NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Pengabdian dan Tahta

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai beludru abu-abu di kamar utama mansion pegunungan. Semburat emas itu jatuh tepat di atas ranjang king-size, menyinari wajah Rebecca yang perlahan mulai terjaga. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah dinginnya udara pegunungan, melainkan beban hangat yang melingkari pinggangnya.

Rebecca tetap bergeming, napasnya tertahan sejenak. Ia menyadari Maximilian masih memeluknya erat dari belakang. Lengan pria itu yang kokoh dan penuh otot terasa seperti pagar besi yang melindunginya dari segala badai dunia luar. Aroma maskulin yang khas—campuran antara sabun kayu cendana dan sisa-sisa aroma maskulin yang dalam—mengepung indranya.

Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, membiarkan pikirannya melayang pada rangkaian peristiwa berdarah beberapa jam yang lalu. Bayangan pistol di tangannya, suara tembakan yang memekakkan telinga, dan tatapan kosong pria yang ia bunuh melintas seperti film hitam-putih yang menyakitkan. Namun, di tengah semua trauma itu, ada satu sosok yang selalu menariknya keluar dari kegelapan: Maximilian.

Pria ini telah memberinya segalanya. Nama baru, perlindungan yang tak tertembus, bahkan harga diri yang sempat hancur di gang gelap itu. Rebecca merenung. Siapakah dia di hadapan pria sekuat Maximilian Moretti? Hanya seorang gadis yatim piatu yang berhutang nyawa. Sebuah pemikiran mulai mengakar di benaknya, tumbuh dari rasa syukur yang amat dalam dan rasa minder yang tak kunjung hilang.

Aku tidak mungkin bisa membalas semua ini dengan uang atau kekuasaan, pikirnya pedih. Satu-satunya yang kupunya adalah diriku sendiri. Aku akan menjadi pelayannya. Aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk mengurus kebutuhannya, memasak untuknya, dan memastikan rumahnya selalu hangat. Itu adalah posisi yang paling pantas untukku—menjadi bayangan di belakang sang penguasa.

Tiba-tiba, sebuah geraman rendah terdengar di dekat telinganya. Maximilian bergerak, mempererat pelukannya hingga tubuh mereka tidak menyisakan jarak sedikit pun.

"Kau sudah bangun?" suara Maximilian serak khas orang baru bangun tidur, namun tetap memiliki otoritas yang tak terbantahkan.

Rebecca sedikit tersentak, wajahnya memanas. "I-iya, Om. Maaf jika gerakanku membangunkanmu."

Maximilian tidak melepaskannya. Ia justru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rebecca, menghirup aroma rambut gadis itu dalam-lama. "Jangan meminta maaf untuk hal sekecil itu, Rebecca. Jam berapa sekarang?"

"Baru jam tujuh pagi," jawab Rebecca pelan. Ia memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Max, sehingga kini mereka saling berhadapan. Mata gelap Maximilian yang biasanya tajam seperti elang, kini tampak sedikit lebih lembut, meski guratan kelelahan setelah malam yang panjang masih terlihat jelas.

"Om ..." Rebecca memulai, suaranya sedikit bergetar. "Aku sudah memikirkan sesuatu sejak tadi."

Maximilian menaikkan satu alisnya, menunggu kelanjutan kalimat gadis itu. Tangan kasarnya mengusap pipi Rebecca dengan gerakan yang hampir menyerupai belaian.

"Setelah semua yang Om lakukan untukku ... menyelamatkanku, memberiku nama Moretti, melindungiku dari Valenti ... aku sadar aku tidak akan pernah bisa membalasnya," ucap Rebecca sungguh-sungguh. Matanya menatap Maximilian dengan binar pengabdian yang murni. "Aku ingin mengabdikan hidupku untuk Om. Aku ingin menjadi pelayan Om seumur hidupku. Aku akan mengurus semua kebutuhan Om, memastikan Om tidak kekurangan apa pun di rumah ini. Itu adalah tujuanku sekarang."

Seketika, suasana di kamar itu berubah. Kehangatan yang tadi menyelimuti mereka seolah menguap, digantikan oleh ketegangan yang dingin. Tangan Maximilian yang tadi membelai pipi Rebecca berhenti bergerak. Matanya yang sempat melembut kembali menjadi sekeras batu obsidian.

Maximilian melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang, memunggungi Rebecca. Otot-otot punggungnya yang lebar tampak menegang. Di dalam kepalanya, kata-kata Rebecca terasa seperti tamparan keras.

Hanya beberapa jam yang lalu, di hadapan musuh bebuyutannya, Maximilian telah mendeklarasikan kepada dunia bahwa Rebecca adalah Moretti—istrinya, ratunya, bagian dari dirinya yang tak tersentuh. Ia telah mempertaruhkan reputasi dan nyawanya untuk menempatkan gadis ini di tahta tertinggi di sampingnya. Namun sekarang, gadis itu justru memilih untuk merangkak di kakinya sebagai seorang pelayan.

"Pelayan?" Maximilian mengulang kata itu dengan nada yang sangat dingin, hampir seperti desisan.

"I-iya, Om. Aku ingin membalas budi—"

"Cukup, Rebecca," potong Maximilian tajam. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang membuat Rebecca menciut. Topeng dingin yang biasa ia pakai di depan musuh-musuhnya kini kembali terpasang sempurna. "Kau pikir aku menyelamatkanmu hanya karena aku butuh seseorang untuk mencuci pakaianku atau memasak makananku?"

"Bukan begitu maksudku, Om ...."

"Aku lelah," potong Maximilian lagi, suaranya kini terdengar hambar dan tak beremosi. "Kepalaku sakit dan aku tidak ingin mendengar omong kosong ini di pagi hari."

Maximilian kembali berbaring, namun kali ini ia memunggungi Rebecca sepenuhnya, menarik selimut hingga ke bahu. "Jangan bangunkan aku sampai aku sendiri yang keluar dari kamar ini."

Rebecca terpaku di tempatnya. Ia merasa seperti baru saja melakukan kesalahan fatal, namun ia tidak mengerti di mana letak kesalahannya. Bukankah keinginan untuk mengabdi adalah hal yang mulia? Mengapa Maximilian tampak begitu marah, atau mungkin ... kecewa?

Rasa bingung dan sesak mulai memenuhi dada Rebecca. Ia merasa ditolak oleh satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara, ia turun dari ranjang. Ia menatap punggung tegap Maximilian sejenak, berharap pria itu akan berbalik dan menjelaskan kemarahannya, namun Maximilian tetap diam membatu.

Dengan langkah gontai, Rebecca keluar dari kamar. Ia berjalan menyusuri lorong mansion yang sepi menuju dapur. Jika Maximilian sedang lelah dan marah, maka ia harus melakukan satu-satunya hal yang ia tahu bisa ia lakukan: melayani.

Di dapur, Rebecca mulai menyibukkan diri. Ia mengambil bahan-bahan segar dari lemari es. Ia memutuskan untuk membuat sarapan yang paling istimewa yang ia bisa. Ia mulai mengocok telur, memotong sayuran dengan presisi, dan menyiapkan panggangan. Ia membuat Omelet Truffle dengan keju gruyère yang lumer, serta menyiapkan kopi Blue Mountain yang aromanya mulai memenuhi ruangan dapur.

Setiap gerakan tangannya dilakukan dengan penuh perasaan. Di dalam hatinya, ia berharap aroma makanan ini nantinya bisa melunakkan hati Maximilian yang membeku. Ia tidak tahu bahwa saat ia sedang bergelut dengan wajan dan spatula, Maximilian di atas sana sedang menatap langit-langit dengan mata terbuka, merasa frustrasi karena gadis yang ia cintai dengan cara yang gelap dan posesif itu justru tidak menyadari bahwa ia telah disiapkan untuk menjadi seorang Ratu, bukan seorang pelayan.

Dia tidak mengerti, batin Maximilian di kamarnya yang sunyi. Dia sama sekali tidak mengerti bahwa aku tidak butuh pelayan. Aku butuh dia di sisiku, memegang tanganku saat aku menghancurkan dunia ini.

Sementara di bawah, Rebecca terus memasak, bertekad bahwa meskipun Maximilian menolaknya sebagai "istri" dalam artian sesungguhnya, ia akan tetap menjadi pelayan yang paling setia, tanpa menyadari bahwa pilihannya itu justru adalah belati yang paling menyakitkan bagi sang "Om Mafia".

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐡 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐨𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐜𝐨𝐧𝐠𝐨𝐫 𝐁𝐢𝐚𝐧𝐜𝐚 𝐥𝐠𝐬𝐧𝐠 𝐤𝐢𝐜𝐞𝐩 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐢𝐧 𝐬𝐦 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐤𝐥𝐨 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐲𝐚𝐫 𝐥𝐨 𝐛𝐢𝐚𝐧 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐢𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐤 𝟏𝐛𝐚𝐛 𝐝𝐨𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
EsKobok: waduh🤣
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐦𝐚𝐱😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐨𝐧𝐮𝐬 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐡𝐫 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐩 𝟑𝐛𝐚𝐛 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚/𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐭𝐩 𝐒𝐩𝐚𝐧𝐲𝐨𝐥 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐫𝐤𝐧𝐥, 𝐥𝐛𝐡 𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐈𝐭𝐚𝐥𝐢𝐚 𝐬𝐢𝐡 𝐲𝐠 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐪 𝐥𝐡𝐭 𝐝𝐢 𝐟𝐢𝐥𝐦𝟐 😘😘😘🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐫𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐭𝐡𝐨𝐫 🦾🦾😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐛𝐤𝐧 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧, 𝐦𝐚𝐱 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐦𝐢𝐰𝐢𝐫 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐐 𝐤𝐬𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐬𝐚𝐦𝐚𝟐 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐫𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐌𝐫𝐬 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬, 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐱𝐢𝐦𝐢𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐝𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐦𝐛𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐰𝐭 𝐤𝐭𝟐 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐫𝐧𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐤𝐫𝐧 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚 𝐭𝐝𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐲𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡😭😭😭

𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐩 𝐣𝐠, 𝐛𝐚𝐜𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐧𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐩𝐚𝐬 😁😁😁👍👍👍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐢𝐧𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐛𝐧𝐠𝐭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐣𝐞𝐥𝐚𝐬 😁😁😁
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐟𝐢𝐚😁😁😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 👍👍👍 𝐢𝐧𝐢 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐭𝐡𝐨𝐫😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!