NovelToon NovelToon
The Crimson Legacy

The Crimson Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyeberangan Dunia Lain / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BlueFlame

‎Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.

‎Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.

‎Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.

‎Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.

‎Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.

bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12. Makan malam

Maya memasuki kamar Valerine dan mendapati sang nyonya sedang duduk anggun di depan meja rias. Gaunnya telah terpasang sempurna, perhiasan berkilau lembut di bawah cahaya lilin, dan wajahnya sudah dirias dengan rapi.

“Yang Mulia, Anda sungguh luar biasa,” puji Maya tulus.

Valerine hanya mengangguk pelan. Ia hendak berdiri, namun Maya segera menahan langkahnya.

“Sebentar, Yang Mulia. Anda memang sudah sangat cantik, tetapi masih ada yang perlu diperbaiki.”

Valerine menarik napas sabar. “Apa lagi yang kurang?”

Maya tersenyum tipis, lalu memutar kursi Valerine agar menghadap cermin sepenuhnya. “Rambut Anda. Gaya ini terlalu formal untuk makan malam bersama suami sendiri. Anda terlihat seperti hendak menghadiri pertemuan resmi dengan rekan kerja.”

Valerine mendengkus pelan. “Mengapa harus memikirkan hal seperti itu? Arthur pun belum tentu peduli.”

“Walaupun begitu, apa salahnya mencoba?” balas Maya lembut sembari merapikan helaian rambut Valerine, mengubahnya menjadi tatanan yang lebih lembut dan tidak terlalu kaku. “Jika Yang Mulia dan Archduke terus bersikap seperti ini, kapan penerus arcduchy akan lahir?”

Valerine memutar matanya. “Itu mudah. Aku hanya perlu meminta Arthur mengangkat seorang selir. Anak darinya bisa menjadi penerus.”

Maya terbelalak dan segera berlutut. “Yang Mulia, jangan berkata demikian. Hamba mohon, jangan pernah mengajukan permintaan seperti itu kepada Archduke. Bisa berbahaya jika benar-benar dikabulkan.”

Valerine mengerutkan kening. “Apa peduliku? Hampir semua bangsawan pria memiliki selir, bukan?”

“Iya, tetapi—”

Ucapan Maya terpotong. Valerine menyeringai tipis. “Bagaimana kalau kau saja yang menjadi selirnya?”

Maya semakin pucat dan bersujud lebih dalam. “Demi para dewa, Yang Mulia, lebih baik Anda menggorok leher hamba sekarang juga.”

Valerine tertawa pelan. “Tenanglah. Aku hanya bercanda.”

Maya menghela napas lega dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah beberapa saat, ia berkata pelan, “Namun menurut hamba, Archduke cukup penurut ketika bersama Anda.”

Valerine mengerutkan kening. “Penurut?”

“Walaupun terkadang beliau tampak tidak peduli, setiap permintaan Anda selalu dipenuhi. Bahkan yang tidak masuk akal sekalipun.”

Valerine terdiam. Ia tidak dapat menyangkalnya.

“Hamba masih ingat,” lanjut Maya, “ketika Anda berkata ingin memakan buah gar. Tiga hari kemudian buah itu sudah tersedia di istana. Padahal kita semua tahu buah itu tidak dijual bebas dan hanya dikonsumsi keluarga kekaisaran di Benua Barta.”

Valerine memalingkan wajahnya dari cermin. Kenangan itu memang benar. Ia juga pernah meminta Arthur untuk tidak pergi ke perbatasan, dan anehnya, ia benar-benar tinggal di istana. Meski sikapnya kerap dingin dan kerap memanfaatkan Valerine sebagai bagian dari strategi politiknya, Arthur tak pernah menolak permintaannya.

Valerine bangkit dari kursinya. “Sudah selesai?”

“Sudah, Yang Mulia.”

Tanpa menoleh lagi, Valerine berjalan menuju pintu. “Aku sudah terlambat.”

Gaunnya berayun lembut seiring langkahnya, sementara Maya hanya bisa menatap punggung sang nyonya dengan campuran harap dan cemas. Dia menengadah keatas dan berdoa.

"Ya dewa, sebenarnya kapan tepatnya tuan muda ku akan lahir?"

...***...

Dining Hall Utara adalah ruangan yang jauh lebih intim dibandingkan Grand Hall utama yang biasa digunakan untuk jamuan resmi. Di tengah ruangan terdapat meja bundar dari kayu oak yang cukup untuk empat orang, dihiasi lilin-lilin kecil yang melayang dengan bantuan sihir, memancarkan cahaya keemasan yang lembut dan hangat.

Jendela besar menghadap taman bagian dalam kastel. Bunga-bunga night jasmine mulai bermekaran, aromanya samar menyusup melalui celah jendela yang sedikit terbuka, menambah suasana tenang pada malam itu.

Arthur tiba lebih dahulu. Ia mengenakan pakaian semi-formal: kemeja putih bersih dengan rompi hitam yang pas di tubuhnya, rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Tiga puluh menit sebelumnya ia telah meminum Energy Restoration Pill, sehingga tubuhnya setidaknya dapat berfungsi dengan baik selama beberapa jam ke depan.

Ia duduk di salah satu kursi dan menghela napas perlahan.

Makan malam pribadi, pikirnya. Pertama kalinya… setidaknya bagiku.

Ia menenangkan diri.

Ini bukan jamuan kenegaraan dengan pemimpin asing. Ini hanya makan malam bersama istriku. Tidak perlu tegang.

Pintu terbuka.

Arthur berdiri secara refleks—kebiasaan lama yang terbentuk dari etika formal yang telah lama ia pelajari.

Dan Valerine melangkah masuk.

Untuk sesaat, Arthur hampir lupa bernapas.

Ia telah melihat Valerine sebelumnya—di perpustakaan, juga melalui serpihan ingatan yang bukan sepenuhnya miliknya. Namun tetap saja, ia tak mampu menahan kekaguman. Gaun yang dikenakannya malam itu tampak lebih lembut, tidak sekaku biasanya. Rambutnya ditata sederhana namun elegan, membingkai wajahnya yang anggun.

Mata peraknya menatap Arthur, lalu sedikit mengerut.

“Kenapa kau berdiri?” tanyanya datar. “Sejak kapan kau punya tata krama?”

Arthur tersenyum tipis, berusaha tetap santai.

“Sejak aku menyadari bahwa tata krama itu gratis dan membuat hidup lebih menyenangkan.”

Valerine tidak menjawab.

Valerine berjalan menuju kursi di seberang Arthur dengan langkah anggun dan terukur. Ia duduk dengan postur sempurna—punggung tegak, dagu sedikit terangkat, kedua tangan terlipat rapi di pangkuannya.

Arthur baru ikut duduk setelah Valerine benar-benar menyesuaikan posisinya.

Keheningan pun menyelimuti ruangan.

Canggung dan tegang.

Seperti dua diplomat dari negara yang baru saja menandatangani gencatan senjata—tidak yakin apakah perdamaian ini tulus atau sekadar jeda sebelum konflik berikutnya.

Seorang pelayan wanita muda masuk mendorong troli perak. Seragamnya rapi, gerakannya terlatih. Ia menyajikan hidangan pembuka di hadapan mereka, salad segar dengan saus vinaigrette ringan, roti hangat dengan mentega herbal, serta sup krim lembut dengan taburan truffle di atasnya.

“Terima kasih,” ucap Arthur dengan nada sopan.

Pelayan itu tampak terkejut. Matanya sedikit membesar sebelum ia tersenyum kecil dan membungkuk hormat. “Sama-sama, Yang Mulia,” jawabnya pelan sebelum meninggalkan ruangan.

Valerine menatap Arthur dengan mata menyipit tipis.

Arthur yang lama tak pernah mengucapkan terima kasih pada pelayan.

Namun Valerine memilih untuk tidak berkomentar.

Mereka menyantap hidangan pembuka dalam diam. Hanya terdengar bunyi sendok menyentuh porselen dan sesekali suara gelas yang diangkat lalu diletakkan kembali di atas meja.

Arthur mencoba mengingat berbagai keterampilan negosiasi yang pernah ia pelajari. Cara membuka percakapan yang sulit dan mencairkan ketegangan tanpa memancing keributan.

Percakapan ringan. Mulai dari hal sederhana.

“Bagaimana harimu?” tanyanya dengan nada santai, berusaha terdengar natural.

Valerine tidak mengangkat pandangannya dari mangkuk sup.

“Produktif,” jawabnya dingin.

“Tanpamu.”

Arthur hampir tersedak.

Ia buru-buru menegakkan punggung dan meletakkan sendok dengan hati-hati.

Baiklah, batinnya. Ini seperti negosiasi tingkat tinggi.

Namun ia tidak menyerah.

“Senang mendengarnya,” jawabnya tenang, tidak menunjukkan rasa tersinggung sedikit pun.

Valerine hanya mengangguk kecil dan kembali fokus pada makanannya.

Tak lama kemudian, pelayan kembali untuk mengangkat piring hidangan pembuka dan menggantinya dengan hidangan utama.

Steak tenderloin sapi dengan saus jamur kental tersaji di atas piring putih besar, ditemani asparagus panggang dan kentang tumbuk lembut yang diberi minyak truffle. Aroma daging yang dimasak sempurna memenuhi ruangan, hangat dan menggoda.

Arthur menatap potongan steaknya—tebal, berwarna kemerahan lembut di bagian tengah, dimasak medium rare dengan sempurna.

Untuk sesaat, bahkan ketegangan di antara mereka terasa kalah oleh aroma hidangan yang luar biasa itu.

Perut Arthur kembali mengingatkannya bahwa ia hampir tidak makan seharian karena tekanan dan kelelahan. Ia mengambil pisau dan garpu, lalu mulai memotong steaknya.

Namun gerakannya melambat saat ia menyadari sesuatu.

Valerine tidak langsung makan. Ia mengambil pisau dan garpu dengan gerakan elegan dan terlatih, lalu mulai memotong steaknya sendiri. Bukan potongan biasa—melainkan potongan kecil-kecil. Sangat kecil. Seragam. Rapi.

Seperti makanan yang dipersiapkan untuk anak kecil.

Atau untuk orang tua yang kesulitan mengunyah.

Atau mungkin untuk seseorang yang terlalu lemah untuk menghabiskan energi pada potongan besar.

Arthur berhenti.

Ia memperhatikan dengan saksama.

Valerine memotong seluruh steak itu menjadi kubus-kubus kecil dengan presisi nyaris berlebihan. Setelah selesai, ia merapikan susunannya di atas piring, memastikan jaraknya hampir sama satu sama lain.

Lalu ia meletakkan pisau, mengambil garpu—

Dan berhenti.

Ia merasakan tatapan Arthur.

“Apa?” tanyanya defensif, mata peraknya menatap tajam.

Arthur tersenyum kecil. Senyuman yang tulus, tanpa sedikit pun nada mengejek.

Saatnya bersikap sedikit tidak tahu malu, pikirnya.

“Kau memotong steakmu sangat kecil.”

“Dan?” Valerine mengangkat dagu. “Itu preferensiku. Aku suka potongan kecil. Lebih mudah untuk—”

“Untuk orang sakit makan,” potong Arthur lembut. “Agar mereka tidak perlu mengunyah terlalu keras. Dan menghemat lebih banyak energi.”

Valerine membeku.

Untuk sepersekian detik—hanya sepersekian detik—ekspresinya menunjukkan sesuatu seperti kepanikan. Seperti seseorang yang tertangkap basah melakukan hal yang seharusnya tidak diketahui.

Tapi ekspresinya kembali netral dengan cepat.

"Oh... Sepertinya tebakan randomku benar."

“Jangan narsis,” katanya dingin. “Aku memotong seperti ini karena aku suka. Bukan untukmu.”

“Mm-hm.” Arthur mengangguk pelan, senyumnya tak hilang. “Tentu saja.”

“Aku serius.”

“Aku percaya.”

“Kau tidak terdengar percaya!”

Arthur akhirnya meletakkan pisau dan garpunya, menatap Valerine dengan tatapan yang sebenarnya biasa saja—namun di mata valerine tatapan itu seperti tatapan mengejek..

“Valerine,” ujarnya pelan, “yang bermasalah adalah tubuhku, bukan gigiku. Aku masih bisa mengunyah dengan baik. Kau tidak perlu memotong makananmu sendiri sekecil itu.”

“Aku bilang ini bukan untukmu!” Suaranya hampir meninggi, namun ia segera mengendalikan diri. Latihan aristokrat menahannya tepat sebelum volume itu keluar dari batas pantas. “Ini untuk diriku sendiri. Aku memang suka potongan kecil sejak dulu. Itu preferensi pribadi yang—”

Kalimatnya terhenti saat Arthur berdiri.

...***...

1
Xiao Ling Yi
Imutnya~
Xiao Ling Yi
Kurangg/Frown/
Xiao Ling Yi
Semangat updatenya Thor~/Smile/
Fel N: Makasih banyak, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Kawaii😍
Fel N: 🤭🤭🤭😅😅
total 1 replies
Khns_
setting yang detail, penjelasan yang rinci di setiap kejadian, bahasa yang enak dibaca, dan penggambaran karakternya yang joss bgt sih yg bikin betah baca 1 bab lagi, lagi, dan lagi.
Fel N: Makasih banyak, kak.😭😭😭🥰🥰🥰
total 1 replies
Khns_
kakak author update tiap kapan ya?
Fel N: Tiap hari, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
blueberry
lucu bgt pasangan ini🤭
Fel N: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Satu banget nih Thor?/Grievance/
blueberry
semangat thor up nya
Fel N: makasih kak 🥰🥰☺️☺️☺️
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Suka banget sama ceritanya, semangat!!/Smile/
Fel N: makasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Lanjut Kak Othor~!💪💪
Fel N: siap🥰🥰🥰☺️
total 1 replies
Jack Strom
Mantap... 😁
anak panda
🔥🔥🔥
Jack Strom
Keren... 😁
anak panda
gasss up 2-3 bab🔥🔥🔥
🤭🤭
Fel N: Semoga bisa yah kak🥰
total 1 replies
anak panda
lanjutt
Jack Strom
Wow... Keren... 😁😁😛😛😛
Jack Strom
Bikin Penasaran... 😁😛😛😛
Fel N: makacih 🥰
total 1 replies
Jack Strom
Mantap!!! 😁😛😛😛
Jack Strom
Eh... Tubuh Arturian itu biologis apa cyborg kah... 🤔🤔🤔...😛😛😛😛
Fel N: biologis kak😭. Nanti bakal ada penjelasan tentang world building nya. jadi bersabarlah kak Jack .🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!