NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 : Sayap yang patah

Akhir pekan seharusnya menjadi waktu bagiku untuk melepaskan segala lelah yang menghimpit, setelah banyak ditekan di asrama dan juga sekolah ,sebuah jeda dari hiruk-pikuk asrama dan tekanan di sekolah. Namun bagiku, pulang ke rumah bukanlah sebuah ketenangan yang dinanti-nanti. Aku sering berharap bahwa ketika aku melangkah melewati pintu depan, aku akan disambut oleh kehangatan pelukan seorang ibu, sebuah tempat di mana aku tidak perlu lagi membangun dinding pertahanan yang tebal. Namun, realitinya selalu jauh dari keinginanku.

Baru saja aku meletakkan tas pakaianku yang berat di lantai ruang tamu, suara ibu sudah melengking tajam dari arah dapur, menghilangkan keheningan rumah.

"Hanie! Itu adik menangis kenapa? Kamu ini, baru saja pulang sekolah pun tidak bisa menjaga adik sebentar? Enggak guna banget sih jadi anak!"

Aku terdiam mematung di dekat tas. Napasku masih memburu karena baru saja berjalan dari perhentian bus, dan aku bahkan belum sempat meneguk air minum untuk membasahi kerongkonganku yang kering. Di depanku, adikku yang memang sedang lasak-lasaknya bermain di depan TV tiba-tiba terjatuh karena ia berlari terlalu kencang dan tersandung kakinya sendiri. Namun, seperti biasa, akulah yang harus menanggung kesalahannya.

"Ibu. Dia yang jatuh sendiri," balasku dengan suara pelan, mencoba membela diri sehalus mungkin agar tidak memicu api yang lebih besar.

"Menjawab saja! Kamu itu yang sudah besar, seharusnya bisa memperhatikan adikmu. Ini tidak, pulang dari asrama wajah selalu masam saja. Kamu pikir kamu saja yang lelah ? Ibu di rumah ini jauh lebih lelah!"Ibu terus mengomel dan menjerit tanpa sedikit pun niat untuk mendengar penjelasanku. Kata-katanya mengalir deras, menghujam hatiku yang memang sudah penuh dengan luka.

Aku menunduk dalam-dalam. Rasa sesak yang kupendam sejak kejadian di depan papan tulis sekolah tadi pagi kini semakin menghimpit dada. Rasanya seperti ada sebongkah batu besar yang menindih paru-paruku. Aku sangat ingin bercerita tentang betapa jahatnya Devian Azka hari ini, betapa pedihnya hatiku melihat Syasya dan Hilya yang kini semakin menjauh seolah aku adalah orang asing. Namun, melihat wajah ibu yang bengis dan kayak kecapean, niat itu mati seketika. Lidahku kelu, dan keluhan yang ku ingin ceritakan seperti hilang.

Aku tahu persis apa yang akan dikatakan jika aku berani membuka mulut. Dia juga pasti enggak mahu tahu.Pasti dia akan bilang...Wajah itu senyumlah sedikit, pantas saja teman-teman tidak suka padamu." Pikiran itu membuat hatiku semakin perih. Bahkan di rumah sendiri, aku dianggap sebagai penyebab dari semua kesialan yang berlakum

Aku berbalik, menyeret langkah kakiku yang terasa berat menuju kamar. Aku menutup pintu rapat-rapat, memutar kunci dengan pelan seolah takut suara kliknya akan memancing omelan Mak lagi. Aku merosot di lantai, menyandarkan punggungku pada sisi tempat tidur yang keras.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mengeluarkan cermin kecil dari saku celanaku. Cermin itu adalah satu-satunya saksi bisu dari seluruh kerapuhanku. Aku menatap pantulan diriku sendiri; mata yang sembab, wajah yang kuyu, dan binar yang seolah sudah lama padam.

"Di sekolah tidak punya teman... di rumah ibu selalu menyalahkanku. Aku harus pergi ke mana lagi, Hanie?" bisikku lirih pada pantulan diri di cermin itu.

Pada saat itu, aku merasa duniaku mengecil. Aku merasa seolah-olah seluruh semesta ini memang diciptakan hanya untuk membenciku. Di sekolah, aku dianggap sampah oleh kelompok Arif dan Azka. Tiada teman dan sentiasa dikhianati.Di rumah, kehadiranku hanya dianggap sebagai beban tambahan bagi Mak. Seolah-olah tidak ada satu jengkal tanah pun di dunia ini yang bersedia menerimaku apa adanya tanpa tuntutan.

Di asrama, setidaknya aku masih memiliki Kak Qasrina yang bersedia meminjamkan telinganya untuk mendengar keluh kesahku. Namun, untuk bertemu dengannya, aku harus menunggu akhir pekan berakhir. Di rumah ini, di tempat yang seharusnya menjadi dermaga paling aman, aku justru merasa seperti orang asing yang tak diinginkan. Aku memegang cermin itu kuat-kuat, merasakannya di telapak tanganku. Cermin inilah yang tahu persis berapa banyak air mata yang tumpah setiap kali Mak melontarkan kata-kata tajam. Cermin ini pula yang melihat betapa kerasnya aku berusaha menjadi anak yang berbakti, mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa mengeluh, namun tetap saja di mata Mak, aku tidak pernah cukup baik.

Tiba-tiba, ponsel yang kuletakkan di lantai bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Dengan malas aku meraihnya, namun mataku seketika memanas saat melihat nama pengirimnya: Kak Qasrina.

“Hanie, baik-baik saja kan di rumah? Jangan sedih terus ya. Kakak ada di sini kalau kamu butuh teman bicara.”

Tangisku pecah seketika. Aku menangkupkan wajah ke lutut, membiarkan bahuku berguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan. Mengapa orang lain yang bahkan tidak memiliki ikatan darah denganku bisa jauh lebih memahami getaran hatiku dibandingkan ibuku sendiri? Mengapa sebuah pesan singkat dari asrama terasa lebih hangat daripada seluruh ruang di rumah ini?

Rasa rinduku pada asrama, terutama pada Bilik 7, tiba-tiba melonjak tajam. Di sana, meski aku tetap harus menghadapi perundungan dari teman sekelas, setidaknya aku tidak perlu merasa seperti seorang pesalah di depan orang yang melahirkanku. Aku ingin cepat-cepat kembali, ingin segera melarikan diri dari tatapan menghakimi Mak dan kembali ke tempat di mana aku bisa menghilang dalam kesunyian tanpa harus merasa bersalah karena sekadar bernapas.

Malam itu, di bawah remang lampu kamar, aku menyadari bahwa luka yang paling dalam bukanlah yang diberikan oleh musuh di sekolah, melainkan luka yang ditorehkan oleh tangan yang seharusnya melindungi kita. Aku meringkuk di lantai yang dingin, memeluk diriku sendiri, sambil terus menggenggam ponsel yang berisi pesan dari Kak Qasrina satu-satunya pelampung yang menjagaku agar tidak tenggelam sepenuhnya dalam lautan keputus asaan ini.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!