Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~27
"Mau Mar?"
Sore itu Astuti yang sedang duduk di teras rumahnya nampak meletakkan buah sekeranjang yang di bawakan oleh Lastri saudara sepupunya, sengaja ia letakkan diatas meja yang berada di terasnya agar semua orang yang lewat bisa melihatnya.
"Tidak mbak terima kasih," sahut Marni yang sedang menyiram bunga di halaman rumahnya itu sembari menunggu adzan maghrib tiba.
"Enak loh Mar kamu pasti tak pernah makan buah-buahan ini kan? maklum harganya mahal kamu pasti tak mampu membelinya." tukas Lastri lagi seraya memamerkan satu persatu buah impor tersebut, ada apel fuji, pir, anggur dan juga jeruk Australi.
Marni hanya tersenyum menatapnya lalu kembali menyiram sisa pot bunga yang ada, pot yang dibuat dari polibag hingga menambah keasrian rumahnya.
"Waktu itu kamu dan mas Firman beli baju di mal kan, Marni? rencananya nanti mas Joko datang juga mau ku ajak pergi kesana." tukas Astuti lagi yang kini telah berada di halaman rumahnya memperhatikan tetangganya itu yang sedang sibuk dengan tanamannya.
"Iya mbak," sahut Marni menatapnya sekilas.
"Paling yang kamu beli cuma harga dua ratus ribu kan? maklum baju-baju disana kan mahal-mahal jadi kamu pasti mampunya hanya beli dengan harga segitu," ujar Astuti lagi terdengar menyepelekan.
"Iya mbak." Marni mengangguk kecil membenarkan, belum tahu saja jika semua pakaiannya yang dibelikan oleh Firman lumayan mahal tapi untuk apa ia pamerkan yang ada hanya akan membuat iri tetangganya saja, ia bukannya takut atau ingin menjaga perasaan wanita itu namun ia memang bukan tipe orang yang suka pamer.
Kesedihan dan kesenangannya biarlah hanya dirinya dan Allah saja yang tahu, semua akan ia jalani dan nikmati sendiri karena terkadang nikmat yang terlalu dipamerkan kepada orang lain hanya bertahan sementara dan juga sebaliknya kesedihan yang selalu ditunjukkan hanya akan menjadi bahan tertawaan mereka karena di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar tulus.
"Kalau aku selalu beli yang harga empat ratus atau lima ratus ribuan, harga dua ratus apaan tidak level dong masa istri mas Joko pegawai perusahaan disamakan dengan anak buruh kebun." ujar Astuti lagi berharap Marni tersindir namun wanita itu lagi-lagi hanya tersenyum mendengarnya, wanita itu enggan menimpali karena tetangganya itu hanya ingin membuatnya kesal saja.
Ia selalu berprinsip semua orang punya pendapat tentang dirinya namun ia juga memiliki hak untuk tersinggung atau tidak saat meresponnya dan ia memilih untuk mengabaikannya demi ketenangan batinnya.
"Ngomong-ngomong, aku dengar calon istri mas Firman anak pondokan itu juga di undang buka bersama oleh bu Lurah ya, Mar? bagaimana wajahnya, pasti sangat cantikkan? anak ibukota gitu loh bagaimana tidak cantik." tukas Astuti lagi ingin tahu.
Marni seketika mengingat acara berbuka bersama waktu itu, Kania memang cantik dan berpendidikan tinggi namun ia kurang suka dengan cara wanita itu menatapnya seakan sedang merendahkannya.
"Cantik kok mbak Astuti kan perempuan, bagiku semua perempuan cantik dan mbak Astuti juga cantik meskipun sedikit berisi." sahutnya sembari menatap wanita itu yang memang memiliki badan lebar.
"Kamu sedang menghinaku Marni? kamu pasti iri kan karena baju lebaran ku lebih mahal darimu?" Astuti tiba-tiba langsung menaikkan oktaf suaranya hingga membuat ibunya Marni sontak keluar.
"Ada apa sih mau maghrib ribut saja kalian?" ucap wanita paruh baya itu menengahi.
"Itu loh Marni berani sekali mengatakan aku gendut gara-gara baju lebaranku lebih mahal darinya." Astuti pun mengadu kepada wanita itu.
Marni hanya menggeleng kecil kemudian mengakhiri kegiatannya menyiram tanamannya lantas segera masuk ke dalam rumahnya melewati ibunya.
"Kamu memang ga ngaca bagaimana badanmu? mau pakai baju satu juta pun kalau badanmu begitu juga tidak kelihatan mahal Astuti-Astuti," tukas ibunya Marni lantas berlalu menyusul putrinya masuk.
"A-apa kamu bilang? dasar orang miskin syirik saja kerjaannya," gerutu Astuti dengan kesal lantas saat tak sengaja menatap kaca jendela rumahnya terlihat bayangan dirinya yang memang lumayan besar dengan daster favoritnya itu.
"Aku tidak gemuk kok hanya subur, mas Joko saja tidak pernah protes malah tergila-gila padaku dasar kalian saja yang syirik lagipula label harga bajuku nanti juga ga kan ku lepas biar semua orang kampung melihatnya." ucapnya lantas berlalu masuk dan tak lupa membawa sekeranjang buahnya karena takut di ambil oleh orang miskin, lagaknya saja tidak mau saat ia tawari tapi giliran ia tidak ada pasti akan di colongnya juga dasar orang bermental miskin umpat wanita itu dalam hati.
Kini Marni yang masuk ke dalam kamarnya setelah usai membantu ibunya membereskan bekas berbuka puasa keluarganya nampak bersiap-siap untuk pergi taraweh karena hari ini haidnya sudah selesai dan ia pun juga telah bersuci.
"Kapan taraweh lagi aku kangen melihatmu,"
Sepenggal pesan dari Firman nampak hanya Marni baca saja tanpa berniat ia balas, wanita itu ingin memberikan pria itu kejutan dengan tiba-tiba ada di mushola.
Setelah bersiap-siap ia dan ibunya pun segera berangkat dengan berjalan kaki bersama para tetangganya yang lain, termasuk Astuti yang nampak sepanjang jalan memamerkan mukenah barunya yang sebelumnya dibelikan oleh sang suami di kota lebih tepatnya ia minta dibelikan oleh pria itu.
Sesampainya di mushola mereka tak sengaja melihat kedatangan Firman dengan dua orang perempuan yang sepertinya juga baru datang.
"Mar, apa itu calon istrinya mas Firman?" bisik Astuti namun tidak seperti berbisik karena suara wanita itu begitu lantang bahkan mungkin terdengar sampai keberadaan Firman dan adiknya itu berada.
Marni yang menatap Kania hanya mengangguk kecil lantas saat pandangannya bertemu dengan Firman wanita itu pun langsung berpaling dan segera masuk ke dalam mushola, sepertinya beberapa hari ia hindari pria itu mulai dekat dengan Kania.
"Kalian memang lebih pantas," gumamnya sepertinya inilah jawaban dari doa-doanya setiap malam.
Ehm
Tiba-tiba Astuti berdehem ketika mengambil saff bersebelahan dengan Kania dan juga Farah adiknya Firman. "Mbak Farah baru pulang dari pondok ya?" ucapnya berbasa-basi dan sok kenal, semua warga kampung memang mengenal putri bu lurah itu tapi gadis itu tak terlalu hafal satu persatu warga kampungnya.
"Benar mbak, pondokan sedang diliburkan." sahut gadis berusia satu tahun di bawah Marni itu.
"Ngomong-ngomong apa mbak ini calon istrinya mas Firman?" tanya Astuti lagi seraya menatap Kania, hitung-hitung buat bahan ghibah esok hari pikirnya.
Kania hanya tersenyum lebar menatapnya namun tidak dengan Farah. "Benar mbak, mungkin selepas hari raya mereka akan bertunangan." ucapnya seraya melirik ke arah Marni hingga membuat Kania terlihat malu-malu mendengarnya dan tentu saja itu menjadi sebuah berita besar bagi Astuti.
Marni yang mendengar itu pun nampak memejamkan matanya, lantas segera melaksanakan sholat sunah dua rakaat setelah adzan isya selesai berkumandang.
"Selamat ya mas," gumamnya jika memang benar yang mereka katakan.
Orang" spt Tuti, yg suka caper, camuk, cocok lah kalian berteman, tapi ibunya Kania mana mw berteman dng mu ya🤔🤔🤔 gk selevel keknya wkwkw
berat berat berat dia mw bilng kamu gendut, kamu olahraga kek, senam kek,,,,
beban joko lebih berat dari badanmu Tut