Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
BAB 11
ELEGANSI DALAM KEHENINGAN
Gala Tahunan Aratama Group bukan sekadar pesta; itu adalah panggung kekuasaan. Di aula utama hotel bintang lima yang berhiaskan lampu kristal gantung setinggi tiga meter, aroma parfum mahal bercampur dengan denting gelas sampanye. Pria-pria mengenakan tuksedo custom-made, sementara para wanita berlomba-lomba memamerkan gaun rancangan desainer Paris yang menonjolkan setiap lekuk tubuh dan kemilau perhiasan.
Adrian Aratama berdiri di tengah kerumunan, memegang segelas wiski tanpa meminumnya. Matanya terus melirik ke arah pintu masuk besar berlapis emas. Ia merasa bodoh. Mengapa ia harus memaksa—bukan, "mengundang dengan nada memerintah"—Aisha untuk hadir? Logikanya mengatakan bahwa kehadiran arsitek utama sangat penting untuk mempresentasikan maket "Green Oasis" kepada para pemegang saham asing malam ini. Namun, jauh di lubuk hatinya, Adrian tahu itu hanya alasan agar ia bisa melihat Aisha di luar konteks debu proyek dan ruang rapat yang kaku.
"Kau tampak gelisah, Adrian. Menunggu seseorang?" suara manja itu datang dari Bianca, putri seorang taipan minyak yang sejak lama digadang-gadang oleh ibu Adrian sebagai calon istri ideal. Bianca mengenakan gaun backless berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
"Aku menunggu profesionalisme, Bianca. Sesuatu yang jarang kutemukan di ruangan ini," jawab Adrian dingin tanpa menoleh.
Tiba-tiba, suara riuh rendah di aula itu meredup secara bertahap. Pandangan orang-orang beralih ke pintu masuk. Adrian ikut menoleh, dan untuk sesaat, ia lupa bagaimana cara bernapas.
Aisha Humaira melangkah masuk.
Ia tidak mengenakan gaun terbuka. Ia mengenakan abaya sutra berwarna biru dongker tua yang dipadukan dengan outer berbahan brokat perak halus yang menjuntai hingga ke lantai. Potongannya sangat sederhana namun memberikan kesan agung dan berwibawa. Khimar senadanya tertata rapi, dan cadar sutra tipisnya menutupi wajah, menyisakan sepasang mata yang bersinar tenang di bawah cahaya lampu kristal. Tidak ada kulit yang terpapar selain punggung tangannya, namun ia justru tampak lebih menonjol daripada siapa pun di ruangan itu.
Ia tampak seperti malam yang penuh bintang di tengah siang bolong yang menyilaukan.
"Itu arsitekmu?" bisik Bianca dengan nada meremehkan yang tidak bisa disembunyikan. "Dia tampak seperti... biarawati yang tersesat di pesta dansa."
Adrian tidak menyahut. Ia berjalan membelah kerumunan, langkahnya mantap menuju Aisha. Semua mata mengikuti gerakannya.
"Kau datang," ucap Adrian saat sudah berdiri di depan Aisha. Suaranya rendah, nyaris menyerupai bisikan penuh kekaguman yang berusaha ia tekan.
Aisha menundukkan pandangannya sedikit. "Anda bilang kehadiran saya wajib untuk kepentingan proyek, Pak Adrian. Saya tidak ingin mengecewakan tim."
"Kau tidak mengecewakan siapa pun malam ini, Aisha," balas Adrian. Ia memperhatikan detail pakaian Aisha. "Biru dongker. Pilihan yang berisiko untuk acara formal, tapi kau membuatnya tampak seperti warna kerajaan."
"Biru adalah warna ketenangan, Pak. Saya butuh itu untuk menghadapi kerumunan ini," jawab Aisha pelan.
Adrian menawarkan lengannya, sebuah gerakan otomatis di acara gala. Namun, ia segera teringat dan menarik tangannya kembali sebelum Aisha sempat bereaksi. Ia berdeham cemas. "Mari. Maketnya ada di aula utama. Para investor sudah tidak sabar."
Saat mereka berjalan berdampingan—dengan jarak yang sangat dijaga oleh Aisha—bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas jerami kering.
"Siapa wanita itu?"
"Apa dia benar-benar bercadar di acara seperti ini?"
"Lihat cara jalannya, sangat anggun. Dia tidak butuh memamerkan bahu untuk terlihat elegan."
Adrian merasakan kebanggaan aneh yang meluap di dadanya. Ia menyukai fakta bahwa Aisha mencuri perhatian bukan dengan cara yang biasa, melainkan dengan misteri dan martabat yang ia bawa.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Bianca, yang merasa posisinya terancam, mendekati mereka dengan segelas sampanye di tangan.
"Jadi, ini arsitek jenius yang dibicarakan semua orang?" Bianca menatap Aisha dari atas ke bawah. "Sangat... tertutup. Katakan padaku, Sayang, bagaimana kau bisa melihat detail bangunan jika pandanganmu terhalang oleh kain itu? Apa kau tidak takut salah menghitung angka?"
Aisha menatap Bianca dengan tenang. "Mata saya tidak tertutup, Nona. Hanya wajah saya. Dan sejauh ini, perhitungan saya justru lebih akurat karena saya tidak terganggu oleh cermin atau pandangan orang lain."
Bianca tertawa sinis. "Oh, dia punya lidah yang tajam juga. Adrian, apa kau tidak merasa aneh membawa... bayangan hitam ini ke acara kita? Ini adalah pesta kecantikan dan kemewahan, bukan pengajian."
Wajah Adrian mengeras. "Kecantikan adalah soal persepsi, Bianca. Dan bagi saya, kemewahan yang sesungguhnya adalah kecerdasan yang dibungkus dengan kehormatan. Sesuatu yang mungkin sulit kau pahami."
"Adrian!" Bianca terperangah.
"Aisha, mari kita ke meja investor," ajak Adrian, mengabaikan Bianca sepenuhnya.
Saat mereka menjauh, Aisha berbisik pelan, "Anda tidak perlu membela saya sampai menghina teman Anda, Pak Adrian."
"Dia bukan temanku," sahut Adrian ketus. "Dan aku tidak membela siapa pun. Aku hanya menyatakan fakta teknis."
Aisha tersenyum di balik cadarnya—sebuah tarikan kecil di sudut matanya yang disadari oleh Adrian. "Fakta teknis yang sangat dramatis, saya rasa."
Adrian berhenti sejenak, menatap mata Aisha. Di tengah hiruk-pikuk musik klasik dan tawa palsu para sosialita, ia merasa hanya mereka berdua yang nyata. "Malam ini kau adalah pemenang desain terbaik, Aisha. Bahkan sebelum maket itu dibuka."
Gala itu masih panjang, namun bagi Adrian, acara puncaknya sudah terjadi. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi terobsesi ingin melihat wajah di balik cadar itu karena rasa penasaran semata. Ia mulai menghargai eksistensi Aisha secara utuh—sebagai wanita yang mampu berdiri tegak di dunia yang mencoba menelanjanginya dengan standar kecantikan yang dangkal.
Namun, di sudut ruangan, ia melihat ibunya menatap mereka dengan wajah tidak suka. Adrian tahu, badai sosial baru saja dimulai. Tapi melihat ketenangan di mata Aisha, ia merasa siap untuk menghadapi badai apa pun, asalkan wanita bercadar ini tetap berada di sisinya.