Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Pengabdian dan Tahta
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai beludru abu-abu di kamar utama mansion pegunungan. Semburat emas itu jatuh tepat di atas ranjang king-size, menyinari wajah Rebecca yang perlahan mulai terjaga. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah dinginnya udara pegunungan, melainkan beban hangat yang melingkari pinggangnya.
Rebecca tetap bergeming, napasnya tertahan sejenak. Ia menyadari Maximilian masih memeluknya erat dari belakang. Lengan pria itu yang kokoh dan penuh otot terasa seperti pagar besi yang melindunginya dari segala badai dunia luar. Aroma maskulin yang khas—campuran antara sabun kayu cendana dan sisa-sisa aroma maskulin yang dalam—mengepung indranya.
Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, membiarkan pikirannya melayang pada rangkaian peristiwa berdarah beberapa jam yang lalu. Bayangan pistol di tangannya, suara tembakan yang memekakkan telinga, dan tatapan kosong pria yang ia bunuh melintas seperti film hitam-putih yang menyakitkan. Namun, di tengah semua trauma itu, ada satu sosok yang selalu menariknya keluar dari kegelapan: Maximilian.
Pria ini telah memberinya segalanya. Nama baru, perlindungan yang tak tertembus, bahkan harga diri yang sempat hancur di gang gelap itu. Rebecca merenung. Siapakah dia di hadapan pria sekuat Maximilian Moretti? Hanya seorang gadis yatim piatu yang berhutang nyawa. Sebuah pemikiran mulai mengakar di benaknya, tumbuh dari rasa syukur yang amat dalam dan rasa minder yang tak kunjung hilang.
Aku tidak mungkin bisa membalas semua ini dengan uang atau kekuasaan, pikirnya pedih. Satu-satunya yang kupunya adalah diriku sendiri. Aku akan menjadi pelayannya. Aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk mengurus kebutuhannya, memasak untuknya, dan memastikan rumahnya selalu hangat. Itu adalah posisi yang paling pantas untukku—menjadi bayangan di belakang sang penguasa.
Tiba-tiba, sebuah geraman rendah terdengar di dekat telinganya. Maximilian bergerak, mempererat pelukannya hingga tubuh mereka tidak menyisakan jarak sedikit pun.
"Kau sudah bangun?" suara Maximilian serak khas orang baru bangun tidur, namun tetap memiliki otoritas yang tak terbantahkan.
Rebecca sedikit tersentak, wajahnya memanas. "I-iya, Om. Maaf jika gerakanku membangunkanmu."
Maximilian tidak melepaskannya. Ia justru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rebecca, menghirup aroma rambut gadis itu dalam-lama. "Jangan meminta maaf untuk hal sekecil itu, Rebecca. Jam berapa sekarang?"
"Baru jam tujuh pagi," jawab Rebecca pelan. Ia memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Max, sehingga kini mereka saling berhadapan. Mata gelap Maximilian yang biasanya tajam seperti elang, kini tampak sedikit lebih lembut, meski guratan kelelahan setelah malam yang panjang masih terlihat jelas.
"Om ..." Rebecca memulai, suaranya sedikit bergetar. "Aku sudah memikirkan sesuatu sejak tadi."
Maximilian menaikkan satu alisnya, menunggu kelanjutan kalimat gadis itu. Tangan kasarnya mengusap pipi Rebecca dengan gerakan yang hampir menyerupai belaian.
"Setelah semua yang Om lakukan untukku ... menyelamatkanku, memberiku nama Moretti, melindungiku dari Valenti ... aku sadar aku tidak akan pernah bisa membalasnya," ucap Rebecca sungguh-sungguh. Matanya menatap Maximilian dengan binar pengabdian yang murni. "Aku ingin mengabdikan hidupku untuk Om. Aku ingin menjadi pelayan Om seumur hidupku. Aku akan mengurus semua kebutuhan Om, memastikan Om tidak kekurangan apa pun di rumah ini. Itu adalah tujuanku sekarang."
Seketika, suasana di kamar itu berubah. Kehangatan yang tadi menyelimuti mereka seolah menguap, digantikan oleh ketegangan yang dingin. Tangan Maximilian yang tadi membelai pipi Rebecca berhenti bergerak. Matanya yang sempat melembut kembali menjadi sekeras batu obsidian.
Maximilian melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang, memunggungi Rebecca. Otot-otot punggungnya yang lebar tampak menegang. Di dalam kepalanya, kata-kata Rebecca terasa seperti tamparan keras.
Hanya beberapa jam yang lalu, di hadapan musuh bebuyutannya, Maximilian telah mendeklarasikan kepada dunia bahwa Rebecca adalah Moretti—istrinya, ratunya, bagian dari dirinya yang tak tersentuh. Ia telah mempertaruhkan reputasi dan nyawanya untuk menempatkan gadis ini di tahta tertinggi di sampingnya. Namun sekarang, gadis itu justru memilih untuk merangkak di kakinya sebagai seorang pelayan.
"Pelayan?" Maximilian mengulang kata itu dengan nada yang sangat dingin, hampir seperti desisan.
"I-iya, Om. Aku ingin membalas budi—"
"Cukup, Rebecca," potong Maximilian tajam. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang membuat Rebecca menciut. Topeng dingin yang biasa ia pakai di depan musuh-musuhnya kini kembali terpasang sempurna. "Kau pikir aku menyelamatkanmu hanya karena aku butuh seseorang untuk mencuci pakaianku atau memasak makananku?"
"Bukan begitu maksudku, Om ...."
"Aku lelah," potong Maximilian lagi, suaranya kini terdengar hambar dan tak beremosi. "Kepalaku sakit dan aku tidak ingin mendengar omong kosong ini di pagi hari."
Maximilian kembali berbaring, namun kali ini ia memunggungi Rebecca sepenuhnya, menarik selimut hingga ke bahu. "Jangan bangunkan aku sampai aku sendiri yang keluar dari kamar ini."
Rebecca terpaku di tempatnya. Ia merasa seperti baru saja melakukan kesalahan fatal, namun ia tidak mengerti di mana letak kesalahannya. Bukankah keinginan untuk mengabdi adalah hal yang mulia? Mengapa Maximilian tampak begitu marah, atau mungkin ... kecewa?
Rasa bingung dan sesak mulai memenuhi dada Rebecca. Ia merasa ditolak oleh satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara, ia turun dari ranjang. Ia menatap punggung tegap Maximilian sejenak, berharap pria itu akan berbalik dan menjelaskan kemarahannya, namun Maximilian tetap diam membatu.
Dengan langkah gontai, Rebecca keluar dari kamar. Ia berjalan menyusuri lorong mansion yang sepi menuju dapur. Jika Maximilian sedang lelah dan marah, maka ia harus melakukan satu-satunya hal yang ia tahu bisa ia lakukan: melayani.
Di dapur, Rebecca mulai menyibukkan diri. Ia mengambil bahan-bahan segar dari lemari es. Ia memutuskan untuk membuat sarapan yang paling istimewa yang ia bisa. Ia mulai mengocok telur, memotong sayuran dengan presisi, dan menyiapkan panggangan. Ia membuat Omelet Truffle dengan keju gruyère yang lumer, serta menyiapkan kopi Blue Mountain yang aromanya mulai memenuhi ruangan dapur.
Setiap gerakan tangannya dilakukan dengan penuh perasaan. Di dalam hatinya, ia berharap aroma makanan ini nantinya bisa melunakkan hati Maximilian yang membeku. Ia tidak tahu bahwa saat ia sedang bergelut dengan wajan dan spatula, Maximilian di atas sana sedang menatap langit-langit dengan mata terbuka, merasa frustrasi karena gadis yang ia cintai dengan cara yang gelap dan posesif itu justru tidak menyadari bahwa ia telah disiapkan untuk menjadi seorang Ratu, bukan seorang pelayan.
Dia tidak mengerti, batin Maximilian di kamarnya yang sunyi. Dia sama sekali tidak mengerti bahwa aku tidak butuh pelayan. Aku butuh dia di sisiku, memegang tanganku saat aku menghancurkan dunia ini.
Sementara di bawah, Rebecca terus memasak, bertekad bahwa meskipun Maximilian menolaknya sebagai "istri" dalam artian sesungguhnya, ia akan tetap menjadi pelayan yang paling setia, tanpa menyadari bahwa pilihannya itu justru adalah belati yang paling menyakitkan bagi sang "Om Mafia".
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣