Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Sarapan pagi di kediaman Pak Lurah terasa begitu kontras. Di satu sisi meja, duduk Abah Kiai dan Pak Lurah yang berbincang serius mengenai masa depan desa. Di sisi lain, terjadi sebuah "peperangan" senyap yang membuat Gus Hilman tidak bisa menelan nasi gorengnya dengan tenang.
Meja makan kayu itu tertutup taplak panjang, sebuah keuntungan bagi Keyla. Gadis itu duduk tepat di depan Hilman, sementara Arkan berada di samping Hilman, asyik bercerita tentang hiruk-pikuk Jakarta.
"Gus, dimakan dong nasi gorengnya. Itu Bunda masak spesial lho," ujar Arkan sambil menepuk bahu Hilman dengan keras.
"Iya, Gus... atau mau aku suapin?" celetuk Keyla dengan nada polos yang dibuat-buat.
"Keyla! Jaga bicaramu di depan Abah Kiai," tegur Bunda Sarah sambil meletakkan piring kerupuk.
Keyla hanya menjulurkan lidah. Namun, di bawah meja, aksinya dimulai. Keyla sengaja melepas salah satu sandal rumahnya. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ujung kakinya yang mungil mulai merayap naik, menyentuh pergelangan kaki Hilman yang tertutup sarung.
Deg!
Hilman hampir saja menjatuhkan sendoknya. Ia tersedak kecil. Mata Hilman langsung terbelalak, menatap tajam ke arah Keyla. Namun, gadis itu justru sedang asyik mengunyah kerupuk dengan wajah tanpa dosa, seolah kakinya tidak sedang melakukan "invasi" di bawah sana.
"Gus Hilman kenapa? Kok mukanya merah? Pedes ya nasi gorengnya?" tanya Arkan sambil memperhatikan wajah Hilman yang mulai berkeringat dingin.
"Mungkin... udaranya agak panas, Mas," jawab Hilman terbata-bata. Ia mencoba menggeser kakinya menjauh, namun kaki Keyla justru semakin berani, merayap naik ke arah betis Hilman, menggesek lembut kain sarungnya.
Hilman beristighfar berkali-kali dalam hati. Ia ingin sekali berteriak, tapi ada Abah Kiai di sana. Jika ia bereaksi berlebihan, suasana akan kacau.
"Oh iya, Gus," Arkan tiba-tiba teringat sesuatu. "Si Keyla ini di Jakarta kemarin sempet mau ikut casting lho. Dia pinter banget akting. Apalagi akting jadi cewek tersakiti supaya dapet perhatian cowok."
Keyla mendengus kesal. "Apaan sih, Bang! Itu kan tuntutan bakat!" Ia menekan kakinya lebih kuat ke betis Hilman sebagai pelampiasan kekesalannya pada Arkan.
Hilman benar-benar sudah di ambang batas. Ia meletakkan sendoknya, mencoba menguasai keadaan. Ia menatap Keyla lurus-lurus—tatapan yang kali ini bukan lagi menghindar, tapi menantang balik.
"Mbak Keyla," suara Hilman terdengar rendah dan bergetar karena menahan emosi. "Kalau makannya sudah selesai, mungkin bisa segera bersiap. Abah Kiai tadi bilang Mas Arkan juga harus ikut belajar, kan?"
Keyla tersenyum lebar, merasa menang karena berhasil membuat Gus idolanya itu bereaksi. Ia menarik kakinya kembali. "Siap, Gus Guru! Bang Arkan juga harus ikut ya, biar dia tahu kalau adiknya ini sekarang udah jadi calon santriwati teladan."
Abah Kiai yang sejak tadi diam, tiba-tiba menoleh ke arah Hilman dan Keyla. Beliau tersenyum sangat tipis, seolah tahu ada sesuatu yang terjadi di bawah meja itu.
"Hilman, mengajar itu butuh kesabaran seluas samudera. Apalagi kalau muridnya punya banyak 'cara' untuk menguji gurunya," ucap Abah Kiai dengan nada penuh teka-teki.
Pak Lurah tertawa, tidak menyadari ketegangan di antara mereka. "Benar itu Abah Kiai. Hilman, habis ini tolong langsung bimbing mereka di ruang tengah. Saya dan Abah mau lanjut ke kantor desa sebentar."
Begitu Abah Kiai dan Pak Lurah berpamitan keluar, Arkan berdiri untuk mengambil kopi ke dapur. Tinggallah Hilman dan Keyla berdua di meja makan selama beberapa detik.
Keyla mencondongkan tubuhnya ke arah Hilman, menopang dagunya dengan kedua tangan. "Gimana sensasi 'ngaji' di bawah meja tadi, Gus? Jantungnya masih aman, kan?"
Hilman berdiri, merapikan duduk sarungnya dengan wajah kaku. "Mbak Keyla, jika Mbak mengulangi hal tidak sopan seperti itu lagi di depan Abah saya, saya tidak akan segan untuk berhenti mengajar Mbak selamanya."
Keyla tidak takut, ia justru berdiri dan mendekat, aromanya kembali menyerang Hilman. "Yah, jangan berhenti dong Gus. Kan aku baru mau belajar cara 'bersentuhan' yang halal... nanti kalau kita udah nikah."