NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Didampingi Lelaki Halal

Malam belum benar-benar larut ketika rasa kantuk sudah menyerang Sagara. Ia menutup beberapa berkas yang belum selesai dibaca, lalu meletakkannya di meja.

Mata elang itu melirik penunjuk waktu. Dua menit lewat dari pukul dua puluh dua.

Dahinya berkerut samar. Terlalu cepat untuk tidur. Bukan kebiasaannya. Namun panggilan kantuk itu kali ini seperti tak bisa ditunda.

Sagara berpindah ke sofa. Duduk dengan posisi rileks.

Tak butuh waktu lama sebelum kesadarannya terampas.

Ia Tidur.

Sudah berpuluh malam ia lalui dengan sulit tidur--hampir tidak pernah benar-benar terlelap. Malam ini justru berbeda. Tidurnya jatuh dalam, nyaris seperti seseorang yang baru saja menemukan tambang emas.

Sayang sekali.

Tidur yang terasa begitu berkualitas itu terusik oleh dering telepon yang lupa ia senyapkan.

Sagara membuka mata dengan napas berat. Tangannya meraih ponsel di meja.

“Sedang susah tidur, kan? Butuh bantuan?”

Suara Agam terdengar santai di ujung sana.

Sagara tidak langsung menjawab. Ia mengatur napasnya sebentar.

“Gak bisa ditunda besok?”

“Hal penting. Gak bisa ditunda.”

Sagara memijit pelipisnya pelan.

“Langsung saja,” katanya datar. “Pastikan nilai infomu setara satu miliar.”

Agam sempat terhenyak, lalu tertawa pendek. Ia tahu bagi Sagara, waktu selalu lebih mahal daripada uang.

Namun yang dirasakan Sagara saat ini sedikit berbeda.

Bisa tidur pulas seperti tadi rasanya justru lebih berharga dari sekadar satu tanda tangan kontrak.

Keuntungan bisnis selalu datang dan pergi.

Tapi tidur nyenyak--itu sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.

“Analis lab AMC itu sudah ketemu jejaknya,” kata Agam tanpa banyak pembuka. “Mantan pacar Ariana.”

Sagara tidak menyela.

“Ia benar kabur ke Taiwan. Orangku melacaknya dari catatan keberangkatan bandara. Nama yang dipakai masih sama. Tidak terlalu pintar menyamarkan diri.”

Sagara bersandar sedikit di sofa. Matanya sudah sepenuhnya terbuka sekarang.

“Lanjut.”

Agam menarik napas pendek sebelum melanjutkan.

“Awalnya dia tidak mau bicara. Tapi hanya tekanan sedikit saja cukup membuatnya berubah pikiran.”

Sagara diam. Menunggu inti yang sebenarnya.

“Dia mengaku bukan bekerja sendiri.”

Kalimat Agam menggantung sesaat.

“Dia diperintah mengambil data medis Ariana di AMC. Aksesnya sebagai analis lab cukup untuk membuka sebagian sistem. Tapi dia tidak tahu harus melakukan apa dengan data itu sebelum seseorang menghubunginya.”

“Siapa?”

“Orang kepercayaan Ravendra.”

Hening sejenak di ruangan kerja itu.

Agam melanjutkan dengan nada tetap datar.

“Dia bilang tidak bertemu langsung dengan Ravendra. Hanya bicara lewat sambungan telepon. Tapi perintahnya cukup jelas."

Sagara tidak bereaksi.

Ekspresinya tetap sama seperti sebelumnya.

“Sebagai gantinya,” lanjut Agam, “dia dijanjikan uang dan posisi kerja di luar negeri. Setelah data itu diserahkan, dia diminta keluar dari AMC. Tiket ke Taiwan juga sudah disiapkan.”

“Dia bicara banyak?” tanya Sagara akhirnya.

“Hanya apa yang perlu kita dengar."

Sagara berjalan pelan menuju jendela.

Lampu-lampu taman masih menyala di luar sana.

“Rekaman pengakuannya ada,” tambah Agam. “Kalau perlu kita bisa menyeretnya pulang dari Taiwan.”

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya tertahan pada kegelapan malam di balik kaca.

“Tidak perlu,” katanya akhirnya.

“Kenapa?”

“Dia sudah melakukan bagian kecilnya.”

Sagara berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada yang lebih dingin.

"Jejaknya tidak sepenuhnya ditutupi. Dan dia terlalu mudah bicara, ini sudah dirancang."

"Artinya Ravendra sengaja membiarkan kita tahu?"

"Iya." Sagara menarik napas pelan.

"Ada instruksi lanjutan?"

"Cari tahu. Ravendra mendapat info inseminasi dari mana."

"Siap."

Sambungan ditutup. Sagara kembali duduk. Wajahnya tetap datar. Rahangnya tidak mengeras. Tatapannya tidak menajam. Tapi, satu kalimat terucap pelan.

"Ravendra. Kau ingin bermain denganku, aku tunjukkan permainan yang lebih seru."

...

...

Pagi kali ini berbeda. Sagara tidak sarapan di ruang makan seperti biasa. Sarapannya diantar ke ruang kerja. Ada pekerjaan yang ia tekuni sejak waktu shubuh tadi.

Pintu diketuk pelan. Ratri masuk dengan langkah tanpa suara. Di jarak yang terukur dari Sagara, langkahnya berhenti.

"Tuan." Kepala menunduk sebentar. Sikap hormat.

Sagara diam, hanya melihat saja.

Itu sebuah isyarat yang sudah dipahami oleh Ratri, untuknya langsung bicara.

"Tuan. Cctv di kamar nona Shafiya, tidak bisa diakses."

"Itu atas perintahku."

Ratri diam sejenak. "Saya tidak bisa leluasa memperhatikan nona Shafiya, tentang apa yang dibutuhkan."

"Jika ada, dia akan memberitahumu."

"Baik." Ratri mengangguk. Diam sejenak.

"Tentang parfum yang disiapkan untuk nona, tidak ada satupun yang disentuh."

Pada laporan Ratri kali ini, Sagara menegakkan punggung, menatap asistennya itu lebih lama.

"Tidak dipakai?"

"Tidak," jawab Ratri.

"Menurut Winda, nona Shafiya merasa mual dengan aroma parfum," lanjutnya.

Sagara diam. Pertanyaannya mulai lebih tajam. Jika bukan parfum yang dipakai Shafiya malam itu, lalu aroma apa darinya yang berhasil mengusir mual yang dialami Sagara.

Peristiwa semalam, di mana rasa nyeri dan mualnya berangsur hilang saat berdekatan dengan Shafiya dan mencium aroma lembut darinya, belum hilang dari pertanyaan Sagara.

Ia bukan orang yang mempercayai hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.

Bagi Sagara, setiap reaksi tubuh memiliki sebab. Setiap kejadian memiliki rantai penjelasan yang bisa ditelusuri. Tidak ada yang berdiri sendiri, apalagi sekadar kebetulan.

Jika sesuatu terjadi, maka ada faktor yang memicunya.

Dan jika mual itu hilang ketika Shafiya berada sangat dekat dengannya, maka jawabannya pasti ada pada sesuatu yang dimiliki perempuan itu.

Dugaannya semalam sederhana: parfum.

Itulah alasan ia memerintahkan Ratri mencari tahu parfum apa yang dipakai Shafiya.

Namun laporan yang baru saja ia dengar justru meniadakan kemungkinan itu.

Shafiya tidak menyentuh satu pun parfum yang disiapkan untuknya.

Tatapan Sagara kembali jatuh pada berkas di meja, tapi pikirannya tidak lagi di sana.

Jika bukan parfum… lalu aroma apa yang ia cium semalam?

Ratri menutup laporan, namun ia masih menunggu, sampai Sagara menyuruhnya kembali dengan isyarat tangan.

Hampir satu jam kemudian ketika pemilik wajah tampan dengan postur tinggi tegap itu keluar dari ruang kerja. Ia melintasi koridor dengan langkah yang rapi dan terukur. Asisten mengikuti tiga langkah di belakangnya dengan membawa tas kerja.

Hari ini ia berangkat ke kantor Adinata Holding setengah jam lebih lambat dari biasanya.

Di salah satu uang yang cukup luas, seseorang telah duduk di kursi tamu. Berdiri dengan sigap saat melihat langkah Sagara mendekat. Tersenyum, memberikan anggukan hormat.

"Dokter spesialis dari AMC, Tuan." Ratri memberitahukan. "Untuk pemeriksaan lanjutan nona Shafiya."

Sagara mengangguk. Memberi isyarat dengan tangan untuk dokter kembali duduk. Ia sendiri kembali melanjutkan langkah. Bersamaan dengan Ratri yang juga kembali ke ruangan dalam. Namun.

"Tunggu."

Satu kata dari Shafiya menahan langkah Sagara. Perempuan itu telah hadir di sana bersama Winda.

Sagara berhenti. Menoleh.

Shafiya mendekat. Mengambil jarak yang cukup, ia berhenti.

"Anda mau berangkat kerja?"

Sagara hanya mengangguk.

Shafiya diam sejenak, seperti ragu.

"Katakan saja."

"Saya minta waktunya sebentar."

"Untuk?"

Shafiya menatap dokter sejenak, lalu kembali beralih ke Sagara. "Saya ingin Anda, ada, saat saya menjalani pemeriksaan."

Ia tak ragu menyampaikan itu, meski tidak yakin Sagara akan bersedia.

Sagara diam sejenak. Menoleh pada Winda. "Asistenmu, ada." Penolakan halus.

Shafiya mengangguk. Bukan setuju.

"Dokternya laki-laki." Ia ucapkan itu dengan sedikit memelankan suara. "Saya tak biasa."

"Baik. Dokter akan kembali besok. Dokter spesialis perempuan." Sagara langsung memutuskan dengan cepat.

Shafiya menggeleng. "Tak baik, menyuruh dokter kembali sekarang, sebelum memeriksa." Perempuan itu diam sejenak.

"Saya hanya butuh Anda, ada, sebentar. Selama proses itu."

Sagara tak langsung menjawab. Permintaan itu baginya tidak berdasar. Juga hanya berpotensi membuang waktunya saja. Namun,

“Dokternya laki-laki." Shafiya mengulqng kalimat itu lagi. lebih pelan.

“Saya tidak terbiasa diperiksa dokter laki-laki tanpa didampingi lelaki yang halal bagi saya.”

Ruang itu seketika terasa lebih sunyi.

Sagara menatap Shafiya beberapa detik. Tidak ada perubahan berarti di wajahnya. Namun kata-kata perempuan itu jelas dipahaminya.

Halal.

Satu kata yang sederhana. Tapi di antara mereka, kata itu seperti mengingatkan kembali sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Status mereka.

Pernikahan itu.

Sagara mengalihkan pandangan sebentar ke arah dokter yang duduk menunggu dengan sikap profesional. Lalu kembali pada Shafiya.

“Hanya itu?"

Shafiya mengangguk.

“Iya, hanya ada. Sebentar saja.”

Sagara terdiam satu detik lagi. Seolah menimbang sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana.

Lalu ia berbalik.

“Baik."

Winda yang berdiri di samping langsung mengerti perubahan keputusan itu. Ia memberi isyarat kepada dokter untuk bersiap.

Sementara Sagara berjalan menuju ruang pemeriksaan tanpa mengatakan apa pun lagi.

Shafiya mengikuti di belakangnya.

Dalam benaknya, ia menyadari sesuatu yang cukup mengejutkan--Sagara tidak pernah benar-benar menolak permintaannya.

Hanya saja, cara Sagara selalu sama. Ia mengabulkan, tapi membuatnya terdengar seperti keputusan yang memang ia ambil sendiri.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!