Laci terbuka. Di dalamnya, hanya ada satu map cokelat, tebal, dengan label usang: "Personalia & Catatan Khusus".

Arsya mengeluarkan map itu dengan hati-hati. Ia membukanya di atas meja kayu berdebu di dekat tangga. Kalara mendekat, ikut membaca.

Isinya: berkas-berkas karyawan rumah ini dari masa ke masa. Nama, alamat, tanggal masuk, tanggal keluar, dan kadang catatan khusus. Mereka membuka halaman demi halaman, mencari nama Rarasati.

Dan di halaman ketujuh, mereka menemukannya.

Rarasati

Posisi: Pembantu Rumah Tangga

Tanggal Masuk: 2 Maret 1998

Tanggal Keluar: 15 November 1999

Catatan: Berhenti mendadak. Meninggalkan barang pribadi. Tidak ada kabar lanjutan.

Di bawahnya, tulisan tangan berbeda—mungkin kakek Willem, atau manajer rumah tangga:

*"Anaknya sering ikut. Laki-laki, sekitar 5-6 tahun. Wajahnya sedih terus. Suka menggambar di kamar ibunya."*

Arsya menelan ludah. Itu dia. Itu dirinya. Ia ingat sekarang—samar-samar, seperti mimpi—bahwa dulu ia pernah ikut Ibu ke sebuah rumah besar. Ada halaman dengan pohon beringin. Ada kamar kecil dengan jendela menghadap ke belakang. Dan ada... ada seorang pria.

Siapa pria itu?

Ia melanjutkan membaca. Di margin halaman, ada catatan lain, lebih kecil, hampir pudar:

"Sering terlihat bicara dengan tamu laki-laki. Mungkin suami atau saudara. Tidak dicatat identitasnya."

Tamu laki-laki.

Arsya menunjuk catatan itu pada Kalara. "Lihat. Tamu laki-laki. Mungkin—"

"Tunjukkan."

Mereka membalik halaman, mencari tahu siapa tamu laki-laki itu. Di halaman berikutnya, ada daftar tamu yang pernah tercatat. Nama-nama asing, kebanyakan Belanda atau Indonesia keturunan Eropa. Tapi di akhir daftar, satu nama ditulis dengan tinta berbeda:

"Asmara — sering datang. Hubungan dengan Rarasati. Status: tidak jelas."

Asmara.

Nama belakang Kalara.

Udara di ruang bawah tanah itu terasa menipis. Kalara merasakan dunianya oleng. Tangannya meraih lengan Arsya untuk menopang diri.

"Asmara," bisiknya. "Itu nama keluarga saya."

Arsya tidak bicara. Ia hanya menatapnya, dan untuk pertama kalinya, Kalara melihat sesuatu yang mirip dengan... iba? Atau mungkin pengertian?

"Ini ayah saya," lanjut Kalara, suaranya bergetar. "Ayah saya sering datang ke sini. Ayah saya kenal ibu Anda."

"Seberapa kenal?"

Kalara tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap catatan itu, membaca ulang kalimat terakhir: "Status: tidak jelas."

Tidak jelas.

Apa artinya?

Mereka menghabiskan dua jam berikutnya di ruang bawah tanah itu. Membaca setiap dokumen, mencari setiap petunjuk. Dan semakin dalam mereka menggali, semakin rumit ceritanya.

Ada catatan tentang Rarasati yang sering menerima surat. Ada catatan tentang "tamu laki-laki" yang datang hampir setiap minggu. Ada catatan tentang seorang anak—Arsya kecil—yang kadang ditinggal di kamar sementara ibunya bekerja.

Tapi tidak ada yang menjelaskan hubungan antara Rarasati dan Asmara.

Hingga Kalara menemukan sebuah amplop di bagian paling bawah map.

Amplop cokelat, tanpa tulisan. Sudah rusak dimakan usia. Tapi ketika ia membukanya, di dalamnya ada foto-foto.

Foto pertama: Rarasati dan seorang pria. Mereka berdiri di taman rumah ini, di bawah pohon beringin. Rarasati tersenyum—benar-benar tersenyum, berbeda dengan senyum sedih di foto sebelumnya. Pria di sampingnya juga tersenyum. Wajahnya tampan, rambutnya disisir rapi. Dan ia memegang tangan Rarasati.

Kalara menatap foto itu lama. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

"Ayah," bisiknya. "Itu ayah saya."

Arsya mengambil foto itu, menelitinya. Pria itu—Asmara—memang mirip dengan Kalara. Sama-sama memiliki mata yang hangat dan senyum yang mudah.

Mereka membuka foto kedua. Kali lebih banyak orang: Rarasati, Asmara, dan seorang anak laki-laki kecil. Anak itu duduk di pangkuan Rarasati, wajahnya cemberut, memegang krayon.

Itu Arsya kecil.

Dan foto ketiga: hanya Rarasati dan Asmara. Mereka duduk berdekatan di bangku taman. Di belakang foto, ada tulisan tangan:

"Untuk selamanya. 14 November 1999."

Sehari sebelum mereka berdua menghilang.

Di luar, matahari mulai condong ke barat. Cahaya sore masuk melalui jendela kecil ruang bawah tanah, menciptakan garis-garis emas di lantai berdebu.

Arsya dan Kalara duduk di tangga, diam, masing-masing memproses apa yang baru mereka temukan. Map terbuka di pangkuan Kalara. Foto-foto tersebar di anak tangga di antara mereka.

"Ayah saya..." Kalara memulai, lalu berhenti.

"Kenal ibu saya," sambung Arsya. "Lebih dari sekadar kenal."

"Lihat tulisan di belakang foto. 'Untuk selamanya.' Mereka... mereka..."

"Mungkin mereka saling mencinta."

Kalimat itu mengambang di udara. Berat. Menusuk.

"Tapi ayah saya sudah menikah dengan Mama," kata Kalara. "Ibu Anda juga sudah punya Anda. Lalu apa artinya ini?"

Arsya menggeleng. "Saya tidak tahu. Tapi satu hal yang jelas: mereka berdua menghilang di hari yang sama. 15 November 1999."

"Bersama?"

"Mungkin. Atau mungkin masing-masing pergi karena alasan yang sama."

"Maksud Anda?"

Arsya berpikir keras, mencoba menyusun teori. "Ibu saya pergi meninggalkan saya di stasiun. Ayah Anda pergi meninggalkan keluarga. Mungkin mereka... pergi bersama? Mungkin mereka punya rencana?"

Kalara merasakan dadanya sesak. "Meninggalkan keluarga demi... cinta terlarang? Itu terlalu sinetron."

"Tapi ini bukan sinetron. Ini nyata. Dan bukti-bukti ada di sini."

Mereka diam lagi. Suara jangkrik mulai terdengar dari luar. Sore berganti senja.

"Lalu kenapa mereka tidak pernah kembali?" tanya Kalara lirih. "Kenapa tidak ada kabar? Tidak ada apa-apa?"

Arsya tidak punya jawaban. Ia hanya menatap foto ibunya, tersenyum bahagia di samping pria yang bukan ayahnya.

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, berat dan menyakitkan.

Dan di suatu tempat, di luar sana, mungkin jawabannya masih terkubur. Menunggu untuk ditemukan.

Saat mereka keluar dari ruang bawah tanah, langit sudah gelap. Lampu-lampu taman otomatis menyala, menerangi halaman dengan cahaya temaram.

"Sudah malam," kata Kalara. "Saya harus pulang. Mama sudah nelpon berkali-kali."

Arsya mengangguk. "Saya juga ada rapat malam ini."

Mereka berjalan menuju pagar bersama. Di depan mobil masing-masing, mereka berhenti.

"Ini," Kalara mengeluarkan kotak kayu dari tasnya. "Kembali pada pemiliknya yang sah."

Arsya menerima kotak itu. Untuk pertama kalinya, ia memegang benda yang dulu dipegang ibunya. Rasanya aneh—berat dan ringan bersamaan.

"Terima kasih," katanya.

"Kita lanjutkan pencarian?" tanya Kalara.

"Ya. Tapi hati-hati. Jangan sampai Pak Willem curiga. Beliau mungkin tahu sesuatu, tapi mungkin juga tidak mau tahu."

"Setuju. Kita harus cari informasi dari sumber lain. Mungkin dari keluarga saya. Mama pasti menyembunyikan sesuatu."

"Mungkin juga dari ayah saya." Suara Arsya berat. "Dia tidak pernah bicara tentang Ibu. Tapi sekarang saya harus tahu."

Mereka bertukar nomor. Janji untuk saling memberi kabar.

Dan saat mobil Kalara melaju menjauh, Arsya berdiri di depan pagar rumah tua itu, memegang kotak kayu di tangannya. Ia membuka tutupnya, mengambil gambar anak-anak yang dibuatnya dulu. Gambar Ibu, dengan tulisan miring-miring: "Ibu, pulanglah. Aku tunggu di stasiun."

Air matanya jatuh.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, Arsya menangis.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!