Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~32
Kini Marni yang sedang menuju mushola tiba-tiba tak sengaja bertemu dengan Sapri di jalan hingga membuat pria itu langsung berhenti dan turun dari atas motornya.
"Mau ke mushola dek Marni?" sapa Sapri dengan ramah.
Marni mengangguk kecil. "Iya mas," sahutnya singkat.
"Bagaimana ayam bakarnya dek apa enak? kalau enak besok mas bawakan lagi." tanya pria itu lagi.
"Maaf mas tolong mulai besok jangan bawakan apapun itu lagi," mohon Marni lebih baik ia bicara langsung kepada yang bersangkutan karena bicara sama adiknya sama saja bicara dengan batu.
"Apa kurang enak dek?" Sapri menanggapi dengan wajah sedikit kecewa.
"Bukan begitu mas, karena aku tahu mas memberikan sesuatu karena ada alasannya dan aku benar-benar tak bisa menerimanya." ujar Marni to the point, semoga saja pria itu memahami apa maksudnya dan tak lagi mengejarnya.
"Apa karena sudah ada yang kamu suka sampai kamu menolakku Marni? ingat ya aku sudah habis banyak untuk modif motor adikmu dan dia bilang kamu juga suka sama aku," Sapri pun mulai kesal karena nyatanya apa yang dikatakan oleh Marwan tak sesuai kenyataan.
"Itu bukan urusanmu mas, jadi lebih baik jangan berharap apapun dariku karena aku belum ingin punya pacar ataupun menikah." tegas Marni, sebenarnya ia tidak ingin menyinggung perasaan pria itu dan ingin menolaknya baik-baik tapi sepertinya pria tersebut tak terima.
"Maaf mas, aku harus segera ke mushola." Marni pun segera berlalu pergi namun pria itu langsung menahannya.
"Apa itu karena Firman anaknya pak Lurah?" ucap pria itu meminta kepastian dan bersamaan itu Joko datang.
"Ada apa ini?" ucap pria itu ingin tahu.
"Ck, sengaja berangkat awal ke mushola karena ingin menggoda laki-laki ya?" imbuh pria itu lagi menatap ke arah Marni berada.
"Iya nih mas Joko tiba-tiba dia menghentikan motorku." tukas Sapri menanggapi sembari menatap remeh wanita itu, sepertinya pria itu sudah terlanjur sakit hati karena cintanya ditolak padahal sudah habis banyak buat mendekatinya melalui adiknya mulai dari setiap hari kirim makanan dan juga modif gratis motor Marwan yang pasti tak sedikit menghabiskan dana.
"Itu bohong!" Marni langsung menyela perkataan pria itu.
"Dia memang wanita ga benar Pri, di kota kerjaannya saja tidak benar." tukas Joko hingga membuat Marni langsung melotot menatapnya.
"Masa mas?" Sapri nampak tak percaya.
"Jika tak percaya cari tahu saja sendiri." sahut Joko dengan santai.
"Jangan membuat fitnah sembarangan mas," tegas Marni menatap Joko namun pria itu hanya tersenyum miring.
Saat melihat para jamaah mulai berdatangan Sapri pun segera pergi karena tidak enak mengingat ia jarang pergi taraweh, sementara Joko masih berada disana.
"Ingat Marni selama kamu menolak tawaran mas maka jangan salahkan aku akan membuat semua warga kampung ini tahu siapa kamu sebenarnya dan kita lihat siapa yang hancur disini aku atau kamu!" tegas Joko lantas berlalu pergi dari hadapan wanita itu.
Marni pun nampak terdiam di tempatnya berdiri, bagaimana jika pria itu benar-benar akan memberitahu warga kampung sini? apakah ia akan siap menerima konsekuensinya nanti?
"Loh nak kamu masih disini?" ucap sang ibu ketika melihat anak gadisnya itu masih berdiri di jalanan depan mushola.
"Marni itu sengaja berangkat cepat agar bisa menggoda para laki-laki di kampung kita bu," ujar Astuti hingga membuat beberapa tetangga mereka langsung berbisik-bisik tak percaya karena tidak mungkin wanita sealim Marni melakukan itu.
"Tadi mas Joko cerita jika dia sedang sama Sapri," ujar Astuti lagi.
"Benar itu nduk? kalau begitu ngapain kamu jual mahal tolak makanan pemberiannya." ujar sang ibu menegurnya.
Marni pun enggan menanggapi lantas segera berlalu masuk ke dalam mushola karena jika ia jelaskan pasti akan menjadi perdebatan panjang hingga urusan pribadi mereka menjadi konsumsi publik.
"Lebih baik segera dinikahkan saja bu anak gadisnya biar tidak menimbulkan fitnah," ujar bu RT memberikan saran setelah Astuti membuat fitnah tentang wanita itu.
"Benar bu, apalagi nak Marni cantik pasti banyak yang mau daripada setiap hari di apeli banyak laki-laki di rumahnya malah jatuhnya tidak baik dilihat." timpal ibu-ibu lainnya karena mereka memang beberapa kali melihat anak-anak bujang kampungnya main di rumah wanita itu meskipun disana juga ada Marwan sang adik.
Sebenarnya tak jarang mereka juga tak sengaja memperhatikan para suaminya yang nampak diam-diam memperhatikan wanita itu yang memang memiliki wajah yang lumayan cantik dengan kulit putih bersih.
Ibunya Marni bukannya malah memikirkan perkataan para tetangganya yang penuh dengan sindiran itu malah terlihat sedikit sombong. "Putriku memang cantik bu ibu tapi tidak asal juga aku menikahkannya dengan laki-laki sembarangan, Marni harus dapat laki-laki kaya baru boleh menikah." sahutnya tanpa rasa sungkan sedikit pun.
Para tetangganya pun langsung menggeleng kecil mendengarnya karena wanita itu tak berkaca dengan keadaannya karena laki-laki kaya pun juga pasti cari wanita yang setara untuk dijadikan istri sebab wajah cantik saja tidak cukup.
Mereka pun menyudahi obrolannya dan segera masuk mushola ketika adzan isya mulai berkumandang sedangkan Marni sudah sejak tadi masuk bersama teman-teman remajanya yang lain.
"Hey bro kata mas Joko tetangga sebelah rumahmu mbakmu kerja tidak benar ya di kota?" ucap Sapri malam itu ketika ia dan teman-temannya sedang berkumpul di bengkelnya yang biasa mereka gunakan tempat nongkrong saat malam hari.
Marwan nampak terkejut mendengarnya. "Kerja tidak benar bagaimana mas? setahuku mbakku kerja di cafe." sahutnya menanggapi.
"Aku mana tahu itu mas Joko yang bilang." sahut Sapri jujur.
"Paling mas Joko saja yang syirik karena modelan istrinya yang begitu," ujar Samsul hingga membuat semua orang tertawa mendengarnya begitu juga Marwan yang keluarganya memang kurang akur dengan tetangganya itu.
Namun entah kenapa Sapri masih kepikiran ucapan Joko di depan mushola tadi, jangan-jangan yang diucapkan pria itu benar adanya jika sebenarnya pekerjaan wanita itu di kota tidak benar.
"Cafe? atau jangan-jangan LC?" gumamnya dengan spekulasinya sendiri karena beberapa kenalannya di kampung sebelah mereka mengaku kerja di cafe tapi rupanya menjadi pemandu karaoke yang notabenenya bisa di booking untuk dijadikan teman tidur.
Benarkah wanita itu bekerja sebagai LC? tapi kenapa penampilannya tak mencerminkan itu semua? padahal setahunya para LC penampilannya akan tetap sama dengan keseharian mereka saat bekerja ketika berada di kampung meskipun pakaiannya sedikit sopan karena menyesuaikan tempat namun tidak dengan Marni karena pakaian wanita itu benar-benar tertutup dan longgar layaknya anak-anak pesantren pada umumnya.
baru bahagia Dateng Kutu hadeh
skrg marni bisa fokus dengan rumah tangga nya