NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: PESAN PERJODOHAN.

​"Valerie, kau sudah kembali?" tanya Julian dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, membuat beberapa mahasiswi lain menoleh iri. "Tolong pastikan bagian bahuku terlukis dengan benar di kertasmu. Aku tidak ingin asisten riset Pak Revan salah menangkap detail anatomi."

​Valerie hanya mengangguk singkat tanpa suara, jemarinya mulai menggerakkan pensil di atas kertas. Namun, pikirannya sama sekali tidak ada di podium itu.

​Di mata Valerie, Julian mungkin tampak sempurna bagi dunia, tapi dia hambar bagi hatinya. Bayangan Julian yang tegap di depannya perlahan memudar, digantikan oleh memori tentang tangan kasar Revan yang melindunginya dari sudut meja, atau aroma kopi dan sandalwood yang menenangkan dari kemeja suaminya.

Julian mungkin cerdas, tapi Revan adalah sosok yang memahami setiap ketakutannya tanpa perlu ia ucapkan. Julian mungkin humoris, tapi hanya tawa rendah dan langka milik Revan yang mampu membuat Valerie merasa dunianya utuh kembali. Bagi Valerie, Revan bukan sekadar "pria dingin"; dia adalah rumah, benteng, dan napasnya.

"Val, lihat Pak Julian," bisik Karin, membuyarkan lamunan Valerie. "Dia menatapmu seperti singa yang menemukan rusa paling cantik di hutan. Kalau tatapan bisa membakar, kau sudah jadi abu sekarang."

Valerie melirik sekilas ke arah podium. Benar saja, Julian sedang tersenyum miring ke arahnya, sebuah senyum yang penuh dengan kepercayaan diri tinggi.

"Dia hanya sedang menjalankan tugasnya sebagai model, Karin," jawab Valerie datar.

"Model? Val, model itu biasanya menatap ke satu titik statis, bukan menatap satu mahasiswi sampai tidak berkedip!"

Julian kemudian mengubah posisinya, sengaja sedikit mendekat ke arah meja Valerie dengan alasan ingin melihat hasil sketsa. "Bagaimana progresnya? Apa kau kesulitan menangkap garis di leherku?"

Julian membungkuk, wajahnya cukup dekat dengan Valerie, mencoba membangun chemistry spontan yang biasanya berhasil menaklukkan wanita mana pun. Namun, Valerie justru menggeser duduknya, menciptakan jarak yang sangat jelas.

"Sudah cukup bagus, Pak. Saya rasa saya sudah mendapatkan semua detail yang saya butuhkan," ucap Valerie dingin, matanya menatap Julian dengan tegas, menunjukkan bahwa tidak ada celah bagi pria itu untuk masuk.

Julian tertegun sejenak. Penolakan halus namun telak itu justru membuat egonya semakin tertantang.

Malam itu, suasana apartemen terasa jauh lebih hangat dibandingkan dinginnya koridor kampus. Aroma bawang putih yang ditumis dan saus rosemary mulai memenuhi ruangan. Revan, yang sudah menanggalkan kemeja formalnya dan hanya mengenakan kaos hitam santai dengan lengan digulung, tampak sangat terampil memegang pisau dapur.

​Valerie berdiri di sampingnya, bertugas mencuci sayuran di wastafel. Namun, pikirannya masih melayang pada tatapan intens Julian di studio tadi.

​"Erie, fokus," tegur Revan lembut namun tegas.

​Valerie tersentak. Tanpa sadar, ia hampir menyentuh bagian tajam dari alat pengupas wortel. Sebelum hal itu terjadi, tangan besar Revan sudah lebih dulu menyambar pergelangan tangannya, menariknya menjauh dari benda logam itu.

​"Sudah kubilang, biarkan aku saja yang mengerjakan semuanya. Kau cukup duduk dan menunggu," ucap Revan. Ia mengambil alih pengupas wortel itu dan meletakkannya jauh dari jangkauan Valerie. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang kaku—khas seorang Revanza. "Tanganmu itu untuk melukis, bukan untuk terluka karena sayuran."

​Valerie tersenyum tipis, hatinya menghangat melihat sisi protektif suaminya. "Aku hanya mencuci brokoli, Mas. Tidak akan terluka."

​Revan tidak menjawab, ia kembali fokus memotong daging dengan presisi seorang ahli bedah. Namun, setelah beberapa saat keheningan yang nyaman, ia akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya.

​"Jadi... apa yang terjadi setelah kau kembali ke studio?" tanya Revan tanpa menoleh, suaranya terdengar berusaha tetap kasual, meski Valerie tahu suaminya sedang menuntut laporan lengkap.

​"Tidak ada yang spesial. Aku hanya melanjutkan sketsa," jawab Valerie sambil menata sayuran yang sudah bersih.

​"Benarkah? Bimo bilang Julian tetap di sana sampai kelas usai. Dan dia tetap menjadi modelmu?" Revan menghentikan aktivitas pisaunya sejenak, menoleh ke arah Valerie dengan tatapan yang menyelidik. "Apa dia bicara sesuatu padamu? Atau... menatapmu lagi dengan cara yang tidak sopan?"

​Valerie tertawa kecil, ia mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu tegap Revan. "Dia memang bicara sedikit, menanyakan soal detail anatomi lehernya. Tapi aku hampir tidak mendengarkannya, Mas."

​Revan mendengus dingin, meski ia membiarkan Valerie bersandar di bahunya. "Anatomi leher? Pria itu benar-benar narsis. Harusnya dia tahu kalau anatomi hukum jauh lebih rumit untuk kau pelajari."

​"Tapi kau tahu, kan? Di mataku, tidak ada model anatomi yang lebih bagus daripada pria yang sedang menumis daging untuk istrinya sekarang," goda Valerie, mendongak menatap dagu tegas Revan.

​Mendengar itu, pertahanan Revan runtuh. Ia meletakkan pisaunya, berbalik sepenuhnya menghadap Valerie, dan memerangkap gadis itu di antara meja dapur dan tubuhnya. Tangannya yang hangat membelai pipi Valerie dengan sangat lembut.

​"Aku serius, Erie," bisik Revan, suaranya rendah dan dalam. "Julian bukan pria yang terbiasa ditolak. Dia akan terus mencoba mencari perhatianmu. Aku tidak ingin kau merasa tertekan, tapi aku juga tidak ingin kau memberikan celah sekecil apa pun untuknya."

​"Aku tidak akan memberinya celah, Mas. Bagiku, dia hanya orang asing. Kau adalah segalanya," jawab Valerie tulus.

​Revan menatap mata Valerie cukup lama, mencari keraguan di sana dan tidak menemukannya. Ia kemudian mengecup kening Valerie lama, seolah sedang menyegel janji. "Bagus. Karena jika dia berani melangkah lebih jauh, aku tidak akan lagi peduli pada etika sesama dosen di kampus itu."

Tiba-tiba, ponsel Valerie yang tergeletak di atas meja bar bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Karin muncul di layar, cukup panjang hingga sebagian isinya bisa terbaca dengan jelas oleh Revan yang sedang berdiri tepat di sampingnya.

[Karin: VAL!!! Kabar gembira! Tadi setelah kelas usai, Pak Julian menghampiriku dan bertanya soal kamu. Karena aku kasihan melihatmu sendirian terus, aku langsung berikan nomor ponselmu ke dia! Dia senang sekali, Val! Sepertinya dia benar-benar tertarik. Siap-siap ya, aku rasa kalian cocok sekali. Misi perjodohan dimulai!]

Dapur yang tadinya hangat dan penuh aroma masakan, seketika berubah menjadi sunyi mencekam. Valerie merasa aliran darahnya membeku saat ia melirik ke arah Revan.

Pria itu terdiam. Tangannya yang sedang memegang sudip kayu berhenti bergerak di atas wajan. Matanya tertuju lurus pada layar ponsel Valerie yang masih menyala, menampilkan pesan dari Karin yang seolah-olah menjadi surat pernyataan perang.

"Dijodohkan?" tanya Revan. Suaranya sangat rendah, jenis suara yang biasanya ia gunakan tepat sebelum menjatuhkan vonis di ruang sidang.

"Mas... itu Karin hanya asal bicara," cicit Valerie panik. Ia segera menyambar ponselnya dan mematikannya, namun kerusakan sudah terjadi.

Revan perlahan mematikan kompor, suaranya yang tenang justru terasa jauh lebih mengancam daripada teriakan. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Valerie, menyandarkan tubuhnya pada meja dapur sambil bersedekap. Binar cemburu yang tadinya sudah padam, kini kembali berkobar dengan intensitas yang lebih "ganas".

"Jadi, sahabatmu sekarang merangkap menjadi makelar cinta untuk pria narsis itu?" Revan melangkah maju, mempersempit jarak hingga Valerie terdesak ke arah wastafel. "Dan dia bahkan sudah memegang nomor ponsel pribadimu."

"Aku tidak tahu kalau Karin akan memberikan nomor itu, Mas! Sumpah, aku akan memarahinya besok," Valerie mengangkat kedua tangannya, mencoba meredam amarah suaminya.

Revan tidak melepaskan tatapannya. Ia meraih ponsel Valerie dari tangannya, meletakkannya kembali ke meja, lalu mengunci pinggang Valerie dengan kedua tangannya yang masih hangat.

"Julian punya otak yang cerdas, wajah yang dia banggakan, dan sekarang dia punya akses langsung untuk menghubungimu," bisik Revan tepat di telinga Valerie, deru napasnya terasa panas. "Apa kau tahu betapa inginnya aku pergi ke rumah Karin sekarang dan mengingatkannya bahwa menjodohkan istri orang adalah sebuah tindak pidana moral?"

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!