NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Harga Sebuah Keberanian

​Ruangan itu mendadak jadi begitu hening, sampai-sampai suara gesekan kertas di tangan Pak Baskara terasa terdengar jelas di telinga. Pak Baskara baru saja hendak membacakan dokumen kedua ketika Direktur Operasional. Pria bertubuh berat yang tadinya terlihat sudah kehilangan nyawa itu. Tiba-tiba menunjukkan perubahan ekspresi yang aneh. Matanya yang merah tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan kegilaan seseorang yang merasa tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.

"Kalau aku hancur... maka kamu juga harus hancur, Aruna!" teriaknya histeris, suaranya terdengar tak jelas hingga memenuhi seisi ruangan.

Semua terjadi dalam hitungan detik. Gerakannya luar biasa gesit untuk pria bertubuh berat itu. Ia mengambil sesuatu dari balik kaus kakinya. Sebuah pisau lipat kecil berbahan keramik yang berhasil lolos dari petugas keamanan di lobi.

"Aruna, awas!" teriak Pak Baskara.

Aruna terlambat bereaksi. Tubuhnya masih kaku karena terkejut. Jleb.

Rasa dingin yang tajam menusuk perut kirinya, disusul panas yang membakar. Aruna hilang keseimbangan ke belakang, jemarinya memegang pinggiran meja marmer sekuat tenaga agar tidak jatuh. Tatapan matanya kosong, napasnya terrtahan saat melihat Direktur Operasional itu diserang petugas keamanan dan dijatuhkan ke lantai dengan suara yang sangat keras di telinga.

Tepat saat itu, pintu lift di ujung lorong berdenting terbuka. Rian melangkah keluar dengan tergesa, wajahnya cerah karena ingin menunjukkan bukti terakhir yang berhasil ia bongkar dari server rahasia Baron. Namun, senyumnya hilang dalam sekejap saat matanya menangkap kekacauan di dalam ruangan kaca itu.

"Aruna!" Teriakan Rian seketika memecah suasana seram di ruangan itu. Ia berlari sekencang mungkin, mengabaikan Pak Baskara dan petugas keamanan yang masih sibuk mengamankan pelaku.

Rian berlari sekuat tenaga, menabrak siapa pun yang menghalangi jalannya. Begitu ia menerobos masuk, langkahnya seketika membeku. Aruna masih berdiri tegak dengan dagu terangkat. Sikap keras kepalanya tidak hilang namun tangannya yang menekan perut kini mulai basah. Darah mulai merembes cepat, mengotori blazer hitamnya lalu menetes jatuh di atas lantai marmer yang putih bersih.

​"Aruna... tidak... tidak!" Rian memegang tubuh Aruna tepat sebelum gadis itu benar-benar jatuh pingsan ke lantai. Ia membawa Aruna ke pelukannya, membiarkan punggung gadis itu bersandar di dadanya sementara tangannya yang gemetar berusaha menutupi luka di perut Aruna.

​​"Tangkap... dokumennya..." bisik Aruna terbata-bata. Suaranya sangat tipis dan bergetar. Matanya mulai kehilangan fokus, namun jemarinya masih menggenggam erat kristal di lehernya, seolah benda itu lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

​"Panggil ambulans! Cepat!" teriak Rian emosi, suaranya meledak memenuhi ruangan, membentak orang-orang yang hanya bisa terdiam ketakutan.

Wajah Aruna kini pucat pasi. Kemeja putih di balik blazer-nya mulai basah kuyup oleh noda merah yang melebar dengan sangat cepat. Di tengah kerumunan yang mulai histeris dan teriakan Pak Baskara yang memanggil tim medis, Aruna merasakan dunia di sekitarnya perlahan memudar.

Rian memeluk tubuh Aruna erat-erat, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya. Tangannya gemetar hebat saat mencoba menekan luka di perut Aruna untuk menahan pendarahan. "Jangan tutup matamu, Aruna! Kamu sudah menang! Jangan berani-berani pergi sekarang!"

Namun, Aruna tidak lagi menjawab. Tubuhnya mendingin, dan untuk pertama kalinya sejak mereka kembali dari gudang tua, cahaya di kristal lehernya meredup sepenuhnya.

Suasana di lantai 40 berubah menjadi kacau balau. Suara sirine ambulans terdengar semakin keras, memaksa kendaraan lain untuk minggir agar ia bisa lewat secepat mungkin di tengah padatnya jalanan Jakarta pagi itu. Tak lama, kelompok tim medis masuk sambil mendorong tandu, menembus kerumunan orang yang masih berdiri tak bergerak menatap genangan darah di atas marmer.

​"Beri jalan! Cepat!" perintah Pak Baskara dengan suara serak, wajahnya tampak sangat terpukul.

Saat para petugas medis dengan sigap mengangkat tubuh Aruna yang sudah tak berdaya ke atas tandu, sebuah denting halus terdengar di lantai. Akibat guncangan dan gerakan yang terburu-buru, kaitan rantai di leher Aruna terlepas. Kristal perak itu jatuh, tergeletak di antara noda merah yang mulai mengering.

​Rian, yang masih berlutut dengan napas tak karuan dan baju yang berlumuran darah, terdiam melihat benda itu. Ia teringat pesan mendiang Ibu Aruna di hutan: Jangan pernah lepaskan kristal itu.

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Rian mengambil kristal tersebut. Benda itu terasa dingin, jauh lebih dingin dari biasanya, seolah-olah nyawa di dalamnya ikut menghilang seiring dengan detak jantung Aruna yang kini melemah. Rian bangun, berdiri dan mengejar tandu yang sedang didorong cepat menuju lift.

​"Tunggu!" teriak Rian.

​Di dalam lift yang meluncur turun, Rian tidak memedulikan tatapan para petugas medis. Ia mendekat, lalu dengan tangan gemetar, ia melingkarkan kembali rantai perak itu ke leher Aruna. Ia meletakkan kristal itu tepat di atas dada Aruna, mengikuti gerak napas gadis itu yang kini terasa sangat lemah dan tipis.

​"Jangan berani-berani mati, Aruna," bisik Rian tepat di telinga gadis itu, suaranya tak jelas karena emosi yang tertahan. "Ibumu menitipkan ini padamu. Hutan itu menunggumu. Aku... aku juga menunggumu."

Tepat saat kristal itu menyentuh kulit Aruna, sebuah getaran halus yang hampir tak terlihat muncul. Cahaya redup di dalam kristal itu berkedip sekali, seperti sisa api yang mencoba menyala kembali di tengah badai.

Lift berdenting di lantai dasar. Tandu itu melesat keluar menuju mobil ambulans yang sudah menunggu dengan pintu terbuka. Rian ikut melompat ke dalam, menggenggam tangan Aruna yang sedingin es. Pintu ambulans dibanting tertutup dan sirene kembali terdengar keras, membawa mereka melesat melaju dengan cepat di jalanan dalam perlombaan hidup dan mati menuju rumah sakit terdekat.

​Bagi Rian, perjalanan ini terasa seperti selamanya. Ia menatap kristal di leher Aruna, berdoa dalam hati agar keajaiban hutan Sanubari benar-benar nyata. Ia tidak akan membiarkan Aruna pergi begitu saja.Tidak setelah semua yang gadis itu korbankan, dan jelas tidak di tangan seorang pengecut yang baru saja mencoba menghancurkannya.

Ambulans itu berhenti mendadak dengan suara decit ban yang memekakkan telinga tepat di depan pintu Unit Gawat Darurat. Tak butuh waktu lama, para perawat dan dokter jaga langsung sigap mengambil alih, mendorong tandu Aruna dengan kecepatan tinggi menembus lorong rumah sakit yang dipenuhi bau obat yang menyengat. Rian terpaksa melepaskan genggaman tangannya saat Aruna dilarikan ke dalam ruang tindakan yang tertutup tirai putih.

"Tunggu di luar, Mas! Silakan urus administrasinya dulu!" seru seorang perawat, namun Rian hanya bisa terdiam di balik kaca pintu, matanya tidak lepas dari tubuh Aruna yang kini dikelilingi kabel-kabel monitor medis.

Di dalam ruangan yang dingin itu, monitor jantung mulai mengeluarkan suara tit-tit yang panjang dan datar. Kondisi Aruna memburuk seketika; tanda vitalnya menurun drastis hingga membuat alarm monitor terdengar keras. Para dokter mulai sibuk, menyiapkan alat pacu jantung dan tabung oksigen tambahan. Situasinya kritis; luka tusukan itu mengenai organ vital, dan Aruna kehilangan terlalu banyak darah.

Namun, di tengah kepanikan medis itu, sesuatu yang berada di luar nalar manusia mulai terjadi.

Kristal perak yang melingkar di leher Aruna tiba-tiba berdenyut. Bukan sekadar cahaya redup, melainkan cahaya warna hijau keperakan yang hangat. W.arna yang sama dengan kabut di Hutan Sanubari. Cahaya itu perlahan, menyebar dari dada Aruna ke arah perutnya yang terluka, menembus perban yang sudah basah kuyup oleh darah.

Rian, yang memperhatikan dari balik kaca, menahan napas. "Sanubari..." bisiknya lirih.

Seketika, garis datar di monitor jantung berubah. Tit... tit... tit... Detak jantung Aruna kembali, lambat namun pasti. Cahaya dari kristal itu seolah-olah sedang menjahit kembali sel-sel yang rusak dari dalam, memberikan energi kehidupan yang tidak dimiliki oleh alat medis mana pun.

Perlahan, jemari tangan Aruna yang sedingin es mulai bergerak. Matanya yang terpejam rapat teelihat bergerak-gerak di balik kelopak, seolah ia sedang berkomunikasi dengan sesuatu di alam lain. Aroma melati yang lembut mendadak tercium di ruangan UGD itu, menutupi bau obat-obatan yang menyengat.

Seorang dokter yang sedang memeriksa pupil mata Aruna terkejut kaget saat melihat kelopak mata gadis itu sedikit terbuka. "Dokter! Detak jantungnya stabil! Pendarahannya... pendarahannya melambat secara drastis!"

Aruna menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang dalam seolah ia baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam lama. Kekuatan hutan yang berdiam di dalam kristal itu telah menjawab panggilan Rian. Aruna belum diizinkan pulang ke Hutan Sanubari; tugasnya di dunia ini masih jauh dari kata selesai.

​Di luar ruangan, kedua kaki Rian akhirnya menyerah. Ia merosot jatuh ke lantai, menyandarkan punggungnya yang lelah ke dinding rumah sakit yang dingin. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya yang kotor. Ia tahu, Aruna selamat. Hutan Sanubari rupanya belum rela melepaskan pemiliknya sesingkat ini. Setidaknya, tidak sebelum semua utang darah di dunia manusia lunas terbayar.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!