NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 5 - CH 28 : PESAN DARI MASA LALU

Suara deru mesin kasar khas Daihatsu Espass memecah kesibukan sore di depan ruko Bara's Kitchen. Si Putih akhirnya terparkir dengan posisi sedikit miring di pelataran semen yang biasanya dipenuhi motor driver ojol.

Di dalam ruko lantai satu yang difungsikan sebagai kantor penerimaan pesanan, Lintang yang sedang sibuk melipat kardus packaging bersama Mang Ojak refleks mendongak.

"Mang, bos lu udah balik tuh. Siap-siap dengerin ceramah sore soal efisiensi waktu," rutuk Lintang pelan, buru-buru merapikan tumpukan kardusnya agar terlihat sibuk.

Namun, pemandangan yang tersaji dari balik kaca etalase ruko sedetik kemudian, sukses membuat rahang Lintang nyaris jatuh menyentuh lantai keramik.

Pintu kemudi terbuka. Bara turun dari mobil. Namun alih-alih melangkah masuk dengan wajah datar nan mengintimidasi seperti biasa, pemuda itu justru setengah berlari memutari mobil menuju pintu penumpang sebelah kiri.

Dengan gerakan yang sangat berhati-hati seolah sedang memegang porselen Dinasti Ming bernilai miliaran Bara membuka pintu mobil. Dia mengulurkan tangannya, memapah seorang wanita paruh baya berselimut kain jarik untuk turun dari kursi Espass yang cukup tinggi.

"Pelan-pelan, Bu. Awas kakinya, pijakannya agak licin," suara Bara terdengar sangat lembut, bahkan sedikit bergetar karena cemas.

Wanita itu, ibunya, tersenyum lemah. "Iya, Le. Ibu bisa kok jalan pelan-pelan."

Bara merangkul bahu ibunya posesif, memapahnya melangkah masuk ke dalam kantor lantai satu tersebut.

Mata Lintang melotot sempurna. Gadis Gen Z yang biasanya bawel dan selalu punya bahan untuk mendebat bosnya itu kini terpaku bisu bak patung lilin. Dia mengucek matanya dua kali.

“Ini beneran mas Bara? Bos tiran pelit yang kemaren mau nyincang orang gara-gara perkara tepung kurang sepuluh gram di lantai dua?! Kenapa vibes-nya mendadak kayak anak green flag idaman mertua gini?!” jerit Lintang dalam hati.

Di sebelahnya, reaksi Mang Ojak tak kalah dramatis. Pria paruh baya itu langsung meletakkan kardusnya dan setengah berlari menghampiri mereka dengan mata berkaca-kaca.

"Ya Allah... Ibuk!" seru Mang Ojak, suaranya parau karena terharu. Dia membungkuk sopan, nyaris meraih tangan wanita itu untuk salim jika saja Bara tidak sedang memapahnya erat. "Ibuk teh kumaha damang? Udah lama pisan Abah nggak liat Ibuk mampir."

Ibu Bara tersenyum hangat, matanya menyipit ramah mengenali wajah asisten setia anaknya. "Alhamdulillah, Mang Ojak. Cuma masuk angin biasa aja ini mah sama pegel-pegel faktor umur. Mang Ojak makin seger aja kelihatannya. Ruko rame terus ya?"

"Alhamdulillah, Buk. Berkat Den Bara yang pinter ngaturnya," Mang Ojak mengangguk antusias.

Pandangan Ibu Bara kemudian beralih ke arah Lintang yang masih mematung di dekat meja kasir. "Nah... ini pasti Neng Lintang ya? Kasirnya Bara yang baru? Cantik pisan ya, pantesan ruko Bara jadi makin laris."

Lintang langsung gelagapan. Wajahnya memerah. Dia buru-buru merapikan celemeknya dan mendekat, meraih tangan ibunya Bara untuk menyalimi wanita itu dengan sangat takzim. Sisi preman Lintang seketika menguap tergantikan oleh mode menantu idaman.

"Eh, i-iya, Tante... Eh, Ibu," Lintang tersenyum canggung, salah tingkah ditatap selembut itu. "Kenalin, saya Lintang, Bu. Maaf berantakan, lagi packing orderan sore."

"Nggak apa-apa, Neng. Namanya juga kerja. Makasih ya udah bantuin Bara jagain ruko ini," ucap ibunya tulus.

Bara, yang sedari tadi diam mengamati, kembali bersuara. "Udah, ngobrolnya nanti lagi. Ibu harus istirahat, minum obat, terus tidur. Lintang, chiller di pojok depan kosongin satu rak buat naruh buah sama jamu Ibu. Mang Ojak, tolong bawain tas Ibu di bagasi Si Putih naik ke kamar ya."

Perintah itu terdengar tegas, namun tanpa nada tinggi apalagi ancaman potong gaji. Lintang dan Mang Ojak mengangguk kompak bak prajurit militer, langsung bergerak mengeksekusi perintah sang bos tanpa protes sedikit pun.

Bara memapah ibunya menaiki tangga kayu pendek menuju ruangan setengah lantai yang posisinya tepat di atas area kantor lantai satu tersebut. Ruangan itu tidak besar, namun sangat bersih. Kasur empuk sudah disiapkan, lengkap dengan kipas angin gantung kecil dan televisi untuk hiburan ibunya.

Bara membantu ibunya berbaring, menarik selimut hingga sebatas dada.

"Ibu istirahat dulu ya. Kalau butuh apa-apa, panggil aja Bara. Bara mau ke bawah bentar ngecek rekap penjualan hari ini," Bara menuangkan segelas air hangat dan meletakkannya di nakas.

Ibunya mengangguk pelan, memejamkan mata perlahan karena efek obat masuk angin yang mulai bekerja. "Iya, Le. Makasih ya. Kamu juga jangan kecapekan."

Bara berdiri di ambang pintu kamar mezzanine itu, menatap wajah ibunya yang mulai terlelap. Dadanya berdesir pelan. Tanggung jawab yang begitu besar terasa bertengger di pundaknya, mengunci rapat seluruh sisa-sisa emosi manusiawi yang pernah dia miliki.

Pemandangan ibunya yang tertidur lelap ini menarik kembali satu keping terakhir dari memori masa lalunya. Kepingan flashback terakhir yang menyegel takdirnya menjadi sang koki tiran.

[TIGA TAHUN LALU - SATU BULAN SETELAH PEMAKAMAN DINDA]

Sore itu mendung menggantung rendah di atas Kota X.

Bara berdiri sendirian di depan sebuah ruko berlantai dua yang sangat kotor di pinggiran jalan. Kaca depannya berdebu tebal, lantai bawahnya penuh noda hitam, dan bau got dari selokan depan menyengat hidung. Ada sebuah spanduk kusam bertuliskan 'DISEWAKAN MURAH' menggantung miring di atapnya.

Di tangannya, Bara menggenggam segepok uang tunai hasil dari menjual seluruh sisa aset hidupnya: MacBook Pro kesayangannya, Wacom tablet andalannya, hingga jam tangan pemberian ibunya. Totalnya cukup untuk membayar sewa ruko kumuh ini selama satu tahun dan membeli sebuah oven gas bekas yang sudah karatan di pasar loak.

Pemilik ruko, seorang pria buncit bermulut bau rokok, baru saja menyerahkan kunci gembok kepadanya.

"Udah lunas ya setahun. Terserah lu mau buka usaha apaan, asal jangan buat mabuk aja," ucap bapak itu sambil berlalu pergi.

Bara membuka gembok berkarat itu. Pintu rolling door berderit memekakkan telinga saat ditarik ke atas. Ruangan kosong yang gelap, kotor, dan pengap menyambutnya.

Bara melangkah masuk. Dia tidak melihat kotoran. Dia tidak mencium bau got. Di matanya, ruangan kosong ini adalah sebuah benteng pertahanan.

Pemuda itu meletakkan ranselnya yang tersisa di lantai. Dia membuka jaket mewahnya sisa-sisa terakhir dari identitasnya sebagai Lead Editor Visual lalu melemparkannya begitu saja ke tempat sampah di sudut ruangan.

Mulai hari ini, dunia digital yang penuh ilusi dan pengkhianatan itu mati.

Bara mengeluarkan sebuah benda dari dalam tas belanjaan plastik hitam yang baru saja dia beli di pasar tradisional. Sebuah golok daging dari baja murni yang berat dan tajam.

Dia menggenggam gagang golok itu erat-erat. Tatapannya sedingin es, kosong dari segala bentuk kepolosan masa muda.

Duit cash. Gramasi pasti. Nggak ada revisi. Nggak ada hutang. Di ruko bau got inilah, Bara bersumpah pada dirinya sendiri. Dia akan meraup uang sebanyak-banyaknya dari bisnis makanan ini. Dia akan menjadi sosok paling pelit, paling perhitungan, dan paling kejam terhadap siapapun yang mencoba mengusik uangnya. Karena hanya dengan uang cash di tangan, dia bisa memastikan ibunya yang sekarang menjadi satu-satunya alasan dia masih bernapas tidak akan pernah bernasib sama dengan adiknya.

[MASA SEKARANG]

Bara menarik napas panjang, mengusir jauh-jauh kilasan masa lalu yang menyesakkan dada itu. Dia mematikan lampu kamar, membiarkan ibunya beristirahat, lalu berjalan menuruni tangga kayu pendek itu kembali ke area kantor penerimaan pesanan di lantai satu.

Di bawah, suasana kembali cair. Lintang sedang sibuk menekan kalkulator kasir sementara Mang Ojak sedang menyapu sisa-sisa potongan lakban di lantai.

"Udah tidur, Mas, ibunya?" tanya Lintang, suaranya otomatis mengecil, takut mengganggu. Gadis itu menatap bosnya dengan pandangan yang benar-benar berbeda dari biasanya. Rasa segan kini bercampur dengan simpati.

"Udah," Bara berjalan menuju meja kerjanya di pojok ruangan. Ekspresi soft boy-nya sudah hilang tak berbekas, kembali mengeras layaknya baja. "Laporan penjualan online hari ini mana? Belom lu rekap? Jangan mentang-mentang nyokap gue dateng lu jadi kendor kerjanya. Potong gaji lu tau rasa."

Lintang mencibir pelan, memutar bola matanya. “Yaelah, kumat lagi jin ipritnya. Baru juga lima menit kelihatan kayak manusia normal, ya walaupun gue tetep suka sih.” batin gadis itu kesal, meski dia langsung menyerahkan nota rekapannya tanpa protes.

Bara duduk di kursinya, matanya mulai meneliti deretan angka di nota tersebut. Semuanya normal. Arus kas positif. Tidak ada bahan baku yang terbuang sia-sia.

Dia baru saja meraih bolpoin untuk menandatangani form harian tersebut ketika ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar singkat.

Bzzzt.

Bara menoleh. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk.

Namun, itu bukan notifikasi dari aplikasi WhatsApp atau Telegram biasa. Pesan itu muncul dari sebuah aplikasi perpesanan terenkripsi yang logonya berwarna hitam pekat, yang jarang sekali dia buka. Pengirimnya tertulis: Unknown ID.

Bara mengerutkan kening. Instingnya mendadak waspada. Dengan ujung jari, dia menggeser layar dan membuka pesan tersebut.

Pesan itu sangat singkat, hanya terdiri dari satu kalimat pendek dan sebuah foto lampiran yang buram.

[Target ditemukan di kawasan Canggu, Bali. Menunggu instruksi selanjutnya.] Bara menatap layar ponselnya dalam keheningan yang mencekam. Tangan kanannya yang sedang memegang bolpoin mencengkeram erat, sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Terdengar bunyi krek pelan saat bodi plastik bolpoin itu nyaris retak di bawah tekanannya.

Bara mematikan layar ponselnya. Dia menyeringai tipis. Sebuah senyuman dingin yang mengerikan, jauh lebih mematikan dan gelap daripada saat dia mengusir preman pasar.

"Akhirnya," gumam Bara pelan, nyaris berbisik pada dirinya sendiri.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!