Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permaisuri yang baru.
Ling Xu-mei duduk termenung di taman istana, matanya kosong menatap ranting-ranting pohon yang tertiup angin. Dalam diam, hatinya sudah membara penuh dendam. “Wanita ular itu... aku pasti akan cabut sisiknya satu per satu,” bisiknya pelan, suara serak mengungkapkan kemarahan terpendam. “Setelah kucingnya aku buat rontok bulunya... sebentar lagi, giliran si pelakor itu akan tiba.”
Yura, pelayannya yang setia, mulai menyisir rambut hitam pekat sepanjang pinggang Ling Xu-mei dengan lembut. Aroma harum menyengat, jauh berbeda dengan wangi dupa yang biasa menyelimuti sang nyonya yang dulu membuatnya terlihat seperti makhluk astral. “Nyonya...” suara Yura memecah kesunyian.
“Ada apa, Yura?” tanya Ling Xu-mei tanpa mengalihkan pandangannya.
“Hari ini, Ibu Suri berencana mengajak Nyonya menghadiri pertemuan di istana,” jawab Yura sambil melanjutkan merapikan rambut sang nyonya.
Ling Xu-mei mengangguk pelan, hatinya semakin mantap. “Baik, sampaikan pada Ibu Suri aku akan datang.”
Yura tersenyum kecil, tahu perjuangan panjang yang akan dihadapi sang nyonya. Namun ia yakin, perubahan besar tengah menanti di balik keheningan ini.
"Oh ya, Yura. Memangnya, di pertemuan istana itu ada duit banyak, ya?" tanya Ling Xu-mei dengan nada penasaran, membuat Yura mendelik kebingungan.
"Loh, aku tadi sudah bilang kalau pertemuannya di istana, kenapa malah tanya soal uang?" ujar Yura, sedikit menyipitkan mata sambil menatap Ling Xu-mei. "Nyonya kok selalu mikirnya uang terus, sih?" Ling Xu-mei cemberut, tapi sebelum dia menjawab, Ibu Suri yang berada tak jauh dari mereka mendekat dengan senyum penuh arti.
"Di istana ini, tentu saja banyak sekali uang, perhiasan, emas, dan permata, termasuk berlian, batu safir, sampai zamrud," sahut Ibu Suri sambil duduk di samping mereka.
Mendengar itu, mata Ling Xu-mei berbinar-binar, wajahnya langsung berubah bahagia. "Benarkah, Ibu Suri? Ada emas, permata, berlian, batu safir, dan batu zamrud semua?" tanyanya penuh semangat.
Ibu Suri tersenyum licik, menghela napas lalu berkata, "Ya, di istana ini harta kekayaan berlimpah. Bukan hanya harta duniawi, tapi juga kekuasaan yang tak ternilai. Jadi, jangan salah kalau selalu membicarakan soal uang, itu memang bagian dari kehidupan di sini."
Ling Xu-mei menatap Ibu Suri dengan penuh kekaguman, hatinya dipenuhi rasa ingin tahu tentang segala kemewahan yang tersembunyi di balik dinding istana megah itu.. "bisakah aku pergi ke tempat keluargaku?" tanya Ling Xu-mei.
Ibu suri langsung terdiam, keluarga Zhao sudah di asing kan jauh dari istana Hanzo, karena Kaisar Han mengira kalau menteri Yan Gao Zhao adalah penghianat kerajaan, beberapa musuh dari sang menteri sengaja memfitnahnya dan membuat dia bersama dengan kedua putranya diasingkan.
Ibu Suri memberikan izin kepada Ling Xu-mei untuk menemui keluarganya, namun dibalik itu ibu Suri sudah mempersiapkan rencana agar Ling Xu-mei bisa menaklukkan putranya membuat para wanita jahat yang dijadikan istri oleh putranya disingkirkan dari kerajaan.
"Aku harus membuat permaisuri mendapatkan cinta yang mulia, dengan begitu wanita ular itu tidak akan bisa mengendalikan putraku." ucap ibu suri dalam hati.
"Oh ibu suri, bolehkah aku membeli pakaian?" tanya Ling Xu-mei penuh harap.
"Aku sudah mempersiapkan pakaian untukmu." jawab ibu suri yang kemudian meminta pelayan untuk mempersiapkan pakaian untuknya.
Malam itu ibu suri sengaja mengajak Ling Xu-mei pergi ke pertemuan kerajaan, dengan semua rencana yang sudah dia susun ibu suri sangat yakin kalau permaisuri Ling yang baru tidak akan mudah ditindas.
"Ibu suri, apakah banyak orang yang hadir?" tanya Ling Xu-mei.
"Tentu saja," jawab ibu suri yang kemudian menggenggam tangan Ling Xu-mei.
Di ruang pertemuan itu kaisar Han datang bersama dengan selir Jia, banyak pejabat yang sudah mengetahui mengenai kaisar yang telah melengserkan permaisurinya.
"Memang benar rumor mengenai permaisuri yang sudah di turunkan itu." para pejabat berbicara di belakang. Mereka terus memuji selir Jia yang memiliki wajah cantik dan sikapnya begitu lembut.
Dengan begitu bangganya Kaisar Han selalu mengajak selir kesayangannya ke semua pertemuan penting kerajaan. selir Jia selalu besar kepala ketika Kaisar lebih memilih dia untuk diajak pergi ke semua pertemuan kerajaan dibanding permaisuri Ling. Hal itu membuat rumor di kerajaan semakin tak terkendali, apalagi para pejabat yang membenci permaisuri Ling, hal itu membuat mereka memikirkan seribu cara untuk menyingkirkannya dari istana.
Setiap kali Kaisar Han melangkah memasuki ruang pertemuan kerajaan yang megah, di sisinya selalu hadir selir Jia dengan senyum penuh kemenangan yang hampir tak tertutupi. Matanya yang tajam dan penuh ambisi memancarkan kebanggaan luar biasa, seolah seluruh dunia milik mereka berdua.
Para pejabat, yang sejak lama menyimpan dendam terhadap Permaisuri Ling, menyaksikan pemandangan itu dengan penuh kepuasan. Bisik-bisik dan tatapan penuh intrik semakin merebak, menabur benih rumor yang beracun. Mereka mulai merencanakan langkah-langkah licik, dari menyebarkan gosip hingga mencari celah untuk menjatuhkan martabat Permaisuri Ling. Di balik senyum manis selir Jia, tersembunyi perhitungan licik yang membuat istana semakin panas oleh persaingan dan pengkhianatan.
“Selir Jia benar-benar cantik luar biasa. Lembutnya dia sampai aura permaisuri pun terasa ikut terpancar,” puji seorang pejabat yang sudah lama mengabdi kepada Kaisar Han.
Seorang menteri lain mengangguk setuju. “Iya, benar. Selir Jia seperti bintang yang takkan redup di langit istana.”
Selir Jia tersenyum sopan namun penuh dengan kelicikan, menunduk sedikit. “Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia Menteri. Tapi saya tetaplah seorang selir biasa. Hanya mencintai Kaisar dan akan selalu setia bersamanya.” Namun di dalam hati, selir itu menyimpan niat tersembunyi. Waktu yang tepat untuk mengusir musuh-musuhnya dari istana pasti akan tiba.
Acara malam itu sungguh meriah. Lampu-lampu menggantung berkelap-kelip, menambah megah aula pertemuan. Tiba-tiba, seorang prajurit berteriak dari pintu masuk, “Ibu Suri datang!”
Serentak, para menteri berbaris rapi di sisi aula, menundukkan kepala hormat. Dari balik tirai emas, langkah kaki Ibu Suri terdengar mantap dan anggun. Wanita tua itu dikenal dengan wibawa dan keanggunannya yang tak pernah pudar oleh usia. Ia digandeng oleh seorang wanita muda bergaun biru lembut, rambut panjang terurai hingga sepinggangnya, dihiasi aksesoris sederhana yang mempertegas kesan anggun dan tidak berlebihan.
Permaisuri Ling menggenggam tangan Ibu Suri dengan hangat, tatapannya penuh kasih sayang. Sebuah senyum lembut tersungging di bibirnya. “Acara seperti ini seperti acara pesta, ibu suri,” ucapnya lirih.
Ibu Suri membalas senyuman itu, matanya berbinar menyambut kehadiran menantunya. "memang seperti itulah, Permaisuri. Mari kita nikmati malam yang indah ini bersama.”
Para menteri serentak menatap tajam ke arah Ibu Suri yang melangkah bersama seorang wanita. Matanya tak lepas memperhatikan sosok perempuan itu dengan seksama.
"Wajah wanita itu... mirip Permaisuri Ling, bukan?" bisik salah satu menteri, ragu namun penasaran.
Menteri lain saling bertukar pandang, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Apa mungkin dia benar-benar Permaisuri yang katanya sudah meninggal beberapa hari lalu, lalu bangkit lagi?" gumam seorang yang lain.
Di sudut ruang, seorang menteri yang selama ini membenci Permaisuri Ling menyeringai sinis, suaranya penuh kebencian, "Kenapa si bodoh itu malah terlihat berbeda? Pura-pura mati, ya?"
Kegaduhan kecil mulai terasa, rasa penasaran bercampur kebencian mengambang di udara. Ibu Suri tetap tenang, tapi tatapannya seolah berkata, ini belum berakhir.
*bersambung*
semangat berkaryaa