Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memutar balikan Fakta
"Ehh... ada Anggun ternyata, boleh gabung ga?" mengenal suara tersebut, ekspresi wajah Anggun berubah datar.
"Dia siapa Zan?" tanya salah satu temannya
"Apa dia anak yang di pungut oleh ibumu itu?" tanya temannya lain, membuat wajah Zandita mendadak pucat. Anggun dan Kenan yang mendengar hal itu, menunduk menahan tawa mereka.
tak
"Apa gue ga salah denger? Lu tadi bilang, Anggun anak pungut ibu Dahlia?" tanya Ilmi yang baru saja datang, dengan meletakkan nampan berisi pesanannya dengan kasar.
"Kenapa jadi lu yang marah? Emang lu siapanya dia? Yang gue bilang emang bener kok, dia cuma anak pungut." balas teman Zandita, yang mengatakan Anggun anak pungut. Zandita menggenggam tangan temannya, memintanya untuk berhenti. Ia melihat ke sekitar, sudah banyak yang memperhatikan keributan tersebut.
"Lexa, hentikan. Sebaiknya kita segera pergi dari sini." ajak Zandita, wajahnya sudah pucat. Takut bila teman-temannya tau, fakta yang sebenarnya.
"Lu ga usah takut Zan, meski lu baru balik dari luar negeri. Ga berarti dia bisa merebut semua milik lo, termasuk kasih sayang orang tua lo." ucap temannya yang lain, Alin.
Zandita menggigit bibir bawahnya, ini pasti akan sangat memalukan. Kebohongannya selama ini, pasti akan terbongkar.
Inaya yang datang di belakang Ilmi, menarik bahu orang yang bernama Alin. Kini Inaya saling berhadapan dengan gadis tersebut, setelah mendengar isi hatinya.
'Baik, cuma salah memilih teman. Baiklah, kita segera sadarkan.' ucap Inaya dalam hati, membuat Ilmi dan Kenan langsung menoleh padanya.
"Ehem... sebelum masalah ini semakin besar, dan lo semakin banyak bacot yang ga bener. Gue kasih tau ma lu pada ya, masalah anak pungut ma anak kandung yang sebenarnya.
"Dia... Anggun, calon ipar gue dan calon istri cowo yang duduk di depannya ini. Dia lah anak kandung yang sebenarnya, mereka baru saling bertemu setelah belasan tahun lamanya berpisah. Karena ibu Dahlia mengalami am... beyen?" Inaya menoleh pada ketiga orang, yang tengah duduk.
"AMNESIA" jawab ketiganya, dengan wajah datar. Inaya mengangguk..
"Ibu Dahlia Amnesia, dan belum lama ini kembali pulih. Dan dia...." yang tadinya, Inaya menunjuk Anggun. Kini jarinya beralih, menunjuk Zandita tepat di depan wajahnya.
"Dia adalah anak pungut, yang ibu Dahlia comot. Dengan harapan bisa mengisi kekosongan di hati nya, yang terasa hampa selama amnesia. Gue ga tau, apa yang udah cewek ini ceritain ma kalian. Dengan bodoh bin tolol nya, lu bedua percaya ma cerita karangan dia." lanjut Inaya, membuat Lexa dan Alin menatap Zandita, yang kini tengah menunduk.
Bisikan pengunjung terdengar nyaring, lain ge bisikan wooyy... Banyak yang mencibir dan menatap sinis, pada Zandita.
'Bukannya makasih udah ada yang mau nampung, malah memutar balikkan fakta.'
'Definisi manusia ga sadar diri, ya itu dia.'
'Kalo gue yang di posisi itu cewek, udah malu ketemu ma anak kandung orang tua gue. Secara gue udah nikmatin harta ma kasih sayang, yang bukan milik gue.'
'Muka ma atinya sama kali...
'Sama gimana?'
'Sama-sama gelap, kek areng.'
"Zan, apa yang dia bilang bener?" tanya Lexa terkejut, namun Zandita memilih diam seribu bahasa. Alin menarik lengan Zandita, agar menatap dirinya.
"JAWAB BODOH, APA YANG DI KATAKAN DIA BENER? DI SINI, LU YANG ANAK PUNGUT? BUKAN DIA?!!!" bentak Alin
Kalo ternyata iya, ia benar-benar merasa malu. Bahkan akan merasa bersalah, karena sudah mengatai dan menatap tak ramah padanya.
"I-itu... itu, aku hanya ga mau kehilangan kalian. M-makanya aku.. aku...
"SIALAN EMANG YA, LU!! Kita tuh ga butuh cerita karangan, yang ngejual kesedihan. Kalo emang lu mau temenan ma kita, cukup lu jujur. Ga usah mutar balikin fakta, yang jelas-jelas lu tau jawabannya. Nyesel gue terima lu jadi temen kita, mulai sekarang lu ma gue end." Zandita menggelengkan kepalanya
"Lex, jangan gitu dong. Cuma kalian temen aku, aku...
"Kalo lu emang anggap kita temen, lu ga akan cerita hal bohong ma kita. Mulai sekarang, kita ga mau ma lu lagi." potong Alin, lalu ia beralih menatap Anggun
"Mmm... Ang gun, Nggun sorry gue udha ga sopan ma lu." ucap Alin, Anggun tersenyum dan mengangguk
"Ga masalah" jawabnya santai
"Gue juga minta maag, maaf udah mandang rendah lu. Kalo gitu kami pamit, permisi." Anggun, Kenan, Ilmi dan Inaya mengangguk. Mereka menatap kepergian kedua gadis itu, sampai tak terlihat lagi di kafe. Inaya duduk di sebelah Kenan, ia bersedekap menatap Zandita.
"Busyeeett... berani ya lu, muter balikin fakta." ucap Inaya, Zandita hanya menunduk malu. Namun hatinya terdengar begitu marah, ia berjanji akan membalas hari memalukan ini.
"Punya nyawa berapa lu, mau bales kita?" tanya Ilmi, mengejutkan Zandita. Sehingga refleks, Zandita menegakkan kepala dan menatap keempat orang itu. Ia tak tau, siapa yang berbicara tadi?
"Kenapa? Lu kaget, kita bisa tau apa yang ada di dalam pikiran kamu? Et dah... klise itu mah, orang-orang modelan lo, yang punya IQ jongkok. Isi pikirannya apa, kalo bukan ingin balas dendam?" ucap Inaya, membuat wajah Zandita kembali pucat
"I itu... itu tidak mungkin aku lakukan, bagaimana pun Anggun tetaplah saudariku. Meski kami tak memiliki hubungan darah, tetapi kita memiliki ibu yang sama." ucap Zandita pelan, membuat Ilmu terkekeh
"Ibu yang sama, kek mana maksud lo? Lu itu, ga tau siapa orang tua lu. Sedangkan calon ipar gue, udah jelas ibunya dan keluarganya. Ngaco.." ucap Ilmi geli
Beruntung dia kembaran ma Inaya, ga kebayang kalo punya kembaran di kuntilini di depannya. Bisa-bisa, dia seret ke gunung, terus dia dorong ke jurang.
"SADISSS BOSS!!!" ucap Inaya, Ilmi hanya memutar malas bola matanya. Zandita yang sudah tak sanggup, ia pun berbalik dan berlari keluar kafe.
"Yahhh... kabur dia, ga seru." ucap Inaya, Anggun hanya menggelengkan kepalanya
"Nggun, lu harus hati-hati. Gue yakin, kalo dia ga akan berenti sampe di sini. Apalagi bapak tiri lo, masih membiayai hidupnya." ucap Inaya, Ilmi mengangguk setuju.
"Dia pasti bakal ngelakuin sesuatu sama lu, entah sekarang, besok atau nanti." sambung Ilmi
"Gue..
Ilmi mengangkat salah satu tangannya, membuat Kenan berhenti bicara.
"Lu ga mungkin selama 24 jam, ada di samping Anggun. Gue tau, Anggun cewek tangguh. Tapi ingat... kalo APES, GA ADA DI KALENDER" ucapnya
"Siap kak, Anggun akan lebih hati-hati." jawab Anggun tersenyum
.
.
Dua hari sebelum berangkat mendaki, ternyata ada kejadian di sebuah gunung. Gunung Butak namanya, ada lima pendaki yang tengah tersesat. Lebih tepatnya, mereka tengah di sesatkan oleh penunggu gunung tersebut.
Di tim pendaki tersebut, sebelumnya terpecah menjadi dua. Namun beruntung, mereka di pertemukan dan berkumpul kembali.
"Kalian habis darimana, kan gue udah bilang jangan kemana-mana?" tegur seorang pria, bernama Yanto
"Lah? Kok jadi kita yang kemana, lu pada yang kemana? Kita mah dari lu ninggalin, masih stay di tempat. Malah kita ketiduran, kita malah mikir kalo kalian ninggalin kita." ucap perempuan yang bernama Fika
"Gila... gue ga segila itu buat ninggalin kalian...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hayoooo loooooohhhh......
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰