NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pukul 18.55. Lima menit sebelum "jam malam" yang ditetapkan Kak Pandu berakhir, deru motor Arkan berhenti tepat di depan pagar. Suasana malam itu terasa berbeda; ada debaran manis yang tertinggal dari pameran arsitektur tadi, dan ada kehangatan yang menjalar dari jemariku yang baru saja dilepaskan Arkan.

Begitu pintu depan terbuka, Kak Pandu sudah berdiri di sana. Bukan dengan wajah garang, melainkan dengan gaya khasnya: bersandar di pintu sambil melipat tangan, mengenakan kaos oblong dan celana pendek, lengkap dengan tatapan menyelidiki yang jenaka.

"Pas jam tujuh kurang lima menit. Disiplin juga lo, Kapten," celetuk Kak Pandu sambil melirik jam dinding.

Arkan turun dari motor, melepas helmnya, dan berjalan mendekat ke arah teras. Ia tidak tampak gemetar seperti tadi siang. Sebaliknya, ada binar kepercayaan diri yang baru di matanya.

"Gue asuransi terpercaya, Ndu. Nggak mungkin telat," balas Arkan santai.

Namun, mata tajam Kak Pandu tidak bisa dibohongi. Ia beralih menatapku, lalu tatapannya jatuh pada pergelangan tanganku yang masih melingkar ban kapten, dan kemudian ke arah tangan Arkan yang sempat ragu sebelum akhirnya meraih jemariku lagi di depan Kak Pandu.

"Bentar, bentar..." Kak Pandu maju selangkah, menyipitkan mata. "Bau-baunya ada yang baru jadian nih? Udah nggak ada tembok Berlin lagi di antara kalian?"

Wajahku memanas seketika. "Kak Pandu, apaan sih!"

Arkan justru tertawa rendah, lalu menoleh padaku sebelum kembali menatap Kak Pandu dengan serius. "Ndu, gue mau lapor. Bab pertamanya udah resmi ditulis. Gue nggak cuma minta izin ajak jalan lagi ke depannya, tapi gue minta izin buat jagain Nara... sebagai pacarnya."

Hening sejenak. Aku menahan napas, menunggu reaksi kakak sepupuku yang satu ini.

"CIEEEEEEE! AKHIRNYA!" teriak Kak Pandu tiba-tiba, suaranya menggelegar sampai Mama keluar dari dapur. "Gue tahu! Gue udah taruhan sama Tasya kalau hari ini bakal pecah telor!"

Mama yang baru muncul hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lebar. "Pandu, jangan berisik, malu sama tetangga."

Kak Pandu menghampiri Arkan, lalu merangkul bahunya dengan sangat keras hingga Arkan terhuyung. "Gue seneng, Ar. Tapi inget omongan gue tadi siang. Sekarang status lo naik, jadi tanggung jawab lo juga naik. Kalau Nara sedih, bukan cuma rekaman game lo yang viral, tapi gue kunciin lo di luar pager tiap kali mau apel!"

"Siap, Kakak Ipar!" canda Arkan yang langsung dihadiahi jitakan sayang dari Kak Pandu.

Mama berjalan mendekat, mengusap bahuku lembut. "Mama ikut senang, Nara. Arkan, terima kasih ya sudah bikin anak Mama senyum lagi hari ini."

"Sama-sama, Tante. Ini baru permulaan," jawab Arkan tulus.

Malam itu, setelah Arkan pamit pulang dengan senyum yang tak kunjung luntur, Kak Pandu menahan langkahku di tangga. Ia menatapku dengan tatapan kakak yang benar-benar bangga.

"Ra," panggilnya pelan. "Gue seneng liat lo berani buat bahagia lagi. Arkan itu orang baik. Dia satu-satunya orang yang nanya ke gue gimana cara bikin lo ketawa, bukan gimana cara bikin lo suka sama dia. He's a keeper."

Aku memeluk Kak Pandu erat—pelukan terima kasih karena selama ini dia sudah menjadi benteng sementara sebelum Arkan datang. "Makasih, Kak. Makasih udah jagain gue sampai Arkan nemuin gue."

"Dih, melow! Udah sana masuk kamar, cuci muka! Bau parfum Arkan tuh nempel semua di jaket lo," godanya sambil tertawa dan lari menuju dapur.

Di dalam kamar, aku merebahkan diri sambil menatap gantungan kunci Daisy di tas sekolahku. Malam ini, aku menyadari bahwa cinta bukan hanya tentang dua orang, tapi juga tentang mereka yang memberikan ruang agar cinta itu bisa tumbuh dengan aman.

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!