Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Tidak Seharusnya Ada
Hujan masih turun deras di luar mansion Wijaya.
Di dalam ruang kerja yang luas dan sunyi, Arkan masih duduk di depan laptopnya. Lampu meja menjadi satu-satunya cahaya di ruangan itu.
Matanya terpaku pada satu nama di laporan keuangan lama.
Nama yang tidak seharusnya muncul di sana.
Ia menarik napas panjang dan membuka kembali file transaksi tersebut.
Transfer uang yang mencurigakan itu ternyata bukan hanya sekali.
Ada beberapa transaksi kecil yang dilakukan dalam dua tahun terakhir. Jika digabungkan, jumlahnya hampir mencapai delapan puluh miliar.
Dan semuanya mengarah ke perusahaan yang sama.
Perusahaan milik Cemalia.
Arkan mengusap pelipisnya.
Ini bukan lagi sekadar permainan uang.
Ini adalah jaringan yang sudah direncanakan dengan sangat rapi.
Tiba-tiba ponselnya bergetar di meja.
Nama yang muncul di layar membuatnya langsung menjawab.
“Bima.”
“Bos, aku baru saja selesai memeriksa data yang kamu minta.”
Bima adalah asisten sekaligus tangan kanan Arkan di perusahaan.
“Dan?” tanya Arkan.
Ada jeda beberapa detik sebelum Bima menjawab.
“Bos… kamu mungkin perlu melihat ini sendiri.”
Nada suaranya terdengar tidak biasa.
“Kirimi aku sekarang.”
Beberapa detik kemudian sebuah file masuk ke email Arkan.
Ia segera membukanya.
Laporan itu berisi daftar orang-orang yang memiliki akses untuk menyetujui transaksi proyek tersebut.
Arkan membaca nama-nama itu satu per satu.
Sebagian besar adalah manajer proyek dan staf keuangan.
Namun di baris terakhir—
Nama itu kembali muncul.
Arkan menyipitkan mata.
Ini tidak mungkin kebetulan.
“Bima,” katanya melalui telepon.
“Iya, Bos.”
“Kamu yakin data ini akurat?”
“Sangat yakin.”
Arkan terdiam beberapa detik.
“Besok pagi datang ke kantor lebih awal.”
“Oke.”
“Dan jangan beri tahu siapa pun tentang ini.”
“Baik.”
Telepon ditutup.
Arkan bersandar di kursinya.
Jika semua ini benar…
Maka seseorang yang sangat dekat dengan keluarganya telah bermain di belakangnya selama ini.
—
Di kamar di seberang lorong, Aluna akhirnya berhasil memejamkan mata.
Namun tidurnya tidak tenang.
Ia bermimpi tentang ayahnya.
Dalam mimpi itu, ayahnya berdiri di lokasi proyek yang gelap.
Ia mencoba mengatakan sesuatu.
Namun suara ayahnya tidak terdengar.
Tiba-tiba tanah di bawah kaki ayahnya runtuh.
Dan tubuhnya jatuh ke dalam kegelapan.
“Ayah!”
Aluna terbangun dengan napas terengah.
Kamar itu gelap dan sunyi.
Ia mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.
Mimpi itu terasa terlalu nyata.
Ia melihat jam di samping tempat tidur.
02.30.
Ia mencoba kembali tidur, namun pikirannya tidak bisa tenang.
Akhirnya ia bangun dan keluar dari kamar.
Lorong mansion itu sunyi.
Lampu-lampu kecil di dinding memberikan cahaya redup.
Ketika ia melewati ruang kerja Arkan, ia melihat cahaya dari dalam.
Pintu sedikit terbuka.
Aluna mengetuk pelan.
“Arkan?”
Arkan menoleh dari meja kerjanya.
“Kamu belum tidur?”
“Aku terbangun.”
Aluna masuk perlahan.
“Kamu juga belum tidur.”
Arkan menutup laptopnya.
“Masih ada pekerjaan.”
Aluna duduk di kursi di depan meja.
Ia menatap Arkan beberapa saat sebelum bertanya,
“Apa kamu menemukan sesuatu?”
Arkan terdiam.
Ia sebenarnya tidak ingin membuat Aluna semakin khawatir.
Namun wanita itu menatapnya dengan mata penuh harapan.
“Ada beberapa transaksi mencurigakan,” akhirnya ia berkata.
“Apakah itu berkaitan dengan kematian ayahku?”
“Belum tentu.”
Aluna menghela napas.
“Tapi kamu curiga.”
Arkan tidak menyangkalnya.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Lalu Aluna berkata pelan,
“Aku tahu kamu tidak ingin melibatkanku terlalu jauh.”
Arkan mengangkat alis.
“Tapi ini tentang ayahku,” lanjut Aluna.
“Aku berhak tahu.”
Arkan memandangnya lama.
Akhirnya ia berkata,
“Ada kemungkinan seseorang di dalam perusahaan membantu Cemalia.”
Aluna terdiam.
“Orang dalam?”
Arkan mengangguk.
“Dan orang itu memiliki akses besar.”
“Siapa?”
Arkan tidak menjawab.
Ia belum yakin.
Dan ia tidak ingin menuduh seseorang tanpa bukti kuat.
Namun di dalam hatinya, satu nama terus muncul.
Aluna berdiri perlahan.
“Kalau begitu… kita harus menemukan orang itu.”
Arkan menatapnya.
“Kita?”
Aluna mengangguk.
“Ya.”
Tatapannya tegas.
Arkan menyadari sesuatu saat itu.
Wanita yang dulu tampak rapuh kini berdiri di depannya dengan keberanian yang tidak ia duga.
“Baik,” kata Arkan akhirnya.
“Tapi kamu harus berhati-hati.”
Aluna tersenyum tipis.
“Aku akan berhati-hati.”
Namun mereka berdua tidak tahu—
Bahwa seseorang sedang mengawasi mansion itu dari kejauhan.
Di dalam sebuah mobil yang diparkir di seberang jalan, seorang pria memegang kamera dengan lensa panjang.
Ia mengambil beberapa foto rumah besar itu.
Termasuk jendela ruang kerja Arkan yang masih menyala.
Pria itu mengirim foto tersebut melalui ponselnya.
Beberapa detik kemudian, balasan datang.
Satu kalimat pendek.
“Terus awasi mereka.”
Pria itu tersenyum tipis.
Ia menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana.
—
Keesokan paginya, kantor pusat Wijaya Group sudah ramai sejak pagi.
Arkan berjalan memasuki gedung dengan langkah cepat.
Para karyawan yang melihatnya langsung menunduk memberi salam.
Namun Arkan tidak memperhatikan mereka.
Pikirannya masih dipenuhi laporan yang ia baca semalam.
Ketika ia masuk ke ruang kerjanya, Bima sudah menunggu di sana.
“Pagi, Bos.”
Arkan langsung duduk di kursinya.
“Kamu membawa data tambahan?”
Bima mengangguk.
Ia meletakkan sebuah tablet di meja.
“Ada sesuatu yang mungkin penting.”
Arkan melihat layar tablet itu.
Sebuah foto muncul.
Foto dari rekaman kamera parkir perusahaan dua minggu lalu.
Di dalam foto itu terlihat seorang pria keluar dari mobil mewah.
Arkan langsung mengenali wajah itu.
Dimas Pradana.
Namun yang membuat Arkan terdiam adalah orang yang berdiri di samping Dimas.
Seorang pria paruh baya dengan jas mahal.
Pria itu terlihat sangat familiar.
Arkan menatap foto itu dengan mata menyipit.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Dari kamera parkir kantor.”
“Kenapa baru sekarang muncul?”
“Karena file itu disembunyikan dalam folder lama.”
Arkan merasakan sesuatu di dadanya menegang.
Ia menatap wajah pria dalam foto itu sekali lagi.
Nama pria itu perlahan keluar dari bibirnya.
“…Paman Surya.”
Bima terdiam.
Surya Wijaya.
Adik kandung ayah Arkan.
Jika dia benar-benar terlibat…
Maka permainan ini bukan hanya soal uang.
Ini adalah pengkhianatan dalam keluarga sendiri.
Arkan bersandar perlahan di kursinya.
Matanya tetap terpaku pada foto itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak penyelidikan ini dimulai—
Ia mulai menyadari bahwa rahasia yang mereka kejar mungkin jauh lebih gelap daripada yang ia bayangkan.
Dan jika ia tidak berhati-hati…
Semua orang yang ia sayangi bisa ikut terseret ke dalamnya.
Bersambung ke Bab 34…
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?