"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang Nyata
Lantai apartemen mewah di Manhattan itu terasa dingin, namun tubuh Daven Teldford dibanjiri keringat. Ia tersentak, napasnya memburu seolah ia baru saja berlari maraton melintasi Jembatan Brooklyn. Matanya mengerjap liar, menatap langit-langit kamar yang gelap, hanya diterangi remang lampu jalanan New York dari balik jendela besar.
Jantungnya berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke telinga. Bayangan Cheryl yang anggun di lapangan basket tadi masih begitu nyata di pelupanya. Ia masih bisa merasakan tekstur kulit pipi Cheryl yang halus di ujung jarinya, dan aroma vanila yang begitu menyesakkan dada.
"Cuma mimpi..." bisik Daven parau. Suaranya pecah di tengah kesunyian kamar.
Ia bangkit, duduk di pinggiran ranjang sambil menumpu kepalanya dengan kedua tangan. Kecewa? Tentu saja. Namun, ada secercah rasa bahagia yang aneh menyelinap di hatinya. Setidaknya, dalam tidur tadi, ia bisa melihat Cheryl kembali. Ia bisa mendengar suaranya lagi.
"Apa dia benar-benar akan setirus itu?" pikir Daven kosong. Ia membayangkan wajah Cheryl yang dulu selalu bulat dan menggemaskan. Pikiran bahwa pipi bakpao itu hilang karena kerasnya hidup di Brooklyn membuat dada Daven sesak. "Kalau dia benar-benar berubah jadi sedingin itu... apa dia masih mau aku cubit?"
Daven tidak bisa tidur lagi malam itu. Ia menghabiskan sisa malam dengan menatap kotak pensil usang di mejanya, bertanya-tanya apakah alam bawah sadarnya sedang memberikan pertanda, atau hanya sekadar cara otaknya menyiksa diri karena rindu yang sudah akut.
Keesokan harinya, Universitas New York, terasa lebih bising dari biasanya. Daven berjalan menyusuri koridor fakultas dengan wajah datarnya yang legendaris. Sebagai kapten tim basket dan mahasiswa berprestasi, kehadirannya selalu memancing bisik-bisik, namun Daven tetaplah Pangeran Es yang tak tersentuh.
Langkahnya terhenti saat ia melewati papan pengumuman besar mading di lobi utama. Kerumunan mahasiswa sedang melihat daftar mahasiswa pindahan semester ini untuk program pertukaran dan reguler.
Entah dorongan apa, Daven melangkah mendekat. Matanya menyisir daftar nama yang tercetak di kertas putih itu.
[DAFTAR MAHASISWA PINDAHAN - FAKULTAS SENI & DESAIN]
...
...
CHERYL ALTON - Transfer dari Brooklyn Arts Institute.
Deg!
Daven merasa dunia di sekitarnya mendadak sunyi. Oksigen seolah tersedot keluar dari paru-parunya. Nama itu. Nama yang selama tiga tahun ini hanya ia temukan di catatan-catatan tak terkirim dan mimpi-mimpi kosong.
"Dia kembali..." gumam Daven pelan. Tangannya tanpa sadar menyentuh permukaan mading, tepat di atas nama Cheryl.
Ada rasa takut yang tiba-tiba menyerang. Apakah ini akan seperti mimpinya semalam? Apakah Cheryl akan tersenyum padanya? Daven merasa harapan yang selama ini ia kubur dalam-dalam kini meledak keluar, menuntut untuk dipenuhi.
Sore harinya, Daven sengaja berada di dekat gedung Fakultas Seni. Ia menyandarkan tubuh atletisnya di pilar batu, matanya tajam mengawasi setiap orang yang keluar dari pintu kaca besar itu. Ia sudah menyiapkan ribuan kata, puluhan ejekan konyol, dan tentu saja, tangannya sudah gatal ingin mencubit pipi yang sangat ia rindukan.
Lalu, pintu itu terbuka.
Seorang gadis berjalan keluar dengan langkah yang sangat teratur. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang minimalis namun berkelas. Rambutnya lurus sempurna, jatuh di bahunya tanpa ada satu pun helai yang berantakan. Tidak ada pita kuning, tidak ada penjepit rambut yang hampir jatuh, dan yang paling mengerikan... tidak ada raut bingung di wajahnya.
Gadis itu adalah Cheryl. Tapi, dia bukan Bakpao milik Daven.
Wajahnya tirus, dagunya tajam, dan matanya yang dulu selalu berbinar ceria kini terlihat datar, sedingin es, bahkan mungkin lebih dingin dari tatapan Daven. Ia berjalan melewati kerumunan mahasiswa tanpa menoleh sedikit pun, seolah ia memiliki dinding kaca tak kasat mata yang memisahkannya dari dunia.
Daven terpaku. Kecewa yang ia rasakan semalam di mimpinya tidak ada apa-apanya dibandingkan kenyataan ini. Cheryl tampak seperti dewi yang terbuat dari marmer, cantik, namun mati rasa.
Daven tidak bisa menahan diri. Ia melangkah maju, memotong jalan Cheryl tepat di tengah selasar kampus yang ramai.
"Cheryl?" suara Daven terdengar menuntut, penuh dengan emosi yang tertahan.
Gadis itu berhenti. Ia mendongak, menatap Daven. Tidak ada kilatan pengenalan yang emosional. Tidak ada air mata. Ia hanya menatap Daven seolah pria itu adalah orang asing yang menghalangi jalannya.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Cheryl. Suaranya datar, formal, dan sangat asing di telinga Daven.
"Ini aku... Daven. Daven Teldford," ucap Daven, suaranya sedikit bergetar. Ia menunggu reaksi. Ia menunggu Cheryl memarahinya, atau setidaknya menyebutnya pengganggu.
Cheryl hanya menaikkan sebelah alisnya tipis. "Oh. Daven dari masa sekolah menengah itu? Senang melihatmu lagi, Teldford. Maaf, aku sedang terburu-buru menuju perpustakaan."
Ia hendak melangkah pergi, namun insting riweh Daven mengambil alih. Tanpa berpikir panjang, Daven mengangkat tangannya, mencoba meraih pipi Cheryl, ingin memastikan apakah ini benar-benar Cheryl-nya, ingin memicu amarah yang dulu selalu membuatnya merasa hidup.
Plak!
Cheryl menepis tangan Daven sebelum jemari pria itu menyentuh kulitnya. Tatapan Cheryl mendadak menjadi sangat tajam dan mengintimidasi.
"Jangan pernah menyentuhku tanpa izin, Teldford," desis Cheryl dingin. "Kita bukan lagi anak-anak yang bisa bermain fisik dengan sembrono. Simpan tingkah kekanak-kanakan mu itu untuk orang lain."
Daven membeku di tempat. Tangannya yang baru saja ditepis terasa sangat panas dan terhina. Ia menatap Cheryl yang kini berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
Tidak ada Cheryl yang pelupa. Tidak ada Cheryl yang butuh diingatkan jadwal kelas. Cheryl di depannya adalah seorang wanita yang tampak seolah bisa menghancurkan dunia dengan satu kata, dan dia sama sekali tidak butuh seorang Daven Teldford.
Daven berdiri sendirian di tengah keramaian kampus, merasakan kehampaan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ternyata, kenyataan jauh lebih pahit dari mimpinya. Pipinya memang benar-benar tirus, dan hatinya pun tampaknya sudah membeku sekeras es di kutub utara.
"Apa yang terjadi padamu di Brooklyn, Bakpao?" bisik Daven pada angin, matanya menatap punggung Cheryl yang semakin menjauh.
"Dan bagaimana caranya aku mencairkan es yang kau bangun, kalau aku sendiri sudah membeku karenamu?"
Keriwehan Daven kini menghadapi tantangan terbesarnya, bukan lagi mencari Cheryl yang hilang, melainkan memenangkan kembali hati seorang gadis yang sudah lupa cara untuk merasa.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰😍