NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Pagi itu, suasana di meja makan terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya sampai Amara muncul dari balik lorong kamar. Ia tidak memakai seragamnya dengan cara yang biasa—yang biasanya hanya disisir rapi atau diikat ekor kuda seadanya.

Kali ini, Amara mengepang rambut panjangnya dengan rapi di satu sisi, dan di bagian belakang, sebuah jepitan pita berwarna putih tulang bertengger manis, senada dengan warna kemeja seragamnya. Wajahnya juga tampak sedikit lebih segar dengan sapuan lip balm yang memberikan rona alami.

Uhuk! Uhuk!

Ryan yang sedang asyik menyeruput teh hangatnya tiba-tiba tersedak. Ia terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah, buru-buru menaruh gelasnya di meja.

"Lo... lo dandan, Dek?" tanya Ryan dengan mata membelalak. Ia menatap adiknya dari ujung kaki sampai ujung kepala seolah melihat alien yang baru mendarat di ruang makan mereka.

Bunda yang baru saja meletakkan piring nasi goreng juga ikut mematung. Tangannya masih memegang sutil, matanya berbinar-binar kagum sekaligus kaget. "Ya ampun, anak Bunda cantik sekali hari ini. Ada acara apa di sekolah, Ifa? Atau... mau ada janji sama seseorang?"

Amara memutar bola matanya, wajahnya memanas namun ia mencoba bersikap acuh tak acuh. Ia menyambar sepotong roti tawar dan mengolesnya dengan selai kacang secara terburu-buru.

"Apaan sih orang dua ini! Lebay banget!" seru Amara. "Aku lagi mau cari suasana baru aja biar nggak bete mikirin UTBK. Kata artikel yang aku baca, mengubah penampilan bisa ningkatin hormon kebahagiaan. Udah ya, aku berangkat dulu. Keburu siang!"

"Alasan! Bilang aja biar si Nicholas makin nggak kedip!" goda Ryan sambil tertawa kencang.

"Bodo amat, Bang!" Amara berteriak sambil berlari menuju pintu depan, meninggalkan Bunda dan Ryan yang masih saling pandang sambil tersenyum penuh arti.

Nicholas sudah berdiri di sana, bersandar pada motornya sesuai janjinya: jam setengah tujuh pagi. Ia sedang sibuk dengan ponselnya, mungkin membalas grup chat atau mengecek jadwal kuliah. Begitu ia mendengar suara pintu pagar yang terbuka, ia mendongak dengan gerakan santai.

Namun, detik berikutnya, Nicholas mematung.

Ponsel di tangannya hampir saja merosot kalau ia tidak segera menggenggamnya kuat. Matanya terpaku pada sosok Amara yang berjalan mendekat. Sinar matahari pagi yang jatuh tepat di rambut Amara membuat kepangan itu terlihat berkilau, dan pita kecil di belakangnya memberikan kesan feminin yang sangat kuat.

Amara berhenti tepat di depan Nicholas. Ia merasa canggung luar biasa karena Nick hanya diam menatapnya tanpa berkedip. "Kenapa? Aneh ya?" tanya Amara ketus untuk menutupi rasa malunya.

Nicholas berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke arah lain sejenak sebelum kembali menatap mata Amara. "Nggak. Nggak aneh."

"Terus kenapa liatnya kayak mau nelan orang gitu?"

Nicholas tiba-tiba melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk menarik Amara, melainkan untuk menyentuh ujung pita di rambut gadis itu dengan ujung jarinya.

"Pita ini..." Nick bersuara rendah, "siapa yang pasang?"

"Ya aku sendiri lah! Masa Bang Ryan," jawab Amara ketus.

Nick menyeringai tipis, sebuah seringai yang kali ini tampak sangat tulus. "Cantik. Tapi besok-besok nggak usah pake ginian kalau ke sekolah."

Amara mengernyit. "Lho, kenapa? Tadi katanya cantik!"

"Karena gue nggak mau makin banyak cowok yang gagal fokus pas liat lo jalan di koridor," desis Nick sambil mengambil helm dan memakaikannya ke kepala Amara. Kali ini, ia memasangkan talinya dengan sangat perlahan, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

Jantung Amara berdegup kencang. Ia bisa merasakan hembusan napas Nicholas di wajahnya. Nicholas benar-benar berbeda. Pria ini tidak lagi bersikap kasar, tapi cara dia menunjukkan posesifnya dengan nada lembut justru jauh lebih mematikan bagi pertahanan hati Amara.

Sepanjang perjalanan, Nicholas tidak memacu motornya dengan cepat. Ia seolah ingin menikmati waktu lebih lama dengan "pemandangan baru" di kaca spionnya. Sesampainya di gerbang sekolah, suasana sudah mulai ramai.

Begitu Amara turun dan melepas helm, beberapa teman sekolahnya yang baru sampai langsung melirik. Terutama para siswa laki-laki yang biasanya melihat Amara dengan penampilan yang sangat simpel.

"Wuih, Amara! Tampil beda nih, makin manis aja!" teriak salah satu teman seangkatan Amara dari kejauhan.

Wajah Nicholas langsung berubah mendung. Ia yang tadinya baru saja hendak menyerahkan helm, tiba-tiba menarik pergelangan tangan Amara pelan agar tetap berdiri di dekat motornya.

"Kenapa lagi?" tanya Amara heran.

Nicholas tidak menjawab Amara, melainkan memberikan tatapan tajam dan dingin—khas anak Teknik yang sedang menjaga wilayah—kepada gerombolan cowok tadi. Seketika, cowok-cowok itu langsung membuang muka dan mempercepat langkah masuk ke sekolah.

"Inget kata gue tadi. Jangan terlalu ramah sama orang," ucap Nick sambil merapikan sedikit kepangan Amara yang berantakan karena helm.

"Kak Nick, jangan mulai deh! Tadi kan cuma nyapa," protes Amara.

Nick menunduk, menatap Amara dengan intensitas yang membuat Amara terdiam. "Gue rela berubah jadi lebih sabar buat lo, Ra. Tapi jangan minta gue buat nggak cemburu. Itu bagian dari diri gue yang nggak bisa gue hapus."

Amara tertegun. Pengakuan itu terasa sangat jujur dan telanjang. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Udah, masuk sana. Belajar yang bener. Nanti pulang gue jemput lagi. Dan... jangan dilepas pitanya sampai gue jemput nanti sore," perintah Nick dengan nada yang tidak bisa dibantah, namun terdengar seperti permohonan.

Amara hanya bisa mengangguk pelan, lalu berbalik masuk ke gerbang sekolah. Tanpa ia sadari, tangannya menyentuh pita di belakang rambutnya, dan ada senyum kecil yang tersungging di bibirnya sepanjang jalan menuju kelas.

Di dalam kelas, Amara benar-benar menjadi pusat perhatian. Sarah, sahabatnya, langsung heboh begitu melihat Amara duduk di bangkunya.

"Demi apa! Amara Lathifa pake pita?! Ini pasti gara-gara Kak Nicholas ya?" goda Sarah sambil menoel-noel bahu Amara.

"Bukan! Ini gara-gara stres UTBK, Sar!" bantah Amara.

Namun, di tengah pelajaran Sejarah yang membosankan, pikiran Amara justru terbang ke luar jendela. Ia membayangkan Nicholas yang mungkin saat ini sedang berada di kampus, berkutat dengan maket dan rumus-rumus sipil yang rumit.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Ia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan peluit pemberian Nicholas. Ia menatap benda kecil itu sambil tersenyum.

"Kak Nick... kamu bener-bener red flag yang bikin aku kecanduan," gumamnya sangat pelan.

Di sisi lain, di sebuah kantin Fakultas Teknik, Nicholas sedang duduk bersama Ryan dan teman-temannya. Ia terus melihat foto Amara yang tadi sempat ia ambil secara diam-diam saat gadis itu turun dari motor.

"Woi, Nick! Senyum-senyum sendiri lo liatin HP. Kesambet setan proyek?" tanya Arga heran.

Nick hanya mengantongi ponselnya dengan tenang. "Nggak. Gue cuma baru sadar kalau ada sesuatu yang jauh lebih indah daripada struktur bangunan yang paling sempurna sekalipun."

Ryan yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Dasar bucin tingkat Teknik!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!